Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~104


"Selamat malam tuan Martin." sapa James dengan sopan, meski pria tua di hadapannya itu sudah tak segarang dulu namun aura kepemimpinan pria itu masih jelas terlihat.


Martin yang melihat James tiba-tiba berada di sana nampak terkejut, kemudian pria itu mengedarkan pandangannya mencari sosok William yang tentu saja jika ada sang asisten tuannya juga pasti ada di sekitarnya.


"Tuan William sedang berhalangan hadir." terang James saat melihat Martin nampak mencari seseorang.


Martin mengangguk kecil. "Nikmati saja pestanya sebagai mestinya." ucap Martin lalu segera membawa cucunya pergi, pria itu seakan enggan berbicara panjang lebar pada James.


James yang masih terkejut dengan hubungan Martin dan Ariel nampak mengawasi pria tua itu yang terlihat memerintahkan beberapa orang untuk menjaga bocah yang di panggilnya cucu itu, bahkan pria tua itu sesekali melirik ke arahnya.


Dan itu membuat James semakin curiga jika bocah kecil itu adalah anak dari nyonya mudanya.


"Lalu siapa Ayahnya ?" gumam James sedikit frustasi karena orang suruhannya belum juga memberikannya informasi.


Tapi saat melihat kemiripan bocah kecil itu dengan sang tuan membuat James yakin jika mereka mempunyai hubungan darah, apalagi mengingat usia Ariel yang tak jauh dari perpisahan tuan dan nyonyanya terjadi.


Pantas sejak pertama kali bertemu, James merasakan aura yang tak biasa dari bocah itu.


"Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri." gumamnya kemudian.


Sementara itu William yang sedang bersama Vivian di rumah sakit, nampak mematikan ponselnya agar wanita itu bisa beristirahat dengan tenang.


"Tidurlah, aku di sini." ucap William meyakinkan, bagaimana pun juga Vivian adalah tanggung jawabnya dan ia tak mungkin menelantarkan wanita itu di tempat asing seorang diri.


"Berjanjilah, kamu akan tetap di sini menemaniku." mohon Vivian dengan mengiba.


Vivian yang terbaring di atas ranjang rumah sakit nampak lemah dengan wajah pucat pasi.


Wanita itu tak ingin pria itu pergi meninggalkannya hanya karena ingin membatalkan pertunangan wanita masa lalunya.


Sebisa mungkin Vivian akan mengulur waktu agar kekasihnya itu tetap berada di sisihnya sampai acara pertunangan itu selesai.


"Hm, aku di sini Vi." tegas William meyakinkan.


"Jadi sekarang beristirahatlah." imbuhnya kemudian.


"Tapi aku belum bisa tidur." tolak Vivian.


"Aku ingin makan sesuatu." pintanya kemudian.


"Baiklah, tunggu di sini aku akan memanggil suster untuk membawakan mu makan." William segera beranjak dari duduknya.


"Kita bisa memanggilnya pakai ini saja." Vivian menunjuk sebuah tombol untuk memanggil perawat atau dokter.


"Tidak perlu, aku akan memastikan kamu mendapatkan makanan yang layak." tegas William seraya melangkahkan kakinya keluar.


"Terima kasih." Vivian nampak mengulas senyumnya dengan lebar, perhatian William yang tiba-tiba membuat dadanya berdebar-debar senang.


Beberapa saat kemudian William masuk kembali dengan seorang dokter dan juga perawat yang membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur dan juga buah.


"Ayo makanlah, perutmu kurang baik jadi harus makan bubur untuk sementara waktu." ucap William seraya memberikan semangkuk bubur pada wanita itu.


"Terima kasih." Vivian menerimanya dengan senang hati, meski jujur ia ingin sekali di suapi oleh pria itu.


"Dokter itu apa ?" tanya Vivian lagi saat dokter menyuntikkan sesuatu ke dalam kantung infus miliknya.


"Hanya vitamin nona, agar anda lekas membaik." sahut dokter tersebut.


Setelah itu Vivian nampak mulai makan, jujur wanita itu sangat lapar sekali karena dari pagi tak makan apapun.


Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, wanita itu yakin acara pertunangan tersebut telah selesai dan rencananya benar-benar berhasil.


Di sisi lain Merry yang telah memantapkan hatinya untuk menerima Alan, akhirnya pasrah saat pria itu menyematkan cincin pertunangan di jari manisnya.


Para undangan yang hadir nampak riuh saat kedua pasangan tersebut baru selesai bertukar cincin.


Merry terlihat salah tingkah, namun gerakan Alan yang tiba-tiba merengkuh pinggangnya membuat wanita itu langsung terkejut.


"Sebentar saja agar mereka tidak berisik." lirih Alan lalu membingkai wajah wanita itu dengan sebelah tangannya lalu menempelkan ibu jarinya di bibirnya dan bersamaan itu pria itu langsung mengecupnya sekilas hingga membuat para undangan bertepuk tangan.


Mungkin mereka mengira pasangan itu sedang berciuman tapi yang sebenarnya Alan justru mencium ibu jarinya sendiri yang ada di depan bibir wanita itu.


Merry nampak menggigit bibirnya, apa yang pria itu lakukan begitu cepat tanpa ia duga dan tentu saja itu membuatnya tak percaya sekaligus bersyukur karena Alan sangat menghormati perasaannya.


"Terima kasih." ucap Merry yang kini nampak berdansa di lantai dansa bersama pria itu.


"Untuk ?" Alan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Terima kasih untuk yang tadi." sahut Merry.


"Aku tidak suka menyentuh seorang wanita dengan paksaan." terang Alan.


"Maafkan aku." sahut Merry, bagaimana pun juga ia belum bisa memberikan perasaannya pada pria itu.


"Kita masih punya waktu untuk itu." Alan nampak mengulas senyumnya menatap wanita yang baru menjadi tunangannya tersebut.


Sedangkan di sudut ruangan tersebut nampak seorang pria sedang memperhatikan mereka dengan rahang mengeras serta tatapan yang tajam.


"Al, sebenarnya dari tadi aku menahan ingin ke belakang." bisik Merry saat merasakan ingin buang air kecil.


"Ayo, aku akan menemanimu." ajak Alan, namun langsung di tolak oleh wanita itu.


"Tidak, aku bisa sendiri. Lebih baik kamu temani mereka, sepertinya dari tadi mereka ingin menyapamu." ucap Merry seraya menatap beberapa rekan Alan yang berada tak jauh dari sana.


"Baiklah, jangan lama-lama." balas Alan yang langsung di anggukin oleh wanita itu.


Merry segera berlalu menuju toilet yang berada tak jauh dari ballroom hotel tersebut.


Wanita itu nampak mengedarkan pandangannya mencari putranya yang sepertinya sudah di bawa ke kamarnya karena malam sudah mulai larut.


Sesampainya di toilet, Merry segera masuk dan setelah selesai wanita itu nampak merapikan penampilannya di depan kaca.


Wanita itu tak perlu mengoles ulang bibirnya dengan lipstick karena Alan tadi tak benar-benar menciumnya.


Setelah memastikan penampilannya rapi, Merry segera keluar dari toilet tersebut. Namun baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba seseorang membungkam mulutnya dari belakang dengan sebuah kain hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.


...----------------...


Di sebuah ruangan yang nampak mewah terlihat seorang pria sedang duduk di sebuah sofa, pandangannya nampak lurus ke arah wanita yang sedang terbaring di atas ranjang empuk berukuran king size tersebut.


Wanita yang sedang memakai gaun dengan dada dan punggung sedikit terbuka itu terlihat mulai mengerjapkan matanya saat merasakan nyeri di kepalanya.


"Di mana ini ?" gumamnya seraya mengedarkan pandangannya, lalu wanita itu memijit kepalanya yang sakit.


Seketika ingatannya melayang ke acara di mana wanita itu tadi sedang melaksanakan pertunangannya.


Wanita itu adalah Merry, kemudian Merry langsung bangun dari tidurnya saat terakhir mengingat dirinya berada di toilet dan di sergap tiba-tiba oleh seseorang hingga membuatnya tak ingat apa-apa lagi.


"Ka-kau...." Merry langsung terkejut saat melihat pria yang sedang duduk dengan angkuh tak jauh darinya itu nampak menatapnya dengan intens.