Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~72


"Jadi apa kamu ingin mengingkari janjimu sendiri ?" imbuh Natalie lagi menatap pria di hadapannya itu.


William nampak terdiam, ia sudah berjanji pada istrinya untuk menyingkirkan Natalie dari hidupnya tapi sebelumnya ia juga pernah berjanji pada Natalie untuk selalu berada di sisihnya.


"Tunggu, kamu dapat dari mana ini ?" Merry yang tak sengaja melihat sebuah gelang di pergelangan tangan kiri Natalie nampak menyipitkan matanya.


"Kamu apa-apaan sih ?" Natalie langsung menjauhkan tangannya saat Merry hendak meraihnya.


"Itu gelangku kan ?" tanya Merry memastikan.


"Ini milikku." Natalie langsung menyembunyikan tangannya, namun Merry yang penasaran langsung meraih tangan Natalie dengan paksa.


"Benar ini gelangku, aku masih sangat ingat gelang ini ku berikan pada seorang wanita sebagai imbalan karena telah membawa pria yang ku tolong dulu." terang Merry.


Delapan tahun silam Merry yang waktu itu sedang kabur diam-diam dari pengawasan para pengawalnya lalu pergi bermain di sebuah taman tak jauh dari Mansionnya dan di sana ia melihat seseorang yang tak sadarkan diri di semak belukar.


Seorang pria yang wajahnya penuh dengan darah dan sulit untuk ia kenali.


"Paman, bangunlah !!" mohonnya seraya mengguncang lengan pria itu.


Karena tak ada reaksi, Merry langsung menyentuh hidungnya dan ternyata masih ada nafasnya.


"Paman, ku mohon bangunlah." Merry mengguncang tubuh pria itu lagi tapi tak mendapatkan hasil.


Kemudian Merry segera berlari ke jalan raya untuk meminta pertolongan tapi beberapa mobil yang lewat nampak mengabaikannya.


Karena sudah tak sabar, Merry langsung berlari ke tengah jalan saat sebuah mobil melintas dengan kencang.


"Hey kau mau cari mati ?" teriak seorang wanita cantik saat membuka kaca mobilnya.


"Kakak, ada orang terluka di sana tolong bawa ke rumah sakit." mohon Merry dengan memelas.


"Kamu pikir aku petugas sosial, urus saja sendiri." sungut wanita itu.


"Saya mohon kak." Merry memohon lagi karena bisa saja jika terlambat maka pria itu takkan selamat.


"Sudah-sudah itu bukan urusanku." wanita itu segera menutup kaca mobilnya tak peduli Merry mengetuknya beberapa kali dari luar.


"Nat, sepertinya anak itu bukan anak orang sembarangan. Lihatlah kalung yang di pakainya. Bukankah itu kalung yang ada di pameran pelelangan waktu itu dengan harga fantastis? entah siapa pembelinya dan pasti bukan orang sembarangan." seorang pria lemah gemulai yang duduk di balik kemudi nampak menatap kalung yang di pakai oleh Merry.


"Kamu benar." Natalie nampak tersenyum menyeringai, kemudian wanita itu membuka kaca mobilnya kembali.


"Baiklah aku akan menolongnya tapi dengan satu syarat." ucapnya kemudian.


"Katakan saja." Merry nampak antusias.


"Kalungmu sangat bagus." puji Natalie dengan wajah berbinar saat melihat kalung yang di pakai oleh Merry.


Dirinya yang hanya seorang model rendahan tentu saja akan sangat bangga jika memakai kalung mahal itu.


"Apa kamu mau kalungku? ambillah asal kamu mau membawa Paman itu ke rumah sakit." Merry segera melepaskan kalungnya, kalung pemberian sang ayah saat dirinya berulang tahun bulan lalu.


Kemudian Merry segera memberikannya pada Natalie. "Sekarang tolong bawa Paman itu." ucapnya seraya menunjuk ke arah seorang pria yang nampak tak sadarkan diri.


Natalie beserta manajernya segera membawa pria itu ke dalam mobilnya lalu bergegas pergi dari sana.


"Benar kamu wanita itu kan? wanita yang dulu ku minta untuk menolong seorang pria tapi meminta imbalan kalungku ?" setelah mengingat-ingat Merry semakin yakin jika wanita itu adalah Natalie.


William terlihat memicing, dahulu di saat ia di ambang kesadarannya dengan samar-samar ia mendengar anak kecil berteriak minta tolong sambil menangis.


Ia kira dulu hanya mimpinya semata namun sekarang ia yakin anak kecil itu adalah istrinya sendiri.


"A-aku...." Natalie nampak terkejut, ia tak menyangka anak kecil waktu itu adalah Merry.


"Katakan Nat atau aku akan mencari tahu sendiri ?" geram William, jika itu benar maka sudah bertahun-tahun ia telah di bohongi oleh wanita itu.


"To-tolong maafkan aku Will." Natalie langsung bersimpuh di kaki William dan itu membuat William semakin yakin jika Natalie adalah wanita yang di maksud oleh sang istri.


"Will, please jangan lakukan itu." mohonnya kemudian.


"James, singkirkan wanita itu dan jual segera Apartemen ini !!" perintah William kemudian, setelah itu segera membawa istrinya itu keluar dari sana.


"Will, tolong jangan lenyapkan Natalie. Bagaimana pun juga dia ikut berjasa menolongmu." mohon Merry sesampainya di dalam mobil suaminya itu.


"Dia sudah mendapatkan imbalan kalungmu yang pasti itu sangat berharga bagimu kan selain harganya yang mahal ?" William menatap istrinya itu.


"Hm." angguk Merry.


"Daddy memberikannya padaku sebulan sebelum kejadian waktu itu sebagai hadiah ulang tahunku, perhiasan pertama yang ku punyai dan kamu tahu saat Daddy mengetahui jika kalung itu hilang aku di hukum selama satu minggu tidak boleh keluar kamar." ucapnya kemudian, mata Merry nampak berkaca-kaca saat mengingat ayahnya itu.


Sungguh ia sangat merindukan sang ayah saat ini dan ingin merasakan pelukan pria itu lagi.


"Semua sudah selesai, jangan sedih lagi." William membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


Sementara itu di tempat lain Alex nampak memasuki sebuah rumah tua dengan pagar yang sangat tinggi.


"Tuan Alex."


Beberapa pria bertubuh besar langsung datang menyambutnya.


"Berbulan-bulan kami menunggu anda tuan, tuan Martin, nyonya Sera dan nona Merry menghilang begitu saja tapi kami yakin suatu saat kalian pasti akan datang kemari." ucap salah satu pria di sana.


"Mereka baik-baik saja, tapi Merry menghilang tanpa jejak." terang Alex.


"Apa...?"


"Apa ada yang datang kesini sebelumnya ?" tanya Alex kemudian, tempat itu adalah sebuah markas yang biasanya di gunakan oleh Martin untuk melakukan pertemuan dengan seluruh anak buahnya.


"Tidak ada yang tahu tempat ini tuan kecuali...." pria itu nampak ragu mengatakannya


"Kecuali siapa ?" Alex mulai tak sabar.


"Tuan William, tapi itu dahulu sebelum tuan Martin memutuskan hubungan dengan beliau." lanjut pria bernama Jack itu.


Alex nampak menghela napasnya, perlu berhari-hari untuk ia berpikir sampai akhirnya berada di sini.


Mafia di matanya adalah penjahat dan menjadi musuh negara namun demi adiknya ia rela melakukan segala hal.


"Jelaskan padaku tugas apa saja yang di berikan oleh ayahku pada kalian sebelumnya ?" tanya Alex seraya mengedarkan pandangannya pada 12 pria yang berada di hadapannya itu.


Mereka semua nampak saling melemparkan pandangan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Tuan, tolong anda jangan salah paham. Mungkin beberapa tahun silam tuan Martin melakukan bisnis gelap tapi setelah beliau bisa mendirikan perusahaannya sendiri, tuan Martin segera meninggalkan bisnis yang melawan pemerintahan dan fokus dengan perusahaannya jadi tugas kami hanya membantu beliau saja." terang Jack.


"Kami memohon maaf jika saat kejadian waktu itu kami tak dapat menyelamatkan beliau karena saat itu kami di tugaskan untuk mengawasi beberapa proyek di luar kota." timpal pria lainnya.


Alex nampak mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan para anak buah sang ayah itu, ia bersyukur ayahnya telah lama meninggalkan bisnis gelapnya.


"Saat perusahaan di ambil alih oleh tuan Arthur apa kalian juga tahu ?" tanya Alex kemudian.


"Kami tahu tuan, tapi tuan Arthur adalah orang kepercayaan tuan Martin di kantor jadi kami tak bisa melawan." sahut Jack.


"Baiklah, aku sudah memutuskan untuk menggantikan posisi ayahku sementara waktu." ucap Alex yang langsung di sambut bahagia oleh beberapa pria itu.


"Terima kasih, tuan. Akhirnya kami mempunyai pemimpin lagi. Selanjutnya apapun yang anda perintahkan pasti akan segera kami laksanakan." ucap Mereka kemudian.


"Sama-sama, aku hanya ingin kalian membantu mencari keberadaan adikku di setiap kota di negara ini." perintah Alex kemudian.


"Baik tuan, itu perkara mudah bagi kami. Saya akan mengerahkan seluruh anak buah saya untuk mencari nona Merry." sahut Jack yang langsung di angguki oleh yang lainnya.


"Sebentar lagi kita akan bertemu Merr, Daddy dan Mommy sangat membutuhkan mu. Aku yakin jika kamu masih hidup saat ini."