
Pagi itu James yang terbangun di Apartemennya nampak memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, rupanya terlalu banyak meminum alkohol membuatnya sedikit tak sadarkan diri semalam.
"Anda sudah bangun, tuan ?" sapa Mark saat melihat tuannya itu baru keluar dari kamarnya dengan pakaian kerjanya.
"Kamu di sini dari semalam ?" ucap James seraya mengambil minuman kaleng, lalu membuka tutupnya dan segera meneguknya.
"Sepertinya anda sedang tidak baik-baik saja tuan, jadi bagaimana saya tega meninggalkan anda." sahut Mark.
James nampak menghela napasnya, kemudian pria itu segera mengambil tas kerjanya.
"Berangkat sekarang tuan ?" ucap Mark yang langsung di angguki oleh tuannya tersebut.
Di tengah perjalanan James tak sengaja melihat Jennifer yang sepertinya sedang mengalami masalah dengan mobilnya, kemudian ia menyuruh Mark untuk segera berhenti.
"Ada apa dengan mobilmu ?" ucapnya setelah membuka kaca mobilnya.
"Entahlah, tiba-tiba mogok." sahut Jennifer dengan wajah frustasi yang langsung membuat James segera turun dari mobilnya lalu membantu mengeceknya.
"Biar nanti orang kantor yang mengurusnya, lebih baik kamu segera berangkat ke kantor saja." perintah James setelah itu.
"Tapi aku ikut sama kamu ya ?" mohon Jennifer kemudian.
"Hm, baiklah ayo cepat masuk." ucap James setelah menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Terima kasih." Jennifer langsung tersenyum lebar, lantas segera masuk ke dalam mobil pria tersebut.
Sesampainya di kantornya, James melihat sang istri juga baru turun dari mobilnya. Pria itu menatapnya sejenak kemudian berlalu masuk ke dalam bersama Jennifer yang mengiringi langkahnya.
"Anda baik-baik saja bu ?" tanya Rose saat melihat Anne nampak murung pagi itu.
"Hm." Anne mengangguk kecil, kemudian ia segera melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
"Rose, hari ini saya tidak ingin terima tamu siapapun itu tak terkecuali. Mengerti !!" ucap James sebelum masuk ke dalam ruangannya, sudut matanya nampak melirik ke arah sang istri yang juga sedang menatapnya.
"Baik tuan." Rose langsung mengangguk patuh.
Setelah itu James segera masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintunya sedikit kasar yang membuat Anne nampak memejamkan matanya.
Hingga siang hari Anne tak berniat masuk ke ruangan suaminya itu setelah sebelumnya pria itu memberikan peringatan yang sebenarnya di tujukan padanya.
"Apa mau saya pesankan makanan ?" tawar Rose saat jam makan siang telah tiba namun istri wakil direkturnya itu belum berniat beranjak dari duduknya.
"Aku belum lapar." sahut Anne yang masih nampak sibuk dengan pekerjaannya.
"Tapi anda harus makan sesuatu." bujuk Rose lagi.
"Kamu duluan saja." timpal Anne sembari mengecek berkas di hadapannya satu persatu.
Rose nampak menghela napasnya sejenak, kemudian ia menatap jam makan siang yang hampir berakhir. "Baiklah, jika anda menginginkan sesuatu tolong hubungi saya." ucapnya, lantas segera berlalu pergi dari sana.
"Sabar ya Nak, sebentar lagi kita makan." gumam Anne saat merasakan perutnya keroncongan, tapi bagaimana ia bisa makan jika suaminya di dalam sana juga pasti belum makan siang.
"Segelas teh mungkin akan membuatku lebih baik." Anne segera beranjak dari duduknya dan bersamaan itu Jennifer nampak datang dengan membawa bungkusan di tangannya.
"James ada di dalamkan ?" ucapnya kemudian seraya membuka pintu ruangan James dengan lebar hingga membuat Anne bisa melihat suaminya sekilas, namun wanita itu segera menutupnya kembali dari dalam.
Anne segera beranjak dari duduknya, masih ada waktu sepuluh menit untuknya makan siang. Namun tiba-tiba ia merasakan pening di kepalanya.
Ini pasti karena ia terlambat makan siang, tadi pagi pun ia hanya meminum segelas susu saja.
Sesampainya di Cafetaria Anne segera memesan makanan dan kepalanya pun semakin berdenyut nyeri, entah karena ia terlambat makan atau juga karena ia semalam tidur sangat larut karena menunggu suaminya itu pulang.
Setelah membayar Anne langsung membawa makanannya ke meja kosong yang berada di ujung ruangan dan....
Brukkk
Anne tiba-tiba terjatuh saat kakinya menabrak sesuatu hingga membuatnya oleng dan langsung jatuh ke lantai.
Kepalanya yang semakin pusing pun membuatnya tak sanggup untuk bangkit lagi.
"Astaga, sangat merepotkan." cibir salah satu karyawan wanita yang sepertinya tadi sengaja menjegal kali Anne.
"Biarkan saja dia bangun sendiri dan membersihkan makanan yang di tumpahkan itu." timpal yang lainnya yang sepertinya enggan menolong Anne, justru seringaian jahat menghiasi wajahnya.
Anne nampak memejamkan matanya, sungguh kepalanya terasa berputar-putar saat ini namun ia berusaha untuk segera bangun.
Sebelum berdiri dengan sempurna, Anne tiba-tiba mulai kehilangan kesadaran dan sebuah tangan kekar langsung menahan tubuhnya hingga tak terjatuh.
Sebelumnya James yang sedang berada di ruangannya bersama Jennifer nampak sangat geram saat melihat cctv yang menampakkan istrinya yang sedang berada di kantin.
Wanita itu tiba-tiba saja terjatuh namun seluruh karyawannya di sana tak ada satu pun yang menolongnya, kemudian ia segera meninggalkan ruangannya dan berlalu ke sana.
"Sepertinya kalian semua sudah bosan bekerja di kantor ini." ucap James dengan menahan emosinya, tatapannya yang dingin membuat semua karyawan yang berada di kantin tersebut langsung menunduk ketakutan.
Kemudian pria itu segera membopong istrinya itu lalu membawanya pergi dari sana.
"Dasar keras kepala, setelah ini jangan harap kamu bisa bekerja lagi." gumam James setelah mobil yang membawanya mulai melaju meninggalkan kantornya.
Wajahnya nampak sangat khawatir saat melihat istrinya yang belum kunjung sadar. "Mark, bisa cepat sedikit !!" perintahnya kemudian.
Sesampainya di rumah sakit James segera turun dari mobilnya, namun tiba-tiba seseorang langsung melayangkan pukulannya hingga ia hampir saja oleng.
"Kau ?" James langsung geram saat mengetahui yang tiba-tiba memukulnya adalah Marco.
"Apa sebagai seorang atasan kamu begitu tak peduli dengan pembulian yang di alami oleh karyawanmu sendiri ?" tuding Marco berapi-api.
Setelah mendapat informasi dari Jennifer jika pria itu bertingkah sok menjadi pahlawan untuk menolong Anne membuat Marco langsung meradang.
Karena pembulian terhadap wanita itu sudah terjadi sejak lama tapi pria itu yang notabennya sebagai wakil direktur di kantornya justru tak mengetahuinya atau memang pura-pura tidak mau tahu.
"Apa maksudmu ?" James langsung memicing menatap Marco.
"Ck, jadi kau tidak pernah tahu selama ini Anne selalu mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari beberapa karyawanmu yang lain ?" cibir Marco kemudian.
"Jika kau memang tak peduli, aku yang akan mempedulikannya. Sekarang pergilah, aku yang akan membawanya ke dalam." imbuh Marco lagi seraya mendorong James menjauh, lalu ia segera mendekati Anne yang masih tak sadarkan diri di dalam mobil.
"Bajingan, berani kau menyentuh istriku maka aku takkan segan melenyapkanmu." James langsung mendorong Marco menjauh, lalu segera membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah sakit.
"Apa? is-istri ?" Marco langsung tercengang mendengar perkataan James.