Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~215


Saat pria yang Anne tabrak tadi sedang sibuk berbincang dengan seseorang, Anne bergegas masuk ke dalam hotel tersebut sebelum suaminya datang dan melihatnya berkeliaran di sana.


"Tuan William ?" seorang petugas nampak mengernyit saat memeriksa kartu undangan yang Anne berikan.


"Iya, saya Anne Wijaya perwakilan dari tuan William Smith. Kebetulan istrinya sedang melahirkan jadi beliau memerintahkan saya untuk menggantikannya." terang Anne selugas mungkin.


"Ada hubungan apa anda dengan beliau ?" tanya petugas tersebut menyelidik.


"Astaga, apa harus sedetail itu ?"


Anne langsung memutar otaknya untuk mencari jawaban yang meyakinkan petugas itu.


"Saya kerabat terdekat istri beliau." Anne langsung menunjukkan potretnya bersama Merry beberapa waktu lalu saat menjenguk wanita itu di rumah sakit.


"Baiklah, sepertinya kalian terlihat sangat dekat." petugas itu langsung mempersilakannya untuk masuk.


"Syukurlah."


Anne merasa lega, tak sia-sia ia mempunyai hobby berselfie ria karena suatu saat pasti berguna. Sepertinya lain kali ia juga akan mengajak suaminya yang bermuka datar itu untuk selfie juga bersamanya.


Sesampainya di ballroom hotel yang sudah di sulap menyerupai tempat pesta, Anne langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari sang suami.


Sementara itu di lobby hotel Marco yang baru selesai berbincang dengan koleganya nampak mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang tadi sempat menabraknya.


Wanita Asia yang memiliki bola mata yang sangat indah yang membuatnya tak ingin berpaling saat menatapnya.


"Siapa wanita itu? apa dia seorang pengusaha? atau hanya karyawan biasa ?"


Tak ingin menduga-duga, Marco segera masuk ke dalam. Entah kenapa ia sangat penasaran dengan wanita itu.


Pria berusia 37 tahun itu nampak betah membujang dan enggan membuat sebuah komitmen, karena baginya semua wanita sama saja.


Beberapa saat kemudian tamu mulai pada berdatangan dan tibalah James dengan beberapa managernya.


Jennifer yang terlihat cantik malam itu, nampak berjalan di sisi James yang di ikuti oleh Rose dan kedua manager lainnya.


Kedatangan mereka sempat di hadang oleh beberapa wartawan bisnis sebelum masuk ke dalam hotel tersebut.


"Tuan James, siapa wanita cantik di sebelah anda ini ?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku...." Jennifer menghentikan ucapannya saat James tiba-tiba memotongnya.


"Dia manager pemasaran di kantor kami dan sama seperti mereka juga." ucap James seraya menunjuk beberapa karyawannya yang lain.


"Tuan James, boleh kami bertanya sesuatu? Beberapa waktu lalu sempat beredar foto anda dengan seorang wanita cantik berambut blonde apa dia istri anda yang selama ini tak di ketahui oleh publik ?" tanya wartawan itu lagi.


"Aku tak harus menjawab hal yang tidak ada hubungannya dengan bisnis, terima kasih." James segera berlalu pergi dan di ikuti oleh para karyawannya meninggalkan beberapa wartawan yang nampak masih sangat penasaran dengan kisah cinta pria berusia 29 tahun itu.


Jennifer yang tadinya ingin membuat pernyataan jika ia dan James sedang dekat nampak kecewa karena tak mempunyai kesempatan untuk itu.


Akhirnya dengan enggan ia mengikuti langkah pria itu untuk masuk ke dalam hotel tersebut. "Semangat Jennifer, tunjukkan pada semua orang bahwa kamu satu-satunya wanita yang saat ini dekat dengan James bahkan pada kakakmu sendiri." gumamnya kemudian.


"Dasar wanita gatal." umpat Anne yang sedang berdiri di ujung ruangan saat melihat suaminya di pepet terus oleh Jennifer sepanjang acara berlangsung, pandangan dan perhatian wanita itu pada suaminya pun sangat kentara sekali jika dia menyukainya.


Beruntung suaminya tak terlalu menanggapinya dan lebih banyak berbincang dengan para koleganya.


"Tuan, apa kau membutuhkan seorang pelayan ?" ucap Anne setelah menghampiri pria itu.


"Benar nona, pelayan kami tiba-tiba berhalangan hadir." sahut pria itu.


"Aku bisa membantumu jika kamu setuju." timpal Anne yang langsung membuat pria itu nampak ragu.


"Maksud anda ?" ucapnya kemudian.


Anne langsung mendekatkan wajahnya lalu sedikit berbisik. "Apa anda yakin ingin melakukannya, nona ?" pria itu masih nampak tak percaya salah satu tamu penting di hadapannya itu mau membantunya menjadi pelayan.


"Tentu saja."


Beberapa saat kemudian Anne sudah berganti pakaian pelayan dengan menggunakan sebuah topeng sebagai syarat ia mau melakukannya.


Membawa sebuah nampan berisikan beberapa minuman beralkohol lalu menawarkannya pada para tamu undangan.


Sementara itu Jennifer yang diam-diam menjauh dari James nampak mendekati sang kakak yang sedari tadi mengawasinya di ujung ballroom.


"Ku peringatkan kakak jangan macam-macam pada James." ucapnya dengan menekankan kata-katanya.


"Wow, apa anak kemarin sore sedang mengancamku ?" cibir Marco dengan tersenyum sinis.


"Seorang Jennifer Miller tak pernah becanda dalam setiap tindakannya." tegas Jennifer.


"Ck, apa yang bisa kau banggakan dengan nama belakangnu itu selain menjadi seorang benalu." timpal Marco dengan nada meremehkan.


"Paling tidak nama itu yang telah membesarkan ku tuan Marco Anderson." sungut Jennifer dengan kesal.


"Masih ada kesempatan untukmu jika berubah pikiran, karena aku pasti akan menerimamu dengan senang hati." tukas Marco dengan tersenyum menyeringai.


Sedangkan Jennifer nampak tak berminat sama sekali dengan tawaran pria itu, meski mereka sedarah tapi sudah terpisah sejak kecil.


Tujuan Jennifer menemui kakak kandungnya itu tak lain hanya untuk memperingatkan pria itu agar tidak menyentuh pria pujaannya.


"Terima kasih tapi lebih baik kita seperti ini saja, aku tidak mau terlibat terlalu jauh dengan pria sepertimu." timpal Jennifer dengan tersenyum mengejek.


"Terserah padamu, tapi aku tak janji takkan membuat pria pujaan hatimu itu bertekuk lutut padaku." Marco nampak menyeringai menatap James dari kejauhan.


"Apa yang sebenarnya kakak rencanakan? kamu sudah tahukan aku sangat menyukai James. Apa pun yang terjadi aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya." Jennifer langsung murka.


"Ck, kau pikir bajingan itu menyukaimu? jangan bodoh Jen lebih baik segera bergabung denganku untuk melenyapkannya." tegas Marco.


"Aku tidak akan melakukannya." geram Jennifer menatap kakaknya itu.


"Pikirkan baik-baik, aku akan memberitahukan mu di mana keberadaan ayah kita asal kamu bisa membunuh bajingan itu." tawar Marco yang langsung membuat Anne yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka nampak terkejut saat seseorang berteriak padanya.


"Hei kamu, apa yang sedang kamu lakukan di sana? cepat tawarkan para tamu minuman itu !!" teriak sang manager hotel yang langsung membuat Anne segera menjauh dari sana namun tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang dari belakang hingga membuat Anne langsung memucat.


"Tunggu, apa kau tadi mencuri dengar pembicaraan kami ?" ucap seseorang tersebut yang mau tak mau membuat Anne berbalik badan lalu menatap pria itu.


"Tuan Marco ?"