Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~300


"Max, ku mohon menjauh dariku !!" teriak Elsa saat Max semakin mendekatinya, namun sepertinya pria itu tak mengindahkan perkataannya dan terus memangkas jarak di antara mereka.


"Ayolah El, aku tahu kamu sering menyerahkan tubuhmu pada pria itu lalu apa bedanya kamu melakukannya lagi denganku." timpal Max dengan mulai melepaskan satu persatu kancing kemejanya.


Elsa yang terjebak di antara meja dan dinding belakangnya hanya bisa menatap ketakutan saat melihat Max melempar kemejanya ke sembarang arah dan membiarkan dada bidangnya terpampang nyata di hadapan wanita itu.


"Aku yang selalu ada sejak kamu hamil bahkan hingga Axel lahir tapi pria itu yang justru kamu pilih, aku tidak bisa menerima ini El." ucap Max lagi namun langsung di sela oleh Elsa.


"Aku tidak pernah memilihnya dan aku juga tak pernah memilih siapa pun itu, kamu tahukan bagaimana prinsipku ?" ucapnya dengan sedikit berteriak.


"Tapi matamu tidak bisa berbohong El, kamu mencintainya. Di matamu hanya ada dia." hardik Max dengan meninggikan oktaf suaranya dan itu membuat Elsa langsung berjingkat kaget.


Lalu tanpa berpikir panjang Elsa segera melepaskan heelsnya dan segera naik ke atas meja lalu loncat ke bawah, kemudian langsung lari ke arah pintu yang masih terkunci rapat.


"Tolong, buka pintunya !!" teriaknya beberapa kali seraya menggedor pintu tersebut, berharap ada seseorang atau paling tidak petugas keamanan yang mendengar teriakannya.


Sementara Max nampak tertawa nyaring saat melihat Elsa begitu panik. "Jangan habiskan tenagamu dengan sia-sia sayang karena itu tak ada gunanya, hanya ada kita berdua di sini dan marilah kita nikmati malam panjang yang penuh keringat." ucapnya dengan tersenyum menyeringai dan itu membuat Elsa semakin ketakutan.


"Ku mohon Max sadarlah kamu sedang mabuk." mohon Elsa dengan menangkupkan kedua tangannya, berharap pria itu memiliki belas kasih untuk segera melepaskannya.


"Aku hanya minum sedikit El dan itu membuatku menjadi lebih bersemangat, kemarilah ayo kita bersenang-senang." Max semakin mendekat lalu meraih lengan Elsa dengan kasar.


"Tidak Max, tolong jangan lakukan ini padaku." mohon Elsa namun tenaganya yang tak seberapa membuatnya tak berdaya saat pria itu mendorongnya ke dinding belakangnya dengan kasar lalu mengunci kedua tangannya dan menjambak rambutnya hingga membuat wajah wanita itu menengadah ke atas.


"Lihatlah kau begitu tak berdaya sayang dan aku sangat menyukainya." Max sangat puas saat membuat wanita itu benar-benar tak berkutik di hadapannya.


Sementara Elsa nampak meringis merasakan sakit di akar rambutnya akibat jambakan pria itu.


"Kau harus menjadi milikku malam ini." ucap Max lalu segera m3lum4t bibir Elsa dengan rakus dan sangat kasar hingga membuat wanita itu meronta.


Kakinya yang terkunci oleh paha pria itu membuat Elsa kesulitan untuk melepaskan dirinya namun wanita itu masih tak kekurangan akal dan....


"Aaarrgghhh, si4l4n." teriak Max saat Elsa menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Maafkan aku Max, kamu yang sudah keterlaluan." Elsa langsung berlari menjauh saat Max melepaskannya.


Namun justru pria itu nampak semakin murka dengan menarik lengan Elsa, lalu menampar pipinya dengan sangat keras hingga membuat wanita itu langsung terhuyung dan jatuh ke lantai.


"Aku sudah mencoba bersabar El, tapi sepertinya kamu lebih menyukai kekerasan." ucap Max dengan menatap tajam Elsa yang sudah tak berdaya di atas lantai dengan pipi memar dan sudut bibir yang berdarah akibat saking kerasnya pria itu menamparnya.


"Tolong jangan lakukan itu Max, ku mohon." Elsa yang melihat Max mulai melepaskan ikat pinggangnya segera beranjak bangun, namun Max mendorongnya lagi dan kembali memberikan sebuah tamparan keras di pipi satunya yang langsung membuat Elsa benar-benar tak berdaya di buatnya.


Kini Max telah menanggalkan celananya dan menyisakan kain segitiga yang menutupi pusakanya.


Kemudian saat akan mengungkung tubuh Elsa tiba-tiba sebuah pintu di dobrak dari luar hingga membuat Max yang sedang berusaha menanggalkan pakaian wanita itu langsung terkejut saat beberapa polisi masuk ke dalam ruangan tersebut lalu segera menangkapnya.


"Nyonya, anda baik-baik saja ?" tanya Jack dengan wajah khawatir seraya membantu wanita itu bangun.


Elsa mengedarkan pandangannya mencari sosok Alex yang mungkin saja berada di antara mereka, namun rupanya itu hanya harapannya semata karena nyatanya cuma Jack dan beberapa polisi yang berada di sana.


Lalu apa yang ia harapkan, jelas-jelas pria itu sudah tak mempedulikannya lagi.


"Terima kasih, Jack." Elsa langsung memeluk tubuh Jack dan sontak membuat pria berusia 40 tahunan itu nampak terkejut.


"Terima kasih sudah datang menolongku." imbuh Elsa lagi di sela isak tangisnya.


"Tenanglah nyonya, keadaan sudah aman dan bajingan itu sudah di bawa pergi oleh pihak berwajib." Jack langsung menenangkan wanita itu.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini ?" tanya Elsa setelah merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Tuan Alex yang memerintahkan saya untuk mengecek keadaan anda." terang Jack yang langsung membuat Elsa kembali menatapnya, benarkah pria itu masih peduli padanya?


"Tuan Alex ?" ucapnya memastikan dan langsung di angguki oleh pria itu.


Flashback on


Semua rangkaian acara ia serahkan pada Lucy untuk mengaturnya dan ia ingin semua sudah siap saat ia tiba.


Setelah meeting sejenak mereka segera menikmati makan malam di kantornya tersebut, Lucy sebagai sekretaris yang cekatan membuat acara tersebut sangat meriah.


Sedikit menghias aula kantor dan memesan makanan dari restoran terkenal di kotanya tersebut.


"Terima kasih ya Luc, berkat kamu acara malam ini berjalan dengan lancar." ucap Alex malam itu setelah berada di ruangan kerjanya.


"Sama-sama tuan, terima kasih sudah mempercayakan semuanya pada saya." timpal Lucy menanggapi.


"Bagaimana keadaan kantor selama saya tinggal ?" tanya Alex kemudian.


"Saya merindukan anda, tuan." sahut Lucy lirih namun masih terdengar di telinga Alex meski kurang begitu jelas.


"Apa ?" ulang pria itu.


"Maksud saya kami semua merindukan anda tuan." Lucy segera meralat perkataannya.


"Karena anda yang selalu menyemangati kami." imbuhnya lagi.


Alex mengangguk kecil, lalu beralih ke arah pintu saat tiba-tiba Jack datang.


"Pulanglah Luc, terima kasih untuk hari ini." perintahnya kemudian pada wanita itu.


"Baik tuan, apa anda ingin saya buatkan teh sebelum saya pulang ?" tawar Lucy kemudian.


"Ya, bisa." Alex mengangguk kecil dan itu membuat Lucy nampak menatap pria itu dengan dalam.


"Baik tuan." ucapnya lantas segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Ada apa Jack ?" tanya Alex setelah Lucy menutup pintunya dari luar.


"Apa tidak lebih baik anda segera beristirahat tuan, bagaimana jika saya pesankan kamar hotel ?" tawar Jack, mengingat tuannya itu kini tak mempunyai tempat tinggal setelah keluar dari Apartemen sebelumnya.


"Nanti saja, bagaimana keadaan putraku Jack? apa dia menikmati hari minggunya dengan berjalan-jalan ?" tanya Alex kemudian, beberapa hari tak bertemu dengan putranya itu membuatnya sangat rindu.


"Nyonya Elsa bilang hari ini tidak ingin kemana-mana tuan, jadi saya tidak datang ke Apartemennya." terang Jack.


Alex nampak mengangguk kecil, namun matanya langsung memicing saat menatap ponselnya.


"Tapi kenapa ponsel Elsa terdeteksi di kantor Max, Jack ?" Alex langsung menunjukkan layar ponselnya pada asistennya tersebut, karena sebelumnya ia memang telah meretas ponsel milik wanita itu agar keberadaannya selalu bisa ia pantau.


"Saya akan mencoba untuk mengeceknya tuan, lebih baik anda segera beristirahat saja nanti saya kabari jika ada informasi penting." Jack segera meninggalkan ruangan tuan besarnya itu dan Lucy yang menatapnya dari kejauhan nampak menarik sudut bibirnya.


Beberapa saat kemudian Jack telah tiba di kantor Max, berkat informasi yang ia dapatkan dari petugas keamanan dengan sedikit ancaman tentunya membuatnya tahu jika Elsa dan karyawan lainnya telah melakukan meeting di kantor tersebut sejak tadi sore.


Namun semua karyawan langsung pulang setelah selesai kecuali Elsa dan sang pemilik perusahaan. Merasa ada yang janggal, Jack langsung memeriksa sendiri ke dalam kantor tersebut.


Saat mendengar teriakan minta tolong dari suara yang sangat ia kenal dari lantai paling atas, Jack segera menghubungi pihak berwajib karena pasti terjadi sesuatu di atas sana dan dalam hitungan menit beberapa polisi langsung datang membantunya.


Menyergap ruangan Max dan menolong Elsa dalam waktu yang tepat sebelum wanita itu berhasil di nodai oleh bosnya sendiri.


Flashback off


"Mari saya antar ke rumah sakit nyonya, luka memar anda harus segera di obati." ajak Jack setelah mereka keluar dari gedung perkantoran tersebut, namun Elsa langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja tuan Jack, bisakah aku bertemu dengan tuan Alex sekarang? aku ingin mengucapkan terima kasih padanya." ucapnya kemudian yang langsung membuat Jack menatapnya dengan dalam lalu menganggukkan kepalanya.


Sementara itu Lucy yang masih berada di pantry nampak menyemprotkan parfum ke sekitar lehernya lalu melepaskan kancing teratas kemejanya hingga kini belahan dadanya terlihat sedikit mengintip.


Setelah itu Lucy langsung menarik sudut bibirnya saat menatap secangkir teh di hadapannya itu, kemudian segera membawanya pada sang tuan yang kini masih berada di ruangannya.


"Ku rasa ini akan menjadi malam yang panjang." gumamnya.