
"Apa tidak ada yang bisa kau lakukan selain makan ?" tegur Jennifer saat melihat Anne bukannya ikut meeting hingga selesai, tapi justru masuk ke sebuah restoran yang ada di hotel tersebut di tengah meeting berlangsung.
"Bukankah sudah ada Rose, kamu dan lainnya? lagipula aku tiba-tiba lapar jadi tak baik menunda makan lebih lama." sahut Anne dengan wajah cueknya.
"Perusahaan benar-benar sia-sia menggaji karyawan tak becus sepertimu." cibir Jennifer dengan kesal.
Tadinya ia yang ingin ke toilet urung karena melihat Anne tiba-tiba berada di dalam restoran.
Tak berapa lama pelayan nampak membawa beberapa menu lagi dan tentu saja itu membuat Jennifer langsung melotot.
"Kau yakin bisa menghabiskan ini semua? Asal kamu tahu ini semua makanan mahal." ucapnya kemudian.
"Aku yang pesan jadi tentu saja aku yang menghabiskan, lagipula aku yang membayar kenapa kamu yang repot? kalau mau duduklah aku akan mentraktirmu." timpal Anne di tengah kunyahannya menatap wanita itu.
Jennifer nampak bersungut-sungut, lalu segera menghentakkan kakinya pergi meninggalkan restoran tersebut.
"Wanita aneh, bagaimana bisa dia makan sebanyak itu setiap hari tapi tidak gemuk-gemuk? Lagipula patut di curigai, dia cuma seorang asisten tapi kenapa bisa punya uang sebanyak itu belum lagi pakaiannya semua bermerk atau jangan-jangan dia wanita simpanan tuan William? jika benar aku bersumpah akan mempermalukan mu." gumam Jennifer sepanjang ia melangkah menuju tempat meeting.
"Anda baik-baik saja, nona ?" tanya Rose saat melihat Jennifer datang dengan wajah di tekuk.
"Itu asistenmu benar-benar tidak berguna, kita yang lelah meeting di sini tapi dia asyik-asyikan makan di restoran. Sudah begitu pesannya banyak banget, astaga." keluh Jennifer setelah duduk di sebelah Rose, tentunya dengan sedikit berbisik karena meeting masih berlangsung.
Rose mengulas senyumnya. "Nona Anne sudah bekerja keras untuk proyek kita ini, jadi biarkan saja dia melakukan apapun." timpal Rose kemudian yang langsung membuat Jennifer mengernyit tak mengerti.
"Baiklah tuan James kami memilih proposal yang ini saja, karena ini lebih unik dan sangat menarik." ucap seorang pria seraya mengambil salah satu proposal yang James ajukan.
"Baiklah, terima kasih banyak tuan-tuan semoga kerja sama kita ke depannya semakin lancar." balas James seraya menjabat tangan mereka satu persatu.
"Syukurlah, mereka mau bekerja sama dengan kita." timpal Jennifer setelah kliennya itu telah meninggalkan tempat meeting.
"Benar nona." Rose ikut senang.
James yang sedari tadi terlalu fokus membuat presentasi pada relasi bisnisnya itu tak menyadari jika sang istri belum juga kembali ke tempat meeting setelah tadi berpamitan pergi ke toilet.
"Rose, di mana Anne ?" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Jadi kau mau tahu di mana asisten tak berguna itu? dia sedang asyik makan di restoran." Jennifer langsung mengadu pada James.
James nampak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah, sebagai perayaan tender kita juga bisa makan siang dulu di sana baru kembali ke kantor." ucapnya seraya beranjak dari duduknya.
"Baiklah, aku juga tiba-tiba lapar." timpal Jennifer setuju, tak apalah mereka makan beramai-ramai dengan yang lainnya asal bersama James.
Meski jujur ia hanya ingin makan berdua dengan pria itu, mengenang masa lalu mereka semasa kuliah dulu. Jennifer juga sangat penasaran dengan wanita yang di rumorkan dekat dengan pria itu.
Wanita berambut blonde yang potretnya tersebar di media online. "Ah sial aku kalah cepat, lihat saja aku pasti akan merebutmu dari wanita itu." gumamnya seraya melangkah meninggalkan tempat meeting tersebut.
Sesampainya di restoran, James langsung menggelengkan kepalanya saat melihat istrinya yang sepertinya sedang makan porsi keduanya. Sejak hamil selera makan wanita itu meningkat drastis.
"Sudah selesai meeting ya? maaf tadi aku meninggalkan meeting karena tiba-tiba sangat lapar." ucap Anne saat mereka menghampirinya.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja makanmu." sahut James yang duduk di seberang istrinya itu, lalu Jennifer menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah pria itu.
Kemudian mereka segera memesan makan siangnya, karena energi mereka cukup terkuras oleh meeting tadi.
"Nona Anne, selamat ya proposal yang kamu ajukan terpilih dalam tender." ucap Rose yang membuat Jennifer yang sedang minum langsung tersedak.
"Pelan-pelan, nona." Rose yang sedang duduk di hadapannya langsung memberikan wanita itu tisu.
"Milik nona Anne." sahut Rose dan sontak membuat Jennifer melebarkan matanya.
"Yakin miliknya ?" ucapnya tak percaya.
"Tentu saja milikku, memang kamu tak mengeceknya ?" kali ini Anne ikut menimpali.
"Ku rasa itu hanya kebetulan saja mereka menyukai proposal asisten sepertimu, padahal masih banyak proposal milik yang lain yang lebih bagus." cibir Jennifer kemudian, namun sepertinya Anne enggan membalasnya lagi karena jika sedang makan wanita itu tak ingin di ganggu.
Tak berapa lama Anne nampak bersendawa karena kekenyangan dan itu membuat Jennifer langsung melotot.
"Tidak bisakah kau bersikap sopan sedikit? astaga, kamu itu seorang wanita makanya jangan terlalu rakus." tegurnya kemudian.
"Sudah-sudah, cepat selesaikan makan siangmu Jen !!" James langsung menengahi.
"Dia sangat tidak sopan, James." timpal Jennifer tak terima.
"Aku malah senang dia makan banyak, agar ba..." Anne langsung memotong perkataan suaminya itu saat hampir kelepasan bicara.
"Tentu saja aku harus makan banyak biar kuat menghadapi kenyataan." potongnya seraya menginjak sepatu suaminya itu dengan keras hingga membuat pria itu berteriak kesakitan.
"Kau baik-baik saja ?" Jennifer langsung menatap ke arah James.
"Tidak, aku hanya sedikit terkejut saham kita naik drastis hari ini." James menunjukkan pergerakan saham di ponselnya.
"Syukurlah." Jennifer kembali makan.
Sedangkan James nampak mengetik sesuatu di ponselnya kemudian tak berapa lama ponsel Anne berbunyi, lalu wanita itu segera mengeceknya.
"Kau hampir menghilangkan masa depanku sayang."
Anne nampak mengernyit membaca pesan yang di kirim oleh pria itu.
"Apa kau serius? aku menginjak kakimu bukan anumu." balas Anne.
"Anu ?"
"Iya, itu. Apa itu bukan masa depanmu ?"
"Dan kamu pikir kaki juga bukan masa depan? ck ck ini masih siang sayang tapi kau sudah membuat suasana menjadi gerah, bagaimana jika setelah ini kita menatap masa depan di ruanganku ?"
Anne langsung melotot saat membaca pesan mesum suaminya itu.
"Sepertinya aku mendadak ingin ke toilet." ucap Anne kemudian seraya melirik suaminya yang nampak menahan tawanya.
Setelah itu Anne segera berlalu ke toilet yang berada di ujung restoran tersebut.
"Dasar suami mesum, semua pembicaraan dengannya selalu berakhir ke sana." gerutunya, lalu segera masuk ke dalam toilet.
Setelah selesai dengan urusannya wanita itu segera keluar namun matanya langsung melebar saat tiba-tiba seorang pria sedang menunggunya di depan toilet dengan tersenyum lebar.
Deg!!
"Tuan Marco ?"