
"Jadi aku boleh bekerja lagikan ?" ulang Anne setelah berada di dekat suaminya itu.
"Tidak." tegas James kemudian.
"Ayolah tuan James, lihatlah aku baik-baik saja bahkan aku tak mengalami mual sedikit pun." mohon Anne, ia memang merasa sangat sehat bahkan mual pun tak pernah ia rasakan.
Jika di negaranya orang-orang biasanya menyebutnya sebagai kehamilan kerbau karena bisa makan apapun itu tanpa ada perasaan eneg atau mual.
"Meskipun kamu baik-baik saja tidak berarti kamu harus bekerja, lagipula aku masih mampu memenuhi semua kebutuhanmu." keukeh James, kemudian ia mengambil sebuah card dari dalam laci meja kerjanya.
"Simpanlah, belanja apapun yang kamu mau !!" ucapnya seraya menyerahkan sebuah black card pada wanita itu.
Anne hanya menatap kartu tak berlimit itu tanpa berniat mengambilnya, ia belum yakin jika suaminya itu ikhlas memberikan padanya.
Jangan sampai akan menjadi daftar hutang jika ia menggunakannya nanti. "Aku tidak mau." tolaknya kemudian.
"Kenapa? apa kurang? ini tanpa limit kamu bisa sesuka hatimu menggunakannya." James nampak menautkan alisnya heran dengan istrinya itu yang menolak mentah-mentah kartu limited edition pemberiannya padahal dahulu Grace berusaha merayunya dahulu untuk mendapatkan kartu tersebut.
"Bukan kurang, aku hanya tidak ingin menambah daftar deretan hutangku kelak." terang Anne dengan wajah polosnya yang tentu saja membuat James langsung tercengang.
Sepertinya perbuatannya dahulu sangat keterlaluan pada wanita itu hingga kini meninggalkan kenangan buruk.
Lagipula dulu ia sengaja melakukannya agar wanita itu merasa terikat dengan hutangnya dan takkan bisa kabur darinya.
James menghela napas panjangnya. "Kemarilah !!" ucapnya kemudian seraya menepuk sebelah pahanya dan itu membuat Anne terhenyak, apa sudah menjadi hobby baru laki-laki itu menawarkan pahanya untuk ia duduki.
Mau tak mau Anne segera mendekat lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana, karena jika menolak pun pria itu pasti akan memiliki sejuta cara untuk membuatnya patuh.
"Kamu istriku jadi mana mungkin aku perhitungan padamu, apapun yang ku punya itu adalah milikmu mengerti ?" ucap James seraya menatap lekat wanita dalam pangkuannya itu.
"Tapi...."
"Dulu aku memang pernah berbuat tak adil padamu, tapi percayalah aku sengaja melakukan itu karena takut kehilanganmu." terang James dengan wajah menyesal.
"Kenapa takut kehilanganku? apa karena kamu takut dengan tuan William ?" tanya Anne dengan wajah serius.
"Awalnya mungkin begitu, tapi dengan berjalannya waktu aku benar-benar takut kehilangan mu." sahut James jujur.
"Kenapa ?" Anne masih belum mengerti dengan maksud suaminya itu.
"Kenapa kamu bertanya terus? intinya aku tidak ingin kehilanganmu, mengerti !!" James nampak tak sabar dengan istrinya yang terus menerus bertanya.
"Aku hanya penasaran kenapa kamu tidak ingin kehilanganku padahal waktu itu kamu sudah mempunyai wanita lain yang kamu cintai ?" rupanya Anne masih belum puas memojokkan suaminya itu.
"Sebelumnya kita pernah membahas ini, jadi untuk apa di bahas lagi hm? intinya sekarang kita sudah bersama, okey ?" tegas James tanpa mau di bantah lagi dan itu membuat Anne merasa kesal, akhir-akhir ini moodnya memang selalu berubah-ubah.
"Baiklah, bisakah aku pergi dari sini aku sangat mengantuk." ucap Anne kemudian, berlama-lama dengan pria itu hanya akan membuat moodnya semakin memburuk.
"Tentu saja, tapi bawa sekalin kartu itu !!" James menatap credit card berwarna hitam miliknya yang masih tergeletak di atas meja.
"Hm, tentu saja karena kamu sudah memberikannya jadi kartu ini menjadi milikku saat ini." sahut Anne seraya mengambil kartu yang hanya orang-orang pilihan yang memilikinya, kemudian ia segera pergi dari sana.
Namun baru beberapa langkah wanita itu menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap suaminya itu kembali.
"Kenapa lagi? apa kau mau memberikan kecupan selamat malam padaku ?" goda James dengan wajah datarnya menatap istrinya itu.
"Aku ingin bertanya apa kamu yakin mengizinkan ku berbelanja apapun itu ?" ucap Anne ingin tahu.
"Tentu saja, itu sudah menjadi milikmu." tukas James.
"Kau yakin ?" Anne bertanya lagi.
"Hm, tentu saja." sahut James yang kini kembali lagi mengecek berkas-berkas di tangannya.
"Bagaimana jika aku menggunakannya untuk membeli rumah baru ?" tanya Anne kemudian yang langsung membuat suaminya itu menatapnya.
"Terserah padamu." sahutnya lalu kembali menatap berkas di tangannya lagi.
"Mobil baru ?" tanya Anne lagi.
"Hm."
"Perkebunan ?"
"Hm."
"Taman bermain khusus anak-anak ?"
"Hm."
Menyadari sang istri pergi, James nampak mengangkat wajah menatap istrinya yang telah menghilang dari balik pintu.
"Apa dia yakin akan membeli itu semua ?" gumamnya tak percaya, wanita lain pasti akan langsung membeli pakaian dan tas mahal tapi istrinya itu benar-benar aneh.
Keesokan harinya....
"Tuan James, kamu yakin tak mengizinkan aku kembali bekerja ?" rengek Anne pagi itu saat sang suami hendak pergi ke kantornya.
"Tentu saja dan bisakah kau rubah panggilanmu itu padaku ?" tegas James dengan kesal karena istrinya itu memanggilnya layaknya atasan di kantornya.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? lidahku ini sudah terbiasa memanggilmu seperti itu." timpal Anne kemudian.
"Panggil apa saja asal jangan seperti itu." sahut James.
"Baiklah akan ku pikirkan nanti, tapi kau juga harus memikirkan ku untuk kembali lagi bekerja." tegas Anne tak mau kalah.
"Tentu saja aku akan selalu memikirkan mu." James menatap istrinya itu dengan mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah smirk kecil yang hampir tak terlihat.
"Jadi kau akan mempertimbangkan ku untuk kembali bekerja ?" Anne nampak tersenyum tak percaya.
"Aku sedang memikirkan gaya apa yang akan kita pakai nanti malam." sahut James seraya mengacak puncak kepala istrinya itu, lalu pria itu segera berlalu menuju mobilnya.
Sedangkan Anne nampak mengerucutkan bibirnya melihat kepergian suaminya itu hingga mobil yang pria itu kendarai hilang dari pandangannya.
"Sangat menyebalkan."
Anne langsung menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, sepertinya ia harus mencari cara untuk merayu pria itu lagi.
Atau ia akan memberikan kejutan dengan datang ke kantornya tiba-tiba? "Sepertinya bukan ide buruk." gumamnya, ia akan datang kesana bukan sebagai karyawan tapi sebagai istri dari pria itu.
Kira-kira bagaimana tanggapan semua karyawan di sana saat mengetahui jika dirinya ternyata adalah istri dari wakil direkturnya.
"Sepertinya akan menarik ?" gumamnya lagi.
Sementara itu James yang baru tiba di kantornya nampak di sambut oleh beberapa karyawannya termasuk nyonya Darrien dan Jennifer.
"Selamat pagi, tuan." sapa nyonya Darrien saat James baru masuk ke dalam kantornya.
"Hm."
James hanya menanggapinya dengan anggukan kecil dan wajahnya pun datar seperti biasanya.
"Tuan James ada beberapa laporan yang harus kamu cek." Jennifer langsung mendekat seraya menunjukkan tumpukan berkas di tangannya.
"Bawa ke ruanganku !!" perintah James, kemudian berlalu dari sana.
"Baik." Jennifer langsung mengulas senyumnya lalu ia menatap nyonya Darrien yang juga sedang menatapnya, kemudian wanita itu segera mengikuti langkah pria itu.
Sesampainya di ruangannya James langsung membuka ruangannya, namun tiba-tiba ia merasakan kepalanya terasa pening dan detik selanjutnya pria itu berlari ke toilet yang ada di ruangannya.
"Mulai lagi." gumamnya, akhir-akhir ini ia memang sering tiba-tiba mual tapi sejak bertemu dengan istrinya ia tak merasakan hal itu namun kini setelah satu minggu berlalu ia kembali mual lagi.
"James, kamu baik-baik saja ?" Jennifer yang baru masuk ruangan James bergegas menyusul pria itu ke dalam toilet.
James mengangkat tangannya agar Jennifer menghentikan langkahnya dan tidak ikut masuk.
"Aku baik-baik saja, mungkin hanya masuk angin." sahutnya kemudian.
"Syukurlah, aku sangat khawatir padamu. Apa perlu ku panggilkan dokter ?" tawar Jennifer dengan wajah khawatir.
"Tidak, terima kasih." James kembali melangkah ke meja kerjanya tapi ia tiba-tiba merasa mual lagi dan langsung berlari kembali ke dalam toilet.
Pagi ini James benar-benar lemas karena mual muntah terus, padahal tadi waktu di rumah ia merasa baik-baik saja. Sepertinya morning sickness yang ia alami belum sepenuhnya berakhir.
Sebenarnya ia merasa senang bisa ikut mengalami efek kehamilan sang istri, namun jika terus menerus terjadi pekerjaannya jadi terganggu.
"Sepertinya dengan pijitan ringan masuk anginmu akan berkurang." Jennifer langsung berlalu ke belakang kursi James lalu segera memijit bahu pria itu dan bersamaan itu pintu ruangan di buka dari luar.
"Aku dat...." ucapan Anne langsung terhenti saat pandangannya tak sengaja ke arah suaminya yang sedang di pijat oleh Jennifer.
"Kau !!" begitu juga dengan James yang nampak terkejut dengan kehadiran tiba-tiba istrinya itu hingga membuatnya langsung beranjak dari duduknya.
Anne langsung tersenyum sinis lalu melangkah mendekat, sepertinya ia sangat penasaran apa yang sedang di lakukan oleh dua sejoli sahabat karib pada masanya itu.