
Anne yang sedang asyik makan nampak tak peduli saat suasana cafetaria menjadi ramai karena tiba-tiba kehadiran wakil direktur mereka.
Tadinya pria itu yang sedang menunggu istrinya untuk makan siang bersama di ruangannya, nampak kesal ketika mengetahui wanita itu justru lebih memilih makan di cafetaria.
Akhirnya ia memutuskan untuk menyusulnya datang ke Cafetaria yang selama ini hampir tak pernah ia kunjungi.
Sementara Cafetaria yang telah penuh dengan para karyawan yang sedang makan siang langsung heboh saat kedatangannya.
Mereka tak menyangka wakil direkturnya itu akan datang ke sana dan makan siang bersama mereka.
Ehm
James langsung berdehem setelah berada di dekat meja Anne, namun bukannya langsung melihatnya wanita itu seakan tak mendengar suaranya. Tetap fokus makan dengan porsi yang melihatnya saja langsung kenyang.
"Tuan James? an-anda di sini ?" Nyonya Darrien langsung beranjak dari duduknya, wajahnya nampak terkejut saat melihat kedatangan pria itu yang tiba-tiba.
"Tuan James, kau juga mau makan di sini? kemarilah masih ada tempat kosong untukmu." timpal Jennifer yang sama terkejutnya, kemudian wanita itu menarik kursi di sebelahnya.
James melirik sofa yang di duduki Anne masih kosong lalu pria itu berlalu mendekat dan menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Aku duduk di sini saja." ucapnya yang membuat Jennifer nampak kecewa.
"Mungkin Tuan James sengaja duduk di dekat dinding agar bisa memperhatikan semua karyawannya di sini." bisik nyonya Darrien saat melihat wajah masam ponakannya tersebut.
Sementara Anne yang sedari tadi fokus dengan makanannya hampir saja menyemburkan seluruh isi mulutnya saat tiba-tiba suaminya duduk di sebelahnya.
Apa pria itu akan membongkar rahasia pernikahan mereka. "Tidak, ini belum waktunya." gumamnya, kemudian Anne segera beranjak dari duduknya lalu sedikit membungkukkan badannya memberikan hormat pada pria itu.
"Tuan James, selamat siang." ucapnya berakting seperti seorang karyawan yang menghormati sang bos dan itu di saksikan oleh seluruh pengunjung cafetaria di sana.
James terlihat kesal dengan sikap istrinya itu, sepertinya setelah ini ia harus memberikannya pelajaran.
"Duduklah !!" ucapnya kemudian dengan nada dingin dan itu membuat Jennifer yang mendengarnya nampak tersenyum sinis.
"Dasar kampungan." gumamnya.
"Tuan James, apa anda mau saya pesankan sesuatu ?" tawar Rose yang duduk di seberang pria itu.
"Tidak, aku makan ini saja." James langsung menggeser seporsi makanan milik sang istri yang tentu saja membuat wanita itu langsung melotot.
"Apa kau mau mengurangi jatah bayimu ?" lirihnya dengan menekankan kata-katanya, meski begitu wajahnya nampak fokus dengan piringnya sendiri.
"Di ruanganku banyak makanan, kamu bisa makan sepuasnya di sana." timpal James di tengah kunyahannya dan sama lirihnya dengan nada istrinya itu namun masih bisa di dengar oleh Rose yang duduk di seberangnya.
Anne nampak sangat kesal, kemudian kembali menyantap porsi keduanya yang hampir tandas, lebih baik-baik ia pura-pura tak peduli saja.
"Pindahlah ke kursi sebelahmu, aku mau duduk di sini !!" tiba-tiba Jennifer menyuruh Rose untuk pindah ke kursi seberang Anne karena wanita itu ingin duduk berhadapan dengan James.
Rose yang telah selesai dengan makan siangnya, langsung menggeser piringnya lalu menarik kursi di hadapan Anne.
"Tuan James, apa kamu mau mencicipi menuku ?" ucap Jennifer seraya meletakkan sepiring sushi di hadapan pria itu.
"Kau tidak makan ?" tanya James di tengah kunyahannya.
"Aku sedang menjalankan program diet jadi sepertinya kita bisa berbagi porsi." terang Jennifer kemudian.
"Aku tidak mau kerakusan dan membuat tubuhku menjadi jelek." imbuhnya lagi seraya melirik ke arah Anne yang nampak baru menyelesaikan dua porsi makanannya, benar-benar rakus pikirnya.
"Kau dari dulu tak pernah berubah." timpal James seraya mengambil sumpit baru lalu mulai makan sushi milik Jennifer.
"Tentu saja aku dari dulu sangat menjaga tubuhku agar tetap ideal." sahut Jennifer yang juga sedang memakan sushi yang sama dengan pria itu.
"Aku sudah selesai." ucapnya seraya beranjak dari duduknya, kemudian Anne segera meninggalkan mejanya tersebut yang langsung di ikuti oleh Rose.
"Wanita kampung, tak punya sopan santun." gerutu Jennifer seraya melirik kepergian Anne yang sama sekali tak ramah padanya.
Setelah masuk lift, Anne segera menekan tombolnya dengan keras dan itu membuat Rose nampak menahan senyumnya. Kentara sekali nyonyanya itu sedang di landa cemburu saat ini.
Saat pintu lift hampir tertutup sempurna tiba-tiba kembali terbuka setelah seseorang memaksa untuk masuk.
"Tuan James." Rose langsung membungkukkan tubuhnya untuk menghormati atasannya tersebut, kemudian wanita itu menggeser tubuhnya menjauh agar pria itu berdiri dekat sang istri.
Setelah lift kembali tertutup James diam-diam mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya itu tapi langsung di tepisnya menjauh.
"Apa kamu tidak lihat ini sedang di kantor ?" sungut Anne dengan kesal.
"Apa kamu sedang cemburu, hm ?" timpal James seraya menghadap wanita itu.
"Si-siapa yang cemburu ?" Anne nampak salah tingkah.
"Jika cemburu katakan saja, bukankah aku juga harus mengikuti permainanmu ?" ucap James seraya mendekatkan wajahnya menatap istrinya tersebut.
"A-apa yang akan kau lakukan ?" ucap Anne ketika wajah suaminya semakin mendekat, apa pria itu tak melihat ada Rose juga bersama mereka dan bisa-bisanya ingin menciumnya.
Sebelum James benar-benar menciumnya tiba-tiba bunyi lift terbuka hingga membuat pria itu langsung menjauhkan tubuhnya lalu bersikap seperti biasa saat beberapa karyawannya masuk.
"Syukurlah."
James segera menarik istrinya mundur ke belakang untuk memberikan tempat pada karyawannya yang baru masuk.
Rupanya meski ada para karyawannya yang sedang berdiri memunggungi mereka, James tetap saja membuat ulah dengan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu hingga membuat Anne langsung melotot menatapnya dan semakin melotot saat merasakan tangan pria itu bergerak ke bawah lalu mengusap pinggulnya dengan lembut.
"Dasar mesum." umpat Anne tiba-tiba yang langsung membuat semua karyawan di dalam lift tersebut menoleh ke arahnya.
Anne yang tak sengaja mengatakannya, langsung salah tingkah. "A-aku mendapatkan pesan nyasar di ponselku." ucapnya beralasan, beruntung ia memegang ponsel di tangannya.
Sedangkan James nampak berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan seakan tak terjadi sesuatu, padahal perbuatan pria itu sukses membuat sang istri berkeringat dingin hingga keluarlah umpatan dari dalam mulutnya tadi.
Ting
Bunyi pintu lift terbuka dan beberapa karyawan segera keluar dari sana begitu juga dengan Anne dan James.
Anne tak lagi mempedulikan suaminya itu, ia bergegas menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi kerjanya.
"Nyonya, tuan James memanggil anda." ucap Rose setelah mengangkat telepon dari sang tuan.
"Astaga baru juga duduk." gerutu Anne seraya beranjak dari duduknya, kemudian wanita itu melangkah pergi.
"Nyonya anda mau kemana ?" tanya Rose saat Anne bukannya ke ruangan James malah ke arah lain.
"Sepertinya bayiku ingin pipis." sahut Anne, lalu bergegas pergi dari sana.
"Astaga nyonya, kenapa aku tiba-tiba prihatin pada bayi anda." gumam Rose, karena nyonyanya itu selalu menjadikan bayinya sebagai alasan untuk menghindari sang tuan.
Sementara Anne yang baru ingin masuk ke dalam toilet langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang berbicara di dalam sana.
"Apa sih kak, awas saja jika kamu macam-macam pada James." seru wanita itu yang tak lain adalah Jennifer dan itu membuat Anne nampak penasaran, inilah tujuannya tak ingin mengungkapkan pernikahannya dengan James agar ia bisa leluasa sebagai karyawan biasa di kantor ini dan mencari tahu tujuan wanita itu.
Entah kenapa sejak bekerja di sini ia mempunyai firasat kurang baik pada nyonya Darrien dan juga wanita itu, namun jika ia mengungkapkannya pada sang suami tanpa bukti pria itu pasti tidak akan percaya mengingat mereka sudah saling mengenal sejak lama.