
Pagi itu Elsa nampak terbangun saat samar-samar mendengar suara cekikikan sang putra. "Jangan berisik Nak, Mommy masih mengantuk." lirihnya seraya memperbaiki posisi tidurnya dengan merapatkan tubuhnya pada sesuatu yang entah kenapa membuatnya sangat nyaman.
Kemudian tanpa membuka mata Elsa kembali mengarungi alam mimpinya, meski sudah pagi tapi wanita itu rasanya sangat enggan untuk bangun.
Namun saat merasakan pelukan di pinggangnya ia langsung membuka matanya, lalu di lihatnya penampakan dada bidang seseorang yang di penuhi oleh bulu-bulu halus terpampang tepat di depan matanya.
"Apa aku sedang bermimpi ?" ucapnya, lalu saat mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat siapa pemilik dada bidang nan liat itu, Elsa langsung melebarkan matanya.
Rasa kantuk yang sedari tadi bergelayut manja kini seketika lenyap saat menyadari ia sedang berada dalam dekapan seorang Alex Martin.
"A-apa yang kamu lakukan di dalam kamarku ?" protesnya seraya menjauhkan dirinya dari pria itu.
"Ini kamarku, Mommy." timpal Axel yang nampak tiduran di sebelah ibunya tersebut.
Kemudian Elsa segera berbalik badan menatap sang putra yang nampak mengulas senyum lebarnya.
"Ba-bagaimana aku bisa tidur di sini ?" gerutu Elsa lantas segera turun dari ranjang putranya tersebut, pipinya nampak bersemu merah karena malu setelah mengingat jika ia semalam yang mendatangi kamar tersebut lalu tidur di samping sang putra.
"Tunggu dulu, aku semalam tidur di tepi ranjang, lalu kenapa bisa berada di tengah? Ini pasti ulahmu kan ?" tudingnya seraya menunjuk Alex yang kini masih tiduran di atas ranjang dengan menggunakan sebelah tangannya sebagai tumpuhan kepalanya.
"Bukan salah paman, Mommy. Tapi semalam Mommy terlalu erat memelukku jadi aku sesak napas lalu aku pindah ke tepi." Lagi-lagi Axel yang menimpali dan itu membuat Elsa semakin salah tingkah apalagi saat mencuri pandang ke arah Alex yang nampak menatapnya dengan senyuman mengejek.
"Selalu saja mencari kesempatan." gerutunya lantas segera berlalu pergi dari kamar tersebut.
"Sial, ini pasti gara-gara petir semalam." imbuhnya saat sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Sedangkan Alex dan Axel nampak saling menatap lalu mereka tertawa bersama.
"Jadi apa benar paman adalah Daddy ku ?" ucap Axel melanjutkan pembicaraan mereka, sebenarnya mereka sejak pagi sudah bangun namun karena di luar masih hujan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali tiduran di atas ranjangnya.
"Tentu saja sayang, tapi Mommy sedang marah dengan Daddy makanya mommy mau menyembunyikan kenyataan ini dari kamu." timpal Alex dengan memasang wajah sedihnya.
"Begitu ya, pasti Mommy marah karena paman bekerja terus dan tidak pulang-pulang. Jadi mulai sekarang aku bolehkan memanggilmu Daddy jika tidak ada Mommy ?" timpal Axel dengan polos.
"Tentu saja, ada Mommy pun kamu boleh memanggilku Daddy. Kamu adalah putraku, panggillah sesuka hatimu tanpa harus takut pada siapapun." Alex nampak terharu saat pertama kali mendengar putranya itu memanggilnya ayah, meski hasil tes DNA belum keluar tapi Alex sangat yakin jika bocah kecil menggemaskan itu adalah darah dagingnya sendiri.
"Daddy, Daddy, Daddy." ucap Axel yang langsung membuat Alex nampak terkekeh, namun detik selanjutnya wajah bocah itu berubah murung.
"Tapi kenapa Daddy menjadi kekasih tante Carla ?" ucapnya kemudian.
"Daddy tidak pernah menjadi kekasih tante Carla Nak, itu hanya akal-akalan Mommy mu agar Daddy menjauh dari kalian." terang Alex hingga membuat Axel langsung manggut-manggut.
"Apa kamu mau membantu Daddy agar Mommy tidak marah lagi ?" imbuh Alex yang tentu saja langsung di angguki oleh putranya tersebut.
"Tentu saja, Dad." ucapnya dengan semangat.
"Anak pintar, baiklah ayo bangun mari kita lihat Mommy sedang membuat sarapan apa untuk kita." Alex segera beranjak dari tidurnya.
Setelah membersihkan tubuhnya di dalan kamar mandi mereka segera berlalu keluar dari sana.
"Kau mau ngapain ?" tegur Elsa saat Alex hendak menarik kursi untuk duduk.
"Tentu saja sarapan pagi." sahut Alex lalu segera menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Aku hanya membuat dua porsi sarapan untukku dan putraku, ku rasa kau tak kekurangan uang untuk membelinya di luarkan ?" tegas Elsa tanpa perasaan dan itu membuat Alex sedikit tercengang.
"Baiklah." ucapnya, kemudian kembali beranjak dari duduknya.
"Tidak ada lain kali dan ku tegaskan ini terakhir kalinya kamu datang kesini. Jadi sekarang pulanglah, kamu tahu pintu keluarkan ?" Sela Elsa tak mau tahu hingga membuat Axel nampak menghela napasnya, kemudian pria itu segera melangkah pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
"Kenapa Mommy pelit sekali sama paman ?" protes Axel kemudian.
"Paman sudah sangat kaya sayang, dia bisa membeli apapun yang dia mau sedangkan kita harus sedikit berhemat sampai Mommy mempunyai pekerjaan lagi." sahut Elsa beralasan, padahal bukan karena itu ia melakukannya.
Elsa hanya tidak ingin prinsipnya akan goyah jika terus menerus berada di dekat pria itu, pengaruh Alex teramat besar baginya dan ia takkan membuat lubang untuk kehancurannya sendiri.
Sementara Alex yang belum sepenuhnya keluar dari apartemen tersebut nampak mendengar jelas perkataan wanita itu.
"Apa dia benar-benar tidak mempunyai tabungan ?" gumamnya kemudian.
Setelah itu Alex segera meninggalkan gedung apartemen tersebut dan berlalu pergi ke kantornya.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" Alex nampak terkejut saat melihat Carla sudah berada di lobby kantor barunya.
"Tadi aku dari apartemenmu tapi kamu tak ada di sana dan ku rasa kamu sudah berangkat ke kantor." sahut Carla dengan mengulas senyumnya menatap pria itu.
"Hei, kenapa pakaianmu belum ganti? apa kamu tidak pulang ke Apartemen semalam ?" Carla nampak mengernyit saat melihat kemeja pria itu yang nampak masih sama seperti yang di pakainya kemarin.
"Tidak." sahut Alex singkat.
"Lalu kamu tidur di mana semalam? apa di kantor? aku tahu kamu sangat sibuk mengurus kantor berumu ini, tapi ku mohon jangan abaikan kesehatanmu." tukas Carla memberikan perhatian.
"Hm." Alex hanya mengangguk kecil.
"Aku sangat sibuk, apa kau sedang tidak ada kerjaan ?" ucapnya kemudian seraya melangkah menuju meja resepsionis.
"Aku ingin mengajakmu sarapan, kamu pasti belum makankan ?" ucap Carla sambil mengikuti langkah pria itu.
"Aku sedang banyak kerjaan Carl, tolong mengertilah." timpal Alex yang kini nampak sibuk mengecek beberapa laporan di tangannya.
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik aku akan pergi." ucap wanita itu dengan nada kecewa.
"Oh ya, ini untukmu ku harap nanti malam kamu datang di perayaan ulang tahun papaku." Carla nampak menyerahkan sebuah kartu undangan pada pria itu.
"Akan ku usahakan." sahut Alex kemudian.
"Terima kasih." Carla tersenyum tipis kemudian segera berlalu pergi dari sana dengan perasaan kecewa karena sikap dingin pria itu.
Namun ia takkan menyerah suatu saat pasti akan bisa meluluhkan hatinya.
Sementara Alex yang kini sudah berada di ruangannya nampak berbincang serius dengan asistennya tersebut. "Jadi Elsa benar-benar tak memiliki apapun saat ini ?" ucapnya setelah meminta keterangan pada asistennya itu.
"Benar tuan, setelah beberapa butiknya tutup beliau tak mempunyai pemasukan lagi. Sisa aset yang beliau punya pun untuk membayar penalti beberapa perusahaan yang merugi karena bekerja sama dengan beliau." terang sang asisten.
"Jadi dia sekarang benar-benar bangkrut ?" ucap Alex memastikan.
"Benar tuan." angguk sang asisten yang langsung membuat tuan besarnya itu nampak tersenyum penuh arti.
Akhirnya rencana pria itu berhasil dan ia yakin wanita itu akan datang dengan sendirinya untuk meminta bantuannya.
"Kita lihat sejauh mana dia akan tetap bersikap keras kepala, Jack." ucapnya kemudian.