Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~113


Brakk


Seorang pria paruh baya nampak membuka pintu sebuah ruangan dengan kasar hingga membuat beberapa orang di dalamnya langsung terkejut.


"Kenapa saham kita tiba-tiba bisa anjlok ?" ucapnya seraya menunjukkan ipad yang pria itu bawa kepada para karyawannya.


"Itu yang sedang kami bahas, pa." sahut Alan yang juga terlihat frustasi.


"Dan kalian sudah menemukan penyebabnya ?" tanyanya pada sang putra serta beberapa petinggi perusahaannya itu.


"Sepertinya telah terjadi manipulasi besar-besaran tuan hingga membuat banyak investor ramai-ramai menjual sahamnya." sahut salah satu direktur di perusahaannya tersebut.


"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini." ayah Alan nampak geram, sudah berpuluh-puluh tahun ia menjadi pebisnis baru kali ini berada di ambang kebangkrutan hanya dalam waktu sehari.


"Kami belum berhasil mendapatkan informasi pa, namun yang jelas pasti bukan orang sembarangan pelakunya." sahut Alan.


"Segera cari tahu dan apa tujuan mereka melakukan itu pada kita." perintah ayahnya Alan, kemudian segera berlalu pergi dari ruangan tersebut.


"Saya memberikan kalian waktu 1x24 jam untuk menyelesaikan semuanya jika tidak silakan tinggalkan kantor ini." perintah Alan kemudian kepada para pegawainya tersebut.


"Baik, tuan." sahut mereka lalu segera meninggalkan ruangan itu satu persatu.


Selepas kepergian mereka Alan nampak memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri, kemudian pria itu nampak mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Aku butuh barang baru." ucapnya dengan singkat pada seseorang di ujung telepon.


Malam harinya Alan yang baru keluar dari kantornya nampak melajukan mobilnya dengan kencang menuju suatu tempat.


"Selamat malam tuan." sapa seorang pria saat Alan baru masuk ke dalam sebuah diskotik mewah yang di peruntuhkan khusus untuk pria berduit tebal.


"Hm." Alan hanya mengangguk kecil, kemudian segera melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di sebuah sofa.


Pria itu nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut diskotik miliknya yang nampak ramai dan itu sedikit mengobati suasana hatinya yang buruk.


"Apa ada barang baru ?" tanya pria itu saat manager diskotik tersebut mendatanginya.


"Ada beberapa tuan dan semuanya akan di kirim ke Malaysia dan Singapura minggu depan." sahut sang manager.


"Kerja bagus." Alan memuji kinerja orang kepercayaannya tersebut.


Pria yang di mata Merry sangat baik itu tak ubahnya seperti seorang predator yang bersembunyi di balik wajah kalem dan tampannya.


Sudah dua tahun ini pria itu menggeluti bisnis prostitusi internasional, mengirim beberapa wanita untuk ia pekerjakan sebagai pemuas pria hidung belang di beberapa negera tetangga.


"Kami sudah menyiapkan barang baru yang anda minta tuan." sang manager nampak memanggil seorang wanita cantik dengan dandanan menor serta pakaian yang sangat seksi.


"Apa dia sudah berpengalaman ?" tanyanya seraya memindai seorang gadis yang kini sudah berdiri di hadapannya itu.


"Tentu saja tuan, anda boleh mencobanya sebelum mereka kami kirim minggu depan." sahut sang manager.


"Ayo segera layani tuan Alan !!" perintah manager itu kepada gadis tersebut.


"Baik, tuan." gadis tersebut segera duduk di sebelah Alan, pakaiannya yang sangat ketat membuat gundukan kenyal wanita itu hampir tumpah dan itu membuat seorang Alan nampak menatapnya dengan gemas.


"Anda sangat tampan tuan, pasti istri anda sangat beruntung." puji wanita itu seraya mengecupi leher Alan, tangannya yang bebas nampak m3r3m4s pusaka pria itu yang mulai mengeras di balik celananya.


Mendengar ucapan wanita itu Alan nampak terdiam, wajah Merry langsung berputar di kepalanya. Namun sentuhan yang wanita itu lakukan membuatnya langsung melayang apalagi saat wanita itu melepaskan tanktopnya hingga kedua aset yang sedari tadi menjadi perhatian pria itu kini nampak terbebas di hadapannya.


Tak ingin menyia-nyiakan, Alan langsung m3r3m4snya bergantian dan memainkan puncaknya hingga membuat wanita itu kelojotan di buatnya.


"Sial, kau benar-benar j4l4ng." umpat Alan lalu segera menarik wanita itu dan membawanya pergi ke lantai atas di mana di sana banyak ruangan yang biasanya para pria hidung belang gunakan untuk menuntaskan hasratnya bersama j4l4ng peliharaannya.


Keesokan harinya....


"Siapa yang ingin bertemu kamu, aku ingin bertemu dengan putraku." sahut William.


"Tapi tak sepagi ini juga, Ariel sebentar lagi akan bersekolah." pungkas wanita itu.


"Daddy." teriak Ariel yang baru keluar dari dalam rumahnya, bocah kecil itu nampak membawa tas sekolahnya.


"Hai sayang, kau sudah siap ?" ucap William menatap putra kecilnya itu.


"Hm, apa kita akan belangkat cekalang Daddy." sahut Ariel.


"Tunggu, kalian mau kemana ?" Merry langsung menatap curiga pada putranya tersebut.


"Belangkat cekolah di antal Daddy, mommy." sahut Ariel.


"Apa mommy tahu, mommy Vivian juga cudah menungguku di cekolah. Nanti cetelah pulang cekolah kami juga mau pelgi beltiga, benalkan Daddy ?" ucap Ariel lalu menatap sang ayah.


"Tentu saja mommy Vivian pasti tak sabar bertemu denganmu." timpal William dan itu membuat Merry semakin meradang, rasanya tak rela jika putranya bahagia bersama mereka.


"Kalian tidak bisa seenaknya pergi tanpa seizin dariku." tegas Merry.


"Hei aku juga ayahnya, aku mempunyai hak yang sama denganmu." sahut William.


"Kau..." Merry terlihat kesal, ingin rasanya ia memukuli mantan suaminya itu namun ia tak mungkin melakukan tindakan kekerasan di depan putranya.


"Aku baru ingat jika aku ada urusan dengan kepala sekolahnya Ariel, kalian jangan pergi dulu aku akan ambil tas." ucap Merry lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya dan tentu saja itu membuat ayah beserta anak itu saling berpandangan lalu selanjutnya mereka nampak terkekeh.


"Kamu yakin pergi dengan pakaian seperti itu ?' William nampak memicing saat mantan istrinya itu tak mengganti pakaiannya.


Wanita itu tetap mengenakan pakaian tidurnya, sebuah piyama dengan celana pendek yang memperlihatkan sedikit pahanya.


"Tidak ada waktu lagi jika harus berganti pakaian." sahut Merry seraya membuka pintu pagarnya lalu bergegas masuk ke dalam mobil pria itu.


William dan Ariel nampak saling berpandangan lalu mereka bergegas menyusul wanita itu.


Merry yang duduk di depan nampak menatap lurus ke jalanan saat mantan suaminya itu mulai mengemudikan kendaraannya.


Sementara William benar-benar tidak fokus mengemudi saat pandangannya tak sengaja ke arah paha wanita itu.


"Sial." umpatnya, hanya dengan melihat itu William merasakan keperkasaannnya sudah meronta dari sarangnya.


Wanita itu benar-benar menguji keimanannya, tahu begitu ia tak perlu bersandiwara dengan sang putra dan membiarkan wanita itu tetap berada di dalam rumahnya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di sekolahnya Ariel, Merry yang sedang mencari keberadaan Vivian nampak mengedarkan pandangannya.


Apapun yang terjadi ia takkan membiarkan wanita itu akrab dengan putranya, enak saja dia yang mengandung dan melahirkan namun mantan suaminya dan kekasihnya itu yang berbahagia bersama putranya.


"Mau kemana ?" tanya William saat mantan istrinya itu hendak membuka pintu mobilnya.


"Tentu saja mengantar putraku masuk ke dalam dan aku juga ada sedikit keperluan dengan kepala sekolah." sahut Merry beralasan.


"Keperluan apa biar aku yang berbicara pada kepala sekolah? apa mengenai pembayaran sekolah Ariel? kamu tenang saja aku sudah membayarnya hingga dia lulus." pungkas William yang langsung membuat wanita itu nampak menelan ludahnya.


"Perkembangan Ariel juga sangat bagus dan tak ada masalah." imbuhnya lagi.


Merry mendadak frustasi, ia tak menyangka mantan suaminya itu sangat tanggap terhadap urusan putranya.


"Sekarang diamlah di sini, aku yang akan mengantar Ariel ke dalam. Pakaianmu sangat tidak layak di lihat oleh banyak orang." tegas William seraya melepaskan seat beltnya.


"Astaga, pakaianku masih layak. Kamu jangan banyak alasan bilang saja kamu tidak ingin ku ganggu saat kalian sedang bersama perempuan itu." Merry langsung bersungut-sungut, rasanya ia belum rela melihat kebersamaan putranya dengan pria itu dan sang kekasih.


"Ck, kamu bersikap seperti wanita yang sedang cemburu saja." cibir William yang langsung membuat mantan istrinya itu melotot, benarkah ia sedang cemburu?