
William segera keluar dari mobilnya tanpa mempedulikan istrinya, pria itu nampak berlalu ke ruang kerjanya dengan wajah memerah.
"Will, kamu baik-baik ?" Merry mengejarnya namun William segera menutup pintu kerjanya dari dalam dengan keras.
"James, apa yang terjadi dengan William ?" tanya Merry pada James yang terlihat sangat cemas.
"Nyonya, demi kebaikan anda tolong sebaiknya segera masuk ke dalam kamar anda." mohon James kemudian.
"Tapi William seperti sedang kesakitan, James. Katakan dia kenapa? bukankah tadi baik-baik saja ?" Merry nampak penasaran, karena baru kali ini ia melihat mata pria itu penuh dengan amarah yang tak biasa.
William seakan menjadi orang lain yang sedang menahan marah beserta kesakitan bersamaan.
"Tolong nyonya segera kembali ke kamar anda, biar saya yang mengurus tuan. Percayalah tuan pasti baik-baik saja." bujuk James hingga membuat Merry menyerah lalu melangkahkan kakinya ke kamarnya.
Gadis itu nampak mondar-mandir di dalam kamarnya, karena tak menemukan jawaban akan kegelisahannya akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan segera menyalakan shower.
Satu jam kemudian kekhawatiran Merry semakin menjadi, berendam di bathup bukannya membuatnya lebih baik tapi justru membuatnya semakin kepikiran akan suaminya itu.
Lantas gadis itu segera membilas tubuhnya lalu segera berganti pakaian.
"Aku harus melihat keadaan William." gumamnya, setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Merry nampak terkejut saat melihat James sedang bersandar di daun pintu ruang kerja William, pria itu terlihat seperti sedang frustasi.
"James apa yang sedang kau lakukan, apa William baik-baik saja ?" tanya Merry seraya berjalan mendekat.
"Nyonya apa yang sedang anda lakukan di sini ?" James nampak terkejut saat melihat kedatangan Merry.
"Katakan James, apa William baik-baik saja ?" ulang Merry kali ini ia takkan menyerah sebelum mengetahui keadaan suaminya.
"Tuan baik-baik saja, nyonya." dusta James.
"Itu suara siapa James, apa William memasukkan wanita ke dalam sana ?" tanya Merry saat mendengar suara rintihan kesakitan seorang wanita.
"Nyonya, tolong masuk ke dalam kamar anda kembali." mohon James.
"Tidak, aku harus tahu apa yang mereka lakukan James. Apa suamiku sedang tidur dengan wanita lain di dalam sana ?" Merry mulai murka.
"Tidak nyonya, percayalah tuan tidak akan melakukan itu." James meyakinkan.
"Lalu kenapa ada suara wanita di dalam sana, apa William sedang menyiksanya ?" teriak Merry dengan tak sabar.
James nampak menghela napas frustasi. "Sebenarnya tadi nona Natalie memasukkan obat perangsang ke dalam makanan tuan tapi sepertinya obat itu bereaksi lain di tubuh beliau." terangnya kemudian.
"Maksud kamu? aku tak mengerti James." Merry nampak bingung.
"Tuan mengidap skizofrenia paranoid, nyonya. Gangguan mental akut dengan halusinasi dan delusi tinggi." sahut James.
"Apa ?" Merry tak percaya suaminya mengidap penyakit gangguan jiwa yang sangat akut, padahal selama ini pria itu terlihat baik-baik saja.
"Lalu apa hubungannya dengan obat itu James ?" Merry rasanya ingin mengutuk Natalie karena telah berbuat licik.
"Tuan mencoba menahan hasratnya nyonya dan itu berakibat ke mentalnya." terang James.
"Jadi William sedang menyiksa seorang wanita di dalam ?" tanya Merry memastikan mengingat rintihan suara wanita terdengar menyakitkan di telinganya.
James hanya bisa mengangguk karena dirinya pun tak mempunyai cara lain untuk menghentikan tuannya itu.
"Aku bisa membantu William, James. Tolong biarkan aku masuk." mohon Merry kemudian.
"Maaf nyonya, itu sangat berbahaya untuk anda. Beliau bisa saja melukai anda tanpa sadar." larang James, pria itu masih berdiri di depan pintu menghalangi nyonyanya tersebut.
"Tapi William bisa membunuh wanita di dalam itu, James." Merry benar-benar frustasi.
"Aku mencintai William, James. Aku yakin aku bisa mengatasinya, tolong percaya padaku. William butuh aku saat ini, James." mohon Merry yang langsung membuat James tercengang mendengar kata cinta dari bibir gadis itu yang mungkin saja bisa mengendalikan sisi liar dan kejam sang tuan.
"Ku mohon." imbuh Merry.
James nampak berpikir sejenak, kemudian pria itu menghela napasnya pelan.
"Jika anda tidak baik-baik saja, tolong berteriaklah nyonya saya akan segera membantu anda." akhirnya James mengalah, lalu menjauhkan tubuhnya dari daun pintu tersebut.
"Terima kasih, James." Merry segera membuka pintu yang tak terkunci itu lalu segera masuk.
Di ruangan tersebut Merry nampak melihat seorang wanita tanpa busana sedang meringkuk di pojokan ruangan dengan luka cambuk di sekujur tubuhnya.
Sementara itu William yang berdiri membelakanginya siap melayangkan cambuknya lagi pada wanita itu.
"Tidak Will, tolong hentikkan !!" Merry langsung berlari lalu merentangkan tangannya untuk melindungi wanita yang sudah tak berdaya di belakangnya itu.
"Kau ?" William nampak memicing saat melihat Merry.
"Pergi dari sini !!" hardik William, pria itu seakan tak menyukai jika kegiatannya yang menyenangkan tiba-tiba di ganggu.
"Aku tidak akan pergi Will, tolong sadarlah perbuatanmu ini salah." teriak Merry tak menyerah.
"Pergi honey karena aku bisa menyakitimu nanti." lirih William dengan menahan emosi, sepertinya pria itu masih menyadari siapa wanita di hadapannya itu.
"Tidak, aku tidak akan pergi." tegas Merry yang langsung membuat William mengepalkan tangannya, sorot matanya yang tajam nampak penuh kebencian.
Namun Merry sedikit pun tak takut ia harus bisa menyembuhkan suaminya itu meski dirinya akan menjadi korban selanjutnya.
"James !!" teriak Merry kemudian dan tak menunggu lama pria itu bergegas masuk.
"Nyonya." James nampak terperanjat saat melihat Merry sedang merentangkan tangannya melindungi wanita rapuh di belakangnya.
Sementara itu William bersiap melayangkan cambuknya ke arah istrinya itu.
"Cepat bawa keluar wanita ini, James !!" perintah Merry kemudian.
"Tapi nyonya...." James nampak ragu, jika ia membawa wanita yang telah di pilih William untuk menjadi korbannya maka bisa di pastikan nyonya mudanya itu akan menjadi korban selanjutnya.
Mengingat bagaimana tuannya itu takkan berhenti sampai korbannya tak menghembuskan napasnya lagi, membuat James langsung menolak.
"Tidak, nyonya. Tolong jangan korbankan anda, tuan William dalam keadaan kurang sadar saat ini." James bersikeras menolak.
"Aku bisa melakukannya James, aku perintahkan segera bawa wanita itu keluar !!" tegas Merry dengan menatap tajam James.
Dengan terpaksa James segera membawa wanita tak berdaya penuh dengan luka cambuk itu keluar.
Entah kenapa saat melihat nyonya mudanya itu memerintahkan dirinya dengan penuh emosi, ia melihat sosok Martin yang melakukan itu.
Martin adalah pria yang berkuasa dan dengan mudah membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut, namun naasnya pria itu justru tumbang di tangan sahabatnya sendiri.
Setelah James pergi dan menutup pintu, Merry segera mendekati William yang terlihat menatapnya dengan sorot kebencian seakan gadis itu telah merebut mangsanya.
Saat ini Willam seperti seorang singa yang siap mencabik-cabik mangsanya tak peduli itu orang terdekatnya sekalipun.
"Kau sudah menawarkan dirimu dengan suka rela menjadi mangsaku jadi bersiaplah." William menggertakkan giginya, tatapannya nampak buas ke arah Merry seakan tak mengenali gadis itu lagi.
Aarrghhh
Teriak Merry yang kini nampak terkapar di lantai setelah William melayangkan cambuknya dengan keras tanpa perasaan.