Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~185


Siang itu Anne nampak duduk di kursi kerjanya sembari mengetuk-ngetuk mejanya dengan bolpoin.


"Apa aku kabur saja ?" gumamnya.


"Lalu aku harus kabur kemana? kembali ke Indonesia mama dan papa pasti akan murka, apalagi mencari pekerjaan di sana sangat susah tanpa bantuan orang dalam. Tidak mungkin kan aku kembali ke warung nasi pecel itu lagi."


Anne mengingat sebelum dirinya menikah dengan James, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah warung nasi pecel. Waktu itu gajinya sangat kecil dan selalu habis untuk kebutuhan keluarganya apalagi sang ayah yang sedang sakit-sakitan.


Meski ia membenci ayahnya karena selalu bersikap pilih kasih dengan sang adik tiri, tapi paling tidak pria itu tak membuangnya ke jalanan. Ia masih di beri tempat tinggal, makan kenyang dan di biayai sekolahnya.


Anne nampak memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri, jika ia melaporkan semua perbuatan suaminya pada William atau Merry entah apa yang akan pria itu lakukan mengingat ancamannya tadi siang sepertinya tidak main-main.


Lalu Anne kembali mengingat perkataan William beberapa waktu lalu yang menyuruhnya untuk tetap bertahan di sisi suaminya apapun yang terjadi. "Apa tuan William sudah mengetahui jika tuan James telah menikah dengan wanita itu ?"


Anne semakin bingung harus berbuat apa, ia harus mempertimbangkan baik-baik keputusannya karena bertahan atau pergi sama-sama memiliki dampak yang buruk baginya.


"Bu, anda ada jadwal meeting siang ini di luar." ucap Andrew yang baru masuk ke dalam ruangannya.


Anne menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hm, terima sudah mengingatkan." sahutnya, lalu Anne segera merapikan penampilannya dan bergegas keluar dari ruangannya.


Jalannya sedikit tertatih akibat gempuran dari suaminya tadi pagi.


"An, kamu baik-baik saja kenapa jalanmu seperti itu ?" tanya William tiba-tiba saat melihat Anne baru keluar dari ruangannya.


Anne nampak melirik ke arah sang suami yang terlihat menatapnya dengan datar tanpa perasaan bersalah sama sekali, padahal ia seperti ini juga gara-gara pria itu yang menggempurnya hampir satu jam dengan posisi berdiri.


"Tadi tak sengaja kepleset di toilet karena menghindari kecoa, tuan." sahutnya kemudian.


"Benarkah? sejak kapan di kantor ini ada kecoa? James sepertinya kau harus memanggil tukang pembasmi kecoa secepatnya." ujar William seraya menatap asistennya tersebut.


"Baik tuan." sahut James.


"Benar tuan, basmi saja kecoanya hingga mati dan tak bersisa." timpal Anne seraya melirik ke arah suaminya dan pria itu nampak mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, di kira lucu pikir Anne dengan kesal.


"Baiklah, nanti biar James yang mengurusi semuanya. Sepertinya kita harus segera berangkat." ucap William setelah melihat jam di tangannya.


Setelah menempuh kurang dari tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba di sebuah restoran.


"Selamat siang tuan William dan tuan James." Seorang wanita cantik langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Astaga, apa dia tak mempunyai pakaian yang layak untuk menemui kliennya ?"


Anne sampai menghela napasnya saat menatap pakaian klien bisnisnya itu yang sangat menonjolkan dadanya yang besar itu.


Ingin rasanya ia mengambil kain untuk menutupi aset wanita itu yang hampir tumpah, seketika ia menatap ke arah suaminya yang terlihat fokus dengan berkas yang sedang ia periksa dan jauh dalam hatinya ia bersyukur pria itu tak ikut menikmati pemandangan di hadapannya tersebut.


Kemudian Anne beralih menatap William yang sedari tadi di ajak ngobrol oleh wanita itu, ia juga harus mengawasi pria itu sebagai bahan laporan kepada nyonya besarnya.


William terlihat kurang nyaman, sesekali menatap lawan bicaranya itu dan sesekali membuang mukanya ke tempat lain dan itu membuat Anne ingin sekali tertawa.


"Sial."


Umpat William, dirinya lelaki normal dan penampilan klien bisnisnya itu sungguh sangat menggoda iman. Sepertinya ia harus segera mengakhiri ini semua dan segera pulang namun itu juga tak mungkin sebelum kesepakatan bisnis terjadi.


"Bagaimana Tuan James apa anda setuju? karena tuan William menyerahkan semua keputusan pada anda." ucap wanita tersebut seraya tersenyum menggoda ke arah James dan tentu saja itu membuat Anne tiba-tiba panas hati.


Ia yakin wanita itu hanyalah wanita suruhan yang di perintahkan untuk memuluskan bisnisnya oleh perusahaannya, karena itulah yang sering terjadi selama ia terjun di dunia bisnis bersama Merry. Kadang mereka juga siap untuk memanaskan ranjang para klien bisnisnya selama terjadi kesepakatan yang menguntungkan.


Namun tiba-tiba Anne merasakan sebuah tangan memegang pahanya, lalu matanya melirik ke arah sang suami yang sedang berbicara panjang lebar dengan wanita itu. Tentu saja pria itu pelakunya karena ia duduk tepat di sebelahnya.


"Banyak keuntungan jika anda menerima tawaran perusahaan kami tuan dan saya yakin anda tidak akan menyesal." wanita itu berucap dengan nada yang sedikit menggoda dan semakin membusungkan dadanya yang besar itu.


"Astaga." gumam Anne, sebagai sesama perempuan ia merasa malu sendiri. Masih banyak jalan halal untuk mencari uang kenapa harus merendahkan dirinya seperti itu.


Sementara tangan James yang berada di paha Anne semakin intens mengelusnya hingga membuat wanita itu merasa risih karena kegelian bahkan kini pria itu mulai berani naik ke atas.


"Sialan kau tuan James."


Anne langsung beranjak dari duduk saat suaminya dan atasannya itu sedang menandatangani kesepakatan bisnis. "Maaf, saya ke toilet sebentar." ucapnya, setelah itu Anne segera berlalu dari sana.


"Astaga."


Anne langsung berjingkat kaget saat melihat suaminya tiba-tiba sudah berada di sana, bersandar di dinding toilet dengan santai.


"Tuan James apa kamu tak melihat ini toilet wanita ?" cibir Anne seraya mencuci tangannya di wastafel, namun bukannya menjawab pria itu justru mendekatinya lalu mendorong tubuhnya ke dinding dan mencium bibirnya dengan rakus hingga Anne merasakan kehabisan napasnya baru di lepaskannya.


"Ck, apa kau juga akan melakukannya di sini ?" ejek Anne kemudian.


"Sepertinya melakukannya secara kilat itu sangat mengasyikkan." timpal James yang belum melepaskan pelukannya di pinggang wanita itu.


"Kamu jangan gila tuan James, bagaimana jika ada pengunjung lain tiba-tiba datang." Anne langsung bersungut-sungut.


"Bukankah itu sebuah tantangan ?" timpal James dengan tersenyum menggoda.


"Dasar brengsek." umpat Anne yang langsung membuat James tertawa nyaring.


"Aku tidak segila itu kamu jangan khawatir." ucap James seraya mengusap sudut bibir wanita itu yang basah akibat ulahnya tadi.


"Baiklah, kita harus kembali ke kantor karena aku ada meeting lain menggantikan tuan William." James menjauhkan dirinya lalu memindai penampilannya di depan cermin.


"Menggantikan tuan William? memang beliau kemana ?" selidik Anne, jangan sampai pria itu pergi bersama wanita penggoda tadi karena Merry bisa murka jika tahu.


"Tuan William pulang." sahut James yang langsung membuat Anne sedikit lega.


"Lalu wanita tadi ?" tanya Anne lagi.


"Wanita ?" James nampak mengernyit tak mengerti.


"Wanita tadi, klien bisnis kita. Penampilannya benar-benar sangat menggoda." rutuk Anne dengan wajah kesal.


"Biasa saja." sahut James ysng memang sering di hadapkan dengan hal seperti itu.


"Biasa saja tapi menikmatinya juga." cibir Anne seraya berlalu pergi namun James langsung menahan lengannya.


"Apa kau cemburu ?" ucapnya kemudian.


"Dalam mimpimu tuan James." tegas Anne lalu menghentakkan kakinya pergi dan itu membuat James nampak terkekeh.


Beberapa saat kemudian mereka dalam perjalanan kembali ke kantornya. "Ini bukan arah kantor." ucap Anne saat suaminya itu justru membawanya ke arah rumahnya.


"Aku bukan suami kejam yang memaksa istrinya bekerja dalam keadaan kelelahan, istirahatlah di rumah dan tenang saja aku tidak akan memotong gajimu." ucap James seraya menghentikan mobilnya di depan rumahnya.


"Baiklah, tapi aku takkan mengucapkan terima kasih karena aku lelah juga karena perbuatanmu." Anne segera melepas sefty beltnya, kemudian membuka pintu mobilnya.


"Tunggu !!" ucap James yang langsung membuat istrinya itu urung turun.


"Kenapa lagi, kamu berubah pikirin ?" ucap Anne namun tiba-tiba suaminya itu mencondongkan badannya kemudian menarik tengkuk wanita itu dan m3lum4t bibirnya hingga membuat Anne langsung melotot.


"Keluarlah dan kunci pintunya !!" perintah James setelah puas menikmati bibir wanita itu.


Anne yang kesal langsung membanting pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam rumahnya.


Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam rumahnya James segera mengemudikan mobilnya kembali, pria itu nampak mengulas senyumnya saat mengingat telah mengerjai wanita itu seharian ini.


Ia tak pernah segila ini terhadap seorang wanita, tubuh wanita itu terlalu candu baginya dan ia tak ingin kehilangannya. Apapun yang terjadi ia harus membuat wanita itu tetep berada di sisinya.


James tidak ingin mengulang kisah cinta sang tuan yang harus di pisahkan oleh jarak dan waktu, baginya itu hanya membuang-buang energi saja. Ia yakin setiap masalah yang ia hadapi pasti akan menemukan titik solusi tanpa harus berpisah.


"Tuan, ada berita buruk." ucap Mark setelah tuannya itu menjawab panggilan teleponnya.


"Katakan !!" ucap James sembari mengurangi laju kendaraannya.


"Saya sudah mendapatkan informasi keberadaan Nick tuan, rupanya dia telah bergabung dengan klan milik tuan Marco."


"Apa ?"


James nampak mencengkeram stirnya dengan erat, baru kali ini ia benar-benar di hianati begitu dalam oleh anak buahnya sendiri.