Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~316


Marco Anderson



Di sebuah ruang kerja yang tak terlalu luas nampak seorang pria melemparkan sebuah kertas ke atas meja, kertas berlambang logo salah satu rumah sakit itu terbengkalai begitu saja saat sang pemilik begitu syok dengan hasil catatan medisnya.


"Tuan, masih ada cara lain untuk anda mendapatkan seorang anak yaitu dengan cara mengadopsi." saran sang asisten dengan sedikit ragu serta ketakutan.


"Kamu pikir itu mudah? tak ada yang lebih berarti daripada darah daging sendiri." geram Marco, ia tak menyangka jika di vonis mandul oleh dokter setelah sebelumnya melakukan serangkaian pemeriksaan.


Di usianya yang semakin dewasa pria itu mulai memikirkan seorang keturunan namun takdir pun berkata lain dan kini ia nampak begitu frustasi.


Apa ini sebuah Karma atas perbuatannya? selama ini ia lebih memilih menjalankan bisnis gelapnya untuk mencapai kesuksesan dengan jalan pintas dan tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani menghalanginya.


"Siapkan penerbangan, aku ingin menemui dokter terbaik yang mampu menyelesaikan masalahku !!" perintahnya kemudian, sepertinya pria itu masih tak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter di negaranya hingga ia ingin melakukan pemeriksaan di luar negeri.


Beberapa saat kemudian sesampainya di Bandara Marco tak sengaja melihat wanita yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya bahkan mungkin takkan terganti oleh siapapun di dunia ini.


"Hai." sapanya kemudian.


Anne yang sedang mendorong kereta bayinya langsung terkejut lantas mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang suami, karena pria itu pasti akan marah jika melihatnya sedang berbicara dengan Marco.


"Hai." balas Anne kemudian.


"Sendirian ?" tanya Marco seraya melirik ke arah bodyguard wanita itu yang berdiri tak jauh dari sana.


"Tidak, aku sedang bersama suamiku." timpal Anne kemudian.


"Perutmu semakin membesar An, ku rasa itu tak lama lagi." Marco nampak menatap perut Anne yang membesar.


"Hm, perkiraan satu bulan lagi. Bagaimana kabarmu? ku harap kamu bukan orang yang berada di belakang musibah yang di alami oleh tuan Alex, karena jika itu benar aku sungguh kecewa padamu." ucap Anne seraya menatap lekat pria itu.


"Aku tak sepicik itu An, percayalah bukan aku pelakunya." tegas Marco kemudian.


Ehmm


Tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat Anne maupun Marco langsung menoleh ke sumber suara.


"Apa tak ada satupun wanita yang menyukaimu hingga membuatmu harus terus-menerus menganggu istriku, tuan Marco Anderson ?" cibir James seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dengan begitu posesif, bahkan saking eratnya Anne merasa sedikit tidak nyaman.


Kentara sekali suaminya itu sedang menahan emosinya dan ia harus melakukan sesuatu agar tak terjadi pertengkaran di antara mereka.


"Marc, sepertinya kami harus segera pergi." sela Anne seraya menarik tangan suaminya itu menjauh.


Sementara Marco yang di tinggal begitu saja nampak tersenyum sinis, namun wajahnya langsung datar saat bocah kecil yang berada di dalam kereta yang sedang di dorong oleh ibunya itu tiba-tiba menoleh ke belakang lalu menatapnya.


Bocah kecil itu nampak tersenyum seakan memberikan semangat padanya agar tidak terlalu mengambil hati perkataan sang ayah.


"Sofia." gumamnya.


"Andai saja kamu putriku, Nak." imbuhnya lagi seraya menatap kepergian mereka yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Tuan, penerbangan anda sebentar lagi akan take off." sang asisten mengingatkan yang langsung membuat Marco mengangguk kecil lantas segera pergi dari sana.


Sementara Anne yang kini berada di dalan mobilnya nampak menegur James karena selalu menunjukkan sikap permusuhan pada Marco padahal pria itu tak berbuat apapun yang merugikannya.


"Tolong lain kali bersikaplah lebih tenang pada tuan Marco, dia hanya ingin menyapa kita tidak lebih." ucapnya menasihati.


"Tenang bukan keahlianku sayang, lagipula dia ingin mengincar milikku apa aku harus diam saja ?" timpal James dari kursinya.


Anne nampak menghela napasnya sejenak sebelum kembali membuka suaranya. "Bahkan perutku sudah sebesar ini dan tubuhku tak sebagus dulu jadi siapa juga yang akan tertarik, lagipula masih banyak gadis lajang di luaran sana yang tertarik dengan tuan Marco." ucapnya kemudian.


"Tolong jangan lakukan itu, kamu sudah berjanji akan meninggalkan dunia hitam itu kan? ku mohon demi kedua putri kita." timpalnya dengan nada memohon seraya mengusap perutnya yang membuncit.


"Lihatlah, dia bergerak." imbuhnya seraya menarik tangan suaminya itu untuk memegang perutnya.


"Sepertinya dia lebih lincah dari Jeslin, sayang." James langsung menurunkan wajahnya lalu mengecup perut istrinya tersebut.


Sementara itu di tempat lain, Elsa yang kini telah tinggal di sebuah Apartemen yang lebih besar dan mewah bersama suami dan putranya tersebut nampak melotot tak percaya saat melihat notifikasi di emailnya.


"Apa yang terjadi ?" timpal Alex yang nampak memeluk wanita itu dari belakang.


"Lihatlah, aku di terima bekerja." ucapnya seraya menunjukkan sebuah pesan di emailnya.


"Bekerja ?" Alex langsung memutar tubuh istrinya itu agar menghadapnya.


"Tentu saja bekerja, bukankah sebelum menikah aku pernah mengatakan padamu jika aku memasukkan beberapa lamaran." terang Elsa dengan antusias, namun tanpa ia tahu suaminya itu nampak menahan emosinya.


"Apa uangku kurang buatmu ?" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya.


"Ten-tentu saja tidak sayang, bahkan uangmu mampu untuk membeli perusahaan tempatku bekerja saat ini. Tapi kamu tahukan aku sangat menyukai bekerja, aku tidak bisa diam saja di rumah menunggumu pulang itu pasti sangat membosankan." bujuk Elsa, ia tidaklah kekurangan uang namun keadaan lah yang telah merubah prinsipnya agar tidak ketergantungan pada siapapun.


"Apa perusahaan itu bagus ?" tanya Alex kemudian.


"Hm, tentu saja. Aku akan sekantor dengan Lisa, aku akan membawahi beberapa mahasiswa magang dan aku akan membagi ilmuku pada mereka." terang Elsa dengan sangat bersemangat dan itu membuat Alex tidak tega jika harus melarangnya.


"Apa labanya besar ?" tanyanya ingin tahu.


"Hm, tentu saja. Dulu aku pernah bekerja sama dengan mereka." sahut Elsa.


"Apa semua karyawannya bekerja dengan rajin dan apa pendapatan mereka juga sesuai ?" tanya Alex lagi dan itu membuat Elsa langsung menatapnya.


"Astaga." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa ?" Alex langsung mengangkat sudut bibirnya.


"Jangan bilang kamu ingin membeli perusahaan itu ?" sinis Elsa kemudian.


"Kenapa memangnya? ku rasa bidang fashion lumayan menjanjikan." timpal Alex dan langsung di sela oleh istrinya tersebut.


"Kamu tidak bisa lakukan itu, tolong jangan mencampuri pekerjaanku." ucapnya tak terima.


"Jadi kamu keberatan ?" Alex langsung menaikkan sebelah alisnya menggoda istrinya itu.


"Tentu saja tuan crazy rich aku sangat keberatan." Elsa nampak menekankan kata-katanya.


"Alasannya ?"


"Karena kamu akan menjadi bosku." sahut Elsa kemudian.


"Lebih tepatnya atasannya atasan bosmu." timpal Alex.


"Dan dia sangat menjengkelkan karena tidur dengan karyawannya sendiri." sela Elsa seraya berlalu pergi namun pria itu langsung menahan lengannya.


"Dan atasannya atasan bosmu sedang menginginmu sekarang juga." lirih Alex lantas m3lum4t bibir istrinya itu dengan sedikit rakus dan menuntut.


.


Beberapa part lagi ending ya guys, kita bahas sedikit kisah Marco yang mungkin akan berhubungan dengan novel baru nanti.