Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~287


Malam itu Elsa terlihat sangat menawan dengan mengenakan gaun rancangannya sendiri saat menghadiri pesta ulang tahun ayah sahabatnya itu.


Pesta yang di hadiri oleh beberapa pengusaha itu akan ia manfaatkan untuk menjalin kerja sama.


"Kau meninggalkan Axel sendirian ?" tegur Carla saat melihat Elsa datang tanpa membawa putranya tersebut.


"Dia di Apartemen bersama Sam." terang Elsa dengan sesekali mengulas senyumnya saat beberapa tamu undangan menyapanya.


"Kau cantik sekali malam ini." pujinya saat menatap Carla dengan gaun malam seksi yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya.


"Karena ini malam spesial, jadi aku ingin terlihat cantik di hadapan Alex." sahut Carla dengan wajah bahagianya.


"Tentu saja, aku ikut senang jika kamu bahagia Carl." timpal Elsa memberikan semangatnya.


"Terima kasih, Els. Tapi entah kenapa Alex belum juga datang." Carla mulai gusar saat melihat jam di ponselnya.


Malam semakin larut dan pesta pun sudah di mulai dari beberapa waktu lalu namun pria itu belum kunjung datang.


"Mungkin masih dalam perjalanan, kenapa tidak kamu coba untuk menghubunginya saja ?" Elsa langsung memberikan saran.


"Iya kau benar, aku akan mencoba menghubunginya." Carla langsung mencari kontak Alex di dalam ponselnya, wajahnya berubah murung saat melihat beberapa pesan yang ia kirim sejak tadi pagi belum pria itu baca sama sekali.


Namun wanita itu tak patah semangat, kemudian segera mendial nomor kekasihnya tersebut.


Melihat Carla sedang sibuk dengan ponselnya, Elsa berlalu menjauh lantas wanita itu mencoba mengedarkan pandangannya menatap satu persatu tamu undangan.


"Tuan Juan ?" gumamnya saat melihat mantan relasi bisnisnya dahulu yang berada tak jauh darinya, kemudian wanita itu segera mendatanginya.


Mungkin saja pria itu mau menjalin kerja sama dengannya, paling tidak sudi menanamkan modalnya karena ia sedang membutuhkan banyak dana untuk memulai usahanya kembali.


"Tuan Juan, bagaimana kabarnya ?" sapanya pada pria paruh baya dengan perut sedikit buncit itu.


"Hei nona Elsa senang bertemu denganmu, bagaimana kabarmu ?" pria bernama Juan itu langsung menyambut jabat tangan Elsa dengan ramah.


"Saya sangat baik, tuan." balas Elsa dengan mengulas senyumnya.


"Syukurlah, ku harap pengusaha dari Amerika itu tidak lagi mengganggumu." timpal pria itu dengan wajah khawatir yang langsung membuat Elsa mengernyit tak mengerti.


"Saya tidak mengerti maksud anda tuan, pengusaha dari Amerika siapa ?" Elsa benar-benar tak mengerti maksud pembicaraan pria itu.


"Tunggu, jadi kamu belum mengetahui kenapa tiba-tiba usahamu mengalami kebangkrutan ?" pria itu balik bertanya.


Elsa langsung menggeleng cepat. "Saya sudah berusaha mencari tahu tapi inflasi yang terjadi akhir-akhir ini membuat daya beli masyarakat menurun dan itu sangat berimbas pada usaha saya." terangnya kemudian.


"Hanya itu ?" pria itu nampak menaikkan sebelah alisnya dan langsung di angguki oleh Elsa.


"Bagaimana jika ternyata ada seseorang yang menyabotase semua usahamu? apa kamu percaya ?" terang Pria itu lagi.


"Saya tidak merasa mempunyai rival tuan, jadi itu takkan mungkin terjadi. Lagipula siapa saya hingga ada yang tega melakukan itu." terang Elsa tak percaya.


"Apa kamu pernah mempunyai masalah pribadi dengan seseorang sebelum ini ?" tanya pria itu menyelidik.


"Ma-masalah pribadi ?" gumam Elsa dan seketika ia mengingat Alex, jadi pengusaha dari Amerika yang di maksud oleh pria itu adalah ayah kandung dari putranya sendiri?


"Masalah pribadi hingga membuat seseorang itu tega menghancurkan usahamu dengan menggelontorkan banyak uang pada beberapa relasi bisnismu agar mereka menolak bekerja sama denganmu." tegas pria itu lagi yang sontak membuat Elsa melebarkan matanya.


"Si-siapa pria Amerika yang anda maksud itu tuan ?" tanyanya dengan wajah syok.


"Berhati-hatilah dia salah satu pengusaha yang sangat kejam di Amerika dan untuk saat ini aku tak bisa membantumu karena nanti pasti perusahaanku juga akan terancam." Tuan Juan nampak memperingatkan Elsa dengan wajah iba, bagaimana pun juga sebelumnya mereka pernah bekerja sama cukup lama.


Elsa hanya mengangguk pelan, dadanya mulai bergemuruh saat mengetahui dalang di balik kebangkrutannya. Ia harus membuat perhitungan pada pria itu.


Kemudian Elsa mencari Carla, mungkin saja pria itu sedang bersama sahabatnya itu. "Apa tuan Alex sudah datang ?" tanyanya saat melihat Carla sedang berbincang dengan tamunya.


"Aku sudah menghubunginya tapi tak di jawab semoga saja dia masih dalam perjalanan." sahut Carla.


"Baiklah, semoga saja." Elsa kembali mengedarkan pandangannya dan saat seorang pelayan melewatinya ia langsung meminta minuman.


"Kau tak berniat mabukkan malam ini ?" ledek Carla saat Elsa meneguk minumannya hingga tandas.


"Aku hanya haus." sahut Elsa, seolah menganggap jika alkohol yang ia minum adalah air putih yang menyegarkan tenggorokannya.


"Aku tidak tahu jika kamu peminum berat." Carla nampak sedikit terkejut.


"Aku melakukannya hanya untuk menjaga kewarasanku, Carl." sahut Elsa yang kembali meminta minuman pada seorang pelayan, namun kali ini ia tak meneguknya langsung tapi menyesapnya sedikit demi sedikit dengan penuh perasaan.


Beban hidup serta pergaulan bebas di negerinya membuat wanita itu telah lama menjadi pecandu alkohol.


"Lebih baik kita berdansa dari pada harus mengakhiri pesta lebih cepat." Carla langsung mengambil gelas di tangan sahabatnya itu kemudian memberikannya pada seorang pelayan, lantas ia menarik wanita itu ke lantai dansa.


"Apa kamu lupa ini pesta papamu ?" Elsa tak habis pikir saat melihat sahabatnya itu meminta seorang DJ untuk mengganti musik yang lebih keras.


"Papaku sudah beristirahat asal kamu tahu." Carla nampak menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.


"Kau benar-benar tak berubah." gerutu Elsa, mengingat sahabatnya itu sangat menyukai clubbing.


"Oh ya, aku mempunyai kejutan untukmu." timpal Carla kemudian.


"Kejutan ?" Elsa nampak tak mengerti.


"Sebentar." Carla langsung menepuk tangannya.


"Taaaraaaa, kamu lihat siapa yang datang." Carl memanggil beberapa teman-teman kuliahnya dulu, sepertinya wanita itu ingin mengadakan reuni.


"Astaga, kalian ?" Elsa nampak begitu terharu saat melihat teman-temannya, kemudian wanita itu segera menyapa dan memeluk mereka satu persatu.


"Hai Els, lama tak bertemu." sapa seorang pria yang datang paling akhir hingga membuat teman-temannya yang lain langsung memberikannya jalan.


"Max ?" Elsa nampak terkejut dengan kedatangan mantan kekasihnya dahulu, pria itulah yang membantu Elsa bangkit dari keterpurukan.


Namun karena ambisinya untuk membalaskan dendam sang kakak, Elsa memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Max pria yang baik, namun lagi-lagi Elsa tak begitu mempercayai seorang pria.


"Bagaimana kabarmu ?" Pria tampan dengan senyuman manis itu nampak mengulurkan tangannya.


"Aku baik." sahut Elsa sedikit canggung, kemudian langsung menarik tangannya kembali saat merasakan genggaman pria itu sedikit mengencang.


"Mau dansa denganku? sepertinya ada banyak hal yang bisa kita obrolkan." Max kembali mengulurkan tangannya dan bersamaan itu Elsa nampak tak sengaja melihat kedatangan Alex.


"Hm, tentu saja." ucapnya menyetujui dan itu membuat Max langsung tersenyum lebar, kemudian pria itu meminta DJ untuk mengganti musik yang lebih lamban.


Dan Elsa pun membiarkan Max memeluk pinggangnya dan menggenggam sebelah tangannya, kini posisi mereka terlihat begitu intim layaknya sepasang kekasih.


Dan Alex yang menyaksikan hal itu langsung mengeraskan rahangnya, tatapannya yang menusuk seolah siap mencabik-cabik mangsanya sekarang juga.