Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~211


"Tuan William cuti dalam waktu yang tak di tentukan untuk menemani istrinya yang melahirkan, tuan." lapor Rose siang itu saat baru masuk ke dalam ruangan James.


"Ya aku tahu, bagaimana istriku apa kamu banyak memberikannya pekerjaan ?" ujar James dari kursinya.


"Maafkan saya tuan, saya sudah melarangnya tapi hampir semua pekerjaan saya di kerjakan oleh beliau." Rose merasa tak enak hati.


"Dia memang keras kepala, lain kali jangan biarkan itu terjadi. Ingat tugasmu itu mengawasi dan melindungi istriku." tegas James, ia memang sengaja mengambil seorang sekretaris dari klannya. Selain pandai wanita itu juga sangat waspada pada keadaan di sekitarnya.


"Baik, tuan."


"Keluarlah dan pesankan beberapa makan siang untuk kami !! perintah James kemudian.


"Tapi tuan, bukankah pernikahan anda dan nyonya di rahasiakan jadi apa tidak lebih baik beliau makan dengan saya saja ?" timpal Rose mengingatkan.


"Haiss, menyebalkan. Aku tidak peduli, intinya pesankan makan siang dan bawa ke sini !!" James benar-benar kesal dengan ulah istrinya itu, karena untuk sekedar makan bersama pun mereka harus sembunyi-sembunyi dari karyawan lain.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Rose segera pamit undur diri, namun baru juga keluar ia sudah tak melihat nyonyanya tersebut.


"Astaga kemana nyonya perginya ?" Rose segera berlalu mencari Anne yang tiba-tiba tak ada di meja kerjanya.


Wanita itu nampak berkeliling setiap lantai untuk mencari Anne hingga beberapa OB pun ia mintai bantuan.


"Nyonya Darrien, apa anda melihat Nyo maksudku nona Anne ?" tanya Rose saat berpapasan dengan nyonya Darrien dan Jennifer di depan lift.


"Ya mana aku tahu, diakan sekarang menjadi bawahanmu ya tanggung jawab kamulah." sentil nyonya Darrien dengan tak ramah.


"Baiklah, kalau begitu aku cari di tempat lain saja." Rose segera berlalu pergi dari sana.


"Sangat merepotkan." gerutu nyonya Darrien kemudian.


"Lagipula ngapain sih James mempekerjakan wanita itu lagi sudah tahu kantor sedang tidak cari karyawan baru." timpal Jennifer yang nampak tak suka dengan kehadiran Anne, karena sejak pertama kali bertemu wanita itu seakan tak pernah takut padanya.


"Dengar-dengar info sih katanya kenalannya tuan William, tapi kamu jangan khawatir posisimu di sini lebih tinggi dan dia hanya sebagai asisten sekretarisnya tuan James." ujar nyonya Darrien mengingatkan.


"Ck, tentu saja tandinganku bukan seorang asisten." timpal Jennifer dengan angkuh.


Sementara itu Rose yang baru tiba di kantin nampak terbelalak saat melihat nyonyanya itu sedang berada di sana dengan beberapa menu di hadapannya tersebut.


"Syukurlah nyonya, anda di sini ?" ucapnya dengan napas ngos-ngosan.


"Sssttt." Anne langsung meletakkan jarinya di depan bibir.


"Sudah berapa kali ku katakan jangan panggil aku seperti itu dan rubah juga bahasamu itu apa kamu mau membongkar semuanya ?" tegur Anne dengan sedikit berbisik.


"Maaf Nyo maksudku nona Anne, sedari tadi aku mencarimu kemana-mana." sahut Rose yang terlihat serba salah.


"Sekarang duduklah, ayo temani aku makan !!" perintah Anne kemudian.


"Tapi Nona, tuan James sudah memesan makanan untukmu di ruangannya." terang Rose kemudian.


"Sudah biarkan saja dia yang makan sendiri." Anne terlihat tak peduli.


"Ayo makanlah, kenapa diam saja ?" imbuhnya saat sekretaris suaminya itu tak kunjung makan.


Rose nampak melihat empat porsi makanan di atas meja dan seketika ia menelan salivanya. "Nona Anne yakin bisa menghabiskan semua makanan ini sendiri ?" ucapnya tak percaya dengan nafsu makan wanita cantik di hadapannya itu.


"Tentu saja, kenapa tidak? bayiku ingin makan yang banyak biar menjadi kuat." sahut Anne seraya mengusap perutnya yang masih datar.


"Ba-bayi? apa Nona sedang hamil ?" Rose langsung melebarkan matanya karena terkejut.


"Aku ikut senang, meski aku belum mengerti kenapa kamu melakukan ini semua." timpal Rose dengan wajah penasarannya.


"Kamu tidak perlu tahu, lagipula aku tidak terlalu percaya padamu. Karena bisa jadi kamu termasuk salah satu wanita-wanita yang menyukai suamiku." ucap Anne di tengah kunyahannya.


"Itu tidak mungkin, aku sudah menikah." sahut Rose yang langsung membuat Anne mengangkat wajahnya menatap wanita itu.


"Siapa tahu kamu ingin berpaling." timpal Anne yang memang tak pernah percaya pada siapa pun bahkan suaminya sendiri.


"Itu mustahil Nona." tegas Rose, ia tidak mungkin mengatakan jika ia termasuk anggota klan milik suaminya karena itu sebuah rahasia besar dan sepertinya wanita itu juga belum mengetahui sepak terjang sang suami di dunia hitam mengingat sebelumnya tuannya itu berpesan untuk tak mengatakan apapun pada istrinya tersebut.


"Ngomong-ngomong kamu tahu Jennifer kan, manager marketing yang menggantikan ku itu ?" selidik Anne kemudian dengan sedikit berbisik pada wanita yang sedang duduk di hadapannya itu.


"Aku tahu, tapi kurang dekat." sahut Rose.


"Apa saat aku tak di sini, wanita itu sering masuk ke dalam ruangan suamiku ?" tanya Anne lagi.


"Hanya beberapa kali, karena sebelumnya tuan James ada pekerjaan di luar kota." terang Rose.


"Lama di dalam ?" tanya Anne lagi dengan penasaran.


"Tidak, hanya membawa beberapa laporan untuk di tanda tangani." sahut Rose dengan jujur dan bersamaan itu Nyonya Darrien dan Jennifer nampak duduk di meja sebelah mereka.


"Astaga, apa kamu yakin bisa menghabiskan itu semua ?" cibirnya saat melihat 4 porsi makanan di atas meja Anne.


"Kenapa? apa nyonya Darrien mau mentraktirku ?" timpal Anne kemudian.


"Kau !!" Nyonya Darrien langsung melotot.


"Sudah biarkan saja, mau dia jadi gemuk atau jelek itu urusannya." Jennifer langsung mencegah nyonya Darrien untuk tidak memperpanjang masalah, buang-buang waktu saja pikirnya lagipula wanita itu juga tidak masuk sebagai daftar saingannya.


Karena fokus Jennifer adalah wanita berambut blonde yang selama ini di gadang-gadang sebagai kekasih James dan ia harus segera mencari tahu sejauh mana hubungan mereka.


James adalah miliknya dan siapa pun tak boleh memilikinya atau menentangnya bahkan kakaknya sendiri.


"Ya tentu saja, maklum sih orang kampung seperti tidak pernah makan enak saja." sindir Nyonya Darrien kemudian.


Anne nampak tak begitu peduli dengan sindiran atau hinaan kedua wanita itu, ia justru nampak asyik menghabiskan porsi keduanya.


Sementara itu di tempat lain seorang pria dewasa yang sedang di apit oleh dua wanita seksi di sisinya nampak beberapa kali meneguk minumannya.


"Jadi Darrien berusaha mendekatkan adikku dengan bajingan itu ?" ucapnya pada sang asisten.


"Benar tuan, lebih tepatnya beliau memberikan jalan pada nona Jennifer yang menginginkan untuk dekat dengan tuan James mengingat mereka dahulu berkuliah di tempat yang sama."


"Dasar perawan tua tak berguna." maki Marco kemudian.


Darrien adalah adik dari ibu kandungnya, namun sejak orang tuanya bercerai hubungan mereka kurang membaik. Dan ia yang ikut sang ayah menjadi semakin jauh dengan keluarga ibunya tersebut.


"Awasi terus Jennifer jangan sampai bajingan itu mengetahui identitasnya !!" perintah Marco kemudian.


"Baik tuan."


"Suatu saat kita bisa memanfaatkan dia untuk menghancurkannya." ujar Marco lagi lalu menyesap kembali minumannya tersebut.


"Tunggulah William, kehancuranmu sudah ada di depan mata." imbuhnya lagi.