
Anne nampak berkeringat dingin saat memergoki suaminya telah sampai di rumahnya duluan padahal harusnya pria itu masih menikmati pestanya hingga larut malam.
Namun kini pria itu justru nampak duduk santai di sofa rumahnya menunggu kepulangannya. "Ka-kau sudah pulang ?" ucapnya seraya mendekati suaminya itu.
"Darimana ?" tanya pria itu dengan nada dingin dan itu membuat Anne langsung menghentikan langkahnya.
"A-aku dari cari angin di belakang, ia di belakang sana." sahut Anne seraya menyembunyikan sepatu heels di belakang tubuhnya.
"Dengan pakaian seperti itu ?" ucap James lagi.
"I-iya memang ada apa dengan pakaianku ?" Anne segera menatap pakaiannya sendiri dan ia langsung terbelalak saat menyadari masih menggunakan pakaian pelayan.
"Ah ceroboh !!"
"A-aku tiba-tiba ingin berpakaian seperti ini, sepertinya bayi kita berulah lagi." timpal Anne kemudian dengan tersenyum nyengir menatap suaminya itu, berharap keadaan semakin mencair namun ia justru tiba-tiba merasakan aura mencekam di sekelilingnya saat suaminya mulai beranjak dari duduknya.
"Jadi maksudmu, bayi kita ingin menjadi seorang pelayan saat dewasa nanti ?" ucap James masih dengan wajah dinginnya.
"Ya tidak begitu juga." Anne mendadak kehabisan kata-kata untuk menjelaskan saat suaminya mencercahnya.
"Lalu ?" ucap James tepat di hadapan wanita itu.
"A-aku...."
"Selalu menjadikan alasan bayi kita untuk menutupi semua perbuatanmu yang mengada-ada itu." sela James yang langsung membuat Anne menggigit bibirnya merasa bersalah.
"Mengelabuhi suamimu sendiri dengan mematikan cctv lalu diam-diam menyelinap ke pesta itu, sebenarnya ada apa denganmu Anne Wijaya ?" imbuh James dengan suara tegasnya dan itu membuat Anne semakin terpojok, rupanya suaminya sudah mengetahui perbuatannya.
"Ja-jadi kamu sudah tahu? Rose pasti sudah mengadu padamu, benar-benar tak bisa di percaya." gerutu Anne sedikit kesal, tapi perkataan suaminya selanjutnya langsung membuatnya terdiam.
"Tidak perlu menyalahkan orang lain demi menutupi kesalahanmu itu." sela James masih dengan wajah dinginnya.
"Baiklah tuan James, aku merasa bersalah karena sudah berbohong padamu jadi tolong maafkan aku ya." mohon Anne seraya memegang lengan suaminya itu.
"Bahkan hingga kini kau belum juga merubah panggilanmu itu." cibir James dengan wajah tak bersahabat dan itu membuat Anne nampak menelan ludahnya.
"A-aku bingung harus memanggilmu apa ?" timpal Anne dengan wajah memelas, namun sepertinya tak berarti apa-apa bagi pria itu karena tetap saja bermuka datar dan menakutkan baginya.
"Ck." James berdecak kesal dan itu membuat Anne segera berpikir keras mencari panggilan yang tepat untuk pria itu.
"Mas? mas bule? Ah tidak cocok."
"Bang? bang bule? bangbul? Tidak-tidak nanti anakku di panggil anabul lagi, memang anak kucing apa ?"
"Ayo Anne berpikir !!"
"Honey? astaga terdengar sangat lebay seperti peliharaan om-om."
"Sweety? Tidak-tidak, dia tak ada manis-manisnya."
"Baby? sangat menggelikan, dia seperti bayi monster."
"Sayang? bagus sih tapi lidahku sepertinya kaku untuk mengatakannya."
"Jadi kau sudah memutuskan untuk memanggilku apa? sebelum aku yang menentukan." tegas James yang langsung di sela oleh istrinya itu.
"Sa-sayang." ucap Anne dengan cepat, karena hanya kata itu yang terlintas di pikirannya.
"Sayang ?" ulang James seraya sedikit membungkuk menatap istrinya itu yang wajahnya nampak memerah dan itu membuatnya gemas.
"I-iya, sayang." sahut Anne.
"Ulangi !!" perintah James yang entah apa tujuannya namun itu membuat Anne semakin kesal sekaligus malu, padahal dahulu saat menjadi asisten seorang Merry Anne tipe wanita yang sangat tegas bahkan ia selalu mengalahkan lawan bisnisnya dengan argumentasinya yang lugas.
Namun semenjak menjadi istri pria itu, Anne merasa mendadak menjadi bodoh dan lemah.
"Ulangi sampai aku bilang berhenti !!" perintah James lagi saat istrinya belum kunjung memanggilnya dan tentu saja itu membuat Anne melotot.
"A-apa harus ya ?" ucapnya kemudian.
"Tentu saja, jika ingin hukumanmu berkurang atas semua kesalahan yang setelah ini harus kamu jelaskan padaku." tegas James.
"I-iya, sayang." ucap Anne dengan cepat lalu kembali mengatakannya lagi.
"Sa-sayang."
"Sayang."
"Sayang."
"Sayang." imbuh Anne lagi yang membuat lidahnya mulai terbiasa mengucapkannya.
"Stop !!" James mengangkat tangannya, lalu pria itu berbalik badan lalu kembali duduk di atas sofa.
"Jika kau melupakan panggilan itu maka bersiap-siaplah menerima hukuman, jadi sekarang katakan apa alasanmu menyelinap di pesta itu dengan memakai undangan tuan William ?" ujar James kemudian.
Sebenarnya ia sudah mengetahui rencana sang istri sejak mereka berada di kantornya tadi siang, namun ia tetap membiarkan wanita itu melaksanakan rencananya karena ia ingin melihat apa yang ingin istrinya itu lakukan.
Namun di luar prediksinya musuh bebuyutannya justru sangat tertarik pada wanita itu, ah sial.
"Eh i-itu sebenarnya sudah lama aku curiga dengan Jennifer, ku rasa wanita itu bukan wanita baik-baik dan dugaan ku benar dia itu adik kandung dari seorang pria yang bernama Marco. Aku mendengar dengan mata telingaku sendiri jika pria itu ingin melenyapkanmu. Karena aku khawatir padamu makanya aku berusaha cari tahu sendiri, jika kamu tak percaya aku sudah merekamnya lihatlah sendiri." terang Anne panjang lebar, kemudian merogoh ponselnya di saku bajunya lalu memberikannya pada suaminya itu.
"Hanya itu ?" timpal James yang nampak tak terkejut sama sekali.
"Ke-kenapa kamu tidak terkejut? kamu tahu nyawamu sedang terancam oleh orang terdekatmu." Anne langsung melotot saat melihat reaksi suaminya yang biasa saja padahal ia sudah sangat khawatir.
Melihat wajah istrinya yang menggemaskan membuat James langsung tertawa nyaring.
"Ke-kenapa tertawa? ini bukan lelucon." Anne langsung bersungut-sungut, ucapannya seperti di anggap angin lalu saja bagi pria itu padahal ia tadi hampir saja di tangkap oleh orang yang bernama Marco itu karena telah mencuri dengar pembicaraannya.
"Kemarilah !!" ucap James seraya menepuk sofa di sebelahnya, istrinya itu pasti sudah sangat lelah berdiri sejak tadi dan ia merasa kasihan.
Dengan ragu Anne melangkah mendekat lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah pria itu.
"Jadi kamu khawatir padaku ?" tanya James kemudian.
"Hm, tentu saja." Anne mengangguk yakin.
"Kenapa ?" tanya James lagi, tentu saja ia ingin tahu alasannya.
"Kenapa tuan James bertanya lagi, eh maksudku kenapa sayang bertanya lagi? tentu saja karena aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku dan bayi kita ini takut kehilanganmu." terang Anne dengan wajah tulusnya dan itu membuat James nampak mengangkat sudut bibirnya, tiba-tiba ia merasakan hatinya berbunga-bunga.
"Kenapa tidak ingin kehilanganku ?" tanya James lagi seraya menatap lekat wanita di sisinya itu.
"Ka-karena aku mencintaimu, saat ini cuma kamu dan bayi kita yang ku miliki di dunia ini. Jadi aku tidak ingin kehilangan kalian." sahut Anne dengan bersungguh-sungguh dan itu membuat James merasa menjadi lelaki yang paling bahagia di muka bumi ini.
"Kemarilah !!" James langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Tolong berjanjilah jangan lakukan hal bahaya lagi karena aku bisa gila jika terjadi apa-apa denganmu." ucapnya seraya mengusap lembut punggung istrinya itu.
"Hm, aku berjanji." sahut Anne seraya semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" imbuhnya memberanikan diri.
"Katakan !!"
"Kenapa kamu tak terkejut saat aku memberitahukan jika nona Jennifer itu adik kandung tuan Marco ?" ucap Anne penasaran, sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka bertiga sebelumnya.