Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~114


"Siapa yang cemburu? terlalu percaya diri anda tuan William. Sekarang cepatlah antar Ariel ke kelas, nanti aku terlambat ke kantor lagi." Merry langsung mengalihkan pembicaraan.


William nampak menahan kekehannya, kemudian pria itu segera menyuruh sang putra untuk keluar dari dalam mobilnya.


"Jika sampai 10 menit kau tak kembali, aku akan menyusul." teriak Merry ketika mantan suaminya itu baru melangkah pergi, sepertinya hanya dia satu-satunya wanita yang berani berteriak pada pria itu.


Tentu saja Merry takkan membiarkan putra dan mantan suaminya itu berlama-lama dengan Vivian di dalam sana.


Selanjutnya wanita itu terus saja menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, entah kenapa waktu terasa begitu lambat bergerak.


Saat kesabarannya mulai habis, wanita itu segera membuka pintu mobilnya untuk menyusul namun William yang baru datang langsung menatapnya dengan tajam.


"Siapa yang menyuruhmu keluar ?" geramnya, apa wanita itu sengaja ingin memamerkan tubuhnya pada banyak orang pikirnya.


Merry nampak tak mempedulikan teguran pria itu namun ia justru sibuk mencari keberadaan Vivian yang tak terlihat di sekitar sana.


"Jangan mencari yang tidak ada." ucap William seakan tahu apa yang sedang di cari oleh wanita itu, kemudian pria itu kembali memerintahkannya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Apa setelah ini kamu akan ke kantor ?" tanya Merry menyelidik setelah mobil mereka melaju meninggalkan sekolahan tersebut.


"Tidak." sahut William yang masih fokus dengan jalanan di depannya itu.


"Langsung pulang ?" tanya Merry lagi, semoga saja pria itu tak kembali ke sekolah.


"Menunggu putraku sampai pulang sekolah mungkin." sahut William.


"Tidak bisa." teriak Merry yang langsung membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Memang kenapa ?" William nampak mengernyit.


"A-aku lapar, bisakah kita pergi makan dulu." sahut Merry beralasan, ia takkan membiarkan pria itu mengajak putranya pergi apalagi bersama wanita lain.


"Tentu saja aku juga lapar." sahut William yang langsung membuat wanita itu nampak lega, meski sebenarnya ia sudah sangat kenyang.


Karena sebelum pria itu datang ke rumahnya ia sudah sarapan dengan sang putra.


"Restoran seafood sepertinya enak." ucap Merry saat pria itu nampak kebingungan mencari restoran terdekat.


"Dengan pakaianmu seperti itu ?" cibir William dengan menatap sekilas wanita itu.


"Memang ada apa dengan pakaianku perasaan biasa saja." gerutu Merry dengan kesal, di luaran sana masih banyak wanita berpenampilan lebih seksi darinya tapi pria itu tak mempermasalahkannya.


Beberapa saat kemudian William nampak membelokkan mobilnya ke sebuah drive-thru resto di mana pembeli bisa mendapatkan makanan tanpa harus turun dari mobilnya.


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka telah selesai dan William menghentikan mobilnya di pinggir jalan agar mereka bisa makan.


"Cepat habiskan, Ariel sebentar lagi pulang." perintah William, mengingat putranya itu hanya bersekolah selama dua jam saja.


Pria itu juga nampak memakan burger yang telah ia pesan tadi.


Merry yang sebenarnya sudah kenyang pun terpaksa menghabiskan burger jumbo yang sama seperti pria itu.


Sementara itu di tempat lain, Anne yang sebelumnya mendapatkan pesan dari atasannya untuk menjemput Ariel kini nampak bersama bocah kecil itu.


"Aunty, mommy dan Daddy mana ?" tanya Ariel saat tak melihat keberadaan kedua orang tuanya menjemputnya.


"Mereka sedang sibuk bekerja sayang." sahut Anne.


"Tapi Daddy cudah janji mau ajak atu jayan-jayan." Ariel nampak kecewa.


Ehmm


Tiba-tiba seseorang berdehem nyaring hingga membuat Anne dan Ariel langsung menoleh ke sumber suara.


"Paman." panggil Ariel ketika melihat James berjalan mendekat.


"Hey boy, apa kamu baru pulang sekolah ?" tanya James kemudian.


"Daddy mana, Paman ?" bukannya menjawab Ariel balik bertanya.


"Sepertinya Daddy sedang banyak kerjaan, bagaimana kalau ikut Paman beli es krim saja." pungkas James yang langsung membuat bocah kecil itu bersorak senang.


"Tapi tuan, Bu Merry...."


"Ini perintah dari tuan William langsung." tegas James menatap Anne.


Anne nampak menghela napasnya, entah di mana nyonyanya saat ini.


"Aunty, Paman James ganteng tidak ?" tanya Ariel tiba-tiba ketika mobil mereka mulai melaju hingga membuat James maupun Anne langsung tersedak bersamaan.


Mereka nampak saling menatap lewat kaca spion namun Anne segera membuang wajahnya ke jendela sampingnya.


"Biasa saja." sahutnya kemudian, tanpa wanita itu sadari James masih menatapnya dari kaca spion depannya dengan rahang mengeras.


"Pasti lebih ganteng Paman Jung-kook ya ?" tanya Ariel lagi, Jung-kook adalah salah satu idol Korea kesukaan Anne.


"Tentu saja." sahut Anne dengan antusias dan itu membuat James berdecak, pria itu jadi penasaran siapa pria yang di maksud oleh wanita itu.


Sepanjang jalan James nampak diam membisu, entah kenapa moodnya tiba-tiba kurang baik.


Di tempat lain Merry yang kekenyangan tak terasa dirinya ketiduran saat menunggu William yang sedang berbincang serius dengan relasi bisnisnya melalui sambungan seluler.


Dan itu membuat William nampak tersenyum kecil ketika melihat mantan istrinya itu sudah tertidur pulas di kursinya.


Kemudian di ulurkan tangannya untuk merapikan sebagian rambut wanita itu yang menutupi wajahnya, namun saat hendak mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibirnya yang sedari tadi menggodanya tiba-tiba mantan istrinya itu terbangun.


"Kamu sedang apa? Mau macam-macam ya ?" tudingnya seraya menjauhkan tubuhnya dari jangkauan pria itu.


William yang sudah kembali ke tempat duduknya nampak berdecak. "Ck, segera pakai seat beltmu." perintahnya kemudian seraya kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Ini jam berapa ?" tanya Merry saat menyadari ia ketiduran.


"10." sahut William.


"Kita terlambat menjemput Ariel." Merry mulai panik.


"Tenanglah sudah di jemput oleh Anne." tukas William seraya menunjukkan sebuah foto yang di kirim oleh James beberapa saat lalu.


"Syukurlah." Merry nampak lega saat melihat putranya sedang berada di kedai es krim bersama sang asisten


"Baiklah, kalau begitu langsung antarkan aku pulang saja." imbuhnya kemudian.


Sesampainya di rumah wanita itu, William nampak melihat Alan sedang bersandar di badan mobilnya.


"Alan ?" Merry segera turun dan itu membuat William terlihat kecewa karena prioritas wanita itu bukan dirinya lagi tapi pria lain.


"Dari mana ?" tanya Alan menyelidik saat melihat kekasihnya itu baru turun dari dalam mobil mantan suaminya.


"Menjemput putra kami." kali ini William yang menjawab saat baru keluar dari mobilnya.


"Baiklah tuan William, terima kasih sudah perhatian dengan putra kami dan sepertinya calon istri saya harus segera bersiap-siap untuk ke kantor." ujar Alan kemudian.


Saat William hendak menjawab, Merry langsung memotongnya. "Kamu pulanglah urusan kita sudah selesaikan." ucapnya pada mantan suaminya itu agar segera pergi dari rumahnya.


"Hm, tentu saja." sahut William, kemudian pria itu segera masuk kembali ke dalam mobilnya dengan menahan rasa cemburunya.


"Jangan lupa nanti malam dandan yang cantik dan pakai gaun yang ku beri kemarin." ucap Alan seraya mengajak wanita itu masuk ke dalam rumahnya, sepertinya pria itu sudah tak sabar menunggu datangnya malam.


William yang melihat kemesraan mereka nampak mencengkeram setirnya dengan kuat, kemudian segera berlalu pergi dari sana.


Malam harinya, Merry yang sedang bersiap untuk pergi gala dinner dengan Alan nampak mematut penampilannya di depan cermin.


Wanita itu merasa dirinya terlalu seksi menggunakan gaun malam pemberian sang kekasih.


Namun karena tak ingin mengecewakan pria itu, ia tetap memakainya dan segera keluar kamarnya saat kekasihnya itu datang menjemputnya.


Sepanjang perjalanan Alan tak berhenti mencuri pandang ke arah wanita itu, ingin rasanya ia mengurungnya di dalam kamar dan mengajaknya b3rcint4 semalaman penuh.


Namun pria itu tetap bersabar menunggu sampai mereka menikah, toh dirinya juga tak kekurangan wanita untuk melampiaskan hasratnya.


"Tuan Alan anda sangat beruntung mempunyai calon istri yang sangat cantik dan juga pintar." puji beberapa relasi bisnisnya dan itu membuat Alan semakin sombong.


"Tuan Alan bisa bicara sebentar." tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya hingga membuat pria itu langsung terkejut.


"Tuan Weslyn." ucapnya pada relasi bisnisnya yang berasal dari negeri Singa tersebut lalu mengajaknya berbicara empat mata.


"Tuan Alan bagaimana dengan penawaran saya sebelumnya ?" ucap tuan Weslyn kemudian.


"Hanya semalam saya rasa itu tak membuat anda rugi." imbuh pria itu lagi, pandangannya sesekali melirik ke arah Merry yang sedang berbincang dengan rekannya.


Akhirnya dendamnya akan terbalaskan dengan bisa meniduri wanita itu, ia tahu Alan takkan bisa menolak karena ternyata pria itu menjalankan bisnis kotor di negaranya dan itu ia jadikan senjata untuk mengancam pria tersebut.