Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~284


"Katakan, apa sedikit pun kamu tak pernah menyukaiku ?" ucap Axel dengan menatap tajam wanita di hadapannya itu.


Elsa langsung memalingkan wajahnya. "Aku tidak pernah menyukaimu." sahutnya kemudian.


"Tatap mataku, El !!" Alex meraih dagu wanita itu lalu mengarahkan padanya hingga kini pandangan mereka nampak bertemu.


"Katakan, apa kau tak pernah menyukaiku ?" ucap Alex lagi dengan tegas.


Elsa nampak memejamkan matanya sejenak, lalu kembali menatap pria tampan di hadapannya tersebut. "Aku tidak pernah menyukaimu tuan Alex, jadi tolong berhenti menggangguku. Tolong hargai perasaan Carla sebagai kekasihmu." tegasnya, meski sebagian hatinya meronta.


Namun inilah yang terbaik, lebih baik sakit di awal daripada ia harus menderita di kemudian hari di saat perasaannya telah tumbuh subur untuk pria itu.


Mendengar ucapan Elsa, Alex nampak mengepalkan tangannya. Kemudian pria itu langsung menarik tengkuk wanita itu lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.


Tak peduli bagaimana penolakan wanita itu, Alex terus saja m3lum4t bibirnya. Menusukkan lidahnya ke dalam lalu mengobrak-abrik pertahanan wanita itu.


Hingga keduanya kehabisan oksigen, baru Alex melepaskan panggutannya.


Plakk


Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi pria itu hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


"Kau benar-benar pria kurang ajar !!" umpat Elsa dengan pandangan penuh kebencian dan itu membuat hati Alex terasa sakit.


Pria itu nampak mengeraskan rahangnya, kemudian segera berbalik badan pergi dari sana dan bersamaan itu Carla nampak keluar dari kamar Axel.


"Sayang, kamu mau kemana ?" ucapnya saat melihat Alex hendak melangkah menuju pintu keluar.


"Aku tiba-tiba ada keperluan mendadak." sahut Alex dengan wajah datarnya.


"Tapi kita belum makan siang bersama, paman." kali ini Axel yang baru keluar kamar langsung menimpali, hingga membuat Alex yang tadinya sangat geram seketika mengulas senyumnya menatap bocah kecil itu.


Kemudian pria itu melangkah mendekat, lalu bersimpuh di lantai untuk menyamakan tingginya dengan bocah itu.


"Paman sedang ada pekerjaan penting, kamu makan dahulu bersama tante Carla dan Mommy ya." ucapnya dengan nada membujuk.


"Tapi aku maunya sama paman." Axel sedikit merajuk dan itu membuat Alex nampak terkekeh.


"Paman janji, nanti kita akan selalu bersama." ucapnya singkat namun penuh makna dan itu membuat Elsa langsung memicing menatapnya, apa pria itu akan mengambil Axel darinya?


"Baiklah, paman harus berjanji." Axel langsung mengulurkan jari kelingkingnya


"Janji pria harus di tepati." balas Alex kemudian hingga membuat Axel langsung bersorak lalu memeluk pria itu.


Pembawaan Alex yang penyayang membuat Axel cepat sekali akrab dengan pria itu.


"Kau milikku Nak, jika memang ibumu tak menginginkan kita bersama. Maka cepat atau lambat kau yang akan bersamaku." gumam Alex dalam hati.


Setelah itu pria itu segera pamit pergi dari sana, mengemudikan mobilnya dengan laju membelah jalanan siang itu.


Ia semakin yakin jika Axel adalah putranya, tak ada yang lebih kental dari darah dan ia akan membuktikan hal itu.


"Ini apa tuan ?" Jack nampak mengernyit saat tuan besarnya itu menyerahkan beberapa helai rambut padanya.


"Apa anda yakin tuan, bagaimana jika hasilnya tidak cocok ?" timpal Jack kemudian agar tuannya itu tidak terlalu berharap.


"Kamu juga mempunyai seorang putrakan Jack, bagaimana perasaanmu jika sedang dekat dengannya dan begitulah perasaanku saat dekat dengan Axel. Tidak hanya wajahnya saja yang sama persis denganku tapi sifatnya dan bentuk kesukaan dia pada sesuatu itu sama persis saat aku kecil dahulu Jack dan hati ini tak bisa di bohongi juga jika telah tumbuh rasa sayang yang begitu besar padanya." terang Alex, setelah mengingat bagaimana ia mengamati putranya itu dan yakin jika mereka mempunyai hubungan darah.


"Baik tuan, saya akan membawanya ke laboratorium." ucap Jack, kemudian undur diri.


"Usahakan secepatnya, Jack." ucap Alex hingga membuat asistennya itu menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.


"Paling lambat satu minggu tuan dan akan saya usahakan lebih cepat dari itu." sahutnya kemudian.


Sementara itu Elsa yang sedang makan siang dengan Carla nampak berbincang ringan.


"Aku sangat senang sekali hari ini El, meskipun Alex belum mengatakan cinta padaku tapi paling tidak status kita saat ini adalah pasangan kekasih." ucap Carla di sela makannya.


"Aku ikut senang jika kamu bahagia, Carl." timpal Elsa dengan mengulas senyum tipisnya.


"Terima kasih, berkatmu Alex berani menyatakan perasaannya padaku." Carla nampak bersyukur memiliki sahabat seperti Elsa.


"Kau sangat cocok dengannya jadi kenapa tidak." sahut Elsa meyakinkan.


"Mommy, aku sudah selesai. Boleh aku ke kamar ?" ucap Axel setelah menghabiskan makan siangnya.


"Tentu saja sayang, pergilah." Elsa langsung mengusap lembut puncak kepala putranya tersebut, setelah itu bocah kecil itu segera masuk ke dalam kamarnya.


"Kau juga mulai pikirkan masa depanmu El, sampai kapan kamu akan sendiri seperti ini? Ingat, Axel butuh sosok seorang ayah. Meski Alex juga bisa menjadi ayahnya jika kami nanti sudah menikah, tapi alangkah lebih baik jika pria yang akan menjadi ayahnya adalah pria yang sangat mencintai ibunya juga." ucap Carla memberikan nasihat setelah melihat Axel menutup pintu kamarnya dari dalam.


"Aku tidak memikirkan hal itu Carla, kamu tahu sendirikan bagaimana prinsipku. Aku sudah tak mempercayai lagi yang namanya pria, kamu tahukan ayah dan ibuku tiada dalam kecelakaan karena mereka sedang bertengkar setelah ayah ketahuan berselingkuh. Kemudian kakakku juga tiada karena mentalnya di hancurkan oleh suaminya sendiri." Elsa nampak tersenyum sinis saat mengingat keadaan keluarganya yang hancur lebur hanya karena perbuatan seorang pria.


"Bahkan hidupku juga telah di hancurkan oleh seorang pria, lalu pria mana lagi yang bisa ku percaya Carl ?" imbuhnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.


"Maafkan aku El, aku yakin suatu saat kamu pasti akan menemukan sosok pria yang terbaik yang akan mampu mengubah pandanganmu jika tak semua pria itu brengsek." Carla nampak menggenggam tangan Elsa dengan tulus.


"Terima kasih Carl, tapi aku yakin mampu membahagiakan putraku seorang diri sampai dia dewasa nanti." tegas Elsa meyakinkan.


"Lalu bagaimana jika ayah kandungnya muncul? apa yang akan kau lakukan ?" Carla nampak penasaran.


"Tergantung." sahut Elsa.


"Maksudmu ?" Carla nampak mengernyit.


"Jika dia tak berniat merebutnya dariku aku pasti akan memaafkannya, kita bisa merawat Axel bersama-sama meski tanpa ada hubungan. Tapi jika dia ingin merebut putraku aku pasti akan melakukan apapun itu." tegas Elsa bersungguh-sungguh.


"Aku setuju dengan opsi pertama El, ku harap dia pria yang baik." timpal Carla memberikan semangat.


"Oh ya, besok malam papaku ulang tahun ku harap kamu datang ya." mohon Carla kemudian seraya memberikan sebuah kartu undangan.


"Tentu saja." Elsa langsung menerimanya dengan senang hati.


"Aku sudah tak sabar memperkenalkan Alex pada papaku." wajah Carla nampak berbinar bahagia, namun entah kenapa itu justru membuat sebagian hati Elsa terasa sakit.


Perasaan apa ini, benarkah ia sedang cemburu?