Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~175


Pria bertubuh gempal itu langsung mengayunkan tangannya untuk memukul Anne yang sedang meronta, namun sebuah tangan kekar tiba-tiba mencekalnya lalu menghempaskannya begitu saja.


"Tu-tuan James ?" kedua pria itu nampak terkejut saat melihat kedatangan James yang tiba-tiba.


"Enyah dari hadapanku atau ku gali kuburan kalian di sini !!" gertak James dengan menatap nyalang kedua pria tersebut, di tangannya nampak sebuah senjata api yang siap menembus kepala mereka.


"Ba-baik tuan." kedua pria itu langsung berlari meninggalkan stasiun tersebut, melawan James tanpa persiapan sama saja dengan mengantarkan nyawa.


Mengingat senjata api yang pria itu gunakan adalah senjata api dengan teknologi tinggi yang bisa melenyapkan nyawanya hanya dengan sekali tembakan.


"Kamu baik-baik saja ?" ucap James seraya menatap istrinya yang terlihat ketakutan.


"Hm, terima kasih." Anne mengangguk kecil, sepertinya wanita itu masih terlihat syok dengan wajah yang memucat.


"Lain kali jangan ceroboh untuk pulang sendiri." ucap James, kemudian menarik tangan wanita itu lalu membawanya ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


"Mark tidak bisa menjemputku." timpal Anne lirih seraya mengikuti langkah panjang pria itu.


"Kamu mempunyai nomorku kenapa tidak menghubungiku ?" James menatap istrinya itu dengan wajah datar lalu membuka pintu mobil untuknya, sejenak hati Anne menghangat seiring dengan perhatian suaminya itu namun saat mengingat ucapan dua lelaki di kereta tadi ia langsung tersenyum sinis.


"Aku hanya tidak ingin mengganggumu." sahutnya, kemudian berlalu masuk ke dalam mobilnya.


Setelah memastikan istrinya duduk dengan benar James segera menutup pintunya, pria itu nampak mengedarkan pandangannya ke arah stasiun sebelum masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudinya.


Sepanjang perjalanan mereka nampak saling terdiam dengan pikiran masing-masing, Anne sedang memikirkan kebenaran tentang ucapan kedua pria tadi dan sepertinya ia harus segera mulai mencari tahu. Sementara James terlihat menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia harus segera kembali ke rumah sakit sebelum Grace terbangun.


James yang tadinya baru ingat jika Mark tak bisa menjemput istrinya itu, kemudian ia segera menghubungi security kantornya dan mendapatkan laporan jika wanita itu telah pulang.


Entah kenapa ia tiba-tiba mempunyai firasat kurang baik hingga membuatnya memutuskan untuk menjemput wanita itu di stasiun dekat dengan rumah mereka.


Ia bersyukur datang tepat waktu karena jika tidak, kedua anak buah Marco pasti sudah membawa wanita itu dan jika itu terjadi ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Mulai besok jangan kemana-mana jika tak ada Mark." ucap James setelah menghentikan mobilnya di depan gerbang rumahnya.


"Masuklah dan kunci semua pintu !!" ucapnya lagi.


"Kamu tidak masuk ?" tanya Anne saat pria itu tak beranjak dari kemudinya padahal hari mulai petang.


"Aku ada urusan di luar dan mungkin tidak pulang malam ini." sahut James yang langsung membuat Anne mengangguk kecil.


"Hm." ucapnya menanggapi, ia tahu suaminya itu pasti akan kembali ke rumah sakit untuk menemani kekasihnya itu, kemudian wanita itu segera turun dari mobilnya lalu melangkah masuk.


Setelah memastikan sang istri masuk ke dalam rumahnya, James segera menghubungi seseorang. "Hallo Mark, perintahkan anak buahmu untuk selalu mengawasi istriku. Entah kebetulan atau tidak tadi anak buah Marco ingin menculiknya di stasiun." perintahnya saat panggilannya tersambung.


"Benarkah tuan? apa tuan Marco sudah mengetahui jika nyonya Anne adalah istri anda ?"


"Aku tidak tahu Mark dan itu tugasmu untuk mencari tahu." sahut James.


"Baik tuan."


Setelah mengakhiri panggilannya, James menatap kembali rumahnya sejenak. Kemudian pria itu segera mengemudikan mobilnya meninggalkan kompleks perumahannya tersebut.


Sementara itu Anne yang baru datang nampak di sambut oleh pelayannya tersebut. "Selamat malam, nyonya ?" ucap Ester, wanita berusia 40 tahunan itu.


"Malam bik." balas Anne seraya melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Saya sudah membuatkan makan malam untuk anda, nyonya." ucap bik Ester hingga menghentikan langkah Anne.


"Saya juga sudah menyiapkan air hangat untuk anda." sambungnya lagi.


"Terima kasih." Anne mengulas senyum tipisnya.


"Apa anda perlu saya temani nyonya, saya bisa menginap di sini jika anda mau ?" tawar Bik Ester.


Anne menatap kesungguhan pelayannya tersebut, lalu pandangannya beralih ke arah kamar sang suami yang berada di lantai atas. Kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya. "Bibik pulang saja, anak-anak bibik pasti sudah menunggu di rumah." sahutnya kemudian.


Bik Ester mengangguk kecil. "Baik nyonya, jika ada apa-apa tolong hubungi saya atau tuan Mark." ucapnya kemudian.


"Ya, tentu saja. Saya sangat lelah dan ingin segera beristirahat." timpal Anne meyakinkan.


"Baiklah nyonya kalau begitu saya permisi." bik Ester segera berpamitan.


Setelah wanita itu pergi, Anne bergegas mengecek pintu dan juga jendela rumahnya dan tanpa sengaja wanita itu melihat sang pelayan sedang berbincang dengan beberapa pria di luar gerbang rumahnya dan tak lama kemudian wanita itu di jemput oleh sebuah mobil mewah.


"Siapa sebenarnya bik Ester ?" gumamnya, bagaimana bisa pelayannya itu mempunyai mobil mewah. Tak ingin memikirkan lebih lanjut, Anne segera menutup horden rumahnya tersebut.


Badannya yang terasa lengket membuatnya ingin segera mandi dan bergegas menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh sang pelayan.


Tak menunggu lama kini wanita itu telah berada di meja makan dengan masih memakai kimono mandi serta membungkus rambutnya dengan sebuah handuk.


Perutnya yang keroncongan membuatnya ingin cepat-cepat makan, karena tadi siang ia kurang berselera makan setelah mendengar gunjingan para teman-temannya di kantor.


Saat sedang mengunyah makanannya, tiba-tiba matanya nampak berkaca-kaca. Sungguh ia sangat merindukan kehangatan sebuah keluarga, semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi ia tak pernah merasakan itu lagi.


Hidupnya selalu kesepian dan saat ia sudah menikah pun ia merasa tetap sendirian, apa ia di takdirkan untuk selalu sendiri? ia mempunyai suami pun seperti tak mempunyai bahkan pria yang di sebut sebagai suami itu kini lebih memilih menemani wanita lain.


Anne tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, lalu wanita itu mulai terisak. Entah ia menangisi nasibnya yang selalu kesepian atau menangisi suaminya yang sedang bersama wanita lain.


Tadinya ia yang sedang lapar pun kini tiba-tiba tak berselera lagi dan lebih memilih menenggelamkan wajanya di atas meja.


Beberapa saat kemudian setelah merasa lebih baik Anne segera beranjak dari duduknya, lebih baik ia segera mengistirahatkan tubuhnya karena terus menerus menyesali takdirnya tetap tidak akan membuat hidupnya lebih baik.


Ketika hendak masuk ke dalam kamarnya, sejenak wanita itu menatap ke kamar suaminya yang berada di lantai atas dan tiba-tiba terbesit rasa penasaran akan kamar tersebut yang di nyatakan terlarang untuknya.


Setelah berpikir sejenak, Anne memberanikan diri menaiki anak tangga. Ia yakin suaminya itu tidak akan pulang malam ini dan ia akan mengambil kesempatan ini untuk memeriksa kamar pria itu.


Sebenarnya apa yang sedang pria itu sembunyikan darinya dan ia juga sangat penasaran dengan foto seorang wanita dengan sebuah gaun pernikahan terpatri di dinding kamar pria itu yang pernah ia lihat sebelumnya.


Apa pria itu pernah menikah sebelumnya? Entahlah, namun ia pernah mengecek berkas pernikahan mereka dan suaminya adalah seorang pria lajang tanpa terikat pernikahan dengan siapapun.