Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~174


James yang tak ingin terjadi apa-apa dengan sang buah hati segera membawa istrinya itu ke rumah sakit, bukan ini yang sebenarnya ia inginkan. Ia ingin mengadili wanita yang pernah sangat ia cintai itu tanpa menyakiti buah hati mereka.


"Dok, bagaimana keadaannya dan bayi yang di kandungnya ?" tanya James setelah dokter selesai menangani wanita itu.


"Beruntung lukanya tidak terlalu dalam tuan, namun tekanan darahnya yang melonjak drastis membuat kami khawatir akan terjadi sesuatu pada janinnya." terang sang dokter.


"Tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, dok." mohon James dengan wajah khawatirnya.


"Tentu saja tuan, itu sudah menjadi tugas kami. Tapi kami juga ingin meminta bantuan agar mood pasien di jaga dengan baik supaya tekanan darahnya kembali normal." tukas dokter tersebut.


"Tentu saja, dok." James mengangguk kecil lalu pandangannya ke arah istrinya yang sedang tak sadarkan diri di atas ranjangnya.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu." ucap sang dokter, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut yang di ikuti oleh dua orang perawat. Namun saat akan membuka pintunya James tiba-tiba memanggil dokter itu kembali.


"Dokter, bisa bicara empat mata sebentar." ucapnya yang langsung di angguki oleh dokter tersebut, kemudian mereka berlalu menuju ruangan lain.


"Saya harap anda sudah memikirkannya dengan matang, tuan James." ucap sang dokter setelah berbicara empat mata dengan pria itu di ruangannya.


"Tolong lakukan yang terbaik dok, saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri saya dan kandungannya jadi berapa pun yang anda minta akan saya bayar." sahut James dengan wajah seriusnya.


"Baik, tuan." dokter tersebut mengangguk kecil dengan wajah datar yang sulit di artikan.


Sementara itu di tempat lain Anne sedang makan siang di kantin seorang diri, wanita itu terlihat sangat menikmati makanannya tak peduli suara bisik-bisik tak mengenakan terdengar sampai telinganya.


"Ku rasa dia bisa masuk perusahaan ini karena sudah merayu tuan James." ucap seorang wanita yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di pojok cafetaria.


"Tapi ku dengar dia di rekomendasikan oleh tuan William." ucap yang lainnya lagi.


"Benarkah? lalu kenapa sekarang dia mendekati tuan James? atau karena tuan William sudah bosan lalu di buangnya ?" timpal wanita satunya lagi.


"Bisa jadi sih, lagipula istri tuan William sangat cantik. Rugi kalau tetap mempertahankan wanita murahan seperti dia."


"Semoga saja tuan James segera mempublikasikan hubungannya dengan kekasihnya itu, karena mereka terlihat sangat serasi."


"Benar, dalam bayanganku mereka itu seperti si pangeran cool dan peri baik hati."


"Kau benar, sangat tidak pantas dengan wanita kampung yang sok barbar itu dan apa kamu tahu tadi pagi dia telah membuat nyonya Darrien geram. Jika sudah seperti itu cepat atau lambat dia akan segera di tendang."


"Benarkah? wah cari mati dia."


Anne yang sedari tadi mendengar perkataan-perkataan miring mereka nampak tak mempedulikannya, ia tak perlu memberikan alasan pada orang yang membencinya karena mereka memang tak perlu itu.


Setelah menghabiskan makan siangnya, ia segera beranjak dari duduknya kemudian membayar makanannya lalu segera pergi dari sana.


"Aku sudah membayar semua makanan kalian dan segera kembali bekerja karena tuan James membayar kalian untuk bekerja bukan ngeghibah." ucap Anne saat melewati meja beberapa wanita yang sedari tadi membicarakannya, ia nampak menatap satu persatu pembenci dirinya itu kemudian segera berlalu dari sana.


Sementara mereka hanya bisa termangu melihat kepergian Anne. "Dia benar-benar merendahkan kita." ucap salah satu dari mereka dengan wajah geramnya.


Sore harinya Anne yang akan pulang nampak tak melihat keberadaan mobil sang suami, entah di mana pria itu karena sejak siang ia sudah tak melihatnya.


Kemudian Anne memutuskan untuk naik kereta saja karena Mark hari ini memang izin tak bisa menjemputnya, setelah berjalan selama sepuluh menit wanita itu segera masuk ke dalam kereta yang sepertinya sudah akan berangkat karena di penuhi oleh penumpang.


Setelah menghempaskan bobot tubuhnya ia segera memasang headset di telinganya, lalu memutar musik di ponselnya. Namun sebelum musik ia putar, tiba-tiba dua pria di sampingnya itu menyebut nama suaminya.


Anne nampak meliriknya sekilas dan ia baru ingat jika kedua pria itu pernah ia temui sebelumnya di kereta ini juga dan waktu itu mereka berencana ingin menghabisi sang suami.


Akhirnya Anne urung memutar musik dan kini wanita itu nampak bersandar di tempat duduknya dan membiarkan headsetnya masih terpasang di kedua telinganya.


"Kau yakin melihat tuan James di rumah sakit ?" ucap salah satu dari mereka.


"Tentu saja, aku sudah mencari tahu dan kekasihnya yang hamil itu sedang di rawat di sana." sahut satunya lagi.


Deg!!


"Hamil."


Anne nampak terkejut saat mendengar perkataan pria yang duduk di sampingnya itu, ia yakin orang yang di bicarakan oleh mereka memang benar suaminya.


"Kau tahu sakitnya apa ?" lanjut salah satu dari mereka.


"Aku tidak tahu penjagaan di sana sangat ketat, mungkin hanya kelelahan setelah pria itu minta jatahnya semalaman suntuk." sahut yang lainnya dan selanjutnya mereka nampak tertawa mengejek.


"Hamil? jadi kekasih pria itu sedang hamil ?"


Entah kenapa Anne tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, padahal kabar itu belum tentu benar adanya. Namun jika memang benar wanita itu sedang hamil, lalu kenapa pria itu masih mempertahankannya.


Beberapa saat kemudian Anne segera turun setelah kereta berhenti di stasiun tujuannya. "Nona, apa kau menguping pembicaraan kami ?" tiba-tiba seseorang menepuk punggung Anne ketika ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari stasiun tersebut.


Anne langsung menoleh dan ia melihat dua orang pria bertubuh gempal yang tadi duduk di sebelahnya mendekatinya.


"Maaf tuan, anda bicara apa saya tidak mendengar apapun." ucap Anne seraya melepaskan headset di kedua telinganya, sebelumnya cara ini ampuh semoga kedua pria itu percaya.


"Sudahlah jangan berbohong, kamu hanya berpura-pura mendengar musikkan ?" hardik salah satu dari mereka.


"Mampus aku."


Anne nampak memutar otaknya untuk mencari alasan lain, apalagi stasiun sudah mulai sepi kembali. Hari pun mulai gelap ia tak ingin menjadi santapan empuk mereka.


"Saya benar-benar mendengarkan musik tuan dan saya tidak tahu anda sedang berbicara apa." sahut Anne kemudian, semoga kedua pria itu percaya dan segera melepaskannya.


"Sudahlah bawah saja dia ke markas untuk menemani kita malam ini." ucap salah satu dari mereka dan tentu saja langsung di angguki oleh satunya dengan senang hati, apalagi melihat wajah Asia Anne yang terlihat begitu menggodanya.


"Pergilah, jika tidak aku akan berteriak !!" ancam Anne saat kedua pria itu semakin mendekatinya.


"Berteriaklah nona, siapa yang akan mendengarmu." ucap pria tersebut seraya menatap kedatangan kereta berikutnya yang sedikit berisik.


"Lepaskan brengsek." Anne langsung memukuli mereka dengan tasnya saat sebelah tangannya di tarik paksa.


"Lebih baik kita lumpuhkan saja !!" perintah pria satunya yang tentu saja langsung di angguki oleh temannya yang lain.