
"Kau membuatku terlambat di hari pertamaku bekerja." gerutu Elsa setelah keluar dari toilet dengan handuk melekat di tubuhnya.
"Ya sudah tidak usah bekerja saja." timpal Alex dengan entengnya, pria itu terlihat bersemangat sekali setelah berhasil mengerjai istrinya yang sedang mandi.
Hingga membuat wanita itu menggerutu dengan kesal, bagaimana tidak harusnya ia hanya memerlukan waktu 20 menit untuk mandi namun gara-gara pria itu ia baru selesai satu jam setelahnya.
"Itu tidak mungkin, aku sudah mengharapkan pekerjaan ini sejak lama." sela Elsa seraya mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian wanita itu terlihat rapi dan siap berangkat setelah menghabiskan sarapan paginya.
"Nanti sore aku akan menjemputmu." ucap Alex lantas mengecup bibir istrinya tersebut.
Setelah wanita itu masuk ke dalam kantornya, Alex baru berlalu pergi.
"Jack, apa sudah ada informasi perihal kebakaran itu ?" tanyanya setelah mobil mereka melaju kencang membelah jalanan pagi itu.
"Sudah tuan, baru saja saya mendapatkan kabar." terang Jack dari balik kemudinya.
"Jadi apa ini ada hubungannya dengan Marco ?" tebak Alex, karena hanya pria itu yang selalu mencari masalah dengannya.
"Bukan tuan, pihak penyidik telah menangkap beberapa pelaku yang rupanya pemuda di sekitar gudang kita yang kebakaran. Mereka sedang mabuk lalu menyusup ke gudang dan saya sudah memerintahkan untuk lebih ketat dalam penjagaan." terang Jack lagi.
Alex nampak menghela napasnya lega karena bukan Marco pelakunya, sungguh ia tak ingin berurusan dengan pria itu lagi. Ia hanya ingin menjalankan bisnisnya dengan tenang dan tanpa campur tangan para mafia lagi, karena pasti akan banyak orang yang tak bersalah menjadi korbannya.
Memiliki keluarga yang sangat ia cintai bagi Alex itu sudah cukup dan ia tak ingin membahayakan keluarganya hanya demi sebuah ambisinya.
Sementara itu Elsa yang baru datang langsung di sambut oleh beberapa karyawan serta atasannya di kantor.
"Selamat datang, nyonya Martin." sapa mereka semua.
"Elsa, panggil saja Elsa." tukas Elsa dan itu membuat beberapa karyawan di sana nampak saling berpandangan.
"Hai Elsa selamat datang di kantor kami." ucap direktur di kantor tersebut yang rupanya sangat ramah.
"Aku karyawan baru di sini, mohon bimbingannya semuanya." ucap Elsa dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dan itu membuat suasana kantor mulai mencair.
Entah apa yang terjadi sebelumnya hingga membuat suasana menjadi tegang apalagi saat wanita itu datang, namun Elsa yang cepat membaur menjadikan suasana kantor menjadi asyik kembali.
Tak terasa hari mulai sore dan Elsa yang baru selesai dengan pekerjaannya nampak menghela napasnya lega.
"Ada bos besar telepon, tolong sambungkan ke ruangan nona Elsa." teriak salah satu karyawan saat menerima sambungan telepon.
"Els, ada telepon untukmu dari bos besar." ucap rekan kerja Elsa kemudian.
"Bos? bos besar? apa pak direktur ?" tanya Elsa dengan wajah mengernyit.
"Bukan, ini CEO baru kita." terang wanita itu.
"Kenapa mencariku, apa aku telah melakukan kesalahan ?" timpalnya dengan tegang, seharian ini ia sudah bekerja dengan baik apa masih ada kesalahan yang ia lakukan?
"Angkat saja sepertinya ada yang penting." timpal rekan kerjanya tersebut.
"Hm, baiklah." Elsa langsung mengangguk, lantas segera mengangkat gagang telepon di hadapannya tersebut.
"Selamat sore tuan, saya Elsa manager baru di sini." sapanya kemudian.
"Hallo nyonya Alex, bisa keluar sebentar? atasannya atasan bosmu sedang menunggumu di luar." ucap Alex dari ujung telepon.
"Ka-kau? Ba-bagaimana bisa..." ucapan Elsa langsung terjeda saat sang suami menyelanya.
"Cepat keluarlah atau aku akan masuk dan menggendongmu keluar !!" potong Alex dan sontak membuat Elsa melotot.
"Ta-tapi...."
"Ini sudah jam pulang kerja nyonya Alex apa kamu mau tidur di situ sampai pagi ?" cibir Alex kemudian.
Elsa nampak kesal, kemudian mengambil tasnya lalu segera meninggalkan ruangannya tersebut.
Saat melihat suaminya yang sedang bersandar di badan mobilnya dengan senyum mengembang di bibirnya membuat kekesalannya seketika sirna.
Bagaimana pun juga yang di lakukan pria itu demi kebaikannya meski membuatnya menjadi tak percaya diri akan kemampuannya sendiri.
"Aku sangat merindukanmu." ucap Alex saat istrinya itu berjalan mendekat.
"Aku juga." balas Elsa lantas mengecup bibir suaminya itu dan kecupan itu berubah menjadi sedikit lum4t4n saat pria itu membalasnya.
"Pakai ini, perjalanan kira akan sedikit panjang." Alex melepaskan jasnya lantas memakaikannya pada punggung istrinya tersebut.
"Ke tempat yang pasti kamu akan suka." sahut Alex seraya membukakan pintu mobil untuk wanita itu.
"Terima kasih." ucap Elsa lantas segera masuk.
Setelah mobil yang di kendarai oleh Jack melaju, Elsa kembali membuka suaranya. Sepertinya wanita itu masih penasaran kemanakah ia akan di bawa pergi oleh suaminya itu.
"Jadi kita mau kemana ?" tanyanya kemudian.
"Apa aku akan mendapatkan hadiah jika mengatakannya ?" tukas Alex dengan nada menggoda.
"Bisa, tapi katakan kita mau kemana ?" desak Elsa yang nampak semakin penasaran.
"Katakan hadiah apa yang akan kamu berikan ?" timpal Alex dengan menatap lekat wanita itu.
"Apa saja yang kamu mau." sahut Elsa, karena suaminya telah memiliki segalanya jadi ia tak bisa berpikir hadiah apa yang pantas untuk pria itu.
"Baiklah, akan ku tagih nanti." sahut Alex.
"Jadi kita mau kemana ?" tanya Elsa dengan tak sabar.
Alex nampak menunjukkan tiket di layar ponselnya yang langsung membuat Elsa berteriak histeris.
"Bali ?" ucapnya tak percaya, sebuah pulau yang pernah menjadi impiannya untuk ia singgahi suatu saat nanti.
"Hm, kamu suka? Kita akan berbulan madu kesana dan itu kampung halaman ibuku, nanti aku akan mengenalkanmu dengan keluarga besar kami di sana." terang Alex kemudian.
"Terima kasih." Elsa langsung mencondongkan tubuhnya lantas mengecup bibir suaminya itu dan kecupan tersebut semakin lama menjadi sebuah lum4t4n dari keduanya dengan sedikit menuntut.
Namun menyadari sedang berada di dalam mobil dan ada Jack di sana membuat mereka segera menyudahinya.
Sementara itu di tempat lain Marco nampak frustrasi saat kembali mendapati keterangan dari seorang dokter.
"Maaf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi memang ini hasil yang kami dapatkan." ucap seorang pria paruh baya dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya.
Pria yang di ketahui sebagai seorang dokter senior dan sangat berpengalaman pun rupanya juga angkat tangan dengan keadaan Marco yang memang takkan bisa memiliki keturunan.
Malam itu Marco terlihat sangat frustrasi lantas pergi ke club malam lalu menghabiskan waktunya di sana sepanjang malam, sebelum pada akhirnya pria itu kembali ke negaranya dengan tangan kosong.
Sejak dirinya di vonis mandul, pria itu terlihat tak semangat bekerja, membiarkan bisnisnya berantakan dan memilih menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan.
"Tuan, sampai kapan anda akan seperti ini ?" ucap sang asisten yang nampak iba melihat keadaan tuannya tersebut.
"Aku sudah hancur, jadi apa yang bisa ku banggakan." ucap Marco seraya meletakkan gelas kosong di atas mejanya.
"Tidak tuan, saya yakin anda adalah seorang Anderson yang sangat kuat." sang asisten terus menerus memberikannya semangat.
"Benarkah ?" Marco nampak tertawa sinis tak percaya.
"Tentu saja tuan, lihatlah di cermin anda sangat kuat dan takkan terkalahkan dengan apapun." ucap sang asisten seraya menunjuk ke arah cermin yang ada di ruangan tersebut.
"Aku melihat rambutku dan jenggotku mulai memanjang." seloroh Marco menanggapi.
"Saya mempunyai kenalan jika anda ingin merapikannya, tuan." ucap sang asisten yang langsung membuat tuannya itu menatapnya lalu mengangguk pelan dan itu membuat asistennya itu nampak senang.
"Tempatnya di sebuah Mall tuan dan saya jamin setelah ini anda akan merasakan hidup baru." imbuh asisten tersebut, kemudian mereka segera pergi ke tempat yang di maksud.
...----------------...
Siang itu Anne yang baru keluar dari pusat perbelanjaan segera menuju parkiran mobilnya, namun tiba-tiba sebuah mobil melintas dan tak sengaja hendak menabraknya karena remnya yang bermasalah.
"Minggirlah nyonya !!" teriak sang pengemudi dengan panik.
"Aarrgghh."
Anne yang tiba-tiba terpeleset saat menghindar langsung berteriak namun beruntung ada seseorang yang segera menahan tubuhnya jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya dan juga bayinya.
"Marc ?" ucapnya dengan terkejut saat menyadari siapa yang telah menolongnya.
"Berhati-hatilah, An." ucap Marco dengan wajah khawatir.
"Terima kasih, entah apa yang akan terjadi jika tidak ada kamu." ucap Anne seraya menatap pria itu.
Tangan Marco yang masih menahan punggung Anne tiba-tiba di hempaskan oleh seseorang hingga membuat pria itu hampir terhuyung jatuh.
"Sa-sayang ?" Anne langsung menelan ludahnya saat melihat suaminya itu menatapnya dengan rahang mengeras dan tatapannya yang menusuk.