Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~219


"Apa kamu akan pergi ke kantor ?" tanya James pagi itu saat melihat istrinya sudah nampak rapi padahal dirinya masih bergelung dalam selimutnya.


"Tentu saja, sesuai perjanjian kita semalam." sahut Anne dengan tersenyum penuh kemenangan, mengingat saat mereka sedang bercinta semalam ia telah merayu pria itu untuk mengizinkannya kembali ke kantor lagi.


James nampak mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa di perdaya oleh wanita itu semalam. "Baiklah, kamu menang. Jadi kemarilah, apa kamu tidak mau mengucapkan selamat pagi pada suamimu tercinta ini ?" ucapnya memerintahkan istrinya itu untuk mendekat.


"Tidak, kamu pasti akan membuatku terlambat ke kantor nanti. Jadi cepatlah mandi, kamu tidak ingin telatkan ?" tolak Anne, ia sangat paham akal licik suaminya itu.


James mendesah kesal. "Baiklah, masih banyak waktu untuk kita melakukannya." lirihnya seraya beranjak dari ranjangnya.


"Tunggu, kamu berbicara sesuatu ?" Anne langsung menghentikan suaminya itu yang hendak menutup pintu kamar mandi.


"Apa kamu mau ikut mandi bersamaku ?" goda James dengan mengerlingkan sebelah matanya.


"Dasar mesum." Anne langsung bersungut-sungut dan itu membuat sang suami nampak terkekeh sembari menutup pintunya.


"Astaga muka saja kaku, tapi otaknya selalu saja mesum." gerutu Anne seraya berlalu keluar kamarnya.


Beberapa saat kemudian wanita itu segera berangkat dengan nyonya Ester dan di ikuti oleh sang suami di belakangnya.


"Selamat pagi." sapa Jennifer dengan ramah saat menyambut kedatangan James, sementara Anne yang sengaja datang lebih lambat nampak berdecak melihat wanita penggoda itu.


"Hm." ucap James dengan wajah datar seperti biasanya, sementara Anne yang mengikuti langkah mereka dari belakang nampak menajamkan pendengarannya.


"James, setelah meeting dengan para investor bisakah kita makan siang bersama? rasanya sudah lama sekali kita tak melakukan itu." tawar Jennifer seraya mensejajarkan langkahnya dengan pria itu.


Anne yang mendengar itu nampak menggerutu tak jelas, lalu kebetulan sekali ada Andrew mantan asistennya itu yang sepertinya baru datang.


"Hi, Drew." sapa Anne saat pria itu melangkah di sampingnya.


"Selamat pagi bu, sepertinya pagi ini sangat mendung." sindir Andrew saat melihat wajah kesal mantan managernya itu.


"Panggil saja namaku, aku bukan atasanmu lagi." ucap Anne menanggapi ucapan pria itu.


"Baiklah, sepertinya itu lebih baik." Tentu saja Andrew nampak senang karena mereka memang seumuran jadi bisa berteman tanpa harus terhalang sebuah jabatan.


"Jadi bagaimana jika kita nanti makan siang bareng ?" imbuh Andrew lagi.


"Oh, tentu saja." Anne menerimanya dengan senang hati, namun James yang mendengar itu langsung berhenti mendadak hingga membuat wanita itu tak sengaja menabrak punggungnya.


Brukk


"Maaf." Anne langsung menjauh saat Jennifer maupun Andrew menatapnya dengan pandangan aneh.


"Aku lupa hari ini asisten sekretarisku ini sedang banyak kerjaan, jadi sepertinya dia akan menghabiskan makan siangnya di meja kerjanya. Bukan begitu nona Anne ?" James menatap istrinya itu dengan pandangan mengintimidasi.


"I-iya, aku lupa hari ini banyak sekali pekerjaan Ndrew." timpal Anne menatap ke arah Andrew.


"Baiklah, aku mengerti." Andrew mengangguk kecewa.


James yang merasa menang kembali melangkahkan kakinya. "Jadi bagaimana dengan tawaranku makan siang, James ?" ulang Jennifer kembali.


"Aku hari ini sangat sibuk Jenn." tolak James seraya masuk ke dalam lift yang juga di ikuti oleh Jennifer dan juga Anne.


"Baiklah, ku harap lain kali kamu bisa." timpal Jennifer sedikit kecewa, rasanya semakin jauh saja hubungannya dengan pria itu. Padahal dahulu saat di bangku kuliah mereka sangat dekat, kemana pun selalu berduaan.


"Aku tak bisa janji." ucap James menimpali.


Tak berapa lama pintu lift kembali terbuka dan masuklah beberapa karyawan lagi setelah mendapatkan izin dari wakil direkturnya itu tentu saja.


Hingga kini posisi James mundur ke belakang sejajar dengan istrinya dan juga Andre, sedangkan Jennifer tetap berdiri di depannya bersama karyawan lainnya.


Namun rupanya pria itu tak menyerah karena kini tangannya nampak melingkar di pinggang wanita itu dengan posesif lalu menariknya merapat pada tubuhnya dan tentu saja itu membuat Anne langsung melotot.


Tapi sepertinya James pura-pura tak melihatnya, karena pandangannya lurus ke depan seperti sedang tak terjadi sesuatu.


Sementara Andrew yang sedang berdiri di samping Anne tentu saja nampak tercengang melihat perlakuan wakil direkturnya itu.


Sepertinya Andrew tak menyangka dengan apa yang ia lihat itu. "Apa, ini mimpi ?" gumamnya seraya mencubit tangannya sendiri yang membuatnya langsung meringis kesakitan.


Anne nampak meletakkan jarinya di depan bibirnya menatap mantan asistennya itu, seakan mengisyaratkan agar pria itu tutup mulut dengan apa yang ia lihat.


Ting


Pintu lift terbuka lalu James segera melangkah keluar meninggalkan istrinya itu yang mungkin harus repot menjelaskan perbuatannya pada pria itu.


"An, bisa kau jelaskan semuanya ?" ucap Andrew seraya melangkah beriringan dengan wanita itu.


"Kamu sedang tidak di lecehkan oleh tuan James kan ?" imbuh Andrew lagi.


"Tentu saja, bahkan aku di lecehkan setiap saat." sahut Anne dalam hati, mengingat suaminya itu selalu tak membiarkannya untuk bersantai barang sejenak.


"Ceritanya panjang Ndrew, lain kali akan ku ceritakan tapi tolong jangan bicara apa pun pada yang lain." ucapnya kemudian.


"Tapi An, tuan James sudah mempunyai kekasih apalagi sekarang ada nona Jennifer juga yang berusaha mendekatinya. Ku harap kamu tak kecewa nantinya." Andrew memperingatkan.


Anne nampak mengangkat jarinya menunjukkan cincin pernikahannya yang tentu saja itu membuat Andrew langsung tercengang.


"Baiklah, aku harus bekerja ku harap kamu bisa ku percaya." imbuh Anne tanpa memberikan kesempatan pria itu untuk bertanya perihal statusnya lebih jauh.


"Astaga, apa aku sedang bermimpi."


Kali ini Andrew kembali mencubit lengannya dengan sangat keras hingga membuat pria itu berteriak kesakitan dan itu langsung menjadi perhatian beberapa karyawan yang melewati.


"A-aku sedang becanda." ujar pria itu menjelaskan.


Sedangkan Anne yang baru sampai di meja kerjanya langsung di sambut hangat oleh Rose.


"Nanti siang tuan James mengajakmu juga dalam meeting." ucap Rose kemudian.


"Kenapa aku harus ikut juga ?" protes Anne.


"Sepertinya beliau khawatir kamu akan makan siang dengan Andrew." sahut Rose lagi.


"Baiklah, sepertinya aku juga pasti akan sangat bosan di sini tanpa kamu." timpal Anne dengan mengulas senyumnya.


Siang hari pun telah tiba dan mereka segera meninggalkan kantornya untuk melakukan meeting dengan beberapa investor.


"Kenapa dia ikut juga ?" Jennifer langsung protes saat melihat Anne dan Rose masuk ke dalam mobil James.


"Rose lebih leluasa bekerja jika ada asistennya." sahut James, lalu segera duduk di kursi sebelah kemudi.


Jennifer yang tadinya ingin satu mobil dengan Jaman pun akhirnya bergabung dengan yang lainnya di mobil lain.


"Dasar sekretaris tidak becus, bertingkah seperti boss saja yang membutuhkan asisten." gerutu Jennifer mengumpati Rose sepanjang perjalanan.


Sesampainya di tempat meeting, Anne tak sengaja menyenggol lengan seseorang ketika melangkah bersama rombongannya.


"Maaf, tuan." ucap Anne sedikit menunduk lalu kembali melangkah.


"Tunggu, bukankah itu wanita yang sedang di cari oleh tuan Marco? Kenapa bisa bersama tuan James, apa wanita itu bekerja untuk pria itu? sepertinya ini akan menjadi berita yang sangat bagus buat tuan Marco."