
"Sayang, ku mohon hentikan !!" teriak Anne saat James dan Marco terlibat perkelahian, mereka nampak saling memukul satu sama lainnya dan tak ada yang mau mengalah.
Sampai pada akhirnya Anne langsung berlari ke arah sang suami saat Marco hendak melayangkan kembali pukulannya dan itu membuat Marco mau tak mau menghentikan kepalan tangannya di udara.
"Aku tidak tahu masalah kalian apa, tapi ku mohon hentikan semua ini !!" teriak Anne dengan menatap sang suami dan Marco bergantian.
"Tuan Marco terima kasih banyak sudah menolongku dan putriku, tapi tolong lain kali jangan lakukan lagi." mohon Anne seraya menatap Marco dengan wajah memelas dan itu membuat pria itu nampak tersenyum sinis.
"Sepertinya hanya pria yang tak punya harga diri yang meminta perlindungan seorang wanita." cibir Marco seraya melirik ke arah James.
"Kau !!" James nampak geram, namun Anne langsung menggelengkan kepalanya menatap pria itu.
"Tolong jangan lakukan apapun demi aku dan kedua putri kita." mohon Anne hingga membuat James terpaksa meredam emosinya.
"Pria sepertimu takkan pernah tahu apa itu cinta, tuan Marco Anderson dan ku rasa kisahmu akan berakhir mengenaskan tanpa siapa pun yang akan peduli." sinis James dan itu membuat Marco seketika mengeraskan rahangnya.
"Sudah stop aku tak ingin mendengar apapun, kalian benar-benar seperti anak kecil." Anne yang kesal segera mendorong kereta bayinya menunju mobilnya yang di parkir tak jauh dari sana dan langsung di susul oleh suaminya itu.
"Sial !!"
Marco nampak mengepalkan tangannya melihat kepergian mereka. "Aku bersumpah akan ku renggut sebagian kebahagiaanmu itu." ucapnya kemudian.
"Kalian benar-benar seperti anak kecil." tegur Anne saat berada di dalam mobilnya.
"Dia menyentuhmu dan apa harus ku biarkan begitu saja ?" geram James masih menahan emosinya.
"Dia menolongku, jika tidak mungkin aku dan Jeslin sudah tertabrak mobil tadi." terang Anne mengingat bagaimana Marco menolongnya tadi dan itu membuat James nampak terkejut.
"Ba-bagaimana bisa ?" ucapnya tak mengerti, karena saat keluar dari mall ia sudah melihat istrinya itu berada di pelukan pria itu.
"Tadi ada pengendara yang sepertinya remnya sedang bermasalah, aku hampir tertabrak tapi tiba-tiba Marco menarikku ke pinggir dan ku harap kamu meminta maaf padanya karena telah menuduhnya macam-macam." terang Anne lantas memohon pada sang suami untuk menurunkan egonya.
James nampak menghela napasnya sebelum membuka suaranya. "Perbuatan dia selama ini sudah cukup menggangguku, jadi ku rasa tak perlu meminta maaf padanya karena itu hanya akan membuatnya semakin besar kepala." tegas James yang keukeh mempertahankan egonya.
"Terserah lah tapi lain kali jangan seperti itu lagi." timpal Anne yang sepertinya malas membahasnya lebih jauh.
Hari pun berganti hari dan masalah Marco sudah mereka lupakan karena pria itu pun tak pernah muncul lagi di hadapan Anne.
Apalagi James yang sangat posesif telah menambah beberapa bodyguard buat menjaga istrinya itu dari pria seperti Marco atau pria-pria lain di luaran sana.
Pagi itu Anne nampak mengerjapkan matanya saat merasakan perutnya terasa mulas, sepertinya hari persalinannya telah tiba.
"Sayang, sepertinya aku mau melahirkan." ucapnya seraya menggoyang lengan suaminya.
James yang masih tertidur pulas langsung mengerjapkan matanya. "Ada apa ?" ucapnya dengan setengah sadar.
"Perutku terasa mulas." sahut Anne yang nampak meringis kesakitan.
"Astaga, sepertinya kamu mau melahirkan." James bergegas bangun, lalu menyamber kemejanya di atas sofa lantas segera memakainya.
"Ayo ke rumah sakit !!" ajaknya kemudian namun Anne langsung tertawa nyaring.
"Dengan celana seperti itu ?" ledeknya saat suaminya hanya mengenakan celana kolor pendek.
"Astaga." James langsung memukul dahinya sendiri saking paniknya.
"Tidak usah terburu-buru, aku baik-baik saja. Ini kali kedua aku akan melahirkan jadi aku tahu kapan bayi ini akan keluar. Lebih baik kamu mandi saja dulu, aku akan menunggu." terang Anne menenangkan.
"Baiklah, kamu masih tahankan ?" James langsung mendekati istrinya itu lantas membelai pipinya yang sedikit cubby karena berat badannya yang naik.
"Hm, sakitnya masih hilang timbul." sahut Anne sembari mengangguk meyakinkan.
"Baiklah." James bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena saat berada di rumah sakit ia pasti takkan mempunyai waktu untuk itu.
Sementara itu di belahan benua lain, Alex dan Elsa nampak menikmati bulan madunya di pulau yang sangat indah itu.
"Kenapa kamu mengajakku kesini? apa tempat ini sangat spesial buatmu ?" tanya Elsa sore itu saat mereka sedang menikmati sunset di tepi pantai.
Namun saat pria itu hendak menjawabnya tiba-tiba seorang wanita melangkah mendekati mereka. "Hai ?" ucap Celine menghampiri dengan pakaian yang teramat seksi.
Sepasang bikini yang di tutupi oleh kimono yang sangat tipis hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dan entah apa yang wanita itu lakukan di sini?
"Tentu saja spesial, karena tempat ini kenangan kalian berdua." gumam Elsa dalam hati, kemudian wanita segera beranjak dari duduknya.
Elsa terlihat kecewa, rupanya suaminya itu belum bisa melupakan sepenuhnya kenangan mantan istrinya itu. Delapan tahun memang bukan waktu yang singkat tapi tidak bisakah pria itu menghargainya.
Tanpa terasa air mata nampak jatuh membasahi pipinya, namun wanita itu langsung mengusapnya. Cinta benar-benar membuatnya lemah saat ini dan ia membenci itu.
Setelah merapikan penampilannya, Elsa segera berlalu keluar dari toilet tapi tiba-tiba suaminya itu sudah berada di depan pintu menunggunya.
"Sudah selesai ?" tanya pria itu.
"Hm, apa yang kamu lakukan di sini ?" sahut Elsa dengan menatapnya.
"Tentu saja mencari istriku." tegas Alex.
"Kirain lupa jika punya istri karena saking asyiknya ketemu dengan mantan, aku baru mengerti sekarang kenapa kamu mengajakku kesini. Sepertinya kamu memang belum sepenuhnya move on." tukas Elsa bernada sindiran, namun bukannya marah Alex justru nampak mengangkat sudut bibirnya.
"Sudah bicaranya ?" timpalnya kemudian.
"Aku sedang tidak ingin becanda." sela Elsa dengan kesal.
"Ayo kemarilah, semua yang membuatmu gelisah akan terjawab semua." ajak Alex kemudian.
Pria itu nampak menggenggam tangan wanita itu lantas membawanya berlalu dari sana.
Dari kejauhan Elsa melihat Celine nampak duduk di kursinya dan itu membuatnya muak, sebenarnya apa yang telah di rencanakan oleh mantan pasangan suami istri tersebut.
Semakin mendekati tempatnya bersantai tadi Elsa terlihat mengernyit saat melihat seorang pria duduk di samping wanita itu.
"Hai, sudah selesai ?" ucap Celine dengan mengulas senyumnya menatap Elsa.
Tak ada raut kecemburuan di wajah wanita itu padahal saat ini mantan suaminya itu sedang memeluk pinggangnya dengan erat.
"Aku senang akhirnya kalian menikah, bagaimana pun juga seorang anak harus memiliki orang tua yang lengkap bukan? oh ya kenalin ini suamiku." ucap Celine pada Elsa dan tentu saja itu membuat Elsa nampak terkejut.
"Suami? jadi wanita itu telah menikah ?" gumamnya kemudian.
"Aku dan Alex memang mempunyai kenangan di sini tapi kami sepakat untuk menghapus memori itu dan memulai lembaran baru dengan pasangan masing-masing jadi tolong jangan salah pengertian, lagipula saat ini aku sedang mengandung buah hatiku bersama suamiku." imbuh Celine lagi.
Mendengar itu Elsa nampak merasa bersalah, rupanya ia telah berburuk sangka dan menuduh mereka yang bukan-bukan terlebih pada sang suami.
"Maafkan aku." ucap Elsa setelah Celine dan suaminya pergi dari sana.
"Untuk ?" Alex menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Semuanya." sahut Elsa yang rasanya enggan menjabarkan satu persatu pikiran buruknya terhadap pria itu.
"Ada syaratnya." timpal Alex dengan wajah serius dan itu membuat Elsa nampak penasaran.
"A-apa ?" ucapnya.
"Berikan aku banyak anak." sahut Alex yang langsung membuat Elsa tersenyum lebar padahal sebelumnya ia nampak tegang saat pria itu mengajukan syarat padanya.
"Sebanyak apa ?" timpal Elsa.
"Sebanyak yang kamu bisa." sahut Alex.
"Baiklah." tukas Elsa terkekeh.
"Ya sudah ayo." ajak Alex kemudian.
"Sekarang ?" Elsa langsung melebarkan matanya.
"Tentu saja atau kamu mau melakukannya di sini ?" ucap Alex yang langsung membuat Elsa menggelengkan kepalanya.
"No." ucapnya dengan tegas.
"Ya sudah ayo." Alex langsung menarik tangan istrinya itu dan mengajaknya kembali ke kamar hotelnya.
Sementara itu di tempat lain Marco yang sedang berada di rumah sakit tempat Anne bersalin nampak tersenyum menyeringai saat melihat baby Jeslin yang sedang berada di dalam kereta tak jauh darinya itu.
"Sofia." gumamnya kemudian.