Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~127


"Siapa pria kaya itu? apa dia calon mangsamu yang baru ?" tanya Celine yang baru menuruni anak tangga, sebelumnya wanita itu melihat sebuah mobil mewah baru saja meninggalkan mansionnya tersebut dan karena penasaran ia bergegas turun dari kamarnya untuk mencari tahu.


Sayangnya ia tak sempat melihat wajah pria itu, jika melihatnya mungkin saja ia kenal. Karena dirinya selalu tahu pria kaya yang berada di negaranya itu.


"Bukan urusanmu." sahut Merry lalu bergegas meninggalkan kakak iparnya tersebut.


"Hei aku berbicara denganmu, pelayan !!" teriak Celine dengan geram saat dirinya di abaikan oleh adik iparnya itu.


"Sayang, ayo temui kakek dan nenek dulu." Merry segera menyuruh putranya itu pergi ke paviliun di mana Martin dan Sera tinggal di sana, putranya itu tak boleh mendengar perkataan kasar Celine padanya karena itu bisa merusak mentalnya.


Setelah putranya pergi, Merry langsung berbalik badan menatap Celine.


"Aku tidak tahu masalah kak Celine denganku apa, tapi jujur aku tak ingin ribut kak." ucapnya kemudian dengan menahan emosinya.


"Ck, jadi kau tak pernah menyadari kesalahanmu apa hah? apa kamu buta atau pura-pura tidak tahu selama ini aku lebih banyak mengalah saat perhatian Alex lebih banyak ke kamu dan keluargamu itu dan saat kami bisa bersama lagi kamu datang lalu mengganggu ketenangan kami." sahut Celine mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.


"Jika apa yang kak Alex lakukan selama ini pada keluargaku membuatmu tak suka, aku meminta maaf kak tapi bukannya kita harus saling membantu jika ada keluarga yang kesulitan ?" Merry mengingatkan, harusnya wanita itu mengerti berkat orang tuanya suaminya itu bisa sukses seperti saat ini.


"Tapi aku merasa sudah cukup mengerti dan aku tidak ingin suamiku jatuh miskin hanya karena mengurus kalian, bukannya kamu masih sehat jadi bekerja keraslah agar tidak menjadi beban Alex lagi." tegas Celine tanpa perasaan.


"Tentu saja tanpa kamu minta pun aku pasti akan bekerja keras jadi jangan khawatir." Merry menatap kesal kakak iparnya tersebut kemudian ia bergegas menyusul sang putra ke paviliun yang berada di belakang rumah tersebut.


Sebenarnya Merry juga ingin tinggal bersama kedua orang tuanya di paviliun itu, meski kecil tapi masih cukup ia tinggali bersama sang putra.


Namun Alex melarangnya dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah utama dengan alasan agar bisa mengawasi pekerjaan para pelayannya karena Celine jarang sekali di rumah.


"Mommy bagaimana keadaan Daddy? aku membawakan makanan buat kalian." tanya Merry pada sang ibu saat baru masuk ke dalam paviliun, meskipun kecil namun tempat itu terasa nyaman bagi Merry dari pada rumah utama.


"Daddy baik-baik saja." Martin yang baru keluar dari kamarnya bersama Ariel langsung menimpali.


"Apa kau juga sudah makan, nak ?" tanya Sera seraya mengeluarkan makanan yang di bawa oleh putrinya tersebut.


"Sudah." angguk Merry, seharian ini ia terlalu kenyang karena William sedikit pun tak membiarkan perutnya kosong bahkan saat hendak pulang pun pria itu mengajaknya untuk makan dahulu dan juga tak lupa untuk membungkus buat kedua orang tuanya.


"Dad, mom maafkan aku. Aku janji akan lebih bekerja keras agar bisa membahagiakan kalian lagi." setiap waktu Merry selalu merasa bersalah pada kedua orang tuanya itu.


"Jangan terlalu di paksa, kami baik-baik saja di sini. Kau lihat Alex cukup perhatian pada kami." Martin mencoba meyakinkan putrinya tersebut.


"Wah makan-makan nih ?" tiba-tiba Alex muncul di paviliunnya tersebut.


"Astaga, kak Alex bikin kaget saja." Merry langsung menoleh ke arah sang kakak yang berdiri di ambang pintu.


"Padahal aku juga bawa makan malam buat kalian." Alex nampak meletakkan sebuah papper bag di atas meja.


"Ya sudah ayo makan sama-sama." ajak Sera kemudian, lalu mulai menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Sebentar aku menghubungi istriku agar kesini juga rasanya kita sudah lama sekali tak makan malam bersama." ucap Alex seraya mengetik sesuatu di ponselnya.


"Benar nak, ajaklah Celine kesini. Selama kami tinggal di sini dia belum pernah datang kesini." timpal Sera, sebenarnya Alex memintanya untuk tinggal di rumah utama namun ia dan suaminya cukup tahu diri untuk tidak mengganggu rumah tangga anak angkatnya tersebut.


Tak berapa lama pesannya Alex langsung di balas oleh sang istri. "Aku sedang kurang enak badan." balas Celine hingga membuat Alex nampak kecewa.


"Sepertinya istriku kurang enak badan, kalian makan saja dahulu." ucap Alex dengan tak enak hati.


"Baiklah tidak apa-apa, mungkin istrimu sedang lelah. Lebih baik segera kamu temani sana." perintah Sera dengan penuh pengertian yang langsung di angguki oleh putranya tersebut.


Akhirnya Alex kembali ke rumah utama untuk menemui istrinya itu.


Saat membuka pintu kamarnya, pria itu nampak mencium aroma parfum menguar di sepanjang kamarnya.


Lalu matanya langsung melebar saat melihat pemandangan indah di atas ranjangnya, istrinya yang tadi mengaku kurang enak badan nyatanya kini telah berusaha menggodanya dengan pakaian lingeri yang sangat seksi.


"Aku khawatir katanya kamu kurang enak badan." ucap Alex seraya berjalan mendekat.


"Aku sakit karena merindukanmu." sahut Celine dengan nada menggoda.


Alex yang sudah lama menahan hasratnya langsung saja menerkam wanita.


Sedangkan Celine yang sudah berada di bawah kuasa pria itu nampak tersenyum miring, karena usahanya untuk menjauhkan suaminya dari keluarganya telah berhasil.


Berkat perselisihan mereka kemarin Merry rasanya enggan sekali bertemu dengan William, namun ia harus tetap bekerja demi bisa pindah dari rumah sang kakak.


"Astaga, tidak bisa kah kau memakai pakaian sebelum memanggilku kesini ?" protes Merry saat baru masuk ke dalam kamar William pagi itu.


Sedangkan William yang sedang duduk di sofa panjang dan hanya mengenakan celana boxer nampak tak menghiraukan protes mantan istrinya itu.


"Ini apa ?" Merry nampak memicing saat mantan suaminya itu tiba-tiba memberikan sebuah pemotong kuku untuknya.


"Bukankah itu pemotong kuku ?" William yang sedang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa balik bertanya.


"Iya aku tahu, lalu untuk apa memberikannya padaku. Asal kamu tahu kuku ku selalu bersih." sahut Merry seraya menunjukkan kesepuluh jari tangannya yang lentik itu.


"Tentu saja memotong kuku ku." ucap William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya, ia kira melayani pria itu hanya seputar makanannya saja.


"Kenapa masih diam di situ ayo duduklah !!" William langsung menarik tangan wanita itu hingga kini duduk di sisinya lalu ia menyodorkan sebelah tangannya ke hadapan wanita itu.


"Ayo potonglah !!" perintahnya kemudian.


Merry menghela napasnya dengan sedikit kesal kemudian meraih punggung tangan pria itu lalu mulai memotong kukunya.


Melihat itu William nampak mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, ia hanya ingin mengingatkan wanita itu jika dulu saat mereka masih menjadi suami istri wanita itu yang selalu memotong kukunya dan mengurus apapun tentang dirinya.


"Kapan kau akan menikahi kekasihmu itu ?" tanya Merry kemudian.


"Memang kenapa ?" William bertanya balik, lagipula kenapa wanita itu tiba-tiba menyinggung Vivian apa sebelumnya dia tak pernah melihat berita jika ia dan Vivian sudah berakhir.


Padahal berita perpisahannya dengan Vivian sempat menjadi tranding topic beberapa minggu lalu.


"Tentu saja agar bisa mengurusmu dan tidak terus-menerus merepotkan ku." sahut Merry dengan sinis.


"Aughh sakit, apa kau sengaja ingin memotong jariku? astaga, perilaku mu seperti sedang cemburu saja." William nampak berteriak saat mantan istrinya itu memotong kukunya dengan sedikit kasar.


"Apaan sih." Merry langsung melepaskan tangan pria itu dengan kesal dan bersamaan itu tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar dan tak berapa lama James langsung masuk karena pintu tak di tutup dengan rapat.


"Selamat pagi tuan." sapanya kemudian, namun pria itu langsung terkejut saat melihat Merry juga berada di dalam sana.


"Selamat pagi nyonya." sapanya kemudian pada Merry.


"Selamat pagi juga, tuan James." sahut Merry dengan sangat ramah dan itu membuat William langsung memicing karena saat bersamanya wanita itu tak ada ramah-ramahnya bahkan terkesan selalu mengajaknya ribut.


"Ada apa James, mengganggu saja kamu pagi-pagi ?" sindir William menatap asistennya itu.


"Sebenarnya ada berita yang sangat bagus tuan, tapi sepertinya anda sedang sibuk. Kalau begitu nanti saya kembali lagi." sahut James lalu pria itu segera pamit pergi.


"Tunggu James, apa kau mau ku pecat sekarang juga ?" ancam William saat asistennya itu seenaknya pergi dengan meninggalkan rasa penasaran padanya.


"Tentu saja tidak tuan." sahut James.


"Ya sudah katakan kabar apa itu ?" desak William dengan tak sabar.


"Kabar tentang...." James nampak ragu mengatakannya karena ada Merry di sana.


"James !!" teriak William hingga membuat Merry langsung berjingkat kaget, tidak bisakah pria itu bicara pelan.


"Tentang masa depan anda tuan, maksud saya tentang wanita masa depan anda." sahut James memberikan kode pada bosnya itu.


"Benarkah ?" William langsung berbinar-binar lalu pria itu menatap ke arah Merry, pria itu nampak berpikir sejenak lalu mulai membuka suaranya.


"Kamu bisa keluar sekarang, ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan James." ucapnya kemudian yang langsung di angguki oleh wanita itu, kemudian Merry segera berlalu keluar dari kamar tersebut.


"Wanita masa depan? apa dia akan segera menikah dengan Vivian ?" gumam Merry sepanjang ia menyusuri lorong hotel, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.


.


Part terpanjang dari semua part, 1400 kata lebih😁