
"Pulanglah duluan, Bi Ester sudah menunggumu di bawah." ucap James sore itu saat Anne baru mengerjapkan matanya setelah terlelap tidur akibat percintaan panjang yang mereka lakukan tadi siang.
"Kamu tidak pulang ?" tanya Anne seraya merapikan penampilannya, rambutnya yang acak-acakan langsung wanita itu sisir.
"Mungkin nanti malam aku pulang agak larut, jangan menungguku. Lekaslah tidur jika mengantuk." tukas James dari kursi kerjanya yang langsung membuat Anne menatapnya.
"Memang nanti malam mau kemana? memang pekerjaanmu belum selesai ?" tanyanya ingin tahu, meski sebenarnya ia sudah tahu hanya saja ia ingin melihat sejauh mana pria itu jujur padanya.
"Hari ini ada undangan gala dinner sayang, banyak investor yang mungkin akan bisa kita ajak kerja sama." sahut James dengan jujur.
"Sendirian ?" selidik Anne pura-pura tak tahu.
"Tidak, karena ini sebagai ajang promosi jadi beberapa kepala manager mendapatkan undangan juga." sahut James.
"Oh." Anne nampak menanggapinya dengan datar.
"Apa mereka juga akan membawa pasangannya ?" imbuh Anne penasaran.
"Tidak sayang, kita dalam rangka bekerja bukan untuk berpesta ria tapi mungkin ada beberapa pimpinan yang membawa serta istrinya." terang James lagi.
"Seandainya hubungan kita tak di rahasiakan apa kamu juga akan mengajakku ?" tanya Anne kemudian.
"Tidak." Sahut James seraya mengecek berkas di atas mejanya itu.
"Kenapa ?" Anne mendadak murung, apa suaminya itu malu untuk memperkenalkannya pada relasi bisnisnya itu.
Melihat istrinya muram, James nampak tersenyum kecil. "Kemarilah !!" ucapnya menyuruh istrinya itu mendekat.
Setelah wanita itu mendekat, James langsung menarik tangannya hingga kini terduduk di atas pangkuannya.
"Aku hanya tidak ingin kamu lelah dan bosan di sana karena pembicaraan kami hanyalah seputar bisnis dan bisnis, jadi lebih baik kamu di rumah saja makan yang banyak lalu segera beristirahat. Kamu sudah lelah bekerja di kantor seharian jadi gunakan waktumu sebaik mungkin untuk beristirahat." ucap James seraya mencubit hidung istrinya itu dengan gemas, meski sebenarnya ia mempunyai alasan lain yang berhubungan dengan keselamatan wanita itu.
Untuk sementara James memang tidak ingin memperkenalkan istrinya itu pada publik sebelum ia berhasil membereskan musuh-musuhnya.
"Tapi aku tidak lelah karena bekerja tuan James, tapi kamu yang membuatku kelelahan." cibir Anne mengingat suaminya itu selalu tak ingat tempat saat menginginkannya.
"Baiklah apapun itu aku tetap menginginkan mu untuk beristirahat di rumah, okey ?" tegas James tak ingin di bantah.
"Tentu saja, ku berharap di acara itu kamu masih tetap ingat jika sudah memiliki seorang istri." timpal Anne penuh sindiran dan itu membuat James langsung terkekeh.
"Suamimu ini belum pikun sayang." ucapnya seraya mengacak rambut istrinya itu.
"Boleh aku bertanya sesuatu ?" ucap Anne, tangannya nampak sibuk memperbaiki kerah kemeja pria itu.
"Katakan ?"
"Berjanjilah untuk selalu berhati-hati di mana pun kamu berada, ku mohon demi anak kita." tukas Anne seraya membawa tangan pria itu ke perutnya.
"Tentu saja, jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan selalu baik-baik saja demi kalian." sahut James kemudian mengusap perut wanita itu, lalu mengecupnya sekilas dan bersamaan itu pintu ruangan pria itu nampak di ketuk dari luar.
"Ada nona Jennifer datang." Anne langsung melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya saat melihat cctv di layar monitor, lalu ia segera beranjak dari pangkuan pria itu.
"Masuk !! perintah James kamudian dan tak berapa lama pintu ruangannya di buka dari luar.
"James...." Jennifer langsung menjeda ucapannya saat melihat Anne berada di ruangan pria itu juga.
"Apa yang dia lakukan di sini ?" tanyanya dengan nada kurang senang.
"Aku sedang meminta tanda tangan, baiklah tuan James kalau begitu aku undur diri dulu." Anne sedikit membungkukkan badannya lalu bergegas pergi dari ruangan tersebut dan tak lupa membawa berkas yang sebelumnya memang telah ia siapkan.
"Dasar wanita penggoda." umpat Jennifer lirih saat Anne melewatinya, setelah itu ia segera mendekati James setelah pintu kembali di tutup dari luar.
"Ada apa ?" ucap James yang kembali bergelung dengan berkas-berkas di atas mejanya.
Sedangkan Jennifer nampak menarik kursi di hadapan meja pria itu, lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Memang kenapa dengan mobilmu ?" ucap James tanpa menatap wanita di hadapannya itu, sebelah tangannya nampak sibuk membubuhkan tanda tangannya.
"Mobilku ada, tapi masa kamu tega membiarkan ku malam-malam pergi sendiri." tukas Jennifer dengan nada manja.
"Bukankah kau sudah terbiasa." timpal James kali ini pandangannya ke arah layar komputer di hadapannya.
"Tapi kejahatan jalanan akhir-akhir ini membuatku takut berkendara di malam hari." keluh Jennifer.
"Baiklah, segeralah bersiap aku tidak suka menunggu !!" perintah James kemudian yang tentu saja membuat Jennifer langsung mengulas senyumnya senang.
"Masih ada waktu 3 jam lagi, aku tidak mungkin bersiap sekarang nanti penampilanku akan berantakan." ucapnya kemudian.
"Kita bekerja di sana Jenn, bukan untuk berpesta ria." tegur James kali ini menatap tegas wanita itu.
"Iya aku tahu, bisa tidak sih kamu bersikap santai saja seperti dulu. Sekarang kamu terlalu kaku dan serius, lihatlah beberapa tahun ke depan kerutan di dahimu akan bertambah semakin banyak." cibir Jennifer menatap pria yang sejak dulu ia kagumi itu.
"Pergilah, jika memang tidak ada kepentingan lagi. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ini sebelum datang ke acara itu." perintah James kemudian.
"Belum selesai juga? memang sedari tadi kamu ngapain saja ?" Jennifer menatap tumpukan berkas di meja pria itu.
"Jennifer Miller, aku tidak suka mengulangi perkataan ku." tegas James menatap wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.
"Baiklah-baiklah, aku pergi." Jennifer langsung beranjak dari duduknya, kemudian segera berlalu pergi.
"Oh ya terima kasih." ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.
"Untuk ?" kali ini James menatap wanita itu dengan serius.
"Terima kasih meski selama ini kamu tak bersamaku tapi aku tahu kamu selalu melindungiku darinya." ucapnya kemudian.
"Aku melakukannya karena nyonya Darrien." sahut James.
"Entah karena siapa tapi ku tetap ucapkan terus kasih padamu." ucap Jennifer, kemudian ia bergegas pergi dari sana dengan wajah yang sedikit kecewa.
Setelah kepergian Jennifer, James nampak menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Lalu memijit pelipisnya yang sedikit nyeri akibat memikirkan berbagai masalah yang akhir-akhir ini melandanya.
Kemudian ia mengambil ponselnya, lalu melihat cctv rumahnya. Istrinya terlihat sudah sampai rumahnya dan nampak merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Kamu pasti sangat lelah, istirahatlah." gumamnya.
Malam hari pun telah tiba, Anne yang telah mengelabuhi suaminya melalui cctv nampak sukses keluar dari rumahnya tersebut dengan sebuah taksi online.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan, kini ia telah sampai di sebuah hotel bintang 5 di mana acara akan di gelar. Beruntung kehamilannya belum terlalu terlihat hingga membuatnya bebas memakai pakaian apapun tanpa orang curiga.
Meski hanya memakai gaun sederhana karena tak ingin menarik perhatian semua orang, tapi malam itu Anne terlihat sangat cantik. Ia juga tak lupa membawa sebuah masker penutup wajah untuk berjaga-jaga jika ada suaminya di sana.
Selain ingin mengetahui rencana Jennifer di pesta itu, Anne juga ingin melihat bagaimana sosok suaminya saat dirinya tak ada di sampingnya.
Kurang kerjaan memang, tapi entah kenapa sejak ia hamil sangat menyukai sebuah tantangan yang memacu adrenalinnya.
Brukk
"Astaga." Anne yang terlalu sibuk mengamati para tamu undangan di lobby hotel membuatnya tak sengaja menabrak seseorang.
"Tuan, maafkan aku apa anda baik-baik saja ?" ucapnya kemudian.
Namun pria yang ia tabrak justru terpaku menatapnya sampai sebuah suara menghampirinya.
"Tuan Marco, senang bertemu anda di sini." ucap seseorang tersebut.
Ya pria itu tak lain adalah Marco Anderson, musuh William maupun James di dunia perbisnisan maupun dunia hitam saat ini.