
4 tahun kemudian.....
"Aku tidak suka dengan rancangan ini, buat yang baru lagi !!"
Seorang wanita dengan wajah tegasnya nampak melempar berkas di tangannya ke atas meja di ruang meeting pagi itu.
"Aku beri waktu tiga hari untuk menyelesaikan semuanya, jika hasilnya tetap tidak sesuai keinginanku lebih baik kalian segera angkat kaki dari kantor ini." imbuhnya lagi menatap satu persatu karyawannya tersebut.
"Baik bu, kami pasti segera menyelesaikannya dan membuat anda puas dengan kinerja kami." janji salah satu dari mereka.
"Baiklah aku tunggu hasilnya." sahut wanita tersebut, kemudian segera mengakhiri meeting pagi itu.
Wanita itu adalah Merry, setelah 4 tahun berlalu wanita itu kini bermetamorfose menjadi wanita dewasa dan mandiri.
Saat ini Merry menjabat sebagai seorang CEO di perusahaannya menggantikan sang ayah yang lebih memilih untuk pensiun.
Setelah itu Merry segera meninggalkan beberapa karyawannya yang nampak masih melanjutkan diskusinya di ruang meeting tersebut.
"An, apa jadwalku hari ini ?" ucapnya pada Anne sang asisten seraya melangkah menuju ruangannya.
"Siang ini anda ada meeting dengan perwakilan perusahaan Indotech bu, di lanjut sore harinya mengunjungi proyek dan malam harinya ada undangan makan malam dari tuan Alan." terang Anne membaca job desk atasannya tersebut.
"Untuk undangan makan malamnya batalkan saja !!" perintah wanita itu lalu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kerjanya lalu mulai menghidupkan layar komputernya.
"Tapi ini sudah keempat kalinya secara pribadi tuan Alan mengundang anda, bu." terang Anne.
"Aku tetap tidak bisa An, kamu tahu sendirikan putraku tidak bisa di tinggal kalau malam hari. Dia tidak akan tidur sebelum aku pulang, jadi tolong sampaikan permohonan maafku pada beliau." sahut Merry yang langsung di angguki oleh Anne.
"Apa ada yang lain lagi ?" imbuhnya lagi seraya melepaskan kacamata bacanya yang bertengger di hidung mancungnya, lalu memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri.
"Sebenarnya ini mengenai tender kita yang di Singapura itu, bu." Anne terlihat gugup saat mengatakannya.
"Oh ya katakan sudah sampai mana progresnya bukankah bulan ini keputusannya? semoga perusahaan kita yang menang." ujar Merry menatap asistennya itu.
Anne menggigit bibirnya, nampak sekali wanita itu sedang gugup. "Kita kalah, bu." sahutnya kemudian yang langsung membuat wajah Merry berubah suram.
"Bagaimana bisa kalah ?" ucapnya tak percaya, baru kali ini tender yang ia ajukan kalah dengan perusahaan lain.
"Kita kalah dengan perusahaan WS Corporation." sahut Anne.
"Perusahaan mana aku baru dengar ?" Merry nampak mengernyit.
"Dari informasi yang saya dapatkan WS Corporation adalah anak cabang dari salah satu perusahaan yang ada di Amerika, perusahaan tersebut baru tiga bulan ini beroperasi di Singapura tapi sudah berhasil menggaet beberapa investor asing." Anne menjelaskan secara rinci.
"Sepertinya kita punya saingan baru, baiklah kita lihat siapa yang kuat nanti." sahut Merry, lalu kembali menatap layar komputernya.
Seharian ini seperti biasanya Merry di sibukkan dengan beberapa jadwal meeting dan juga peninjauan proyek barunya.
Namun wanita itu selalu berusaha pulang lebih cepat agar bisa segera menemani putra satu-satunya tersebut.
"Mommy teyambat catu menit." protes seorang bocah berusia 3 tahun lebih itu saat sang ibu baru datang dan itu membuat Merry nampak menggeleng kecil.
Sungguh putranya itu sangat mirip dengan sang ayah, sifatnya maupun wajahnya sekali pun.
Mengingat hal itu Merry hanya bisa menghela napasnya, meskipun sudah beberapa tahun berlalu kenangan mantan suaminya itu masih terpatri dalam sanubarinya.
"Hanya satu menit sayang." Merry langsung bersimpuh di lantai menyetarakan tingginya dengan putranya tersebut.
"Baiklah Mommy bersalah jadi Mommy siap menerima hukumannya tuan Ariel." ucap Merry seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan itu membuat Ariel langsung tertawa senang.
"Hukuman Mommy adayah...." ucapan Ariel tertahan saat tiba-tiba Alex masuk ke dalam rumah tersebut.
"Daddy Alex." teriak Ariel seraya berlari mendatangi Alex.
"Anak kesayangan Daddy." Alex langsung membawa Ariel ke dalam gendongannya.
"Kak Alex." Merry nampak tersenyum menatap pria itu.
"Kamu sudah pulang ?" tanya Alex setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baru saja, tapi sepertinya aku terlambat." Merry memasang wajah sedihnya.
"Apa Ariel menghukum mommy lagi, hm ?" tanya Alex kemudian seraya menatap gemas bocah gembul dalam dekapannya itu.
"Mommy teyambat puyang catu menit, Daddy." sahut Ariel menjelaskan.
"Oh benarkah, jadi hukuman apa buat Mommy kali ini ?" tanya Alex seraya membawa Ariel ke ruang keluarga lalu mendudukkannya diatas sofa.
"Hm." Ariel terlihat berpikir sejenak.
"Mommy halus kacih Aliel adik." ucapnya kemudian yang langsung membuat Merry maupun Alex saling berpandangan.
"Baiklah, setelah ini kita akan beli adik ya." ujar Merry dengan gemas, sejak kapan putranya itu menginginkan seorang adik.
"No, no, no, no. Aliel maunya adik dali pelut mommy." tolak Ariel seraya menggerakkan jari telunjuknya tanda ia menolak.
Merry dan Alex nampak menelan ludahnya, lalu Merry duduk mendekati putranya itu.
"Memang Ariel tahu dari mana adik berasal dari dalam perut mommy ?" tanya Merry kemudian.
"Dali Alpin, Mommy Alpin pelutnya besal isinya adik. Kalau beli di toko itu adik bo'ongan." terang Ariel, Alvin adalah temannya di sekolah play grup.
Merry langsung menghela napas panjangnya, meski putranya itu baru 3 tahun tapi cepat sekali menyerap informasi dari pembicaraan orang lain.
"Mommy, mana adiknya? pelut mommy kok belum besal ?" Ariel memegang perut sang ibu dari balik kemeja yang wanita itu pakai.
"Buat adik itu tidak sebentar, nak. Harus membutuhkan waktu 9 bulan baru adiknya keluar dari perut Mommy." Merry menjelaskan dengan lembut.
"Yaudah Mommy cegela buat cana !!" perintah Ariel seraya mendorong ibunya menjauh.
"Hah, memang Ariel tahu cara buatnya ?" pancing Merry, sepertinya ia harus mengetes sejauh mana pengetahuan putranya tersebut.
"Kata teman Aliel buatnya Mommy halus bekelja cama dengan Daddy, beldoa minta cama Tuhan." sahut Ariel yang membuat Merry dan Alex nampak lega.
Kemudian Merry langsung memeluk Ariel dengan gemas. "Pintar anak Mommy." pujinya kemudian.
Beberapa saat kemudian, Merry nampak berada di dalam kamarnya. Setelah membersihkan dirinya wanita itu terlihat duduk termenung di tepi ranjangnya.
Selama ini wanita itu selalu melamun saat sedang tak melakukan apapun, rasanya waktu begitu singkat dan tak terasa sudah 4 tahun berlalu sejak kejadian waktu itu.
Waktu di mana William membuangnya tanpa sepatah kata pun, dirinya seolah hanya menjadi pemuas hasrat pria itu dan setelah bosan akan di buang begitu saja.
"Kau baik-baik saja ?" tiba-tiba Alex membuka pintu kamarnya dan itu membuat Merry langsung terkejut.