
Beberapa hari ini William nampak menghabiskan harinya di sebuah pulau terpencil bersama sang istri, di sana tak banyak yang mengenalnya hingga membuatnya merasa aman dan tenang.
Karena setiap pergerakannya selalu tak luput dari perhatian media atau para rival bisnisnya hingga membuatnya tak bebas melakukan apapun.
Bukannya ia tak ingin mengenalkan istrinya pada khalayak umum namun baginya keselamatan keluarganya jauh lebih penting.
"Kamu senang ?" William nampak memeluk pinggang istrinya itu saat mereka kini berada di sebuah pinggir pantai.
"Hm, tentu saja. Terima kasih banyak." balas Merry dengan mengangkat wajahnya menatap suaminya itu.
"Kamu tahu sebenarnya aku lebih suka mengurungmu di dalam kamar dari pada membawamu ke sini, aku tak rela banyak mata pria bajingan menatapmu." rajuk William dengan kesal dan itu membuat Merry langsung tertawa.
"Bagaimana mereka berani melihatku jika kamu seperti seorang harimau yang siap menerkam mereka." sindirnya dan membuat William nampak gemas lalu di dekatkan wajahnya lalu detik kemudian bibir keduanya sudah saling menyatu.
Mereka nampak merenggut manisnya bulan madu, seakan tempat itu hanya milik mereka berdua hingga bebas kapan pun bermesraan.
Namun tanpa mereka sadari seseorang terlihat mengawasinya dari kejauhan dengan wajah yang sudah di tekuk karena cemburu.
"Sial, siapa wanita itu ini tak bisa di biarkan." umpat Celine saat melihat William sedang mencium mesra seorang wanita, tubuh wanita itu yang di tutupi oleh tubuh kekar pria itu membuatnya kesulitan untuk memastikan wajahnya.
Sejak memutuskan pertunangannya dengan Vivian, yang Celine tahu pria itu tak pernah lagi dekat dengan seorang wanita dan itu membuatnya yakin jika wanita itu hanya wanita bayaran yang pria itu sewa untuk menemaninya liburan.
Kenapa harus wanita lain? kenapa bukan dirinya saja yang menjadi wanita bayaran itu?
"Cantik kau mau kemana ?" tiba-tiba seorang pria nampak mencekal lengan Celine saat wanita itu hendak melangkah mendekati William.
"Tuan Marco? anda di sini ?" Celine langsung terkejut saat melihat pria yang beberapa waktu lalu pernah menikmati tubuhnya di sebuah hotel.
"Rupanya kau masih mengenalku dan itu suatu kehormatan bagiku nona Celine." jawab Marco dengan mengulas senyumnya menatap wanita itu.
"Ten-tentu saja tuan." Celine memaksakan senyumnya, namun pandangannya sesekali melirik ke arah William yang kini berjalan semakin menjauh dari sana dan itu juga tak luput dari pengawasan Marco.
"Ngomong-ngomong tuan Marco liburan juga di sini ?" tanyanya kemudian, tak apalah ia kehilangan jejak William toh masih banyak waktu untuknya mendekati pria itu.
"Sebagian resort ini milik saya." tegas Marco.
"Benarkah ?" Celine langsung menatap bangga pada pria tak jauh dari hadapannya itu.
"Begitulah, kau sendiri sedang apa di sini ?" tanya balik Marco.
"Aku sedang ada pemotretan di sini tuan Marco." balas Celine dengan tersenyum menggoda.
"Saya ada waktu sampai nanti sore jika anda berkenan saya bisa menemani." sambungnya lagi dan tentu saja tawarannya di sambut hangat oleh Marco yang memang seorang petualang wanita.
Sementara itu di belahan bumi lain Anne nampak mengerjapkan matanya saat alarm ponselnya berdering nyaring.
Kemudian di lihatnya bocah kecil yang masih terlelap di sampingnya itu, lalu ia mengecup pipinya yang gembul itu dengan gemas.
Ya semalam Anne mulai pindah ke Apartemen milik James dan mulai hari ini ia akan bekerja sebagai pengasuhnya Ariel.
Setelah membersihkan dirinya Anne nampak keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Harusnya ia membawa pakaian ganti sebelum pergi mandi namun rasa buang air kecil yang tak tertahan membuatnya lupa.
Tiba-tiba pintu di buka dari luar dan itu membuat Anne langsung melotot saat melihat James yang sudah berdiri di ambang pintu, lalu ia langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dahulu sebelum masuk? atau kau sengaja melakukannya dasar mesum." tegur Anne dengan kesal, untung saja Ariel tidak terbangun karena kaget.
"Ck, kau pikir tubuhmu menarik ?" ucap James menatap datar wanita itu.
"Buatkan aku kopi dan lain kali bangunlah lebih pagi karena jam 7 aku harus berangkat ke kantor !!" perintahnya kemudian, lalu James kembali menutup pintu kamar tersebut tanpa perasaan bersalah.
"Dia bilang apa tadi? aku nanny bukan babunya enak saja." gerutu Anne berapi-api, ini baru pukul 6 pagi tapi pria itu sudah merusak moodnya.
30 menit kemudian Anne segera keluar dari kamarnya lalu ia menuju dapur untuk membuat sarapan buat Ariel dan tentu saja untuknya juga.
"Mana kopi saya ?" tiba-tiba saja James muncul di dapur dan sontak membuat Anne langsung terlonjak kaget.
"Astaga, bisakah kau tidak selalu muncul tiba-tiba? kau sudah seperti jailangkung saja." gerutu Anne dan James hanya menanggapinya dengan wajah datarnya, entah karena tak mengerti maksud wanita itu atau memang tak peduli.
"Buatkan saya kopi !!" perintahnya kemudian, pria itu nampak menghempaskan bobot tubuhnya di kursi meja makan lalu membuka ipad di tangannya.
"Apa kamu lupa aku siapa ?" bukannya segera membuat kopi Anne justru melangkah mendekati pria itu.
"Kamu ya kamu." sahut James tanpa menatap ke arah wanita itu, seakan ucapan wanita itu tak penting untuk di tanggapi.
"Aku pengasuhnya Ariel dan bukan babumu." tegas Anne, enak saja pria itu mau menindasnya begitu saja.
James yang sedang menatap serius ipadnya langsung mengangkat wajahnya menatap wanita yang berdiri tak jauh darinya itu.
"Ku naikkan lagi gajimu 15 kali lipat tapi kerjakan apa yang ku perintahkan." tegas James kemudian dan tentu saja itu membuat Anne langsung menelan salivanya.
"30 juta ?" otak wanita itu kini di penuhi dengan lembaran duit dan tanpa berpikir panjang ia langsung menyetujuinya.
"Baiklah, deal." sahutnya, kemudian ia kembali ke dapur untuk membuatkan pria itu segelas kopi spesial tentunya karena ia akan mendapatkan imbalan 10 juta untuk itu.
"Dasar matre." sinis James seraya kembali menatap ipadnya.
Beberapa saat kemudian Anne kembali dengan segelas kopi di tangannya, lalu saat melewati pria itu ia tak sengaja menatap beberapa barisan foto wanita cantik yang ada di dalam ipad yang di pegangnya itu.
"Pantas saja dia tak tertarik dengan tubuhku, seleranya saja model-model terkenal." gumamnya, tapi bodoh amat toh dirinya juga tak tertarik dengan pria bermuka datar itu.
Kemudian Anne segera meletakkan kopinya di hadapan pria itu, lalu ia nampak memperhatikan saat pria itu mulai menyesap kopi buatannya.
"Bagaimana rasanya ?" tanyanya kemudian, ia yakin racikan kopinya sangat pas dan enak karena di warung pun ia banyak di puji oleh para pelanggannya.
"Biasa saja." sahut James, kemudian kembali meletakkan kopinya yang telah tandas tersebut di atas meja lalu ia segera beranjak dari duduknya.
"Jangan pernah meninggalkan Apartemen ini tanpa seizinku, satu kesalahan akan mengurangi gajimu 10%." tegasnya kemudian.
"Ma-mana bisa seperti itu ?" protes Anne namun pria itu sepertinya tak peduli karena ia langsung mengambil tas kerjanya, lalu segera pergi meninggalkan Apartemennya tersebut.
"Dasar manusia bermuka datar." umpat Anne dengan kesal.