Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~195


Sesampainya di rumahnya Anne nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat yang sudah ia tinggali selama beberapa bulan itu.


Meski awalnya enggan tinggal di rumah itu, namun dengan berjalannya waktu Anne merasa sangat betah seiring dengan membaiknya hubungannya dengan sang suami.


Mungkin hubungan keduanya sangat rumit tapi akhir-akhir ini Anne merasa sangat di sayangi oleh pria itu.


Ting


Tiba-tiba terdengar sebuah pesan masuk yang langsung membuatnya merogoh ponselnya di dalam tasnya, kemudian ia segera membuka pesan tersebut.


Di sana nampak foto seorang bayi yang sangat mungil penuh dengan alat medis di tubuhnya.


"Lihatlah bayi tak berdosa korban keegoisanmu itu, harus berjuang hidup di usianya yang belum sempurna."


Anne nampak tersenyum sinis, ia yang tak tahu apa-apa kenapa harus di salahkan? bukankah ia juga seorang korban?


Anne langsung mematikan ponselnya lalu bergegas menaiki anak tangga, mengedarkan pandangannya ke kamar yang akhir-akhir ini menjadi tempatnya beristirahat.


Kamar yang dahulu terlarang baginya kini justru ia yang banyak menguasainya, lihatlah barang-barang di sana lebih banyak miliknya.


Kamar yang dulu terlihat sangat manly khas kamar seorang pria, kini justru nampak lebih lembut karena beberapa vas bunga ia letakkan di sana.


Anne nampak menghela napasnya dan ia pasti akan sangat merindukan kamar ini dan sang pemiliknya, lalu wanita itu segera mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di sana.


Aku pergi bukan karena ingin meninggalkan mu, tapi aku butuh tempat untuk menenangkan diri dari segala kerumitan ini. Terima kasih atas kisah kita yang singkat ini, jika kamu merindukan ku kamu tahu aku berada di mana.


Anne meletakkan kertas tersebut di atas nakas, kemudian ia segera mengambil koper miliknya lalu memasukkan beberapa pakaian dan tak lupa dokumen pribadinya.


Sementara itu di tempat lain James yang memaksa untuk pergi melihat bayinya akhirnya di izinkan oleh sang dokter yang merawat luka-lukanya, dengan tubuh masih lemah pria itu nampak menatap putri kecilnya yang berada di dalam inkubator yang penuh dengan alat medis menempel di badannya.


"Bertahanlah Nak ada Daddy di sini, kamu harus kuat. Kamu lihat Daddy juga sangat kuat, Daddy juga tidak merasa sakit. Kamu juga seperti Daddy ya." ujar James dengan menempelkan tangannya di kaca inkubator.


Hampir 30 menit James tak lelah berbicara dengan putrinya tersebut, namun bukannya lebih baik bayi yang baru beberapa jam di lahirkan itu justru semakin lemah detak jantungnya.


"Tuan, tolong keluarlah dulu kami harus segera menangani pasien karena detak jantungnya turun drastis." ujar sang dokter yang nampak terkejut dengan reaksi tiba-tiba bayi tersebut.


"Saya ingin di sini saja, biarkan saya menemaninya dok." keukeh James tak ingin pergi.


"Tuan tolong jangan mempersulit kami." mohon dokter tersebut.


"Cepat kerjakan tugasmu dok atau rumah sakit ini akan ku ratakan dengan tanah !!" ancam James tak main-main yang langsung membuat dokter dan beberapa perawat di sana langsung memucat.


"Baik Tuan tapi tolong duduklah dengan tenang." ucapnya lalu segera menangani bayi tersebut.


Hingga tiga puluh menit kemudian nyawa bayi tersebut tidak dapat tertolong setelah berbagai upaya dari sang dokter.


"Maafkan kami, tuan." ucapnya dengan wajah bersalah, seakan pasrah akan kemarahan pria itu.


"Ini semua gara-gara wanita si4l4n itu, aku bersumpah dia harus menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya."


James langsung memeluk bayi mungilnya, bayi tak berdosa yang menanggung kesalahan dari kedua orang tuanya itu. "Maafkan Daddy, nak." gumamnya dan bersamaan itu tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan bayi tersebut.


"Anakku, ada apa dengan anakku dokter ?" teriak Grace saat melihat putri kecilnya berada dalam pelukan James.


Mendengar teriakan histeris Grace, James langsung naik pitam. Pria itu segera menyerahkan jasad bayinya pada sang dokter kemudian menarik tangan mantan istrinya itu keluar dari sana.


"James, ku mohon lepaskan aku ingin melihat bayiku ?" mohon Grace di sela langkahnya mengikuti pria itu.


"Masih punya muka kamu untuk melihatnya hah? kamu adalah seorang ibu pembunuh. Aku takkan membiarkan mu melihatnya meski untuk terakhir kalinya." James langsung menghempaskan wanita itu hingga terjatuh ke lantai lalu meninggalkan wanita yang masih lemah selepas melahirkan itu begitu saja.


Melihat kepergian James, Grace nampak mengepalkan tangannya. Ia sudah kehilangan segalanya dan ia tak ingin melihat mantan suaminya itu bahagia dengan wanita lain.


"Bangunlah, bukan saatnya untuk menyesali semuanya." tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya ke hadapan Grace yang membuat wanita itu langsung mendongak ke atas untuk melihatnya.


"Mommy." ucapnya saat melihat sang ibu mengulurkan tangannya.


"Bangunlah, kamu tidak ingin melihat wanita itu bahagiakan? ayo kita mulai susun rencana untuk melenyapkannya." tegas nyonya Barbara dengan seringaian jahatnya yang langsung di angguki oleh putrinya tersebut.


"Kubur saja dalam-dalam rencana kalian itu."


Tiba-tiba suara bariton seseorang terdengar menggelegar di lorong rumah sakit hingga membuat nyonya Barbara maupun Grace langsung menoleh.


"Will-William ?" Nyonya Barbara nampak menelan ludahnya, setelah sekian tahun akhirnya ia kembali bertemu dengan mantan anak tirinya tersebut.


"Apa kabar ibu tiri ?" ucap William dengan tersenyum menyeringai.


"William, Nak? kau masih mengenaliku? syukurlah ibu sangat merindukanmu." Nyonya Barbara langsung mengulas senyum palsunya berharap mantan anak tirinya itu iba padanya.


"Tetap di sana jika tidak ingin kehilangan sebelah kakimu !!" perintah William yang sontak membuat nyonya Barbara urung melangkah, nada suara pria itu di penuhi dengan kebencian hingga membuatnya mendadak kaku.


"Will, maafkan ibu. Ibu sangat menyesal nak, lihatlah dia Will dia adikmu adik kandungmu." ucap nyonya Barbara seraya menatap ke arah Grace dan tentu saja itu membuat Grace langsung memaksakan senyumnya, tak apalah mereka berbohong dan semoga saja pria itu percaya.


"Adik ?" William langsung tertawa nyaring, bagaimana bisa wanita kurang ajar itu mengatakan jika wanita muda di hadapannya itu adalah adiknya.


Mungkin mantan ibu tirinya itu bisa membohongi James karena pria itu akan menjadi sangat bodoh jika sudah menyangkut kasih sayang seorang ibu meskipun itu palsu sekali pun.


Namun ia yang pernah tinggal bertahun-tahun dengan wanita itu tentu saja tahu watak liciknya, lagipula William telah menyelidiki masa lalu ibu tirinya itu dengan sang ayah.


Tak ada anak di antara mereka dan setelah ayahnya meninggal, wanita itu selalu menggoda suami orang seperti apa yang di lakukan pada sang ayah sampai beberapa tahun kemudian lahirlah Grace yang entah anak dari pria mana ia tak peduli.


"Jangan pernah membodohiku, karena setiap perkataan dari mulut kotormu itu adalah sampah bagiku." ucap William kemudian, tangannya nampak mengepal saat mengingat bagaimana sang ibu menghabisi nyawanya sendiri juga karena wanita itu.


"Ibu menyesal Will, tolong maafkan ibu." Nyonya Barbara langsung mengajak Grace untuk bersimpuh saat melihat kemarahan di mata mantan anak tirinya tersebut.


"Tolong maafkan ibu nak, ibu sangat menyesal." ucapnya lagi.


"Jack, asingkan mereka ke suatu tempat di mana mereka akan merasa enggan untuk hidup !!" perintah William kemudian pada anak buahnya tersebut, lalu ia segera berlalu pergi dari sana.


"Tuan William ku mohon jangan lakukan itu." mohon nyonya Barbara dengan histeris.


Akhirnya wanita itu beserta sang putri langsung di bawah pergi oleh beberapa anak buah William dari sana, di bawa ke suatu tempat di mana mereka akan menyesali segala perbuatannya selama ini.


Keesokan harinya....


Setelah pemakaman sang putri kemarin James kembali di rawat di rumah sakit, bekas jahitan di lengannya kembali terbuka karena pria itu terlalu banyak beraktivitas.


"Mark, bagaimana kabar istriku ?" tanya James keesokan harinya setelah bangun dari tidurnya, sepertinya dokter sengaja memberikannya obat tidur agar ia bisa beristirahat semalaman hingga membuatnya tak sempat menghubungi sang istri.


"Saya sudah mengeceknya ke rumah tuan, namun sepertinya nyonya menguncinya dari dalam." terang Mark.


"Apa dia pergi ke kantor ?"


"Setelah mengetahui posisinya di ganti oleh nona Jennifer, nyonya memutuskan untuk resign tuan." sahut Mark kemudian.


"Dia pasti sangat marah, tapi harusnya dia akan senang jika ku jadikan asisten pribadiku." timpal James dengan tersenyum tipis, banyak sekali rencana licik untuk mengerjai wanita keras kepala itu saat menjadikannya sebagai asisten pribadinya nanti.


Tentu saja mengerjai dalam artian lain yang tentunya akan membuat hubungan mereka semakin dekat dan hangat.


"Ambilkan, ponselku Mark. Aku ingin melihat keadaan istriku, dokter benar-benar membuatku tidur panjang hingga tak sempat menghubunginya." gerutu James lalu mengulurkan tangannya meminta ponselnya.


Pria itu ingin melihat istrinya melalui cctv yang ia pasang di setiap sudut rumahnya.