
"Maaf nyonya Darrien tadi jalanan sedikit macet." ucap Anne setelah menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia hanya terlambat 30 menit jadi kenapa harus di permasalahkan.
"Macet? ck sejak kapan jalanan di California macet, jika mau cari alasan yang sedikitlah logis atau kamu memang sudah bosan bekerja di sini ?" geram nyonya Darrien.
"Ada apa ini ?" tiba-tiba William menghampiri mereka yang langsung membuat nyonya Darrien sedikit membungkuk memberikan hormat.
"Selamat pagi tuan William." sapa wanita bertubuh sedikit gempal itu.
"Pagi nyonya Darrien, ada apa ini ?" sahut William seraya menatap wanita itu serta Anne bergantian.
"Karyawan baru ini sering sekali datang terlambat dengan berbagai alasan tuan dan anda tahu alasan dia hari ini terlambat karena apa? macet tuan, sejak kapan California macet benar-benar menggelikan." ujar nyonya Darrien dengan nada ejekan.
William menatap Anne yang terlihat sangat kelelahan, itu pasti akibat ulah asistennya itu. "Tadi ada pohon yang tumbang dan kebetulan kita satu arah." ucapnya kemudian yang langsung membuat Anne melebarkan mata menatapnya, apa bossnya itu sedang membelanya?
"Benarkah tuan? Astaga saya tidak tahu. Baiklah Anne kamu boleh masuk ke ruanganmu sekarang." ucap nyonya Darrien kemudian.
"Hm." Anne menangguk kecil, lalu segera berlalu pergi.
"Tunggu An, apa kau tahu kemana perginya James pagi ini ku lihat mobilnya tidak ada di parkiran ?" tanya William hingga membuat Anne menghentikan langkahnya lalu menatapnya.
"Saya kurang tahu, tuan." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Tuan, kenapa anda bertanya pada wanita itu. Tentu saja dia tidak tahu, pagi ini tuan James tidak datang ke kantor karena ada urusan mendadak dan mungkin siang baru datang setelah meeting selesai." timpal Nyonya Darrien kemudian.
"Benarkah ?" William melirik ke arah Anne.
"Benar tuan, tadi pagi-pagi sekali beliau menghubungi saya." terang nyonya Darrien lagi.
"Memang dia ada urusan mendadak apa? apa kamu tahu Anne ?" William langsung menatap ke arah Anne, namun wanita itu langsung menggeleng. Anne memang tidak mengetahui kemana suaminya itu pergi, mungkin saja sedang menemui kekasihnya yang sedang hamil itu.
"Astaga tuan, dia mana tahu urusan tuan James. Tadi tuan James mengatakan jika itu urusan pribadi beliau." timpal Nyonya Darrien menjelaskan.
"Baiklah." William nampak menghela napasnya sejenak, kemudian pria itu berlalu ke ruangannya.
"Oh ya An, ke ruangan saya sebentar saya ingin tahu progres penjualan bulan ini." perintah William setelah menghentikan langkahnya lalu menatap kembali istri dari asistennya tersebut.
"Baik tuan, saya ambil berkas-berkasnya dulu di ruangan saya." Anne mengangguk kecil kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya dan tentu saja di ikuti oleh sang HRD.
"Anne Wijaya, ingat tuan William dan tuan James sudah mempunyai pasangan jadi jangan gegatelan dengan mereka. Fokuslah bekerja dan jangan mencoba menggoda mereka, jika tidak kamu akan tahu akibatnya." tegas nyonya Darrien setelah masuk ke dalam ruangan wanita itu.
Mendengar itu Anne nampak tersenyum sinis. "Nyonya Darrien anda pikir mereka setampan apa hingga saya mau menggoda mereka, asal anda tahu di luaran sana masih banyak pria yang lebih baik dan masih lajang tentu saja. Jadi anda jangan khawatir tentang hal itu, tapi saran saya lebih baik anda juga fokus dengan kehidupan anda sendiri karena seusia anda harusnya sudah berbahagia dengan seorang anak dan suami bukan justru sibuk mengurusi hubungan orang lain." balasnya kemudian dan tentu saja itu membuat nyonya Darrien langsung meradang.
"Kau !!" wanita itu langsung melayangkan tamparannya namun dengan sigap Anne mencekal tangannya.
"Jangan pikir saya tidak bisa melawan anda nyonya, jabatan kita di sini sama. Anda HRD dan saya manager jadi anda jangan bersikap layaknya seorang bos besar." tegas Anne seraya menatap tajam wanita itu, lalu menghempaskan tangannya begitu saja.
"Permisi, boss besar memanggil saya." imbuhnya seraya menabrak sedikit bahu wanita itu.
"Sial, awas saja kamu !!"
Nyonya Darrien terlihat sangat kesal, baru kali ini ada karyawan yang berani melawannya.
"Selamat pagi tuan William, saya membawa berkas-berkas yang anda minta. Untuk bulan ini penjualan naik tiga kali lipat tuan, silakan di cek semua sudah saya rekap di sini." ucap Anne seraya meletakkan berkas-berkasnya yang ia bawa tadi di atas meja.
"Benarkah, terima kasih atas kerja kerasmu An." William tak langsung mengambil berkas tersebut, namun pria itu justru menatap istri dari asistennya itu.
"Duduklah ada hal yang ingin ku bicarakan !!" perintahnya kemudian.
"Baik tuan." Anne segera menarik kursi lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Bagaimana pernikahanmu, apa kamu bahagia ?" tanya William to the point yang langsung membuat Anne sedikit terkejut kemudian wanita itu mengangguk kecil meski ada keraguan di sana.
"Kamu tahu, aku mengenal James sejak usianya belasan tahun. Sebelum itu dia menghabiskan waktunya di jalanan tanpa rumah dan juga orang tua, mengais sisa makanan di tempat sampah dan tidur hanya beralaskan koran tak peduli itu hujan maupun badai." ucap William dan sontak membuat Anne tercengang, benarkah masa lalu suaminya semenyedihkan itu. Jika benar, berarti ia termasuk orang yang beruntung meski sejak kecil di sia-siakan oleh ibu tirinya ia masih mempunyai tempat untuk berlindung dan bisa makan dengan kenyang.
"Karena masa lalunya itu ia tumbuh menjadi sosok pria yang dingin dan juga kaku, ku harap kamu bisa memahaminya. Percayalah sebenarnya James juga mempunyai sisi kelembutan jika kamu bisa lebih bersabar menghadapinya." imbuh William lagi.
Anne mengangguk kecil. "Saya mengerti tuan." ucapnya kemudian.
"Tolong jangan pernah tinggalkan dia apapun yang terjadi dan untuk masalah nyonya Darrien apa kamu belum mengatakan padanya jika kamu adalah istrinya James ?" William menatap serius wanita di hadapannya itu.
"Lebih baik tidak ada yang mengetahuinya tuan, saya ingin menunjukkan kemampuan saya di kantor ini tanpa bayang-bayang beliau." sahut Anne meyakinkan, meski ia mempunyai alasan lain tapi lebih baik ia sendiri yang menyimpannya lagipula kurang pantas jika masalah rumah tangga harus di bicarakan pada orang lain.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Kalau kamu mendapatkan kesulitan jangan sungkan mengatakan padaku." timpal William yang langsung di angguki oleh Anne, kemudian wanita itu segera pamit undur diri.
Setelah keluar dari ruangan pria itu, Anne langsung di cecar oleh sang asisten. "Ibu baik-baik saja? apa tuan William memarahimu ?" tanyanya dengan tak sabar.
"Tidak, kami hanya membahas pekerjaan." sahut Anne meyakinkan.
"Syukurlah, ngomong-ngomong ibu tadi hebat loh berani sekali melawan nyonya Darrien." puji Andrew kemudian.
"Jika tidak merasa salah kenapa harus takut, Drew." timpal Anne seraya melangkahkan kakinya ke ruangannya.
Ehmm
Tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat Anne dan Andrew langsung menoleh ke sumber suara.
"Dia lagi, bukannya sebentar lagi ada meeting." gerutu Anne saat menatap suaminya itu, kemudian wanita itu berlalu ke arah jendela ruangannya.
"Selamat pagi tuan James ?" sapa Andrew dengan ramah, namun James hanya membalasnya dengan anggukan saja hingga membuat pria itu merasa tak enak hati lalu segera keluar dari ruangan managernya tersebut lalu menutup pintunya dari luar.
"Siapa yang mengizinkanmu bekerja ?" ucap James seraya menatap datar istrinya itu.
"Aku sendiri, aku merasa lebih baik jadi aku memutuskan untuk bekerja." sahut Anne seraya menutup sedikit horden ruangannya karena terlalu silau oleh cahaya matahari, namun saat ia akan berbalik tiba-tiba sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang.
"Tuan James, ini di kantor." Anne langsung mengingatkan.
"Tolong biarkan seperti ini sebentar." ucap James seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, napasnya terdengar berat seakan sedang menyimpan beban yang sangat besar.
"Sebenarnya ada apa denganmu, terkadang kau bertingkah seperti seekor singa yang sangat kejam namun terkadang juga seperti seekor kucing yang minta di kasihani ?"