Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~302


⚠️Attention !! bukan area bocil tolong melipir dulu🙅


"Kamu menolakku ?" ucap Elsa dengan wajah kecewa, di saat ia telah membuka hatinya tapi pria itu justru nampak ragu.


Namun Alex langsung menggeleng cepat. "Kamu dan Axel adalah hidupku, jadi bagaimana mungkin hal yang telah lama ku nanti ku biarkan pergi lagi." ucapnya meyakinkan.


"Tapi nyatanya kamu menyuruhku pergi." Elsa langsung mencebikkan bibirnya dan itu membuat Alex nampak tersenyum kecil, namun saat merasakan tubuhnya yang tak karuan pria itu kembali mendesah kesal.


"Sepertinya Lucy telah mencampur minumanku dengan obat perangsang." ucapnya yang langsung membuat Elsa melebarkan matanya.


"Benarkah ?" ucapnya dengan wajah tak percaya, bagaimana mungkin wanita itu melakukan hal licik seperti itu.


Pantas sejak tadi ia memperhatikan wajah pria itu memerah seakan sedang menahan amarah dan butiran keringat pun nampak membasahi dahinya, pasti rasanya sangat tersiksa sekali.


Kemudian Elsa nampak mengangkat sudut bibirnya lantas mengulurkan tangannya untuk menyentuh dada bidang pria itu.


"El !!" Alex langsung mendesah kecil.


"Apa kamu tahu, kadang aku sangat iri saat kau memanggil Axel dengan sebutan sayang padahal kita berdua sama-sama berharga dalam hidupmu." ucap Elsa seraya mengusap lembut dada bidang pria itu yang langsung membuat Alex tertawa kecil.


"Jadi selama ini kamu menahan cemburu pada putramu sendiri, hm ?" cibirnya lalu menahan tangan wanita itu saat hendak melepaskan kancing kemejanya.


"Jangan main-main denganku El. Jika tidak, aku mungkin tidak akan bisa berhenti." ucapnya memperingatkan.


"Maka dari itu jangan pernah berhenti." timpal Elsa menggoda seraya menjauhkan tangan pria itu yang mencoba mencegahnya untuk melepaskan kancing kemejanya.


Setelah kancing pria itu terlepas semua Elsa langsung melepaskan kemejanya lalu meletakkannya di atas sofa.


"Kau benar-benar membuatku menjadi gila." Alex segera menahan tengkuk wanita itu lalu m3lum4t bibir tipisnya dengan tak sabar, namun....


"Aarrgghh." Elsa langsung berteriak kesakitan saat merasakan nyeri pada bekas luka di sudut bibirnya.


"Maafkan aku." Alex nampak merasa bersalah.


"Tidak apa-apa jika kamu melakukannya dengan lembut." Elsa sedikit terkekeh dengan reaksi pria itu.


"Aku akan berusaha." Alex kembali mencium bibir wanita itu namun kali ini dengan sangat lembut, lalu ciumannya mulai turun ke lehernya karena tak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.


"Apa begini lebih baik ?" ucap Alex seraya mengecupi leher putih wanita itu.


"Aku sangat merindukan sentuhanmu itu, tuan Alex." timpal Elsa di tengah rasa geli akibat perbuatan pria itu.


"Tapi harga dirimu terlalu tinggi." ucap Alex seraya mengangkat tubuh wanita itu tiba-tiba lalu mendudukkannya di atas meja kerjanya.


"Bukankah itu hal yang harus di lakukan oleh seorang wanita ?" timpal Elsa kemudian.


"Hm, kau benar. Apa ini sangat sakit ?" Alex kembali membelai pipi memar wanita itu dengan sangat lembut.


Elsa menggeleng kecil. "Lebih sakit dirimu saat ini." ucapnya saat melihat pria itu sedang menahan sesuatu yang menyiksanya dengan brutal.


"Aku takut menyakitimu, kamu sedang terluka." timpal Alex kemudian.


"Tapi aku baik-baik saja tuan Alex, kau bisa menciumku di manapun selain bibirku tentunya." Elsa mencoba meyakinkan.


"Kau benar." Alex langsung tersenyum licik lantas segera menarik pakaian wanita itu dan melemparnya ke sembarang arah dan itu membuat Elsa nampak terkekeh, sungguh tak sabaran sekali pria itu.


"Aku sungguh sangat merindukan ini." Alex langsung m3lum4t puncak bongkahan kenyal milik wanita itu yang nampak menonjol setelah ia melepaskan penutupnya dan lagi-lagi melemparnya ke lantai.


"Ahhh, kau akan membuat lantai kantormu berantakan oleh barang pribadiku tuan Alex." ucap Elsa di tengah d3s4h4nnya.


"Aku tak peduli bahkan aku ingin kita bercinta di setiap sudut kantor ini." timpal Alex sembari menurunkan ciumannya semakin ke bawah dan kini berhenti tepat di depan milik wanita itu yang masih tertutup oleh kain berbentuk segitiga itu.


"Kau sangat basah." ucapnya setelah mengulurkan tangannya untuk membelainya hingga membuat wanita itu langsung mendesah.


Kemudian Alex segera menarik kain segitiga tersebut lantas menahan kaki wanita itu saat hendak di rapatkan.


"Jangan melihatnya seperti itu." ucap Elsa dengan wajah memerah karena pria itu menatap miliknya tanpa berkedip.


"Sangat indah dan aku juga sangat merindukannya." puji Alex lalu segera menenggelamkan wajahnya di sana dan itu membuat Elsa langsung mendesah frustasi.


Wanita itu nampak mencengkeram ujung meja seiring badai pelepasan hendak menyerangkan.


Namun tiba-tiba Alex menghentikan aksinya dan itu membuat Elsa langsung kecewa, pria itu kembali bangkit lalu segera melepaskan sisa kain yang menempel di badannya.


"Kau mempermainkanku." protes Elsa dengan wajah memerah.


"Tidak, aku akan memberikannya sebanyak yang kamu mau. Sepanjang malam hingga kamu merasa lelah dan tertidur." timpal Alex seraya memposisikan miliknya di depan milik wanita itu.


"Ahh." Elsa langsung mengerang saat Alex tiba-tiba menghentak tubuhnya dengan kuat, begitu juga dengan pria itu yang nampak meracau saat miliknya sudah terbenam sepenuhnya di dalam sana.


Mendiamkan sebentar seraya merasakan miliknya seperti di cengkeram dengan kuat oleh milik wanita itu, benar-benar sangat nikmat.


Kemudian Alex kembali menyusuri leher putih wanita itu dengan kecupannya lalu tubuh bagian bawahnya mulai bergerak menghujam dengan seirama.


"Ahh, tuan Alex." Elsa kembali mengerang seiring dengan hentakan pria itu yang semakin dalam dan kuat, hingga membuat tubuhnya seketika menegang lantas sesuatu yang ia nanti sejak tadi akhirnya terlepaskan juga.


Mendapati Elsa sudah mendapatkan pelepasannya, Alex nampak menghentikan hujumannya dan memberikan wanita itu jeda sejenak untuk menikmati sensasinya tanpa ia mencabut miliknya di dalam sana.


Lalu pria itu m3r3m4s bongkahan kenyal milik wanita itu lalu m3lum4t puncaknya yang semakin menonjol dan keras bergantian.


Dan itu membuat Elsa semakin frustasi di buatnya, wanita itu nampak m3r3m4s rambut pria itu dengan d3s4h4n yang begitu seksi terdengar di telinga Alex.


"Ahh, tuan Alex." Elsa langsung berteriak saat tiba-tiba tubuhnya di angkat oleh pria itu dengan posisi milik mereka yang masih belum terlepas.


Kemudian Alex membawa wanita itu lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa lantas kembali menghentaknya dengan kuat.


Malam itu mereka melakukannya di setiap sudut kantornya tersebut dan berakhir di sebuah kamar milik pria itu yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah." ucapnya dini hari itu setelah ia merasa puas telah membuat wanita itu tak berdaya.


"Maafkan aku, apa kamu merasa kesakitan ?" imbuhnya lagi dengan wajah bersalah, namun Elsa yang sudah tak memiliki tenaga lagi nampak menggeleng kecil dengan mata terpejam.


Bibirnya mengulas senyum menandakan jika wanita itu sangat puas seperti halnya dirinya.


"Aku mencintaimu El, sangat mencintaimu." ucap Alex seraya mengecup bibir wanita itu sekilas lantas membawanya ke dalam pelukannya.


Keesokan harinya.....


Pagi itu Elsa nampak mengerjapkan matanya dan merasakan pelukan erat di tubuhnya, lantas ia mendongakkan wajahnya untuk menatap pria yang masih terlelap tidur itu.


Elsa langsung tersenyum kecil, namun senyumnya kembali memudar saat memikirkan sesuatu. Kemudian wanita itu segera meraih ponselnya di atas nakas.


"Sam, bagaimana keadaan Axel ?" ketiknya lantas mengirimnya pada mantan asistennya itu dan tak berapa lama terdengar notifikasi di ponselnya.


"Sudah sangat sehat nona, semalam tuan Jack juga ikut menemaninya di sini dan sekarang dia sedang di buatkan sarapan oleh pria berwajah garang itu."


Elsa nampak tersenyum kecil saat membaca balasan dari Sam, kemudian wanita itu kembali membalas pesannya.


"Sam, bisakah setelah ini kamu belikan aku beberapa obat kontrasepsi dan letakkan di kamarku ?" ketiknya lalu segera mengirimnya.


Setelah itu Elsa kembali menatap Alex. "Maafkan aku." gumamnya seraya menatap pria itu dengan dalam.