Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~77


Merry langsung terduduk di kursi, gadis itu nampak syok saat mengetahui suaminya adalah pelaku pembantaian kedua orang tuanya.


Seketika ingatannya kembali ke peristiwa di mansionnya waktu itu.


Ia dengan jelas telah melihat James dan beberapa pria menodongkan senjatanya ke arah kedua orang tuanya dan bersamaan itu ia tak sadarkan diri karena seseorang telah membekapnya dari belakang.


"Ja-jadi, William pelakunya ?" ucapnya kemudian.


"Tentu saja, aku adalah orang kepercayaan ayahmu di kantor. Sebenarnya aku sengaja masuk kampus ini untuk melindungi dirimu dari bajingan itu." sahut Artha mulai melancarkan rencananya.


Merry nampak menatap Artha dengan seksama, ia mengingat ayahnya pernah membawa seorang pria ke Mansionnya dan pria itu sedikit mirip dengan dosennya itu.


"Arthur." ucap Artha saat melihat Merry nampak terdiam menatapnya.


"Kau pasti mengingatku sebagai Arthur kan, karena beberapa bulan sebelum pembantaian itu ayahmu pernah membawaku ke Mansion kalian dan kita juga pernah bertemu di sebuah pantai saat kamu bersama William waktu itu." Artha mencoba menggali ingatan gadis di hadapannya itu.


"La-lalu kenapa kamu pura-pura tidak mengenaliku ?" tanya Merry tak mengerti.


"Karena aku tidak ingin kamu mendapatkan masalah dari William, tapi percayalah pria itu bukan pria baik untukmu. Dia sudah mencoba menghabisi nyawa orang tuamu." Arthur mulai mempengaruhi pikiran Merry.


"Tidak, itu tidak mungkin." Merry nampak tak mempercayai perkataan Arthur.


"Ayahmu masih hidup dan William pun tahu apa dia tak mengatakan padamu ?" terang Arthur kemudian yang langsung membuat Merry mengangkat wajahnya menatap pria itu.


"Benarkah ?" ucapnya kemudian.


"Ayah dan ibumu berada di luar negeri saat ini bersama dengan saudara angkatmu yang lain." sahut Arthur meyakinkan.


"Benarkah? bagaimana keadaan mereka sekarang ?" mohon Merry dengan tak sabar.


"Mereka sedang koma." Arthur menunjukkan sebuah foto yang ia dapatkan dari Alex sebelumnya.


"Daddy, Mommy." Merry terisak saat melihat keadaan kedua orangtuanya yang nampak tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


"Tolong bawa aku ke sana sekarang." mohon Merry kemudian.


"Tentu, tentu saja." sahut Artha dengan wajah penuh kemenangan.


Sementara itu di tempat lain William nampak menggebrak meja kerjanya saat baru saja mendapatkan informasi mengenai pria yang bernama Artha yang di sebut oleh istrinya beberapa hari lalu.


Ia tak menyangka Arthur begitu lihai memalsukan identitasnya lalu masuk ke dalam kampus istrinya sebagai seorang pengajar.


"Istriku dalam bahaya, James." William segera meninggalkan ruangannya namun saat akan membuka pintunya tiba-tiba seseorang yang tidak ingin ia lihat kehadirannya tiba-tiba kini muncul di hadapannya.


"Tuan Martin." ucapnya saat melihat Martin dan Alex berjalan mendekatinya.


"Di mana putriku ?" tanya Martin to the point dengan wajah geram, sepertinya pria itu belum terlalu sehat. wajahnya sedikit pucat, tapi auranya tetap saja mengerikan bagi orang yang melihatnya.


"Sudah tak ada waktu untuk menjelaskan, istriku sedang dalam bahaya." sahut William.


"Apa maksudmu ?" Martin nampak memicing menatap William.


"Merry sedang bersama Arthur di kampus saat ini." terang William yang langsung membuat Martin memicing.


"Lex, segera kerahkan anak buah kita sekarang juga !!" perintah Martin pada putra angkatnya itu.


"Baik, Dad." Alex segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang seraya melangkah mengikuti William dan juga Martin.


"Setelah ini kau harus memberikan penjelasan padaku !!" ucap Martin saat William akan masuk ke dalam mobilnya.


William tak menjawabnya, pria itu segera masuk ke dalam mobilnya lalu memerintahkan James untuk segera mengemudikannya.


"Jadi William sudah menikahi putriku dengan paksa ?" gumam Martin setelah Alex melajukan mobilnya.


"Ini tidak bisa di biarkan." imbuhnya lagi.


"Tenanglah Dad, Daddy belum sepenuhnya sembuh jadi jangan terlalu banyak berpikir." mohon Alex mengingat ayahnya itu baru saja bangun dari komanya.


Beberapa hari sebelumnya Alex yang baru mendapatkan kabar jika ayahnya sudah bangun dari koma segera kembali ke Indonesia.


"Di mana putriku ?"


Itu adalah kata pertama yang di ucapkan Martin saat melihat kedatangan Alex.


"Apa kamu sudah bertemu dengan William ?" tanya Martin kemudian.


"Tuan William sangat sulit di jangkau, pria itu mempunyai standar keamanan yang sangat tinggi." terang Alex.


"Aku yang akan menemuinya, aku yakin putriku ada bersamanya saat ini." tegas Martin.


Keesokan harinya Martin dan Alex segera terbang menuju California di mana William tinggal.


Dan di sinilah mereka saat ini, di kantor William namun pria itu justru memberikan kabar kurang baik karena Merry sedang dalam bahaya saat ini.


Seketika ingatan Martin tertuju pada pembantaian di rumahnya waktu itu.


"Kenapa kamu tega lakukan ini padaku, Arthur ?" Martin nampak murka saat mengetahui orang kepercayaannya itu telah menipunya.


Pria itu beberapa kali telah melakukan sabotase proyek milik William dengan mengatasnamakan perusahaannya padahal keuntungan sepenuhnya Arthur yang menikmatinya sendiri.


"Kenapa kau pelit sekali padaku ?" protes Arthur.


"Tapi bukan seperti itu caranya, bukannya kamu sudah tahu aku tidak ingin berhubungan dengan William lagi." tegur Martin.


"Persetan dengan semuanya dan sepertinya lebih baik kamu dan seluruh keluargamu pergi ke neraka saja." Arthur tiba-tiba mengangkat senjatanya ke arah Martin dan bersamaan itu beberapa anak buah Martin pun ikut mengangkat senjatanya ke arah pria itu juga.


"Apa-apaan kalian ?" Martin tak percaya saat orang-orang kepercayaannya tiba-tiba menghianatinya dan berbalik mendukung Arthur.


"Sayang, kau baik-baik saja ?" Sera yang baru keluar dari kamarnya langsung berlari ke ruang tamunya di mana sang suami akan di eksekusi oleh Arthur dan beberapa pengawalnya yang selama ini ia tahu sangat setia pada suaminya itu namun kini telah berhianat.


"Pergilah dari sini dan selamatkan anak-anak !!" perintah Martin saat Sera mendatanginya dengan histeris.


"Tidak, aku tidak mau." tolak Sera, wanita itu justru memeluk suaminya itu dengan erat.


Melihat sepasang suami istri yang sedang terpojok itu Arthur nampak tersenyum menyeringai, akhirnya hari yang ia tunggu telah tiba.


Melenyapkan nyawa Martin dan menguasai seluruh harta kekayaannya yang selama ini ia impikan.


Saat Arthur dan beberapa anak buahnya siap menembak Martin dan istrinya tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam mansion tersebut.


"Hentikan !!" teriak James seraya mengangkat senjatanya juga bersama beberapa anak buahnya.


Tadinya William yang akan melakukan sebuah kerja sama dengan koleganya tiba-tiba murka saat mengetahui lagi-lagi perusahaan Martin menyabotase proyeknya.


Akhirnya pria itu mengambil sikap lalu mendatangi Mansion Martin untuk meminta pertanggungjawaban, namun tanpa ia duga di dalam mansion tersebut terjadi sebuah perdebatan sengit.


William yang tiba-tiba mengkhawatirkan keadaan Merry, langsung memerintahkan James untuk membantu Martin dan ia menunggu di luar karena saat itu Merry pasti sedang dalam perjalanan pulang.


Dengan waspada James langsung mendekati Martin dengan senjata masih ia arahkan ke Arthur maupun anak buahnya.


"Terlambat." ucap Arthur dengan tersenyum menyeringai seraya melepaskan tembakannya ke arah Martin dan Sera.


Melihat Martin dan istrinya tertembak James murka lalu menembak semua anak buah Arthur tetapi dengan cepat Arthur langsung melarikan diri dari sana.


"Dad, kita sudah sampai." ucap Alex saat baru menghentikan mobilnya di kampus Merry dan sontak membuyarkan lamunan Martin.


"Hm, cepat kejar William jangan sampai dia membawa putriku pergi !!" perintah Martin saat melihat William sudah terlebih dahulu keluar dari dalam mobilnya.


Kini mereka segera pergi menuju kelas Merry, namun sesampainya di sana kelas sudah kosong.


"Apa kalian sudah bosan hidup ?" William nampak murka pada Dalle dan Dallas saat kedua anak buahnya itu tak mengetahui keberadaan sang istri.


"Maaf tuan, nyonya selalu memerintahkan kami untuk menunggu beliau di gerbang kampus." terang Dallas dengan wajah bersalahnya.


"Nona, apa kau melihat nona Merry ?" tanya James saat beberapa mahasiswa melewatinya.


"Merry Smith kelas bisnis ?" tanya balik gadis itu.


"Benar." sahut James.


"Sepertinya sudah pergi bersama pak Artha beberapa menit yang lalu." sahut gadis tersebut.


"Damn !!" umpat William kemudian.