
"Daddy...." panggil Merry saat melihat ayahnya itu.
"Masuklah, di luar dingin !!" perintah tuan Martin lalu pria itu melangkah masuk ke dalam paviliunnya yang di ikuti oleh Merry maupun William.
Setelah sampai pria paruh baya itu nampak menghempaskan bobot tubuhnya di sebuah sofa.
"Tuan Martin....." William mulai membuka suaranya namun ayah mertuanya itu langsung memotongnya.
"Apa pantas memanggil ayah mertuamu seperti itu ?" ucapnya yang langsung membuat William nampak mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
"Dad...." lidah William terasa kaku padahal panggilan itu adalah impiannya sejak ia di pungut oleh pria itu dari jalanan puluhan tahun yang lalu.
"Ya begitu lebih baik." Martin nampak menerbitkan senyum tipisnya, namun pria itu langsung berdehem lalu kembali memasang wajah datarnya.
"Kita sama-sama bersalah dan ku rasa tak ada yang harus meminta maaf." sambung pria yang tak lagi muda itu, kegagahannya nampak di makan usia namun sifat gengsinya tak pernah pudar.
"Semua sudah berlalu Dad, lebih baik kita jalani yang ada di depan kita." sahut William, pria itu sudah membuang jauh dendam serta amarah pada ayah mertuanya itu.
"Tentu saja, aku yakin kamu mampu menggantikan ku untuk menjaga putriku meski kau tak sebaik aku saat menjaganya." ucap Martin.
"Dad..." Merry ingin menyela tapi William langsung menggelengkan kepalanya.
"Daddy akan tetap menjadi yang terbaik untuk Merry dan aku janji akan menjaga putri Daddy dengan segenap jiwaku." ucapnya kemudian.
Beberapa hari setelah itu William membawa Martin ke mansion pria itu di California, ayah mertuanya itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya di mana selama ini di biarkan terbengkalai.
Kini pria tua itu mulai berdamai dengan masa lalunya dan ingin memulai hidup barunya yang lebih tenang di sana.
"Kalian yakin tidak ingin tinggal di sini ?" tawar Sera pada anak dan menantunya itu.
"Harusnya kalian yang ikut kami." potong William.
"Tidak, Daddy akan tetap di sini." timpal Martin.
"Kalian pasti akan kesepian di sini." Merry rasanya sedih meninggalkan mereka.
"Kami akan menghabiskan waktu untuk berkebun di belakang, sesuai impian kami sejak dulu." timpal Sera, wanita paruh baya itu ingin mengenang masa lalunya dengan sang suami di mana saat itu benih-benih cinta keduanya mulai tumbuh.
"Baiklah, aku janji setiap saat akan datang kesini menemui kalian." Merry nampak tak tega meninggalkan orang tuanya di rumah masa kecilnya itu, di mana di sana pernah ada kebahagiaan, kesedihan bahkan peristiwa mengerikan yang mulai merubah takdir mereka.
"Tentu saja kalian harus sering datang, bukankah kediaman kalian hanya beberapa menit dari sini ?" jawab Martin.
"Tentu saja Dad." William langsung menimpali dan itu tak luput dari perhatian sang istri, bukankah rumah mereka waktu itu sudah di jual oleh Elena pikirnya.
Kemudian mereka mulai meninggalkan kediaman orang tuanya tersebut, banyak sekali pertanyaan di dalam kepala Merry, namun saat melihat suaminya itu mengemudi dengan diam membuatnya enggan untuk bertanya.
"Kenapa menatapku seperti itu ?" ucap William saat menyadari istrinya itu beberapa kali menatapnya.
"Tidak ada." sahut Merry.
"Apa aku harus percaya ?" timpal William dari balik kemudinya, matanya sesekali melirik ke arah putranya yang nampak tidur di kursi belakang mobilnya.
"Kau selalu saja bisa menebak." cebik Merry.
"Aku tahu kamu lebih dari apa yang kamu tahu honey, jadi jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu dariku." sahut William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.
"Jadi katakan apa yang ingin kamu tanyakan ?" imbuhnya kemudian.
Merry terdiam sejenak lalu mulai membuka suaranya. "Bukankah rumah kita waktu itu sudah di jual oleh Elena." ucapnya kemudian.
"Di jual ?" William nampak mengernyit.
"Hm, aku pernah datang kesana mencarimu tapi ada Elena yang sedang menawarkan rumah itu pada pembeli." terang Merry, masih teringat dengan jelas bagaimana wanita itu mengusirnya dengan kasar waktu itu.
William langsung menggenggam tangan istrinya itu. "Semua hanya salah paham, aku janji kejadian itu takkan terulang lagi." ucapnya, mengingat ulah Elena yang ingin menghilangkan setiap kenangan dirinya dengan istrinya itu.
"Jadi rumah itu belum di jual ?" Merry menatap suaminya saat pria itu mengecup punggung tangannya.
"Kamu lihat saja nanti." sahut William lalu kembali fokus dengan kemudinya.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di sebuah mansion yang banyak menyimpan kenangan itu, mansion yang sama tapi sepertinya banyak mengalami pemugaran.
"Hm, lebih ramah anak tentunya." sahut William seraya membuka pintu mansionnya dan siapa sangka suara tepuk tangan bergemuruh menyambut kedatangan mereka hingga membuat Merry nampak terkejut.
"Selamat datang, kalian senang dengan kejutan ini ?" ucap Emely, gadis remaja berusia 12 tahun itu langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.
"Emely ?" Merry nampak pangling dengan gadis di hadapannya itu.
"Benarkah kau Emely ?" ulangnya lagi seraya mendekati gadis itu.
"Hm tentu saja bukankah sekarang tinggiku sama rata denganmu ?" seloroh Emely.
"Aku sangat merindukanmu." Merry langsung memeluk gadis remaja itu.
"Aku juga sangat merindukanmu." balas Emely.
"Sekarang aku sudah besar jika Daddy menyakitimu aku yang akan memukulnya." sambungnya lagi yang tentu saja membuat semua orang yang ada di sana nampak tergelak.
Emely dan beberapa pelayan sengaja membuat sambutan kecil-kecilan atas kedatangan ayah dan ibu sambungnya itu.
"Ariel juga akan pukul Daddy jika nakal sama mommy." timpal Ariel yang sedari memperhatikan obrolan mereka.
Mendengar itu Emely langsung menoleh ke arah bocah kecil yang sedang berdiri di samping sang ayah. "Hey boy, kau siapa hm ?" Emely langsung berjalan mendekat lalu sedikit membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan bocah itu.
"Aku Ariel jagoan Mommy yang akan melindungi Mommy." sahut Ariel.
"Good boy, kita lindungi Mommy bersama ya ?" Emely mengangkat telapak tangannya yang langsung di tepuk oleh bocah kecil itu.
Meski baru bertemu mereka terlihat akrab karena satu sama lainnya sudah saling mengetahui jika mereka bersaudara.
"Sepertinya setelah ini aku harus lebih berhati-hati." timpal William setelah kedua anaknya itu menjauh dari mereka.
"Berhati-hati kenapa ?" Merry langsung mengernyit.
"Kau mempunyai dua bodyguard yang sangat ku takuti." seloroh William dan itu membuat sang istri nampak tergelak.
"Kamu tahu, hari ini aku sangat bahagia." Merry hampir saja menangis, namun ia segera mengusap air matanya yang mulai mengembun.
"Aku janji mulai hari ini aku akan membuat harimu selalu bahagia, ayo ku tunjukkan sesuatu padamu." William langsung merangkul bahu istrinya itu lalu membawanya berlalu pergi dari sana.
"I-ini bukannya...." Merry nampak tak bisa berkata-kata saat melihat ruang kerja suaminya yang dulu penuh dengan misteri kini telah berubah menjadi taman yang indah.
"Setiap sudut rumah ini akan selalu membuat harimu indah." ucap William kemudian.
"Lalu ruang kerjamu di mana ?" Merry masih penasaran karena suaminya itu bukan tipe pria yang suka bersantai dalam waktu yang lama baik itu di rumah sekalipun.
"Ayo ku tunjukkan padamu." William segera membawa istrinya itu menaiki anak tangga dan tibalah mereka di sebuah kamar.
"Masih seperti dulu." ucap Merry saat melihat ranjangnya.
"Hanya bertambah dengan ruang kerjaku, karena saat aku kerja aku ingin tetap bisa melihatmu." William menunjuk meja kerjanya yang berada di sudut kamarnya.
"Dan semoga kau bisa berkosentrasi nanti." cibir Merry yang sontak membuat William terkekeh.
"Kalau tidak konsentrasi aku pasti akan mendatangimu." sahutnya kemudian.
"Dasar modus." Merry langsung mencubit perut suaminya itu hingga pria itu meringis kesakitan.
Keesokan harinya....
"Tuan, ada nona Celine ingin bertemu anda ?" ucap James saat baru masuk ke dalam ruangannya.
"Oh ya? baiklah bawa dia masuk !!" perintah William yang nampak terkejut dengan kedatangan Celine yang tiba-tiba ke kantornya.
"James..." panggilnya lagi saat asistennya itu hendak membuka pintu.
"Bagaimana kabarnya Anne? kau memperlakukannya dengan baikkan ?" tanya William yang langsung membuat James berbalik badan menatapnya.
.
Part full WilMer👆 sebelum part James & Anne di mulai, ada yang kasih saran kenapa part Anne & James tidak di buat sendiri dan jawaban saya adalah saya suka bikin cerita beratus-ratus bab sampai yang baca gumoh.