
"Dokter, sepertinya istriku akan segera melahirkan cepat beri tindakan !!" James terlihat panik saat baru sampai rumah sakit.
"Sabar ya tuan, sabar." sang dokter mencoba menenangkan.
"Bagaimana saya bisa sabar dok? istriku sedang kesakitan begini. Cepat berikan tindakan jika tidak, rumah sakit ini akan saya ratakan dengan tanah." geram James dengan tak sabar.
"Baik tuan kami akan segera memeriksanya." dokter tersebut beserta beberapa perawatnya langsung membawa Anne ke ruang pemeriksaan.
"Sakit sekali, kamu jangan pergi tolong temani aku." Anne memegang lengan sang suami dengan erat seakan tak membiarkan pria itu pergi barang sejenak.
Akhirnya sepanjang pemeriksaan James tetap menemani sang istri hingga membuat para petugas medis merasa terintimidasi dengan tatapan pria itu.
"Astaga sakit sekali." Anne nampak mencengkeram tangan sang suami saat mengalami kontraksi terus menerus.
"Dokter, kenapa istriku sangat kesakitan? Kalian bisa bekerja tidak sih ?" hardik James dengan geram.
"Wanita yang akan melahirkan memang seperti itu tuan." terang sang dokter dengan wajah pucatnya.
"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya jangan membuat istriku kesakitan." tegas James tak terima.
"Tidak bisa tuan, melahirkan secara normal memang....." ucapan dokter langsung terjeda saat James mengarahkan senjata apinya tepat di hadapannya.
"Buat istriku tidak kesakitan, mengerti !!" perintahnya kemudian dengan menekankan kata-katanya.
"Ba-baik tuan, ada satu jalan jika memang tidak ingin nyonya merasakan sakit saat melahirkan." timpal dokter tersebut.
"Katakan !!" James langsung memicing.
"Dengan operasi caecar tuan, dengan begitu nyonya Anne tidak akan merasakan kesakitan saat proses kelahiran." terang dokter tersebut namun langsung di sela oleh Anne.
"Tidak, aku tidak mau operasi. Aku ingin merasakan menjadi ibu yang seutuhnya, yang bisa merasakan bagaimana melahirkan anakku secara normal." tolaknya, meski rasanya sakit sekali Anne akan tetap bertahan demi sang buah hati.
"Tapi kamu sangat kesakitan, sayang." protes James.
"Tolong izinkan aku melakukan itu, please ?" mohon Anne dengan wajah memelas menatap sang suami.
"Tidak bisa sayang." tegas James.
"Kenapa tidak bisa? aku yang merasakannya, kamu cukup diam dan memberikan ku dukungan." Anne nampak keukeh dengan keputusannya hingga membuat James mau tak mau menuruti kemauannya.
"Baiklah, berikan yang terbaik untuk istriku dok !!" ucapnya kemudian yang langsung membuat beberapa petugas medis di sana langsung bertindak cepat dengan wajah penuh khawatir, karena tatapan James penuh dengan intimidasi belum lagi senjata api yang di pegangnya membuat mereka merasa berada di antara hidup dan mati.
"Aaarrgghhh, sakit." Anne kembali berteriak saat kembali merasakan kontraksi hingga membuat James langsung memeluknya.
"Tenanglah, ada aku di sini." ucapnya memberikan kekuatan.
Anne yang merasakan kesakitan luar biasa sampai menjambak rambut suaminya itu dengan kencang hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
James benar-benar di jadikan pelampiasan oleh wanita itu atas kesakitan yang ia rasakan, penampilannya yang tadinya rapi kini nampak berantakan dengan rambut acak-acakan.
Satu jam kemudian terdengar suara tangis seorang bayi setelah melalui perjuangan panjang di antara hidup dan mati sang ibu.
Anne begitu terharu saat putri kecilnya di letakkan di atas dadanya agar mendapatkan kehangatan darinya.
Sementara James nampak sangat terharu, pria itu langsung mengusap sudut matanya yang mulai mengembun saat melihat putri kecilnya yang sangat mirip dengannya.
"Kamu lihat, aku yang mengandung dan melahirkannya tapi kenapa wajahnya sangat mirip denganmu." protes Anne setelah memperhatikan wajah sang putri yang berada dalam dekapannya itu.
"Tapi matanya benar-benar mirip sepertimu." imbuhnya lagi setelah memperhatikan mata sang putri.
"Tetap saja lebih banyak yang mirip sama kamu." Anne nampak mencebik kesal.
"Ya sudah nanti kita buat lagi siapa tahu mirip denganmu." timpal James dengan tatapan nakalnya yang sontak membuat Anne melotot.
"No, aku sepertinya trauma." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya cepat dan itu membuat James langsung terkekeh.
Pria yang baru saja menjadi ayah itu segera membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, terima kasih banyak sudah memberikan ku malaikat kecil yang sangat cantik." ucapnya kemudian.
Pria yang baru saja menjadi seorang ayah itu nampak sangat bersyukur dengan hidupnya saat ini, ia benar-benar sangat bahagia.
"Jeslin, apa itu cocok untuknya ?" ucap James kemudian.
"Nama yang cantik." timpal Anne yang nampak setuju dengan nama pemberian suaminya itu.
Beberapa harinya kemudian....
Pagi itu Baby jeslin nampak berada di ruang bayi untuk di mandikan, saat sang perawat meninggalkannya sejenak bersama beberapa bayi lainnya tiba-tiba seseorang datang menatapnya dari penyekat kaca.
Pandangan pria itu tertuju pada box bayi di mana baby Jeslin berada. "Kenapa kau sangat mirip dengan bajingan itu ?" gumamnya seraya menatap bayi mungil yang sedang terlelap tidur itu.
Marco yang sedang mengenakan topi serta masker nampak menatap lekat ke arah box bayi tersebut.
Namun tiba-tiba bayi mungil itu membuka matanya seakan menyadari dirinya sedang di perhatikan oleh seseorang.
Matanya yang sangat mirip dengan sang ibu itu langsung menatap ke arah Marco di mana pria itu juga sedang menatapnya.
Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat hingga membuat Marco langsung terpanah, karena ia seakan sedang menatap Anne.
Wanita pujaannya yang hingga kini masih menempati seluruh relung hatinya meskipun wanita itu takkan pernah mungkin menjadi miliknya sampai kapanpun.
Namun tak ada perasaan benci dalam dirinya, ia justru bersyukur pernah di pertemukan dengan wanita itu dalam hidupnya. Meski sangat singkat namun mampu mengubah dunianya yang sebelumnya penuh dengan kegelapan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kamu tak takut padaku hm ?" ucapnya pelan seraya mengangkat tangannya menyentuh kaca.
Baby Jeslin bukannya takut, ia justru nampak mengulas senyumnya dengan lebar hingga membuat Marco pun tanpa sadar ikut tersenyum.
"Apa kamu mau ikut denganku, hm ?" ucapnya kemudian, lalu tanpa berpikir panjang Marco langsung melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan bayi tersebut.
"Tuan, apa yang sedang anda lakukan di sini ?" tegur perawat tiba-tiba saat Marco hendak membuka pintunya.
"A-aku sedang ingin melihat keponakanku." jawab Marco beralasan.
"Keponakan ?" perawat tersebut nampak menautkan alisnya menatap pria itu.
"Iya keponakanku itu." Marco menunjuk ke arah box bayi di mana seorang bayi laki-laki berada di sana.
"Baiklah tuan, tapi pengunjung di larang masuk ke dalam kecuali ayah dan ibunya. Baiknya tuan melihat dari luar kaca saja." terang perawat tersebut dengan ramah yang langsung di angguki oleh Marco.
Kemudian pria itu kembali menatap ke arah baby Jeslin dari luar kaca, bayi mungil itu lagi-lagi menunjukkan senyumnya seakan menyadari dirinya sedang di perhatikannya.
"Paling tidak, matamu seperti ibumu hingga aku takkan mungkin membencimu." gumam Marco dengan tersenyum penuh arti, entah apa yang di rencanakan oleh pria itu.