Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~264


"Nyonya besar ?" kepala pelayan nampak terkejut ketika tiba-tiba melihat kedatangan Celine pagi itu dengan wajah lelah bercampur kesal.


"Di mana tuan ?" tanya Celine seraya menyerahkan tas bawaannya serta sebuah mantel panjang pada pelayannya tersebut.


"Tu-tuan sedang berada di atas, nyonya." sahut sang pelayan dengan sedikit gugup.


"Masih tidur ?" tanya Celine lagi.


"Saya kurang tahu nyonya." sahut sang pelayan lagi.


Celine menghela napasnya kesal, pagi-pagi sekali ia sudah berada di stasiun berharap suaminya akan menjemputnya namun hingga matahari naik ke permukaan pria itu tak kunjung datang.


Kemudian wanita itu segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Tunggu nyonya, apa mau saya buatkan sarapan dahulu ?" tawar sang pelayan hingga menghentikan langkah Celine.


"Aku sedang tidak berselera." sahutnya lalu kembali melangkahkan kakinya.


Sesampainya di lantai atas wanita itu segera membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar dan di lihatnya sang suami sedang merapikan penampilannya di depan cermin.


Sepertinya pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. "Kenapa kau tak mengangkat teleponku ?" protesnya seraya mendekati pria itu.


"Aku tidak dengar." sahut Alex menatap istrinya itu dari pantulan cermin depannya, kemudian kembali merapikan dasinya.


"Paling tidak kamu menghubungiku kembali, bukan hanya membaca pesanku lalu mengabaikannya begitu saja." protes Celine dengan mencebikkan bibirnya, makin lama ia merasa pria itu makin tak peduli padanya.


Alex terdiam, begitulah yang ia rasakan 5 tahun yang lalu sebelum wanita itu ketahuan berhianat. Sering mengabaikan telepon dan pesannya dan Alex merasa jika wanita itu juga harus merasakan apa yang ia rasakan dahulu.


"Aku sedang sibuk, tolong mengertilah." sahut Alex kemudian.


"Apa sepanjang malam kamu juga sibuk, hm? aku tahu kamu sudah bangun dari pagi karena akunmu sedang online tapi kamu sama sekali tak membalas pesanku." protes Celine lagi.


Sedari pagi Alex memang sudah terbangun bahkan pria itu enggan untuk memejamkan matanya agar bisa memandang wajah Elsa sepanjang waktu.


"Aku sedang banyak pekerjaan." timpal Alex memberikan alasan, belum waktunya ia mengatakan semuanya sampai rencananya tersusun rapi.


"Selalu saja begitu." gerutu Celine seraya menghempaskan bobot tubuhnya di tepi ranjangnya, lalu menatap seprei kasurnya yang sudah berganti dengan yang baru.


"Kamu menyuruh pelayan mengganti seprei ?" tanyanya kemudian, karena biasanya pria itu tak peduli dengan hal itu.


"Semalam aku menumpahkan sup." sahut Alex singkat lalu mengecek berkas-berkasnya sebelum memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


"Sejak kapan kamu makan di kamar ?" Celine langsung mengernyit tak percaya.


"Sejak semalam, baiklah aku harus segera berangkat." timpal Alex kemudian melangkahkan kakinya keluar.


"Kau melupakan sesuatu ?" protes Celine ketika suaminya pergi tanpa berpamitan padanya.


"Pagi ini aku ada meeting penting." Alex berlalu begitu saja tanpa menghiraukan protes wanita itu.


"Sial !!"


Celine nampak memukul kasur sebelahnya mengingat pria itu telah melupakan ciuman selamat pagi ketika berangkat bekerja.


Sesampainya di kantornya, rupanya Alex sudah di tunggu oleh orang suruhannya di ruang kerjanya.


"Katakan informasi apa yang kalian dapatkan ?" tanyanya dengan tak sabar.


"Ini beberapa rekaman cctv di mana nyonya Celine akhir-akhir ini sering mengunjungi apartemen tuan Marco, tuan." salah satu anak buahnya menyerahkan sebuah dokumen pada pria itu.


"Seperti dugaanku." timpal Alex kemudian.


"Apa ada lagi ?" tanyanya lagi.


"Nyonya Celine juga diam-diam telah memindahkan beberapa aset atas nama beliau dalam setahun terakhir ini." terang pria suruhannya itu lagi hingga membuat Alex nampak mengepalkan tangannya.


Rupanya selama ini pria itu telah memelihara seekor musang yang sewaktu-waktu bisa menggigitnya, ia jadi menyesal kenapa tak menyingkirkan wanita itu dari hidupnya sejak dahulu.


"Katakan apa yang wanita itu lakukan lagi ?" geram Alex, rupanya ketidak peduliannya selama ini benar-benar wanita itu manfaatkan dengan baik.


"Setiap kali berkunjung ke rumah bibinya beliau juga menarik uang dengan jumlah yang tak sedikit, tuan." lapor sang anak buah.


"Benarkah ?" Alex nampak mengernyit, sebulan sekali istrinya itu memang selalu mengunjungi bibinya adik dari mendiang ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.


"Benar tuan dan saya rasa anda pasti akan terkejut saat mendengar informasi ini." sahut sang anak buah hingga membuat Alex nampak penasaran.


"Katakan !!"


"Sepertinya ibunya nyonya Celine tak benar-benar meninggal tuan, beliau masih sangat sehat dan sekarang tinggal bersama adiknya." terang pria itu.


"Apa ?" Alex langsung tercengang, bahkan waktu itu ia ikut melihat jenasah ibu mertuanya tersebut dan wanita itu juga yang memohon padanya agar memberikan Celine kesempatan kedua sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


"Si4l4n, benar-benar wanita biadab !!"


Alex benar-benar di tipu oleh keluarga istrinya itu, rasa ketidaktegaan yang ada pada dirinya membuatnya menjadi lelaki bodoh saat itu.


Sore harinya Alex yang masih berada di kantornya nampak terkejut saat pintu ruangannya tiba-tiba buka dengan kasar dari luar.


"Sayang, ini apa? kamu sedang becandakan ?" Celine datang dengan membawa sebuah berkas di tangannya, berkas perceraian yang baru saja di kirim oleh pengacara pria itu.


"Apa selama ini aku pernah becanda ?" ujar Alex dari kursinya.


"Tidak sayang, ku mohon jangan lakukan ini. Aku tahu akhir-akhir ini hubungan kita memang kurang baik, tapi tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya." mohon Celine seraya berjalan mendekati suaminya itu, namun Alex langsung beranjak dari duduknya lalu melangkah menjauh.


Membuka horden otomatis di ruangannya hingga menampakkan pemandangan kota di bawahnya.


"Keputusanku sudah bulat dan harusnya sudah ku lakukan sejak 5 tahun yang lalu." tegasnya kemudian yang langsung membuat Celine mendekat lalu segera memeluk punggung pria itu.


"Ku mohon jangan lakukan ini, kamu sudah berjanji pada mendiang ibuku untuk menjagaku selamanya." mohon Celine dan itu membuat Alex semakin geram, mengingat kebohongan wanita itu perihal kematian ibunya.


"Ck, kamu yakin ibumu sudah tiada ?" ucapnya kemudian dan sontak membuat Celine melepaskan pelukannya.


"A-apa maksudmu? aku tidak mengerti. Seandainya bisa aku juga menginginkan ibuku masih hidup, tapi gara-gara pertengkaran kita waktu itu ibuku menghembuskan napas terakhirnya." Celine mengingat ibunya sempat mendapatkan serangan jantung saat rumah tangganya dengan pria itu di ambang kehancuran akibat kesalahannya sendiri.


Alex terlihat semakin geram karena istrinya itu masih berkilah dan menyembunyikan kebenarannya.


"Cepat tanda tangani itu dan kita resmi berpisah." tegasnya kemudian.


"Tidak, sampai kapan pun aku takkan menandatangani ini." Celine segera merobek berkas perceraian yang sedari tadi ia bawa itu.


"Baiklah sepertinya kamu menginginkan cara lain." Alex segera berlalu menjauh, namun Celine langsung menahan lengannya.


"Aku tidak ingin bercerai dan kau takkan bisa memaksaku." ucapnya lalu tanpa aba-aba wanita itu langsung m3lum4t bibir Alex dengan rakus dan bersamaan itu Elsa nampak melangkah masuk karena pintu ruangan kerja pria itu terbuka lebar.


"Ck." Elsa langsung tersenyum sinis menatap pemandangan di hadapannya tersebut.