
"Ada sesuatu lagi untukmu." William nampak menyerahkan sesuatu pada istrinya itu, kini mereka tak lagi berada di meja makan tadi namun sudah memasuki ruangan lain yang tak lain adalah sebuah kamar dengan ranjang berukuran king size di dalamnya.
"Ini apa ?" Merry yang memilih duduk di sofa panjang nampak menatap sebuah kotak hadiah lagi, besarnya dan beratnya juga sama seperti sebelumnya.
"Bukalah !!" perintah William seraya mengulurkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut wanita itu di belakang telinganya.
"Ini ?" Merry langsung membola saat melihat sebuah surat kepemilikan perusahaan milik ayahnya yang sebelumnya telah jatuh ke tangan keluarga Alan.
"I-ini bagaimana bisa ?" Merry hampir saja menangis namun ia langsung terkekeh untuk menutupi keharuannya itu.
"Tentu saja bisa tapi...." William menjeda ucapannya kemudian mengambil surat-surat di tangan istrinya itu lalu kembali memasukkannya ke dalam kotak.
"Tapi apa ?" Merry langsung melotot saat suaminya itu mengambil kembali surat-surat tersebut darinya.
"Kamu tak boleh mengurus perusahaan itu lagi." sahut William dengan nada tegas.
"Iya aku tahu, aku bukan wanita hebat yang bisa mengurus perusahaan." timpal Merry yang membuat William nampak gemas lalu pria itu kembali duduk di sampingnya.
"Kamu wanita hebat yang pernah ku kenal namun mengelola perusahaan tidak hanya mengandalkan skill tapi juga nyali serta sedikit kelicikan dan aku tidak ingin kamu terlibat dalam hal itu." terang William memberikan pengertian.
"Kamu cukup menjadi istriku dan ibu yang baik buat anak-anak kita itu sudah cukup bagiku." sambungnya kemudian.
"Anak-anak ?" Merry langsung menelan ludahnya.
"Hm tentu saja Ariel pasti akan senang mempunyai banyak adik." sahut William tanpa perasaan yang langsung membuat Merry menggeleng cepat.
"Asal kamu tahu melahirkan itu sangat sakit." ucapnya beralasan, meskipun rasa sakit melahirkannya sudah mulai ia lupakan namun rasa sakit menjalani hari-harinya tanpa suami membuatnya sedikit trauma.
"Sakit banget ya ?" William menatap kasihan wanita itu.
"Hm." angguk Merry dengan yakin.
"Baiklah untuk sementara waktu kita bisa pakai pengaman lalu besok kita ke dokter." sahut William yang tentu saja membuat Merry segera beranjak dari duduknya, wanita itu langsung menatap waspada pada pria di hadapannya itu.
"Kau mau ngapain ?" tanyanya dengan curiga.
"Pertanyaan macam apa itu honey? kemarilah apa kau tidak merindukan ku hm ?" William yang heran dengan sikap wanita itu langsung saja menarik tangannya hingga kini wanita itu jatuh ke atas pangkuannya.
"Ten-tentu saja rindu." balas Merry dengan terbata-bata, rasanya sangat canggung untuk bermesraan setelah hampir 5 tahun mereka tak bersama meski jauh di lubuk hatinya ia juga merindukan sentuhan pria itu.
Apalagi kini wajah pria itu tepat berada di lehernya hingga napas hangatnya terasa menyapu kulitnya yang membuat bulu romanya seketika berdiri.
"Apa sebelumnya ada seseorang yang menyentuhmu ?" lirih William lalu mengangkat wajahnya menatap istrinya itu.
"Tidak ada." Merry langsung menggeleng.
"Tapi bajingan itu pernah menciummu." William nampak mengeraskan rahangnya saat mengingat bagaimana Alan mencium wanita itu saat mereka bertunangan waktu itu.
"I-itu tidak seperti yang kau pikirkan." Merry langsung menyangkal.
"Waktu itu hanya formalitas saja dan kita tak benar-benar berciuman." sahut Merry menjelaskan.
"Apa aku harus percaya ?" ucap William masih dengan pandangan datarnya menatap wanita itu.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi aku sendiri juga tidak yakin jika kamu tak pernah menyentuh Vivian atau wanita lainnya selama kita berpisah." balas Merry dengan menohok mengingat pria itu sangat mesum dan takkan tahan jika hasratnya tak terpenuhi, memikirkan hal itu Merry menjadi sesak sendiri rasanya tak rela jika ia harus berbagi tubuh dengan wanita lain.
"Jadi jangan menuduhku jika kau sendiri tak bisa menjaga tubuhmu." sambungnya lagi dan itu membuat seorang William semakin gemas.
"Sudah ngomongnya hm ?" ucapnya kemudian, tak ada raut kemarahan di wajahnya akibat tudingan wanita itu karena ia ingin membuat malam ini atau malam-malam selanjutnya hanya penuh dengan kebahagiaan.
"Aku tak pernah meniduri siapa pun sejak kita berpisah honey, setelah kau tak ada aku sudah tak mempunyai gairah lagi." sambungnya seraya menurunkan kedua tali gaun wanita itu yang ada di kedua pundaknya hingga kini gaun tersebut hampir melorot kalau saja Merry tak langsung menahannya dengan kedua tangannya.
"Apa aku harus percaya ?" Merry membalikkan ucapan pria itu.
"Aku tidak menuntutmu untuk percaya karena dari dulu kamu juga selalu meragukan ku bukan ?" sahut William yang kini nampak mengecupi bahu terbuka wanita itu hingga membuat bibir Merry mendesis nikmat tanpa ia sadari.
"Sepanjang hidupku aku hanya merindukan apa yang sudah menjadi takdirku." ungkap William seraya menatap wanita itu kemudian mendekatkan wajahnya lalu m3lum4t bibir tipis milik istrinya itu yang selalu menghiasi mimpinya setiap malam.
William nampak m3lum4tnya dengan lembut hingga membuat wanita itu mulai terbuai lalu membalas lum4t4nnya.
Saat kedua benda kenyal dan basah itu saling menyatu dan membelit satu sama lainnya, tangan William nampak merayap lalu menarik gaun istrinya yang sudah melorot.
Kini gundukan kenyal yang akhir-akhir ini hanya bisa ia intip dari balik pakaian wanita itu, sekarang kembali menjadi miliknya. Pria itu nampak m3r3m4snya dengan lembut hingga sang pemiliknya langsung mendesah tertahan.
Tak hanya m3r3m4snya namun kini ia juga memainkan puncaknya, memilinnya dan menariknya sedikit keras hingga membuat wanita itu semakin gelisah.
Tak ingin istrinya itu kehabisan oksigen, William segera menyudahi penyatuan bibirnya dan membiarkan wanita itu menghirup udara sebanyak yang dia mau.
Namun ia yang berada di puncak gairahnya tak membiarkan tubuh wanita itu nganggur begitu saja, ia langsung saja menyusuri leher putihnya dengan kecupan-kecupan kecilnya dan sesekali menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Ahhh Will." desis Merry saat tubuhnya hampir melayang karena sentuhan pria itu.
Lalu ia langsung mencengkeram rambut suaminya itu saat pria itu mulai menikmati puncak dadanya, mengulumnya layaknya bayi yang sedang kehausan.
"Ahhh Will please." racaunya seraya semakin menenggelamkan kepala pria itu di dadanya seiring sensasi yang di berikan padanya.
"Please apa honey ?" ucap William di tengah kulumannya.
"Cepat lakukan aku sudah tidak tahan." erang Merry karena tak hanya tubuh bagian atasnya saja yang di sentuh pria itu, namun miliknya di bawah sana yang sudah terasa lembab pun tak luput dari sentuhan jari-jari nakal pria itu hingga membuatnya kacau dan bisa berpikir jernih lagi.
"As you want, honey." sahut William lalu langsung membawanya ke atas ranjangnya dan membiarkan seluruh pakaian wanita itu berserakan di atas lantai.
.
Dah ya ngos-ngosan saya nulisnya campur mules pula😤😤🤣🤣🤣