Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~155


"Apa yang sedang kau lakukan ?"


James yang berlalu ke kolam belakang rumahnya nampak mengernyit saat melihat Nick sedang berada di pinggiran kolamnya.


"Saya sedang membersihkan kolam tuan." sahut Nick seraya mengambil daun-daun kering yang mengambang di atas air dengan sebuah tongkat panjang


"Bukannya kemarin kamu mengatakan jika sedang membersihkannya ?" tanya James kemudian.


"I-iya tuan, semalam angin sangat kencang jadi kotor lagi." terang Nick.


James langsung menatap ke atas pohon yang terlihat tak banyak daun menguning lalu pandangannya kembali ke arah kolam.


Di sana terlihat banyak daun menguning namun bentuknya berbeda dari daun yang ada di pohon. Setelah berpikir sejenak pria itu segera melangkah pergi.


"Saya mau pergi, ku harap kau menjaga istriku dengan baik." ucapnya sebelum ia pergi.


"Tentu saja tuan, saya selalu menjaga nyonya." sahut Nick yang kini sudah berdiri menghadap tuannya itu.


"Hm, ku harap kau menjaga dalam artian yang sesungguhnya." James menatap pria itu sejenak kemudian berlalu masuk ke dalam, sedangkan Nick yang masih berdiri di tempatnya nampak tercengang dengan perkataan tuannya tersebut.


"Kau merasa lebih baik ?" Grace yang sudah mengenakan pakaiannya langsung tersenyum saat suaminya masuk kembali ke dalam kamarnya, tak masalah mereka gagal melakukannya hari ini toh masih ada waktu semalaman untuk mereka habiskan bersama pikirnya.


"Hm." James mengangguk kecil menatap istrinya itu.


"Apa kamu mau makan atau beristirahat saja ?" tawar Grace, ia mencoba melayani pria itu sebaik mungkin.


"Aku harus pergi." sahut James seraya mengambil sepatunya lalu memakainya.


"Per-pergi? bukankah kamu bilang malam ini akan menginap ?" Grace nampak terkejut dengan keputusan suaminya yang tiba-tiba itu.


"Tiba-tiba ada pekerjaan penting yang harus ku kerjakan, maafkan aku." terang James kemudian.


"Baiklah, bukankah aku memang harus mengerti." Grace nampak mengerucutkan bibirnya, karena lagi-lagi pria itu meninggalkannya.


"Aku janji secepatnya akan datang kesini." James mengusap pucuk kepala istrinya itu, lalu pria itu segera berpamitan pergi.


"Aku akan mengantarmu." Grace langsung bergelayut manja mengikuti suaminya itu keluar dari kamarnya.


"Halo sayang kapan datang ?" ibunya Grace yang sepertinya baru saja pulang langsung mengulas senyumnya menatap anak menantunya tersebut.


Wanita paruh baya itu terlihat membawa beberapa paper bag dengan merk ternama, sepertinya baru selesai berbelanja dengan teman-temannya dan tentu saja menggunakan credit card yang di berikan oleh anak menantunya itu.


"Sudah dari tadi mom." sahut James, matanya nampak melirik ke arah belanjaan ibu mertuanya itu.


"Kau menginap ?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak, dia bilang sedang ada pekerjaan penting mom." Grace menimpali dengan wajah tak relanya.


"Baiklah tidak apa-apa, bekerjalah yang rajin ada mommy yang akan menjaga istrimu di sini." ucap sang mertua dengan sangat ramah.


"Terima kasih mom, baiklah kalau begitu aku pergi dulu." James menatap istri dan ibu mertuanya itu bergantian lalu bergegas pergi.


"Hati-hati sayang." Grace melambaikan tangannya saat suaminya itu hendak mengemudikan mobilnya.


"Kalian ada masalah ?" tanya Nyonya Barbara pada putrinya itu setelah sang menantu baru saja meninggalkan rumahnya.


"Entahlah aku merasa akhir-akhir ini James sangat berubah, dia tak lagi sehangat dulu." sahut Grace masih dengan wajah kesalnya.


"Perasaan mommy biasa saja, dia masih perhatian sama kamu dan menafkahi kita. Ayolah Grace percaya padaku James sangat mencintaimu apalagi kalian sebentar lagi akan mempunyai keturunan." sang ibu mencoba meyakinkan.


"Ini tas dan sepatu keluaran terbaru, mommy sangat senang akhirnya bisa memilikinya." Nyonya Barbara langsung menunjukkan barang belanjaannya.


"Ku harap mommy tidak terlalu boros, bagaimana jika suatu saat James melempar kita ke jalanan ?" Grace memperingatkan ibunya itu yang hobby sekali berbelanja.


"James tidak akan melakukan itu jika kau tak macam-macam di belakangnya." ucap nyonya Barbara seraya berlalu membawa barang-barangnya pergi dari sana.


Sementara itu James yang sedang menghentikan mobilnya di pinggir jalan nampak sedang menghubungi seseorang.


"Apa hari ini dokter sibuk ?" ucapnya setelah panggilannya dijawab oleh seseorang yang ia hubungi itu.


"Tidak tuan, apa ada yang bisa saya bantu ?" sahut seorang wanita dari ujung telepon.


"Ada beberapa hal yang ingin saya ketahui dok." sahut James.


"Katakan tuan, apa ini berhubungan dengan kondisi istri dan janin anda. Saya rasa semuanya baik tuan, perkembangan janin juga sangat signifikan. Sedangkan nyonya Grace meskipun masih mual dan muntah tapi kondisinya sangat stabil."


"Apa jika ibunya sedang sedih apa bisa berpengaruh pada janinnya, dok ?" tanya James ingin tahu.


"Tentu saja tuan, perkembangan janin akan terhambat dan dalam kasus yang sangat parah juga bisa menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur."


"Baik dok saya mengerti, sebenarnya ada hal penting lainnya yang ingin saya tanyakan pada anda." ucap James lagi.


"Silakan tuan."


"Kapan saya bisa melakukan tes DNA terhadap janin yang di kandung oleh istri saya ?" tanya James dengan pandangan datar menatap jalanan depannya itu.


"Anda serius tuan ?"


"Anda tahu siapa saya bukan ?" James sedikit menekankan kata-katanya.


"Baik tuan Collins, saya memohon maaf. Untuk sekarang sepertinya tidak saya sarankan tuan, karena itu bisa menyakiti rahim istri anda dan lebih baik menunggu beberapa bulan lagi saat usia kandungan istri anda di nyatakan pada fase aman dan saya harap beliau juga sudah siap secara mental. Tapi jika anda bisa lebih bersabar, menunggu kelahiran bayi itu lebih baik."


Dokter kandungan tersebut menjelaskan panjang lebar dan memberi saran pada James perihal tes DNA yang ingin ia lakukan, entah apa yang membuat pria itu berani mengambil tindakan itu.


"Baiklah dok, terima kasih sebelumnya." James segera menutup panggilannya lalu pria itu nampak menghela napasnya dengan berat.


Di tempat lain Anne yang baru selesai merekap hasil penjualan hari ini, pandangannya nampak sesekali melirik ke arah Nicolas yang terlihat sedang sibuk di depan laptopnya.


Ehhmm


Tiba-tiba salah satu teman kerja Anne berdehem hingga membuat wanita itu salah tingkah.


"Kau naksir tuan Nicolas ?" ucap gadis bernama Carol itu to the point.


"Tidak, aku hanya mengagumi karena dia sangat tampan seperti artis korea idolaku." kilah Anne.


"Suka juga tidak apa-apa, beliau masih single." bisik Carol yang langsung membuat Anne terkejut.


"Benarkah masih single ?" Anne rasanya tak percaya pria yang usianya sudah cukup matang itu ternyata masih single.


"Kau baik-baik saja, An ?" tanya Nicolas tiba-tiba yang membuat Anne yang sedang melamun langsung gelagapan dengan kedatangannya.


"I-iya, tuan. Saya baik-baik saja." ucapnya dengan membenarkan posisi duduknya, sejak kapan ia melamun sampai tak menyadari kedatangan bosnya itu.


"Saya mau pulang, ayo saya antar sekalian." ucap Nicolas tiba-tiba yang membuat Anne semakin menganga di buatnya.