
Malam itu Elsa nampak melihat sebuah video menjijikkan di dalam macbooknya. "Tamat riwayatmu, j4l4ng." gumamnya, lalu dengan satu kali klik video itu langsung terkirim ke seluruh media online.
Ia yakin video tersebut akan menggemparkan dunia mengingat pemeran wanitanya adalah seorang mantan model terkenal beberapa tahun lalu.
"Aku sangat lelah." Elsa nampak mengangkat kedua tangannya ke atas, meregangkan otot-ototnya yang kaku hingga membuatnya merasa lebih baik.
Tiba-tiba perutnya terasa keroncongan, rupanya ia telah melewatkan makan malamnya karena tertidur setelah menyelesaikan pekerjaannya sejak sore tadi.
Saat ia terbangun jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, benar-benar tidur yang sangat panjang pikirnya.
"Bi, apa masih ada makanan untukku ?" tanyanya seraya menuruni anak tangga.
Pelayannya yang seharusnya sudah beristirahat malam itu mau tak mau harus menunggu sang Nona besar untuk turun makan malam, apalagi ada pria asing yang belum kunjung pergi dari rumah majikannya tersebut.
"Kau, kenapa kau masih di sini ?" Elsa langsung melebarkan matanya saat melihat Alex nampak tertidur di sofa di mana pria itu tadi siang berada di sana.
"Beliau baru satu jam yang lalu datang nona dan sepertinya sangat kelelahan jadi saya kira anda tidak akan keberatan jika beliau menginap malam ini." ucap sang pelayan.
"Sangat merepotkan." gerutu Elsa, kemudian berlalu ke meja makan.
Meminta pelayannya itu membuatkannya semangkuk salad untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Kau tak menawariku makan ?" tiba-tiba Alex melangkah mendekat dan itu membuat Elsa langsung menghentikan kunyahannya lalu menatap pria itu.
"Kenapa kamu selalu datang ke sini? apa kamu sudah tak punya rumah lagi? atau uangmu telah habis hanya untuk sekedar menyewa kamar hotel ?" sungutnya kemudian, pria itu benar-benar membuatnya habis kesabaran.
"Jadi kamu keberatan aku datang kesini ?" timpal Alex sembari menghempaskan bobot tubuhnya di kursi seberang wanita itu.
"Sangat keberatan." tegas Elsa menatap tajam pria itu.
"Tapi mulai hari ini biasakan dengan kehadiranku, agar pada saatnya tiba nanti kau tidak akan terlalu terkejut." sarkas Alex dengan menarik sudut bibirnya ke atas dan itu membuat Elsa langsung melotot.
"A-apa maksudmu ?" ucapnya tak mengerti, namun Alex hanya menanggapinya dengan senyuman misterinya kemudian pria itu menarik mangkuk salad miliknya dan langsung memakannya.
"Oh astaga, itu jatah makan malamku." protes Elsa lalu kembali menarik mangkuknya ke hadapannya kembali seakan tak rela berbagi makanan dengan pria itu.
"Kenapa pelit sekali? kau bisa meminta pelayanmu untuk membuatkan mu lagi." dengus Alex, jujur ia sangat lapar sekali.
Namun moodnya yang berantakan membuatnya tak berselera makan sejak tadi siang, bagaimana tidak saat ia sedang mengecek istrinya apa sudah pergi dari rumahnya atau belum tiba-tiba ia melihat wanita itu pingsan di dalam kamarnya.
Setelah membawanya ke rumah sakit, ia semakin terkejut saat mendengar pernyataan dokter jika wanita itu sedang mengandung.
"Kau yakin itu anakku? sedangkan aku tidak tahu sudah berapa banyak pria yang sudah tidur denganmu akhir-akhir ini." tuding Alex setelah mereka kembali dari rumah sakit sore itu.
"Tentu saja ini anakmu, apa kamu lupa kapan terakhir kali meniduriku ?" balas Celine tak terima.
Alex nampak menghela napas panjangnya, tentu saja ia mengingat kapan terakhir meniduri wanita itu. Malam di mana ia sangat frustasi akibat Elsa yang terus-menerus menerornya dengan mengiriminya video-video panasnya sebelum wanita itu benar-benar muncul di hadapannya.
"Si4l4n."
Alex nampak gusar, harusnya ia bahagia karena sudah 7 tahun lamanya ia menanti kehadiran seorang anak di tengah keluarga kecilnya itu.
Mengingat akhir-akhir ini istrinya itu telah berselingkuh dengan Marco, meski ia tak mempunyai bukti keintiman mereka yang membuat wanita itu pada akhirnya akan hamil.
"Kenapa diam? kamu marah gara-gara aku tak mau berbagi makanan denganmu ?" ucap Elsa tiba-tiba yang membuat Alex langsung kembali dari lamunannya.
"Tidak, makanlah." timpalnya kemudian dan itu membuat Elsa nampak mengernyit.
"Kamu sedang ada masalah? apa karena proyek itu ?" imbuh Elsa lagi saat pria itu tak lagi bersemangat merebut makanannya seperti tadi.
"Tidak, cepat habiskan makananmu." timpal Alex kemudian.
Elsa nampak menghela napasnya, kenapa ia jadi kasihan pada pria itu. "Ah sial."
Kemudian wanita itu segera beranjak dari duduknya. "Tunggulah di sini aku akan membuatkanmu omelet, karena hanya itu yang bisa ku masak lagipula para pelayanku sudah tidur aku tak tega membangunkan mereka." ucapnya, kemudian berlalu ke dapurnya yang berada tak jauh dari sana.
Mencari bahan makanan di dalam lemari pendingin lalu segera mengolahnya, omelet keju dengan campuran beberapa sayuran adalah makanan kesukaan putranya semoga saja pria itu juga menyukainya.
Alex yang masih duduk di kursinya nampak memperhatikan Elsa yang sedang memasak di dapur, wanita itu terlihat sangat lincah memotong aneka sayur di hadapannya itu.
Benar-benar keibuan pikir Alex, namun saat mengingat masalah yang ia hadapi saat ini pria itu nampak mengusap wajahnya dengan kasar.
"Cobalah, jika tak enak buang saja." ucap Elsa beberapa saat kemudian setelah meletakkan sepiring omelet di hadapan pria itu.
"Terima kasih." Alex langsung mengambil sendok lalu mencobanya.
"Bagaimana ?" Elsa yang penasaran nampak menopang dagunya dengan kedua tangannya menatap pria di hadapannya itu.
"Jika tidak enak, aku akan membuangnya." imbuhnya lagi saat tak ada reaksi apapun dari pria itu.
"Tidak, ini sangat enak rasanya sama persis seperti buatan ibuku dan ini salah satu makanan terenak yang pernah ku makan sejak aku kecil." sahut Alex, mengingat Serra sang ibu angkat sering membuatkannya waktu ia masih kecil.
Ia jadi merindukan wanita itu, seandainya saja Celine mau sedikit saja menyayanginya mungkin sampai saat ini mereka masih tinggal bersama.
Hanya saja istrinya itu kurang menyukai ibunya bahkan hingga 7 tahun pernikahan tak ada perubahan pada hubungan mereka.
"Bagaimana rasanya masakan seorang ibu, apa rasanya sangat enak ?" gumam Elsa dalam hati karena sejak kecil ia sudah tak mempunyai ibu lagi dan hanya satu-satunya mendiang kakaknya yang ia punya.
Kemudian Elsa nampak mengangkat sudut bibirnya, rupanya selera putranya benar-benar mewarisi pria itu.
"Astaga, apa yang sedang ku pikirkan."
Elsa langsung mengingkari perasaan senangnya, kemudian wanita itu langsung menyodorkan segelas air putih pada pria itu.
"Bukankah kamu sudah kenyang, jadi cepat pergi dari rumahku." ketusnya seraya mengambil piring bekas pria itu lalu membawanya ke dapur.
Menghidupkan air wastafel lalu mencuci piring tersebut, namun tiba-tiba ia merasakan pelukan seseorang dari belakang.
"A-apa yang kau lakukan ?" protesnya kemudian.