Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~255


Alex Martin



"Kamu tahu aku dari dulu sebenarnya sudah sangat tertarik padamu, hanya saja kakakmu yang bodoh itu terlalu melindungimu." ujar Ben seraya mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut lengan Elsa.


Sangat lembut, hingga membuat pria itu nampak memejamkan matanya sejenak. Sementara Elsa terlihat melirik tangannya yang terkepal erat, sedikit saja ia membuat gerakan beberapa peluru pasti akan menembus kepalanya.


"Jadi ku tanya sekali lagi, kau mau melakukannya dengan sukarela atau dengan paksaan hm ?" ulang Ben menegaskan perkataannya.


Pria yang kini hanya mengenakan celana training panjang dan bertelanjang dada itu nampak tersenyum menyeringai menatap Elsa.


"Ck aku tidak akan melakukan apapun itu, brengsek." tegas Elsa seraya meludah di hadapan pria itu.


"Kau !!"


"Aku hanya ingin membunuhmu." Elsa langsung mengarahkan telapak tangannya ke wajah Ben dan bersamaan itu suara tembakan langsung menggema di ruangan tersebut.


Senjata yang tadinya mengarah ke Elsa kini telah di lucuti oleh beberapa orang yang tiba-tiba saja datang dan perkelahian pun tak bisa di elakkan.


"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan di sini ?" Alex yang baru datang bersama anak buahnya nampak murka saat melihat Elsa mendekap tubuh Ben dengan tangan membungkam bibir serta hidung pria itu.


Entah apa yang wanita itu berikan pada Ben, namun Ben tiba-tiba merasa sesak dan kesulitan bernapas. Di sisa tenaganya Ben langsung memukuli wanita itu dengan beberapa pukulan sampai pada akhirnya ia sendiri terjatuh ke lantai.


"Apa yang kau lakukan padaku ?" Ben yang tiba-tiba tak berdaya nampak memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Itu racun, nikmatilah setiap detik kematianmu pecundang." sinis Elsa dengan tersenyum mengejek.


"Tidak, tolong lakukan sesuatu padaku." Ben berusaha untuk bangkit.


Tiba-tiba terdengar suara sirene yang menandakan sedang terjadi sesuatu di area gedung tersebut.


"Tuan, di bawah sedang ada kebakaran besar kita harus segera meninggalkan tempat ini." teriak Jack kaki tangan Alex yang langsung membuat tuannya itu menarik tangan Elsa lalu membawanya pergi dari sana.


Sementara Ben dan beberapa anak buahnya yang sudah terkapar di atas lantai nampak berteriak meminta tolong karena asap mulai menyelimuti ruangan tersebut.


Sedangkan Alex dan Elsa dengan cepat menuruni tangga darurat sebelum mereka ikut terbakar oleh api yang begitu besarnya melahap gedung apartemen tersebut.


Dan sesaat setelah mereka keluar dari sana nampak sebuah ledakan terjadi dan hancurlah seketika gedung itu.


"Benar-benar ceroboh, tidak bisakah kau berdiam diri saja di rumahmu !!" umpat Alex dengan nafas ngos-ngosan, wajahnya nampak sedikit menghitam terkena asap.


Elsa yang tak jauh berbeda dari keadaan Alex pun nampak tertawa senang saat melihat lantai gedung apartemen tempat mantan kakak iparnya itu telah hangus menyisakan puing-puingnya.


"Lihatlah kak, orang yang telah menyakitimu telah mendapatkan hukumannya. Aku yakin kau sangat senang saat ini." ucapnya dengan lantang lalu detik selanjutnya air matanya nampak mengalir deras.


Tidak ada dendam yang menyisakan kebahagiaan karena pada akhirnya ada hal yang harus di korbannya.


Alex yang melihat itu langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Semua akan baik-baik saja, percayalah." lirihnya seraya mengusap lembut punggungnya, meski ia tak mengetahui banyak hal tentang wanita itu tapi Alex yakin dia telah melalui hidup yang berat.


"Bagaimana dengan anak buah kita, apa mereka berhasil lolos semua ?" tanya Alex setelah mereka kini berada di dalam mobilnya, Jack yang baru saja menghempaskan tubuhnya di depan kemudi nampak menghela napasnya sejenak.


"Semuanya baik-baik saja tuan." sahutnya kemudian.


"Kau bekerja dengan baik, Jack." puji Alex dengan wajah menyeringai.


Elsa yang tak mengerti maksud dari pembicaraan kedua pria itu nampak mendengarkan dengan baik.


"Bajingan itu telah menggali kuburnya sendiri dan aku hanya membantunya sedikit." sahut Alex kemudian.


"Aku tidak mengerti maksudmu." Elsa benar-benar tak mengerti maksud ucapan Alex, entah kenapa Elsa tiba-tiba merasakan takut saat melihat pria itu menyeringai. Alex seperti sosok orang lain yang tak ia kenal selama ini.


"Apa kau benar-benar memberikannya racun ?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan saat mengingat dengan beraninya wanita itu membekap wajah Ben meskipun beberapa kali pria itu berusaha memukulinya.


"Itu usaha terakhirku di saat ambang kematian berada di hadapanku." sahut Elsa seraya menatap jalanan depannya, wajahnya terlihat lebam akibat pukulan Ben tadi.


"Aku tidak tahu apa urusanmu dengan bajingan itu tapi ku harap ini terakhir kalinya kau membuat kebodohan karena pihak berwajib pasti takkan tinggal diam setelah ini." tegas Alex dengan wajah geramnya.


"Aku selalu mempertanggung jawabkan perbuatanku dan aku siap mendapatkan hukumannya." timpal Elsa.


"Itu tidak akan terjadi." sela Alex, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi belakangnya.


"Kenapa tidak ?" Elsa langsung menatap pria itu tak mengerti.


"Diamlah, aku sedang tidak ingin menjelaskan apapun." Alex nampak memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri lalu ia menurunkan sandaran kursinya lalu merebahkan punggungnya di sana.


"Kau baik-baik saja ?" Elsa tiba-tiba merasa khawatir.


"Menurutmu ?" sahut Alex lirih.


"Apa kau tiba-tiba demam? aku akan mengeceknya." Elsa langsung membungkukkan badannya lalu meletakkan punggung tangannya di dahi pria itu.


Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat dan entah siapa yang memulai tiba-tiba keduanya sudah saling m3lum4t.


Alex yang terbawa suasana pun segera menarik pinggang Elsa mendekat hingga kini tubuh wanita itu jatuh ke atas dada bidangnya.


Dan ciuman mereka pun semakin dalam yang menciptakan gelanyar aneh di setiap aliran darah mereka. Mereka tak mengerti dengan perasaan itu namun rasanya sangat enggan untuk mengakhirinya.


"Tetaplah seperti ini." Alex nampak membawa wanita itu ke dalam pelukannya setelah ciuman mereka berakhir, ia tak tahu kenapa melakukan itu namun saat ini hanya wanita itu yang membuatnya nyaman.


Begitu juga dengan Elsa pelukan pria itu terasa begitu hangat hingga membuatnya nyaman dan sedikit melupakan peristiwa menegangkan yang baru saja ia alami.


Hingga pada akhirnya mereka tertidur dengan saling berpelukan, sedangkan Jack yang fokus mengemudi nampak menatap datar mereka dari spion depannya.


Beberapa saat kemudian mereka terbangun setelah Jack menghentikan mobilnya di depan kediaman Elsa. "Turunlah dan segera kompres lukamu !!" perintah Alex kemudian.


Elsa yang menyadari telah tertidur dalam pelukan pria itu langsung beranjak menjauh, lalu segera turun dari sana.


"Terima kasih." lirihnya setelah mobil Alex pergi dari hadapannya.


"Anda baik-baik saja, Nona ?" Sam yang rupanya sudah menunggu di rumahnya terlihat sangat khawatir.


"Apa kau yang memberitahu Alex ?" tanya Elsa ingin tahu karena tidak mungkin pria itu tiba-tiba datang tanpa seseorang yang memberitahunya.


"Maafkan saya Nona, tapi sepertinya tuan Alex sudah lama mengincar tuan Ben dan inilah saatnya beliau melaksanakan rencananya. Karena tidak mungkin gedung tiba-tiba terbakar dan meledak begitu saja jika tidak ada yang menyabotasenya." terang Sam.


"Benarkah ?" Elsa nampak tak percaya namun hatinya langsung menghangat mengingat bagaimana pria itu tadi dengan gentlenya menolongnya dan mempertaruhkan nyawa demi dirinya.


"Astaga, apa yang sedang ku pikirkan."


Elsa langsung menggeleng, dendamnya belumlah berakhir dan ia tak boleh lemah karena perasaannya. Baginya cinta hanyalah perasaan semu dan pada akhirnya akan menghancurkannya.