
"Jadi kamu mengenal orang tuaku ?" tanya Merry menyelidik pada suaminya itu.
"Hm, hanya sekedar tahu bukannya ayahmu seorang pengusaha yang sangat berpengaruh di negeri ini? jadi siapa yang tidak mengenalnya." sahut William, tangannya nampak merayap namun baru akan memegang puncak bukit kembar milik istrinya itu tapi tangannya sudah di pukul dengan kuat oleh gadis itu.
"Aku pasti akan membujuknya agar mau merestui hubungan kita." tegas Merry, mengingat ayahnya itu tak pernah bisa menolak permohonannya.
"Kamu yakin ?" William menaikkan sebelah alisnya mengingat bagaimana dulu Martin melakukan segala cara agar dirinya menjauhi putrinya.
Bagi William sosok Martin sudah seperti ayah, kakak, sahabat bahkan guru baginya namun itu dulu sebelum pria itu mengetahui dirinya menyukai putrinya dan menjadi murka padanya.
Sejak ibunya meninggal karena bunuh diri hidup William seperti tak ubahnya di neraka.
Ayahnya yang seorang pemabuk dan ibu tirinya yang kejam membuat masa kecilnya hingga remaja penuh dengan siksaan hingga akhirnya William memutuskan kabur dan bertemulah dengan Martin.
Dan ternyata Martin adalah teman kakeknya, di mana kakeknya yang seorang mafia menitipkan banyak harta untuknya.
Dahulu ibu kandung William yang seorang putri Mafia yang terkenal pada masanya rela melarikan diri karena kisah cintanya yang tak di restui oleh sang ayah.
Kini William mengerti kenapa kakeknya itu tak merestui ayahnya, karena selain pemabuk dan suka memukul ibunya pria itu juga suka bermain wanita hingga hidup ibunya berakhir mengenaskan.
Berkat harta sang kakek William tumbuh menjadi pria kaya raya dan juga kejam.
Sakit mentalnya yang ia derita selama bertahun-tahun semenjak kecil kini semakin menjadi saat pria itu berkuasa dan itu yang tidak Martin sukai.
"Hm, Daddy tidak pernah menolak keinginanku." ucapan Merry sukses membuyarkan lamunan William.
"Kita bisa berjuang bersama-sama kalau kamu mau tapi ku rasa Daddy pasti akan langsung setuju jika melihatmu." imbuh Merry lagi yang langsung membuat pikiran William melayang pada peristiwa beberapa tahun lalu.
Waktu itu saat dirinya baru berusia 20 tahun pria itu nampak menangis di sebuah gudang di mana hari itu adalah peringatan kematian ibunya.
Namun di tengah tangisnya ia tiba-tiba di datangi oleh seorang gadis kecil, gadis itu terlihat mengulurkan sebuah sapu tangan padanya.
"Aku tidak tahu kamu menangis kenapa Paman tapi percayalah Tuhan selalu bersamamu." gadis kecil berusia 8 tahun itu nampak mengusap air mata William, sebuah perhatian kecil yang tidak pernah ia dapatkan setelah kematian ibunya.
"Apa karena kamu tidak mempunyai teman? aku mau kok jadi temanmu tapi ssttt diam-diam ya aku sekarang kabur dari rumah utama." ucap gadis itu seraya mengedarkan pandangannya.
William nampak gemas saat melihat bocah imut dan lucu itu sedang menceritakan kalau dirinya sedang kabur.
"Jadi kamu kabur dari rumah utama itu ?" William menunjuk sebuah Mansion tak jauh dari tempatnya di mana keluarga Martin tinggal di sana.
"Hm, ssttt tapi diam-diam saja ya." gadis cilik itu nampak tersenyum manis dan semenjak saat itu William dan Merry banyak menghabiskan waktu bersama.
Merry selalu mengendap-endap ke gudang untuk bertemu William yang saat itu memang bekerja untuk Martin.
"Paman, jika aku sudah besar nanti apa kamu mau menikah denganku ?" ucap gadis kecil itu suatu ketika.
"Tentu saja, jika ayahmu mengizinkan." sahut William yang sejak bertemu dengan gadis cilik itu sudah ia anggap sangat berarti dalam hidupnya.
Namun saat Martin mengetahui William diam-diam mendekati putri kecilnya Martin sangat marah karena pria itu mempunyai penyakit mental akut jika kambuh selalu membahayakan orang lain.
Mengingat wasiat dari kakeknya William jika ia harus selalu menjaga pria itu, membuat Martin mempunyai ide untuk menikahkannya dengan anak sahabatnya yaitu perempuan cantik bernama Alice.
Toh saat itu William sudah bisa mengelola harta peninggalan kakeknya jadi Martin tak khawatir pria itu akan kekurangan bersama keluarga kecilnya.
William yang merasa mempunyai hutang budi pada Martin, tak kuasa menolak pernikahannya waktu itu meski hatinya sudah terlanjur di miliki oleh sosok gadis kecil tak lain adalah putri Martin sendiri.
Merry yang tumbuh menjadi gadis cantik semakin membuat cinta William tumbuh subur, namun pria itu hanya bisa mengawasinya dari kejauhan mengingat sampai kapanpun Martin tidak akan menyukainya karena penyakit yang ia derita.
"Kenapa melamun ?" tanya Merry yang sontak membuat William kembali dari ingatan masa lalunya.
"Tidak, yuk satu ronde lagi." ajak William yang tangannya mulai merayap kemana-mana hingga membuat istrinya itu mengerang.
"Will, tunggu dulu. Aku ingin kamu berjanji akan melakukan semua permintaanku itu." terang Merry sembari menahan tubuh suaminya yang hendak menindihnya kembali.
"Ia aku berjanji, honey. Kamu lihat besok apa yang akan terjadi oke." sahut William lalu menarik kedua tangan istrinya itu ke atas kepalanya hingga membuat dada gadis itu membusung seakan ingin menantangnya.
Tak menunggu lama William langsung m3lum4t puncaknya dengan rakus hingga membuat istrinya itu menggeliat tak karuan dan kejantanannya yang sedari tadi sudah menegang langsung menerobos masuk ke pusat inti gadis itu tanpa izin.
"Ahh Will, kamu sangat nakal." protes Merry saat tubuh keduanya telah menyatu kembali.
"Dan kau sangat menikmatinya, honey." cibir William seraya menggerakkan tubuh bagian bawahnya.
Kini di saat yang lainnya sudah terlelap tidur, tidak dengan sepasang suami istri itu yang terlihat masih bersemangat meraih puncak nirwana.
Keesokan harinya....
"Tuan, pelayan menemukan obat ini di dalam laci meja belajar nyonya." James nampak memberikan sebuah botol obat pada William pagi itu di ruang kerjanya.
"Obat pencegah kehamilan ?" ucap William setelah membaca kemasan obat tersebut.
"Benar tuan." angguk James.
William langsung mencengkeram obat tersebut dengan kuat, seakan menyalahkan jika obat itulah penyebab istrinya belum hamil hingga sekarang.
Sementara itu Merry yang sedang mencari sesuatu di meja belajarnya nampak membuka setiap laci di sana.
"Perasaan ku simpan di sini." gumamnya kemudian.
Lalu gadis itu meraih tas punggungnya dan nampak satu botol obat yang ia cari berada di dalam sana.
"Bukannya kemarin dua botol ya, atau aku yang mulai pikun." gumamnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian Merry berlalu ke dalam kamar mandinya dan membuang isi obat tersebut ke dalam toilet.
Gadis itu sudah memutuskan tidak akan minum obat pencegah kehamilannya lagi dan di usianya yang menginjak 19 tahun ini ia siap jika akan mengandung anak William.
Setelah memastikan penampilannya nampak rapi, Merry segera keluar kamarnya.
Hari ini ia dan sang suami akan mengunjungi Natalie di Apartemen wanita itu.
"Will, apa kamu di dalam ?" teriak Merry seraya mengetuk pintu ruangan suaminya itu.
"Silakan masuk nyonya, tuan sedang menunggu anda di dalam." ucap James saat membuka pintu untuk Merry kemudian pria itu pamit keluar.
"Ayo, berangkat !!" ajak Merry saat melihat suaminya itu sedang duduk di sofa tak jauh darinya itu.
William nampak menatap dingin istrinya itu dan tentu saja membuat Merry tak mengerti.