
"Aku juga sangat menginginkan mu tapi kamu tahu sendirikan itu sangat rawan buat janin kita yang masih sangat muda." Grace menolak keinginan suaminya untuk bercinta, wajahnya langsung menghindar saat pria itu hendak menciumnya kembali.
"Ya kau benar, maafkan aku." James langsung menghela napas panjangnya, namun tiba-tiba ia sangat mengantuk. Tak biasanya ia seperti ini, mungkin faktor ia belum terlalu sehat.
Seketika pikirannya melayang jauh ke istri keduanya itu, wanita itu walaupun sulit di atur namun sangat peduli padanya. James langsung menepis rasa kagumnya jauh-jauh, ia takkan mungkin menyukai wanita itu karena ia sudah mempunyai Grace saat ini. Wanita berhati lembut yang mampu mengetuk hatinya.
"Kamu mengantuk ya, ayo ku temani tidur." ajak Grace saat melihat suaminya itu berkali-kali menguap.
Akhirnya malam itu mereka menghabiskan malam hanya dengan tidur tanpa melakukan apapun yang sebenarnya James sangat menginginkan hal lain.
"Kapan kamu akan kembali ke sini ?" Grace menemani sang suami yang sedang memakai pakaiannya.
"Belum tahu, jika tak banyak kerjaan aku langsung pulang." sahut James yang kini nampak menyisir rambutnya di depan kaca.
"Semoga William segera merestui kita ya." Grace langsung memeluk pria itu dari belakang dan itu membuat James nampak tersenyum tipis menatap sang istri dari pantulan cermin.
"Aku akan berusaha." ucapnya seraya mengusap lembut tangan istrinya itu yang melingkar di perutnya.
"Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi antara mommy dan William dahulu, rasanya tidak adil jika aku yang menjadi korban perbuatan mereka." ucap Grace dengan mimik sedihnya yang langsung membuat James berbalik badan menatap wanita itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku." ucap James seraya mengusap lembut pipi wanita itu, kemudian pria itu mendekatkan wajahnya. Saat hendak mengecup bibir tipis istrinya itu tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar dan tak berapa lama sosok Nick membuka pintu.
"Mobil anda sudah siap tuan." ucap pria itu yang langsung membuat James geram.
Nick nampak menatap Grace sejenak lalu pria itu kembali menutup pintu kamar bossnya itu.
"Apa dia sering seperti itu ?" tanya James kemudian.
"Se-seperti apa aku tidak mengerti maksudmu." Grace mengernyit menatap suaminya itu.
"Masuk kamar ini tiba-tiba." ucap James masih dengan wajah kesalnya.
"Tidak sayang, lagipula bukannya kamu tadi pagi yang menyuruhnya untuk memberitahu jika mobilmu sudah selesai. Apa kamu lupa, hm ?" Grace mengusap lembut dada bidang di balik kemeja pria itu.
James hanya menghela napas panjangnya. "Ku harap dia tidak main-main denganmu, jika itu terjadi kau tahu akibatnya." ucapnya seraya mengambil sepatunya dan itu membuat Grace langsung tergelak.
"Cemburumu tak beralasan sayang, bagaimana bisa aku menurunkan seleraku." ucapnya kemudian.
James tak lagi menanggapinya, pria itu nampak sibuk dengan sepatunya dan juga pikirannya.
Sementara itu Anne yang baru tiba di restoran tempatnya bekerja langsung di sibukkan dengan para pelanggannya yang sepertinya semakin hari semakin ramai.
"Nona apa kau dari Asia ?" ucap salah satu pelanggan di sana.
"Benar tuan." sahut Anne dengan ramah, akhirnya ia menjadi manusia normal kembali dengan banyak senyum pada semua orang. Hidup memang perlu bersosialisasi bukan terkurung di bangunan mewah yang sama sekali tak ada kebahagiaan di sana.
"Kau sangat cantik nona." puji pelanggan lainnya.
"Terima kasih banyak tuan." sahut Anne lalu segera pergi, sepertinya wanita itu tak terlalu menanggapi pujian mereka.
"Sejak kau bekerja di sini restoran ini sangat ramai." ucap tuan Nicolas tiba-tiba yang membuat Anne yang sedang menaruh nampan langsung terlonjak kaget.
"Kapten Ri." ucapnya tanpa sadar.
"Ti-tidak tuan, maksud saya karena masakan di sini enak jadi banyak pelanggan yang suka." sahut Anne beralasan.
"Bisa jadi." Tuan Nicolas mengedikkan bahunya kemudian berlalu pergi dengan senyum mengembang karena melihat restorannya yang sangat ramai.
"Benar-benar seperti oppa Joongki." Anne terlihat mengagumi bosnya itu tapi ia cukup tahu diri untuk tak memberikan hatinya, mengingat bagaimana statusnya saat ini dan pria itu juga sepertinya sulit untuk ia gapai oleh dirinya yang hanya pegawai biasa.
"Ann, tolong kamu bawa makanan ini ke ruangan VVIP ya." perintah sang manager yang langsung membuyarkan lamunan Anne, padahal ia tadi sedang menghalu jadi Kyo yang sedang bersanding dengan oppa Joongki, asem memang.
"Fokus Anne, fokus."
Anne segera mendorong troli berisi makanan tersebut ke dalam ruangan VVIP yang di maksud oleh sang manager.
"Selamat siang tuan-tuan, saya mengantarkan makan siang an...." Anne langsung menjeda ucapannya saat pandangannya tak sengaja bersitatap dengan sang suami, bagaimana pria bermuka datar itu tiba-tiba ada di sana?
Tak hanya suaminya itu, Anne juga melihat William serta beberapa pria lainnya juga.
"Mampus aku."
Anne nampak menggigit bibir bawahnya saat menyadari tatapan membunuh dari sang suami, karena kemarin pria itu sudah melarangnya untuk tidak pergi bekerja lagi.
Tak ingin membuat suasana menjadi tegang Anne langsung berdehem kecil, kemudian membawa trolinya mendekat lalu segera menghidangkannya di atas meja.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" ujar William menatap ke arah Anne yang nampak bersikap biasa saja seakan yang di lakukannya adalah hal wajar, padahal itu sama sekali tak wajar di matanya.
Anne yang notabennya sebagai istri orang kepercayaannya bisa-bisanya merendahkan dirinya bekerja sebagai pelayan, apa suaminya itu tak mampu menafkahinya? memikirkan hal itu William terlihat mengeraskan rahangnya.
"Saya, saya hanya bosan di rumah tuan." sahut Anne beralasan, pandangannya sesekali melirik ke arah sang suaminya yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Bosan ?" William menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Iya bosan tuan." ulang Anne. "Karena suami saya lebih memilih menghabiskan waktunya bersama dengan kekasihnya dari pada saya." imbuhnya dalam hati, ia tak mungkin mengatakan hal itu karena suaminya pasti akan mencincangnya nanti.
Anne tidak tahu bagaimana kehidupan suaminya itu sebelumnya dan ia juga tidak tahu pria itu sedang menjalin hubungan dengan wanita mana sebelum menikah dengannya.
Dan yang ia tahu suaminya adalah orang yang paling setia pada atasannya itu dan pernikahannya waktu itu juga adalah bukti kesetiaannya.
Dirinya yang tadinya terpaksa dengan pernikahan itu pada akhirnya mencoba menerimanya demi sang ayah agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, impas bukan.
Kini ia pasrah dengan takdirnya, jika suatu saat ia harus berpisah dengan suaminya itu ia akan menerimanya karena memang di antara mereka tak ada cinta.
"Kalau bosan kau bisa ke rumah temui istriku atau jalan-jalan ke mall untuk shooping An bukan menjadi pelayan seperti ini." ujar William dengan wajah herannya.
"Saya lebih suka bekerja tuan dari pada harus menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting." sahut Anne.
"Tuan William memang gadis ini siapa? apa dia keponakan anda, saya suka sekali dengan kepribadiannya." puji salah satu rekan bisnis William yang langsung membuat James nampak berdecih.
Lalu ia kembali mengedarkan pandangannya ke rekan-rekannya yang lain dan mereka juga nampak menatap kagum pada istrinya itu.
"Ck, memang apa istimewanya dia ?"