
"Ini semua gara-gara kak Ben, jika saja kakak tidak selingkuh dengan model itu. kak Sarah pasti pasti masih hidup." seorang gadis belia yang baru saja mengenyam pendidikan di sebuah universitas ternama di California nampak memaki seorang pria dewasa di hadapannya itu.
"Maafkan aku, aku khilaf." sahut pria tersebut dengan raut wajah penyesalan, ya hari itu adalah hari pemakaman sang istri yang telah tiada akibat mengakhiri hidupnya sendiri.
"Khilaf kakak bilang? Khilaf itu hanya satu kali, tapi kakak bahkan sudah berkali-kali tidur dengan wanita itu." protes gadis belia itu lagi dengan berapi-api.
"Ya, aku memang salah terus kamu mau apa hah ?" bentak sang pria dengan mengeraskan rahangnya dan tentu saja itu membuat sang gadis langsung berjingkat kaget, karena baru kali ini kakak iparnya itu berani membentaknya.
"Tentu saja kakak harus bertanggung jawab dan bukti-bukti ini akan ku serahkan pada wartawan bahwa Bennedict sang sutradara terkenal telah bermain api dengan artisnya sendiri hingga menyebabkan sang istri meninggal bunuh diri, aku yakin setelah ini karirmu maupun wanita itu akan hancur seketika." tantang gadis belia itu seraya menunjukkan beberapa barang bukti di tangannya.
Plakk
Namun sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi gadis itu hingga membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai, lalu dengan cekatan pria tersebut merebut barang bukti itu dari tangannya.
"Berikan padaku kak ?" gadis itu mencoba merebutnya kembali namun tiba-tiba tubuhnya di cekal oleh beberapa orang dari belakang.
"Usir gadis itu dari sini dan jangan biarkan membawa sedikit pun barang milikku !!" perintahnya pada beberapa anak buahnya.
Akhirnya malam itu gadis tersebut terluntah-luntah di pinggir jalan. "Maafkan aku kak tapi aku bersumpah akan membalas semua kesakitan yang kakak rasakan selama ini."
Beruntung gadis itu mempunyai sahabat baik hingga membuatnya mempunyai tempat untuk berteduh, namun ia takkan mungkin selamanya menumpang. Ia harus mencari pekerjaan agar bisa melanjutkan kuliah, mengingat selama ini sang kakak yang membiayai seluruh pendidikannya.
Dan sekarang di sinilah gadis itu berada, di sebuah bar di mana selama beberapa bulan ini ia bekerja.
Meskipun hidup pas-pasan namun ia senang karena bisa melanjutkan kuliahnya lagi, ia ingin menjadi seorang desainer ternama sesuai harapan sang kakak mengingat menggambar adalah bakatnya sejak kecil.
Dini hari itu saat gadis itu hendak beranjak pulang, ia melihat seorang pria nampak mabuk parah. Baginya melihat pemandangan seperti itu sudah biasa, namun bar sudah tutup dan mau tak mau ia harus segera membangunkan pria itu agar segera pergi.
"Tuan, tolong bangunlah bar sudah tutup." ucapnya seraya menggoyang lengan pria tersebut.
Suasana Bar sudah sangat sepi mengingat kawan-kawannya yang lain sudah pulang semua dan ia sengaja meminta lembur untuk membersihkan bar demi mendapatkan uang lebih.
Namun hingga bar kembali bersih tapi pria tersebut tak kunjung pergi bahkan memilih tertidur kembali di sebuah sofa di ujung ruangan tersebut.
Sebelumnya ia pikir bar sudah kosong dari para pengunjung hingga ia langsung menutupnya lalu membersihkannya dan membiarkan para security untuk pulang, tapi saat ia sedang menyapu tiba-tiba melihat seorang pria nampak tak sadarkan di atas lantai.
"Tuan, bangunlah !! gadis itu kembali menggoyang lengan kekar milik pria itu hingga membuat sang pria nampak menggerakkan tubuhnya lalu mengangkat wajahnya.
Tampan, itulah yang pertama kali gadis itu lihat dari sosok pria tersebut. Namun selanjutnya gadis itu nampak terkejut saat tiba-tiba tangannya di tarik dengan kencang hingga membuatnya terjatuh di atas sofa dan detik selanjutnya pria itu langsung mengungkungnya.
"Tuan, lepaskan. Apa yang anda lakukan !!" teriak gadis itu saat menatap wajah menyeringai pria tampan itu yang tiba-tiba berubah bengis layaknya iblis.
"Melepaskan mu setelah kamu menghianatiku hah ?" teriak pria itu dengan emosi yang memuncak.
"Tuan, kamu salah paham. Aku bukan orang yang kamu maksud." terang gadis itu saat pria tersebut mencoba menciumnya.
"Kenapa kau menghianatiku? apa pria itu lebih baik dariku hah ?" hardik pria itu seraya melucuti pakaian gadis itu dengan paksa.
"Tuan, ku mohon lepaskan aku." mohon gadis belia itu di tengah isak tangisnya, namun tenaganya yang tak seberapa membuatnya tak berkutik saat pria itu mencoba menembus kesuciannya.
"Kau masih perawan ?" ucap pria itu terkejut saat merasakan darah segar mengalir dari liang gadis itu setelah keperkasaannya berhasil menembusnya.
Namun ia yang telah di kuasai oleh alkohol tak bisa menolak saat merasakan miliknya begitu nikmat berada di dalam gadis itu.
Beberapa saat kemudian setelah pria itu kembali tak sadarkan diri setelah puas menggagahinya, gadis itu segera pergi dari sana dengan langkah tertatih akibat miliknya yang terasa sangat perih dan sakit.
"Aku sudah tak suci lagi kak, aku sudah tak punya masa depan. Bolehkah aku menyusulmu saja."
Di sebuah kamar yang lumayan luas dengan penerangan yang minim Elsa nampak tersenyum sinis saat mengingat masa lalunya beberapa tahun silam.
Malam di mana kesuciannya di renggut paksa hingga membuatnya mendapatkan hukuman sosial dari masyarakat dan ia terpaksa harus pindah ke Jerman meninggalkan kota kelahirannya itu.
"Sebentar lagi kak, sebentar lagi wanita itu akan merasakan kesakitan seperti apa yang kakak alami." gumamnya seraya menatap lembut sebuah potret dirinya yang sedang di peluk oleh mendiang kakaknya.
Sementara itu Alex yang sedang berada di kamarnya nampak merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang telah terlelap lebih dahulu.
Kemudian pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas, namun tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi yang langsung membuatnya kembali mengambilnya lalu membaca pesan tersebut.
Seketika matanya terbelalak saat melihat potret Elsa tanpa sehelai benangpun yang nampak berada di atas ranjangnya dengan pose yang sangat seksi sekali.
"Sial !!
Umpatnya seraya melirik ke arah sang istri yang sedang terlelap memunggunginya, Elsa benar-benar membuat kesabarannya habis.
Kemudian pria itu segera menyimpan kembali ponselnya dan segera melupakan potret si4l4n itu yang pastinya akan mampu mengusik miliknya di bawah sana jika ia terus mengingatnya.
Beberapa saat kemudian terdengar napas halus dari hidung pria itu dan itu membuat Celine yang sedari tadi hanya berpura-pura tidur nampak mengerjapkan matanya
Setelah memastikan suaminya benar-benar terlelap, wanita itu segera beranjak bangun. Berjalan mengendap-endap keluar kamarnya lalu menuruni anak tangga menuju ruang kerja pria tersebut.
Sesampainya di sana Celine segera memeriksa beberapa dokumen milik suaminya yang tertumpuk di atas meja.
Ia harus berhasil mencari dokumen penting yang di inginkan oleh Marco, ia tidak mau pria itu berulah dan mengakibatkan kerugian besar karena kehilangan suami yang kaya raya dan sangat tergila-gila padanya.
Si4l4n, Celine benar-benar tak menyangka jika Marco akan bersikap sepicik itu. Ia pikir mereka hanya akan bersenang-senang seperti sebelumnya, tapi rupanya pria itu memiliki tujuan lain.
Keesokan harinya.....
Pagi itu Alex nampak sangat kesal saat tak menemukan dokumen penting miliknya. "Coba kamu cek lagi, mungkin kamu lupa menyimpannya." perintahnya pada sang sekretaris.
"Tapi seingat saya sudah saya serahkan pada tuan beberapa hari yang lalu." timpal sang sekretaris dengan yakin.
"Tapi di rumah saya tidak ada, astaga bisa gagal proyek itu jika kita tak segera menyerahkan rancangannya." Alex nampak frustasi, beberapa hari ini ia rela begadang demi menyelesaikan proyek tersebut.
"Ada yang bisa ku bantu ?" ucap seseorang tiba-tiba yang langsung membuat Alex maupun sang sekretaris menoleh.
"Kau !!"
Alex nampak melebarkan matanya saat melihat Elsa sudah berdiri di ambang pintu, ini kali kedua wanita itu datang ke kantornya dan sekarang apa lagi yang di inginkan wanita itu.
"Aku tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting." tegas Alex seraya kembali mencari dokumennya yang hilang di antara tumpukan berkas-berkasnya di atas meja.
Elsa nampak tersenyum tipis lalu ia menyuruh sekretaris pria itu untuk segera meninggalkan mereka berdua. "Tapi, nona...." tolak sang sekretaris, namun Elsa langsung membisikkan sesuatu hingga membuatnya terpaksa berlalu dari sana.