
"Apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Elsa pada Alex setelah mereka keluar dari tempat Casino tersebut.
"Ini tempat umum, apa kau lupa ?" tukas Alex menanggapi.
"Aku tahu, tapi kamu melakukan hal seolah tempat ini adalah milikmu." Elsa mencoba mengorek informasi dari pria itu, rasanya mustahil jika pria itu bekerja sama dengan mantan kakak iparnya mengingat beberapa tahun silam gosip Celine dan Bennedict begitu santer hingga tak mungkin pria itu tak mengetahuinya.
"Aku hanya tidak suka jika orangku berbuat onar di tempat umum." sahut Alex kemudian.
"Jadi pelaku tadi itu orangmu ?" Elsa nampak terkejut.
"Hm." Alex mengangguk kecil.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, katakan apa yang kau lakukan di sini? apa seperti dugaanku kau sedang menjual tubuhmu di sini? berapa yang kau butuhkan? katakan!! tapi jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di sini." tegas Alex mengingat tempat ini sangatlah berbahaya, banyak kriminal dan maksiat di dalamnya dan ia tak rela jika wanita itu ikut terlibat.
Alex yang tadinya mendapatkan kabar jika salah satu orangnya sedang membuat ulah, ia langsung meluncur ke tempat kejadian dan ia tak menyangka jika wanita yang akhir-akhir ini berhasil mengusik hidupnya juga berada di sana.
"Kenapa kamu selalu berpikiran buruk tentangku ?" balas Elsa meskipun sebenarnya ia tak peduli pandangan pria itu terhadapnya.
"Wanita baik-baik takkan pernah menginjakkan kakinya di sini." tegas Alex.
"Terserah kamu berpikir aku seperti apa, aku tak peduli." timpal Elsa, kemudian segera melangkahkan kakinya pergi namun Alex yang tak suka di abaikan langsung mencekal tangan wanita itu.
"Kau tak ingin berterima kasih padaku, hm ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat Elsa tersenyum sinis.
"Aku tak memintamu untuk menolongku, tuan Alex." sahut Elsa seraya mengulurkan tangannya untuk merapikan kerah kemeja pria itu.
"Tapi tawaranku masih berlaku jika kau ingin." imbuh Elsa lagi dengan berbisik di telinga pria itu, bagaimana pun juga ia harus tetap menggodanya sampai tujuannya tercapai.
"Baiklah, aku harus pergi kasihan Sam jika terlalu lama menungguku." ucapnya kemudian, lantas ia segera berlalu dari sana namun bukan Alex jika membiarkan wanita itu pergi begitu saja.
Pria itu langsung menarik pinggang wanita itu sebelum pergi darinya lalu mendorong tubuhnya ke dinding dan menghimpitnya di sana.
"Aku akan mengajari bagaimana caranya j4l4ng sepertimu berterima kasih." ucapnya lalu segera m3lum4t bibir wanita itu dengan rakus.
Elsa nampak terkejut, namun selanjutnya wanita itu juga membalas ciuman pria itu hingga kini keduanya nampak saling menikmati pertukaran saliva mereka.
Ini adalah kesempatan Elsa untuk membuat pria itu semakin penasaran dan jatuh ke dalam pelukannya, meskipun pada akhirnya ia akan mencampakkannya setelah tujuannya tercapai.
Elsa semakin merapatkan tubuhnya bahkan ia bisa merasakan milik pria itu yang telah menegang nampak menggesek pahanya.
Tangan Alex yang sudah berhasil menelusup masuk ke dalam pakaiannya, Elsa biarkan begitu saja. Bahkan wanita itu sengaja mendesah saat tangan besar itu m3r3m4s salah satu gunung kembarnya dan memilin puncaknya.
Lantas Elsa membalasnya dengan menggenggam lembut milik pria itu dari balik celananya, sangat besar dan terasa penuh di tangannya lalu ia memainkannya sejenak hingga membuat pria itu mengerang nikmat.
Alex nampak mendongakkan wajahnya lalu memejamkan matanya sejenak saat merasakan bagaimana wanita itu membelai miliknya dengan begitu lembut hingga membuatnya tak bisa mengeluarkan kata-kata.
Kemudian Alex kembali m3lum4t bibir tipis wanita itu, lalu menurunkan ciumannya ke lehernya yang putih. Menghirupnya sejenak lantas kembali menciumnya dengan bibirnya yang basah dan sesekali meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Alex sudah terlalu candu dengan wanita itu hingga ia menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.
Sedangkan Elsa yang hampir tak berdaya di buatnya nampak tersenyum miring saat merasakan napas pria itu mulai berat akibat gairah yang di ciptakannya sendiri, kemudian ia langsung mendorong tubuhnya menjauh.
"Aku harus segera pulang." ucapnya tanpa perasaan bersalah sembari melirik ke arah Sam yang sedari tadi menunggunya di samping badan mobilnya.
Di tinggal begitu saja dalam keadaan on berat Alex nampak mengumpat, wanita itu benar-benar telah mempermainkannya.
Melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, Alex bergegas pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pria itu nampak mengumpat kesal, j4l4ng kecil itu benar-benar membuatnya hilang kesabaran.
Sesampainya di rumah, ia di sambut oleh sang istri yang nampak baru keluar dari kamarnya.
"Kamu baik-baik saja? aku sangat khawatir tadi kamu tiba-tiba pergi setelah mendapatkan telepon." ujarnya dengan wajah khawatir menatap suaminya itu.
"Syukurlah." Celine nampak lega.
Alex yang menatap istrinya itu yang terlihat seksi langsung menariknya ke dalam pelukannya lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.
Mendapatkan serangan tiba-tiba tentu saja Celine nampak senang, wanita itupun juga langsung membalas ciuman sang suami dengan tak kalah rakus.
Masih dengan bibir yang saling bertaut, Alex nampak mendorong wanita itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Kemudian melepaskan pakaian keduanya hingga kini menyisakan kain segitiga yang menutupi **** ***** mereka.
Alex yang sudah tersulut gairah karena sentuhan Elsa tadi langsung mengungkung sang istri yang kini nampak terlentang pasrah di atas ranjangnya.
Bahkan di mata Alex istrinya itu seakan seperti bayangan Elsa yang sedang menggodanya, tanpa berpikir panjang pria itu kembali m3lum4t bibir istrinya itu dan sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk m3r3m4s bongkahan indah milik wanita itu.
Entah kenapa Celine merasa suaminya itu lebih agresif dari sebelumnya, pria itu seperti sosok orang lain yang sedang memaksakan kehendaknya dan ia menyukai itu.
Karena biasanya suaminya selalu mengikuti keinginannya, saat ia menolak untuk melayaninya karena lelah pria itu langsung memakluminya.
Tapi kali ini pria itu bahkan tak membiarkan ia untuk membuka mulutnya sedikit pun.
Namun saat merasakan satu-satunya kain yang menutupi miliknya di bawah sana hendak di tarik oleh pria itu, Celine baru mengingat jika ia sedang kedatangan tamu bulanannya.
"Sayang, tunggu dulu. Aku sedang menstruasi, maaf aku baru mengatakannya." ucapnya dengan wajah bersalah yang langsung membuat Alex menghentikan gerakannya dan tersadar dengan apa yang ia lakukan.
Pria itu nampak mendesah kasar, kemudian berlalu ke dalam kamar mandi.
Sejak mengetahui perselingkuhan sang istri dengan seorang sutradara, Alex memang tak terlalu bergairah dengan wanita itu.
Namun ia tak ada niatan untuk berpisah karena ia menyadari dirinya juga pernah melakukan kesalahan, di mana ia pernah menghianati wanita itu dengan meniduri seorang gadis.
Seorang gadis yang saat ini entah bagaimana nasibnya setelah kesuciannya ia renggut paksa, tapi kehidupan di LA sangatlah berbeda jauh dengan kehidupannya di Indonesia dulu.
Kehilangan kesucian itu adalah hal wajar di sini dan Alex yakin wanita itu pasti akan baik-baik saja.
Sayangnya Alex tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu karena penerangan di bar waktu itu yang minim dan waktu itu pun ia juga tak berniat mencarinya.
Biarlah ia menganggap hubungan mereka sebagai one night stand dan akan terlupakan dengan berjalannya waktu, lagipula waktu itu ia juga sudah meninggalkan kartu namanya di bar tersebut namun hingga kini gadis itu tak kunjung mencarinya.
Bagi Alex itu hanya sepenggal masa lalunya yang sudah berakhir dan ia takkan mengingat-ingatnya lagi.
Sementara itu Celine yang kini telah kembali mengenakan pakaiannya, nampak memunguti pakaian sang suami yang berserakan di atas lantai.
Saat memegang kemeja pria itu Celine tak sengaja melihat bekas lipstik di kerahnya. "Ini bekas lipstik siapa ?" gumamnya, lalu ia mendekatkan kemeja itu ke hidungnya lalu memgendusnya.
"Parfum wanita."
Celine langsung terbelalak tak percaya, apa suaminya yang selama ini ia anggap sangat mencintainya itu telah bermain dengan wanita di luar sana?
"Tidak, itu tidak mungkin." gumamnya lagi, Celine akui selama ini ia bukan seorang istri yang sempurna.
Namun sejak sang suami memaafkan skandalnya dengan sang sutradara, Celine tak pernah lagi berhubungan dengan pria manapun.
Bahkan ia tetap bersabar saat terkadang pria itu bersikap dingin padanya dan mendatanginya hanya di saat sedang menginginkannya saja.
Bahkan perbuatannya dengan Marco beberapa waktu lalu adalah bentuk rasa bosannya pada sang suami yang tak pernah lagi mampu memuaskan hasratnya, pria itu selalu pergi setelah hasratnya terpuaskan dan tak memikirkan jika ia juga butuh kepuasan.
"Ada apa ?" tanya Alex setelah keluar dari toilet dengan piyama tidur membungkus tubuh kekarnya.
"Ini apa ?" Celine menunjukkan bekas lipstik di kerah kemeja pria itu dan tentu saja itu membuat Alex juga nampak terkejut.
"Katakan, ini bekas lipstik siapa ?" hardik Celine kemudian.