
"Apa kalian tak sadar ini di tempat umum ?" geram Marco seraya mencekal pergelangan tangan Celine yang akan melayangkan tamparannya pada Elsa.
Tadinya Marco yang hendak pergi tiba-tiba melihat pertengkaran mereka berdua di parkiran hingga membuatnya mau tak mau mencari tahu.
"Ada apa ini ?" tiba-tiba saja Alex juga berada di sana hingga membuat mereka semua menoleh ke arahnya.
"Didiklah istrimu agar tidak mempermalukan mu di kemudian hari." tegas Marco pada Alex seraya melepaskan tangan Celine.
"Sayang, aku tidak bersalah. Perempuan ini yang duluan cari masalah, dia sudah membuat perusahaanmu rugi jutaan dolar tapi masih saja belum puas." Celine langsung mengadu pada sang suami dan itu membuat Elsa nampak muak melihat aktingnya.
"Bukankah kau sedang ada urusan tadi? cepat pergilah." ucap Marco pada Elsa yang langsung di angguki oleh wanita itu.
Saat Elsa hendak pergi, Alex segera menghalanginya namun Marco langsung pasang badan. "Jangan ganggu dia, jika tidak kau akan berhadapan denganku." tegasnya seraya menatap tajam Alex dan tentu saja itu membuat Alex tidak terima.
Apa mereka berdua juga mempunyai hubungan spesial? tak ingin berspekulasi lebih jauh, Alex langsung memberikan bogem mentah pada pria itu dengan keras hingga membuat Marco hampir jatuh tersungkur.
Tak terima di pukul begitu saja, Marco seketika juga membalasnya dengan memukul balik Alex dengan tak kalah keras dan selanjutnya terjadinya perkelahian di antara mereka dan tak ada satu pun yang mau mengalah padahal wajah mereka sudah babak belur tak karuan.
Hingga pada akhirnya Alex menendang badan Marco hingga pria itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Hentikan, tuan Alex !!" Elsa langsung berteriak lalu memasang badannya untuk melindungi Marco saat pria itu hendak memukulinya kembali.
"Kau !!" Alex terlihat geram saat Elsa lebih memihak pria itu.
"Hentikan atau aku akan membencimu selamanya !!" Elsa menatap tajam pria itu, kemudian ia membantu Marco untuk bangkit.
"Terima kasih." ucap Marco seraya mengusap sudut bibirnya yang mengalir darah segar.
Begitu juga dengan Alex wajah pria itu tak lebih baik dari Marco, lebam nampak di mana-mana.
"Kalian benar-benar seperti anak kecil." Elsa langsung bersungut-sungut.
"Sayang, lukamu sangat parah ayo pergi dari sini aku akan mengobatimu." Celine nampak iba menatap wajah suami itu.
Alex yang teramat kesal dengan Marco dan juga Elsa, segera berlalu meninggalkan tempat tersebut bersama sang istri.
"Sepertinya kau harus ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, tuan Marco." ucap Elsa sembari menatap iba pria itu.
"Tidak perlu, ini hanya luka kecil. Bagaimana dengan hard disknya, apa rusak ?" Marco menatap benda kecil pipih di tangan wanita itu.
"Tidak, jika rusak pun aku bisa memperbaikinya. Oh ya terima kasih banyak sudah membelaku tadi." timpal Elsa dengan sungguh-sungguh.
"Santai saja, aku harus pergi sekarang." sahut Marco, kemudian berlalu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Sementara Alex yang mengantar istrinya itu pulang kini telah sampai di kediamannya. "Ayo turunlah, akun akan membantu mengobati lukamu !!" tawar Celine kemudian.
"Tidak perlu, cepat turun dan mulai kemasi barang-barangmu!! Saat perceraian berlangsung aku tidak ingin kita tinggal seatap lagi." tegas Alex dari balik kemudinya dan tentu saja itu membuat Celine terperanjat.
"A-apa? aku belum mengatakan setuju atau tidak dengan perceraian itu." balas wanita itu tak terima.
"Kamu setuju atau tidak kita akan tetap bercerai Cel dan harusnya sejak lama aku sudah melakukannya." tegas Alex lagi.
"Tidak, aku tidak akan pernah setuju dan tidak akan pernah setuju." teriak Celine, kemudian ia melepaskan sefty beltnya lalu segera keluar dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Alex yang melihat kepergian wanita itu nampak menghela napas panjangnya, baginya mengambil keputusan bercerai juga bukan suatu hal mudah.
Tak ingin larut dalam bayang-bayang masa lalu yang pasti akan membuat lukanya yang hampir mengering itu kembali terluka, pria itu segera mengemudikan kembali mobilnya.
Entah kemana pria itu akan pergi, ia hanya mengikuti hatinya kemana akan membawanya dan di sinilah ia sekarang berada, menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Elsa dan bersamaan itu mobil wanita itu juga baru saja datang.
Membuka kaca mobilnya, lalu berteriak. "Apa yang kau lakukan di sini? apa kau tidak mempunyai pekerjaan lain selain mendatangi rumahku setiap waktu ?" teriak Elsa dengan nada cibiran.
Alex yang merasakan bibirnya perih nampak diam saja menatap wanita itu dari balik kacamata hitamnya, ia juga tidak tahu kenapa bisa berada di sini.
"Benar-benar menyebalkan." gerutu Elsa saat melihat wajah Alex yang penuh luka dengan darah telah mengering nampak di biarkan saja, bagaimana jika terjadi infeksi?
Kemudian wanita itu segera turun dari mobilnya. "Ayo masuklah, aku akan mengobati lukamu !!" ucapnya kemudian dan tentu saja itu tidak di sia-siakan oleh Alex.
Pria itu segera turun dari mobilnya lantas mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggulah di sini, aku akan mengambilkan mu obat !!" Elsa menyuruh Alex untuk duduk di ruang tamunya, lalu wanita itu segera mengambil kotak P3K.
Mengeluarkan sebuah kain kasa dan cairan antiseptik dari dalam kotak tersebut, lalu membungkukkan badannya untuk membersihkan beberapa luka di wajah pria itu yang nampak lebam.
"Aarggh !!"
"Apa kamu tak bisa pelan-pelan? kamu seperti sedang menambah luka baru saja." protes Alex saat merasakan tekanan tangan Elsa yang terlalu kuat saat membersihkan lukanya.
"Aku sudah pelan-pelan." Elsa tiba-tiba merasa kasihan, pasti sakit sekali lagipula siapa suruh mereka berkelahi seperti itu.
"Kau benar-benar ingin membuat lukaku semakin parah." protes Alex lagi dengan sedikit mengadu kesakitan.
"Maaf, sakit sekali ya ?" Elsa menatapnya dengan iba, namun tiba-tiba lengannya di tarik oleh pria itu hingga ia kini terduduk di atas pangkuannya.
"Astaga, apa kamu sedang berpura-pura sakit ?" protes Elsa saat Alex memeluknya dengan erat.
"Luka ini tak seberapa sakitnya jika di bandingkan dengan melihatmu membela pria lain apalagi bajingan itu." sahut Alex seraya mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di lengan wanita itu.
"Kenapa kamu tidak pulang saja dan meminta istrimu untuk mengobati lukamu ?" ucap Elsa kemudian.
"Sebentar lagi kami akan bercerai, jadi bukan kewajibannya lagi mengurusku." sahut Alex yang tentu saja membuat Elsa langsung bersungut-sungut.
"Dan kau pikir itu kewajibanku untuk mengurusmu ?" protesnya kemudian.
"Aku tidak minta, kamu yang menawarkan diri." timpal Alex tak mau kalah.
"Dasar modus, selalu saja cari kesempatan." Elsa langsung mengurai pelukan pria itu, lalu ia segera beranjak dari pangkuannya dan itu membuat Alex nampak terkekeh karena di balik keangkuhanya wanita masih mempunyai rasa peduli padanya.
"Pulanglah, hari ini aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun !!" imbuhnya seraya melangkah menaiki anak tangga meninggalkan pria itu sendirian.
Bukannya pulang Alex nampak menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan matanya untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Sementara itu Celine yang sedang berada di kamarnya tiba-tiba merasakan mual hebat hingga membuatnya langsung berlari ke toilet.
Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, wanita itu segera keluar dari sana dengan wajah pucatnya.
"Ada apa denganku, tak biasa seperti ini." gumamnya kemudian.