Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~101


Malam itu Merry nampak membuka layar ipadnya lalu mengetik beberapa kata di sebuah situs pencarian.


Untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir ini, wanita itu baru memberanikan diri untuk mencari tahu perihal mantan suaminya itu.


Selama ini Merry selalu menahan diri untuk tidak mencari tahu apa pun tentang pria itu, wanita itu terlalu lemah untuk menerima sebuah kenyataan.


Ia takut jika pria itu benar-benar mencampakkannya dan lebih memilih wanita lain.


Di layar ipadnya tersebut nampak menampilkan sosok William beserta informasi kehidupannya selama 4 tahun terakhir ini.


Tak banyak hal yang bisa di gali dari pria itu, semuanya hanya seputar bisnis.


"Bodoh, kenapa aku baru tahu jika WS Corp adalah singkat nama William." gumam Merry, sebelumnya terlalu banyak yang harus ia kerjakan hingga membuat wanita itu melupakan untuk mencari tahu perusahaan yang akhir-akhir ini menjadi rivalnya itu.


Lalu matanya kembali memicing saat sebuah situs menayangkan sebuah private party di mana William sedang bersama dengan seorang wanita.


Entah sejak kapan mereka saling mengenal namun judul yang menghiasi berita online tersebut membuat Merry merasakan kesakitannya kembali.


"Akhirnya inilah wanita beruntung yang di pilih oleh seorang William sebagai tunangannya."


Tulis berita online tersebut yang menampilkan beberapa potret mereka berdua dan keluarganya.


"Kenapa kau tega lakukan ini padaku, Will ?"


Merry tak sanggup lagi melihat informasi lebih jauh tentang pria itu, kemudian wanita itu segera mematikan ipadnya tersebut.


Sepanjang malam wanita itu nampak menghabiskan waktunya hanya untuk menangis, ternyata sesakit ini kenyataan yang harusnya sudah ia hadapi semenjak dulu.


Selama ini Merry masih mempunyai keyakinan jika mantan suaminya itu akan kembali untuk mencari dirinya, hingga membuatnya selalu menunggu dalam ketidakpastian.


Ada perasaan marah, benci dan rindu yang selalu menghiasi hari-harinya namun ia mencoba menikmatinya dan percaya suatu saat kebahagiaan pasti menghampirinya.


Namun harapannya kini telah pupus dan ia harus kembali pada kenyataan hidup.


Keesokan harinya....


Siang itu Merry yang baru keluar dari bandara dan dalam perjalanan pulang nampak menghubungi seseorang.


"Al, bisa kita bertemu? aku sudah membuat keputusan." ucapnya yang tentu saja langsung membuat Alan nampak senang.


"Akhirnya dia menyerah juga." gumam Alan dari ujung telepon seraya mengangkat sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.


Tidak sampai 30 menit, Merry sudah berada di sebuah restoran dan di sana nampak Alan sudah menyambutnya dengan hangat.


"Ayo duduklah." Alan langsung menarik sebuah kursi untuk wanita itu duduki.


"Kamu mau pesan apa? kamu pasti belum makan siangkan ?" ucapnya kemudian seraya melambaikan tangannya ke arah pelayan.


"Aku belum lapar Al." sahut Merry, meski semenjak semalam ia belum mengisi perutnya.


Rasa laparnya seakan menghilang bersama kekecewaannya pada mantan suaminya itu.


"Makan Merr, baru kita bicara." tegas Alan.


Beberapa saat kemudian pelayan membawa pesanan mereka dan Alan dengan telaten menyiapkan makanan tersebut untuk Merry.


"Terima kasih." ucap Merry.


Selanjutnya mereka nampak makan dalam diam, Alan sengaja tak memulai pembicaraan agar wanita yang duduk di hadapannya itu merasa nyaman bersamanya.


"Aku sudah membuat keputusan, Al." Merry mulai membuka suaranya setelah menghabiskan makan siangnya.


"Aku akan menerima apapun keputusanmu itu ." sahut Alan, pria itu terlihat tenang seakan sudah tahu jawaban wanita itu.


Sebelum berbicara lebih lanjut, Merry nampak menghela napasnya sejenak.


"Iya Al, aku setuju menikah denganmu." ucapnya kemudian dengan yakin karena semalam wanita itu sudah memikirkan dengan matang.


Alan pria yang baik meski caranya salah yang menjadikan dirinya tak ubah seperti benda yang bisa di beli. Namun baginya ini adalah sebuah kesepakatan yang menguntungkan keduanya.


Entah pernikahan seperti apa yang akan mereka jalani nanti jika awal hubungan pun berdasarkan sebuah kesepakatan.


Namun selama mengenal pria itu, Merry merasa nyaman. Pria itu selalu memperlakukannya dengan baik dan tentu saja itu nilai plus baginya.


Dan tidak hanya itu, Alan bukanlah orang sembarangan dan ia yakin pria itu bisa melindunginya dari seorang William jika pria itu suatu saat mengetahui siapa putranya.


"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu padaku saat ini, tapi aku janji akan membuatmu membalas perasaanku segera." imbuhnya lagi, pria itu menyadari jika cara mendapatkan wanita itu memang salah namun dalam prinsip hidupnya ia tidak menyukai sebuah penolakan maupun kekalahan.


Egois memang tapi dialah seorang Alan, putra konglomerat yang hartanya tidak akan pernah habis hingga tujuh turunan.


"Tapi apa boleh aku mengajukan sebuah permintaan ?" ucap Merry dengan nada memohon.


"Hm, katakan !!" balas Alan.


"Tolong beri Ariel waktu untuk mengenalmu, kamu tahu sendirikan Ariel adalah separuh hidupku." mohon Merry kemudian.


"Tentu saja, untuk sementara waktu kita akan bertunangan saja dulu." sahut Alan memutuskan.


"Terima kasih." Merry nampak lega, paling tidak ia masih mempunyai waktu untuk berdamai dengan luka hatinya sebelum benar-benar menerima pria itu sebagai suaminya.


Beberapa hari kemudian, berkat bantuan Alan Merry kembali mengerjakan proyeknya yang sempat terhenti. Wanita itu bersyukur Alan mengucurkan dana yang tak sedikit, namun wanita itu tetap menganggapnya sebagai pinjaman.


Hari pertunangan mereka pun sebentar lagi akan tiba, namun Merry sepertinya tak peduli karena wanita itu lebih memilih fokus untuk bekerja.


Ia menyerahkan semuanya pada Alan untuk mengurusnya termasuk tamu undangan yang akan hadir.


Brukkk


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Anne yang berada di sebuah toko di salah satu Mall langsung menolong Ariel saat putra atasannya itu tertabrak oleh seseorang.


"Paman, talau jayan itu pakai kaki dan juja mata bial tidak nablak." tegur Ariel pada seorang pria yang menabraknya tadi.


Anne yang melihat James sedang berdiri di sebelah pria yang menabrak Ariel itu langsung menelan ludahnya.


"Kenapa bertemu dia lagi sih ?" gerutunya dengan kesal, entah kenapa sejak pertama kali bertemu ia tidak menyukai pria itu.


William yang tiba-tiba di tegur oleh seorang bocah, nampak memicing. Baru kali ini ada yang berani mengguruinya, apalagi itu hanya seorang anak kecil.


"Kau...." balas William, namun pria itu langsung menjeda ucapannya saat bocah kecil di hadapannya itu memotong pembicaraannya begitu saja.


"Kata mommy plia hayus belani mengakui kecayahannya, jika tidak itu belalti lemah." ucap Ariel dengan lantang yang membuat William langsung meradang.


"Kau..."


"Tuan, biar saya saja." James langsung menenangkan tuannya itu, lalu pria itu nampak mensejajarkan tingginya dengan tinggi Ariel.


"Hai Ariel Ciro, apa kau masih mengingatku ?" tanya James kemudian.


"Hm." angguk Ariel dengan tersenyum, namun saat mengangkat wajahnya untuk menatap William bocah itu nampak melotot seakan ingin beradu kekuatan dengan pria itu.


"Paman tidak beltanya pada Aliel ?" ucap Ariel kemudian saat kembali menatap James.


"Boleh." sahut James.


"Jadi Ariel sedang apa di sini ?" tanya James kemudian.


"Cedang cekolah." sahut Ariel.


"Sekolah? bukankah ini di mall ?" James nampak menaikkan sebelah alisnya menatap bocah menggemaskan itu.


"Nah itu Paman tahu, kenapa macih nanya." sahut Ariel dengan tampang tak berdosanya.


Sedangkan James yang lupa jika bocah di hadapan itu adalah satu-satunya bocah songong yang pernah ia temui nampak menahan kesalnya.


Namun saat melihat senyum tipis di wajah wanita yang sedang berdiri di belakang Ariel membuat hati pria itu itu langsung menghangat.


Sebuah senyuman yang mungkin saja sangat langkah, karena beberapa kali bertemu wanita itu selalu bersikap angkuh dan jutek.


"Maaf tuan, Ariel memang suka becanda." ucap Anne pada William yang sedang menatap datar ke arah Ariel.


"Ayo nak, minta maaf dulu sama Paman-paman ini." bujuknya kemudian.


"Ndak mau, memang mau hali laya." sahut Ariel dengan tegas.


"Sudah biarkan saja." timpal William.


"Terima kasih, tuan." sahut Anne, kemudian segera membawa Ariel menjauh dari sana, namun baru beberapa langkah pria tersebut memanggilnya kembali.


"Tunggu, apa dia putramu ?" tanya William yang langsung membuat Anne berbalik badan menatap pria itu.