
Kenji langsung mengulas senyumnya saat melihat James yang berada tak jauh darinya, kemudian pria itu segera menyapanya. "Tuan James, bagaimana kabarnya? apa anda makan siang di daerah sini juga ?" ucapnya seraya mengulurkan jabat tangannya
"Tentu saja sangat baik, tuan Kenji. Tadi kebetulan lewat sini, lalu tak sengaja melihat karyawan saya juga berada di sini." sahut James seraya membalas jabat tangan rekan bisnisnya dari Jepang itu, pandangannya sesekali nampak melirik ke arah sang istri.
"Kebetulan kami tadi makan siang bersama jadi biar saya yang mengantar nona Anne kembali ke kantornya, karena saya juga yang menjemputnya tadi." tukas Kenji, namun itu justru membuat James terlihat tak suka. Jadi mereka tadi pergi bersama, pikirnya.
"Tidak perlu tuan Kenji, dia karyawan saya jadi sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mengurusnya." tegas James dengan menekankan kata-katanya seraya melirik ke arah istrinya itu.
"Baiklah kalau begitu kami kembali ke kantor dulu." imbuhnya, lalu melangkahkan kakinya ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
"Maaf tuan Ken, saya duluan." Anne sedikit membungkuk saat menatap Kenji lalu segera berlari kecil mengejar langkah panjang suaminya itu.
"Selain cerdas kamu juga sangat manis, sepertinya aku harus segera mendapatkan mu."
Kenji nampak mengulas senyumnya saat menatap kepergian Anne, wanita yang sejak pertama kali bertemu sudah menarik perhatiannya.
Sesampainya di parkiran Anne segera menghempaskan bobot tubuhnya di jok depan di sebelah suaminya itu. "Maaf, aku terlambat ke kantor. Tapi aku punya alasan untuk itu. Apa kamu tahu, aku mendapatkan satu lagi klien dari luar negeri." ucapnya seraya menunjukkan sebuah proposal kerja sama pada suaminya itu.
James melirik sekilas, lalu kembali fokus mengemudi. "Kamu punya banyak anak buah kenapa harus kamu sendiri yang turun tangan? apa gunanya aku menggaji tinggi mereka." timpalnya kemudian.
"Tidak masalah, jika mereka yang melakukannya belum tentu juga dapatkan? Lagipula aku senang melakukannya." sahut Anne meyakinkan.
"Ck, senang karena bertemu pria itu kembali? Ku harap kau masih ingat statusmu saat ini." sindir James yang langsung membuat Anne menatapnya tajam.
"Tanpa kau ingatkan pun aku juga paham tuan James, harusnya sebelum mengatakan hal itu kau berkaca dahulu seperti apa dirimu. Kau juga seorang suami, tapi bisa-bisanya bermesraan dengan wanita lain di tempat umum." Anne tak kalah menyindir hingga membuat James mengerem mendadak lalu menepikan mobilnya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu ?" James nampak memicing menatap istrinya itu.
Anne yang malas menjawab segera mengambil ponselnya, lalu menunjukkan sebuah potret pria itu dengan seorang wanita berambut blonde.
"Ck, cepat sekali berita usang ini beredar." ucap James mengingat foto itu menjadi awal mula William mengendus hubungannya dengan Grace beberapa bulan lalu sebelum ia menikahi istrinya itu.
Sebenarnya waktu itu James ingin mengakhiri semuanya, namun mendengar Grace hamil membuatnya urung dan justru berbalik menikahinya. Karena ia tak ingin menjadi lelaki pengecut yang tak bertanggung jawab dengan perbuatannya.
"Jadi benar dia kekasihmu ?" ucap Anne memastikan.
"Apa kau cemburu ?" Bukannya menjawab James justru bertanya balik.
"Cemburu? Ck, omong kosong. Dari awal kita tak saling mencintai jadi kenapa harus cemburu, kamu bebas berbuat apapun dengan kekasihmu itu tapi tolong ceraikan aku." sahut Anne.
"Bukankah sudah ku bilang jangan membahas perceraian, sampai kapanpun kita takkan bercerai." tegas James, moodnya selalu buruk ketika istrinya itu membahas masalah perceraian. Kemudian pria itu kembali melajukan mobilnya membelah jalanan menuju kantornya.
"Kamu itu sangat egois, apa satu wanita saja tidak cukup bagimu? tolong lepaskan aku, aku juga ingin bahagia dengan kehidupanku sendiri." Anne mulai emosi, hubungan macam apa yang ia jalani saat ini.
"Bahagia dengan kehidupanmu sendiri atau dengan tuan Kenji ?" tuding James to the point, masih teringat jelas bagaimana tadi pria itu menggandeng tangan wanita itu saat keluar dari restoran.
James nampak mencengkeram stirnya dengan kuat lalu pria itu segera membelokkan mobilnya ke arah lain, hingga membuat Anne langsung berpegangan saat pria itu mengemudi dengan kencang.
"Kita mau kemana, ini bukan arah ke kantor ?" ucapnya namun suaminya sama sekali tak menghiraukannya.
Hingga beberapa saat kemudian James menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya, kemudian pria itu segera melepaskan sefty beltnya "Turun !!" ucapnya dengan nada dingin.
"Tidak mau, aku ingin kembali ke kantor." tolak Anne yang enggan beranjak dari duduknya, wanita itu justru melipat tangannya di depan dada.
James yang sedang kesal langsung menutup pintu mobilnya dengan keras dari luar hingga membuat Anne berjingkat kaget. "Apa dia sedang marah ?" gumamnya sedikit takut.
"Turun !!" perintah James lagi saat baru membuka pintu untuknya.
"Aku ingin kembali ke kantor, lagipula masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan." tolak Anne lagi.
Tak mau berkata-kata lagi, James langsung melepaskan sefty belt istrinya itu dengan paksa lalu menggendong tubuhnya layaknya bridal style lantas membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"A-apa yang kamu lakukan, lepaskan aku !!" teriak Anne sembari meronta saat pria itu tiba-tiba menggendongnya.
"Diamlah, suaramu itu bisa meledakkan gelendang telingaku." perintah James seraya membuka pintu rumahnya.
"Biarkan saja, siapa pun juga tolong aku dari pria brengsek ini." teriak Anne dengan kencang, tangannya yang kecil berusaha memukuli dada liat pria itu. Namun sepertinya tak berarti apa-apa karena suaminya itu terus melangkah menuju kamarnya dan....
Brukk
Dengan sekali gerakan pria itu melemparnya ke atas ranjangnya dan itu Anne gunakan untuk segera kabur tapi belum sempat turun dari ranjang suaminya itu kembali menarik kakinya hingga ia jatuh terlentang.
Kemudian pria itu segera melepaskan sepasang high heels di kakinya, lalu melemparnya ke lantai hingga meninggalkan suara keras.
"Sepatuku ?" Anne langsung melotot mengingat sepatu itu baru ia beli dengan harga lumayan mahal.
"Lihatlah kamu merusak sepatuku !!" bukannya segera kabur saat suaminya melepaskannya, wanita itu justru menatap nanar sepatunya yang telah rusak tergeletak mengenaskan di atas lantai.
"Untuk apa kamu meratapi barang yang sudah rusak ?" James nampak heran dengan perilaku istrinya itu.
"Itu barang mahal pertamaku apa kamu tahu? bahkan harganya setengah dari nafkah bulanan yang kau berikan padaku." rutuk Anne dengan masih menatap melas sepatunya itu, ia mengingat harga sepatu itu sekitar 5 jutaan jika di rupiahkan.
"Aku bisa membelikan mu lebih mahal dari itu." ucap James seraya melepaskan dasinya yang langsung membuat Anne menelan ludahnya.
"A-apa yang ingin kau lakukan ?" ucapnya seraya menjauhkan tubuhnya ke ranjang belakangnya.
"Tentu saja ingin mengajarimu bagaimana menjadi istri yang patuh." sahut James dengan tersenyum miring dan itu membuat Anne semakin ketakutan, jangan sampai malam itu kembali terjadi.