
"Hu-hutang? maksudmu semua belanjaan ini aku harus membayarnya sendiri ?" ucap Anne tak percaya saat suaminya menunjukkan nota seluruh belanjaannya yang bernilai 300 juta.
"Kamu pikir ini semua gratis ?" cibir James menatap wanita tak jauh darinya itu.
"Di dunia ini tak ada yang gratis nona, jadi mulai sekarang berpikirlah bagaimana cara kamu membayarnya." sambungnya kemudian.
"Kamu benar-benar pria brengsek, bagaimana bisa kamu hitung-hitungan sama istri sendiri ?" tuding Anne dengan kesal, ternyata kebahagiaannya tadi hanya semu belaka. Lelaki di hadapannya itu benar-benar membuatnya muak.
"Istri ?" James langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Mungkin aku bisa sedikit mempertimbangkan jika kamu mampu berlaku sebagai seorang istri yang sesungguhnya." imbuhnya seraya menatap wanita itu penuh arti dan Anne yang di pandang sedemikian rupa langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kamu jangan macam-macam, tuan James." ucapnya dengan menatap tajam pria itu.
James hanya tersenyum sinis, kemudian berlalu meninggalkan wanita itu dan segala kekesalannya.
"Bagaimana aku membayar ini semua ?" rutuk Anne seraya melihat semua barang belanjaannya.
"Bahkan uang bulananku yang di berikan olehnya tidak akan cukup untuk membayar itu semuanya." imbuhnya lagi mengingat pria itu hanya memberikan uang nafkah 10 juta perbulan.
"Baiklah, aku harus kembali bekerja. Lagipula dia takkan betah berlama-lama tinggal di sini, palingan juga akan pergi dan beberapa hari kemudian baru pulang. Semangat Anne yang penting sekarang rumah ini akan menjadi surga bagimu." Anne nampak menatap berbagai barang belanjaannya dengan mata berbinar-binar.
Kemudian wanita itu mulai membuka satu persatu paper bag berisi semua pakaian mahalnya. "Semua bagus-bagus." ucapnya, karena baru kali ini ia mempunyai pakaian bermerk dengan model sesuai seleranya. Begitulah perempuan moodnya seketika membaik jika berhubungan dengan belanjaan.
Sore itu juga Anne nampak membuat cake kesukaan mantan bosnya itu, Merry pasti sangat merindukan kue khas Indonesia apalagi saat ini sedang hamil muda.
Besok ia berencana akan mengunjunginya dan meminta pekerjaan pada wanita itu, hutangnya pada James harus segera ia bayar agar cepat terbebas dari pria itu.
Mengingat bagaimana hubungan suaminya dengan kekasihnya sangat mesra membuatnya enggan meneruskan hubungan pernikahan tak jelas ini, seandainya pria itu bisa memperlakukannya dengan baik mungkin ia akan mempertimbangkan untuk membuka hatinya.
Namun makin hari pria itu semakin semena-mena padanya, tidak hanya kesuciannya saja yang di renggutnya paksa tapi pria itu juga sangat hitung-hitungan sekali padanya.
"Hm, baunya sangat enak." gumamnya saat baru mengeluarkan satu loyang bolu pisang susu kesukaannya, kemudian ia memasukkan kembali loyang kedua.
Tak tahan ingin merasakannya, Anne segera mengambil sepotong dan langsung melahapnya. "Sumpah, ini sangat enak." pujinya.
Bersamaan itu James yang baru menuruni anak tangga langsung melangkah menuju meja makan di mana istrinya itu berada.
"Kau yang membuatnya ?" ucapnya seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil sepotong kue di atas piring, namun istrinya itu langsung menepis tangannya.
"Kamu mau ngapain ?" tanyanya menyelidik.
"Tentu saja makan kue itu memang mau ngapain." sahut James dengan menatap kesal istrinya itu, karena jika tidak kue dengan topping kismis itu sudah mendarat di lidahnya.
"Kamu mau? baiklah harga kue ini 10 juta." timpal Anne seraya mengulurkan telapak tangannya ke depan pria itu yang tentu saja membuat James langsung melotot.
"Kamu mau memerasku ?" rutuknya.
"Bukan memeras tuan James, tapi aku hanya menawarkan barang daganganku. Bukankah kamu menyuruhku mencari cara untuk membayar hutang-hutangku? jadi inilah caraku. Apapun yang ku masak jika kamu ingin memakannya harus membayarnya." tegas Anne tak mau tahu, pria itu licik ia juga akan bersikap lebih licik lagi.
James nampak tersenyum sinis. "Apa itu cara memperlakukan suami yang baik ?" cibirnya menatap wanita itu.
Anne nampak melangkah mendekati pria itu hingga kini jarak mereka hanya beberapa senti saja.
"Ya tergantung, perlakuan istri itu tergantung dengan perlakuan suaminya. Karena kau suami yang sangat perhitungan maka aku juga menirumu, impas bukan." ucapnya seraya menepuk-nepuk pelan dada pria itu yang terasa sangat liat, lalu Anne segera melangkah menjauh sebelum dirinya khilaf dan jatuh ke dalam pelukan pria itu.
James nampak menghela napas beratnya, sentuhan wanita itu yang hanya beberapa detik sukses membangkitkan gairahnya.
"Baiklah, berikan kue itu dan hutangmu ku potong 10 juta." ucapnya kemudian dan tentu saja membuat Anne langsung bersorak dalam hati.
"Baiklah, terima kasih banyak tuan suami. Benar-benar kerja sama yang saling menguntungkan." ucap Anne seraya menyerahkan seloyang kue yang sudah ia potong dan letakkan di atas piring, wanita itu nampak tersenyum puas hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
James yang sedang lapar namun enggan keluar rumahnya langsung membawa kuenya tersebut kamarnya, namun saat akan menaiki anak tangga pria itu kembali berbalik badan menatap sang istri yang sedang mengeluarkan kue lainnya dari dalam oven.
"Aku sedang memikirkan untuk memberikan bunga pinjaman pada hutang-hutangmu itu." ucapnya yang langsung membuat Anne menghentikan kegiatannya lalu menatap suaminya itu.
"A-apa kau bilang ?" ucapnya tak percaya.
"Selamat malam, semoga tidurmu malam ini nyenyak." ucap James lalu kembali menaiki anak tangga, bibirnya nampak terangkat ke atas seakan membuat geram wanita itu adalah sebuah hiburan.
"Bu-bunga pinjaman? Dasar tuan rentenir." teriak Anne tak terima, baru saja ia merasa senang karena hutangnya berkurang, namun suaminya yang licik itu justru memperalatnya kembali.
"Selamat pagi? aku sudah membuatkan kopi untukmu. Apa kamu mau sarapan aku juga sudah memasak, tenang kali ini gratis tidak perlu bayar.
Pagi itu saat melihat suaminya menuruni anak tangga Anne langsung menyambut pria itu dengan sikap manisnya, meski terpaksa paling tidak pria itu mau berpikir ulang untuk tidak memberikan bunga pada hutang-hutangnya.
"Tidak." sahut James singkat seraya melangkah keluar rumahnya.
"Biasanya kamu selalu minum kopi? kali ini gratis tenang saja." bujuk Anne seraya mengikuti langkah pria itu.
"Tidak." sahut James lagi seraya membuka pintu mobilnya, lalu segera masuk dan pergi meninggalkan wanita tersebut.
"Sangat menyebalkan." Anne langsung menghentakkan kakinya masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sementara itu di tempat lain Merry yang sedang membujuk suaminya agar ia bisa ikut ke kantornya akhirnya menyerah setelah pria itu keukeh dengan keputusannya.
"Aku bilang tidak ya tidak sayang, kandunganmu masih sangat rawan dan aku tidak ingin kamu dan dia kenapa-kenapa." tegas William seraya duduk di seberang istrinya itu karena hingga kini wanita itu masih enggan ia dekati, lebih tepatnya selalu mual dan muntah saat ia mendekat.
"Tapi aku bosan." Merry nampak mengerucutkan bibirnya.
"Bersabarlah, sedikit lagi." bujuk William, pria itu nampak melipat surat kabar lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian segera beranjak menuju kaca untuk mematut penampilannya.
Merry yang melihat suaminya terlihat rapi dengan setelan kerjanya membuatnya semakin kesal, akhir-akhir ini terbesit rasa cemburu saat suaminya itu sedang berada di luar.
Ia takut pria itu main hati dengan wanita lain mengingat dirinya yang sejak hamil belum bisa melayaninya, entah hanya pikirannya saja tapi suaminya itu akhir-akhir ini sangat rapi menurutnya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Jangan lupa makan semua yang di hidangkan oleh pelayan, baik itu vitamin sekalipun." ucap William dari tempatnya berdiri, ingin sekali ia mendekat tapi istrinya itu pasti akan langsung mual.
"Hm, hati-hati." sahut Merry.
Setelah kepergian suaminya Merry terlihat semakin kesal namun saat melihat siapa yang tiba-tiba datang senyumnya langsung mengembang.
"Anne ?" teriaknya dengan senang saat melihat kedatangan mantan asistennya itu.
"Ibu bagaimana kabarnya ?" tanya Anne seraya berjalan mendekat, wanita itu nampak mencium pipi kiri dan kanan wanita itu.
"Sedikit kurang baik, tapi aku senang kamu sudah datang." sahut Merry.
"Ini apa ?" imbuhnya saat Anne meletakkan bingkisan di hadapannya.
"Ibu buka saja." sahut Anne.
Dengan tak sabar Merry langsung membukanya dan saat melihat kue kesukaannya wanita itu langsung berteriak senang.
"Aku benar-benar sangat merindukan kue ini." ucapnya seraya mengambil sepotong cake pisang susu tersebut, namun tiba-tiba pelayannya yang baru datang langsung menyelanya.
"Nyonya, tuan melarang anda untuk makan kue sembarangan. Karena makanan yang anda konsumsi selain aman juga harus mengandung gizi yang tinggi." ucap sang pelayan mengingatkan.
"Ini aman dan sehat kok tenang saja, aku mantan petugas medis jadi aku tahu apa yang ku masak." timpal Anne menatap pelayan tersebut.
"Baik nyonya, maaf." Setelah meletakkan semangkuk buah di hadapan Merry pelayan tersebut segera pergi dari sana.
"Kamu lihat sendirikan peraturan William itu sangat menyebalkan." ucap Merry kemudian.
Anne nampak tersenyum menanggapi. "Itu semua demi kebaikan ibu juga." ucapnya.
"Jadi bagaimana kabarmu An, apa James baik padamu ?" tanya Merry kemudian.
"Hm." Anne langsung mengangguk, ia tak mungkin menceritakan semuanya jika tidak pria datar itu pasti akan membuatnya menderita.
"Tapi akhir-akhir ini aku sangat kesepian, apa ibu tidak berniat mencari karyawan lagi jika ada aku mau bu." imbuh Anne kemudian.
"Aku sekarang sudah tidak bekerja lagi An, tapi kalau kamu mau kenapa tidak bekerja di kantor William bersama suamimu saja. Kalian pasti akan punya waktu lebih banyak untuk bersama." saran Merry.
"James pasti akan melarangku." timpal Anne dengan wajah sendunya.
"Aku akan membujuk William jika kamu mau." ucap Merry kemudian.
"Benarkah bu? baiklah aku mau." Anne langsung girang dan tentu saja Merry juga, karena ia bisa mengetahui perbuatan suaminya di luar sana dari wanita itu.