
Sore itu Grace yang sedang frustasi memikirkan nasibnya setelah bayinya lahir nanti nampak meneguk cairan berwarna pekat yang terasa sedikit panas ketika melewati kerongkongannya.
Merasa kurang puas wanita itu kembali menuangkan sebotol wiskey ke dalam slokinya lalu meneguknya hingga tandas.
Tak hanya satu sloki atau dua sloki bahkan wanita itu telah menghabiskan hampir seperempat botol, namun sepertinya belum membuatnya merasa puas. Sebelum hamil ia adalah peminum ulung tetapi semenjak hamil suaminya selalu melarangnya.
Waktu itu tentu saja ia menurut karena pria itu memanjakannya dengan segala fasilitas mewah, namun saat ini jangankan fasilitas mewah uang recehan pun ia tak punya.
Suaminya benar-benar menghukumnya atas segala perbuatan yang telah menghianatinya.
"Tidak, aku tidak pernah menghianatinya. Jauh sebelum aku bertemu dengannya aku sudah berhubungan dengan Nick. Jadi lebih tepatnya aku mengajakkan untuk menghianati Nick." racaunya dengan tertawa sumbang, sepertinya wanita itu mulai terpengaruh oleh minuman beralkohol yang baru saja ia konsumsi.
"Tidak-tidak, aku tidak menghianati Nick. Karena Nick juga setuju jika aku menggoda pria kaya itu." imbuhnya lagi sembari mengerutkan dahinya seperti sedang berpikir, namun detik selanjutnya wanita itu justru tertawa lebar.
"Kisah yang sangat aneh." imbuhnya lagi, kemudian ia segera bangkit dari duduknya.
Wanita itu tidaklah mabuk bahkan jalannya pun masih berdiri tegak, lalu Grace segera keluar kamarnya.
Di lihatnya sang ibu nampak tertidur di atas sofa, sepertinya wanita itu terlalu mabuk hingga tak menyadari sang putri telah mencuri minumannya.
"Bahkan kau pun tak berdaya, mom." gumam Grace, kemudian mengambil dompet wanita itu lalu mengambil beberapa lembar uang lantas ia melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.
Tak ada kendaraan mewah yang terparkir di halaman rumahnya seperti biasa, ia benar-benar miskin saat ini bahkan untuk makan pun ia harus menunggu belas kasihan dari suaminya tersebut.
"Ini semua gara-gara wanita si4l4n itu." gumam Grace lalu segera berlalu ke jalan raya.
Menghentikan sebuah taksi lalu segera masuk ke dalam. "Antar saya ke WS Corp, tuan !!" perintahnya pada sang sopir taksi.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu Jam, Grace segera menyerahkan uang yang sedari ia genggam.
"Ini kurang, nyonya." protes sang sopir taxi tersebut.
"Aku sudah tidak punya uang lagi, lagipula apa kamu tak kasihan padaku yang sedang hamil ini ?" timpal Grace seraya mengusap perutnya yang membuncit.
"Jika tak punya uang jangan bergaya naik taksi." gerutu sopir tersebut.
"Hey tuan, suamiku sangat kaya. Kamu tahu perusahaan di depan itu adalah miliknya, kau bisa masuk ke dalam dan menagih pembayarannya di sana." terang Grace seraya menunjuk sebuah gedung pencakar langit tak jauh di depannya itu.
"Dasar wanita gila."
Sopir tersebut segera melajukan mobilnya kembali meninggalkan wanita yang sepertinya sedang mabuk itu.
"Kamu akan menyesal mengatakan hal itu, lihat saja saat anak ini lahir akan menjadi pewaris 20% saham di sana." Teriak Grace seraya menendang portal jalan.
Kemudian wanita itu melangkahkan kakinya mendekati kantor suaminya itu, mengedarkan pandangannya ke setiap karyawan yang keluar dari gedung pencakar langit tersebut.
Jam kantor telah usai, Grace yakin seseorang yang ia cari akan segera keluar dari sana dan benar saja ia melihat seorang wanita yang akhir-akhir ini membuat emosinya tak stabil.
Sementara itu Anne yang baru keluar dari kantornya nampak mengedarkan pandangannya mencari sopirnya, sungguh tubuhnya lelah sekali setelah percintaannya bersama sang suami tadi.
Meski ia sempat terlelap namun tetap saja ia merasa lelah, entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa sangat payah. Periode bulanannya juga terlambat, semoga saja kekhawatirannya tidak terjadi.
Ia belum siap jika harus hamil sebelum urusan sang suami selesai dengan istri pertamanya itu, sebelumnya ia memang ingin mundur karena ia tidak ingin membuat seorang anak kehilangan ayah ataupun ibunya.
Namun setelah mengetahui jika istri pertamanya itu telah berselingkuh dengan tidur berkali-kali bersama pria lain membuat Anne kembali mempertimbangkannya.
Karena jujur Anne juga mulai mencintai suaminya itu, apalagi saat mengetahui suaminya juga menyukainya entah sejak kapan.
Jika ini sudah menjadi takdirnya ia akan menerimanya dan mungkin ia juga akan menerima anak yang di kandung oleh wanita itu sebagai anaknya sendiri.
Kemudian saat mengedarkan pandangannya mencari Mark, Anne tak sengaja bersitatap dengan seorang wanita. Wanita hamil yang ia temui di mall bersama suaminya waktu itu.
"Grace ?"
Anne langsung menelan ludahnya, apa yang di lakukan wanita itu di sini? jika memang sedang mencari suaminya kenapa tidak masuk ke dalam.
Meski suaminya itu sedang tak berada di kantornya karena harus menghadiri meeting di luar.
Anne berjalan mendekat bagaimana pun juga wanita itu adalah istri dari suaminya juga. Penampilannya yang mengenaskan membuat Anne merasa iba.
"Apa kamu sedang mencari tuan James ?" tanya Anne kemudian, tak ada pakaian glamour di tubuh wanita itu seperti yang terakhir ia lihat waktu itu.
Suaminya benar-benar sangat kejam, menghukum seseorang yang sedang mengandung anaknya dengan begitu sadisnya.
Mendengar ucapan Anne, Grace langsung menggelengkan kepalanya. "Aku mencarimu." sahutnya kemudian.
"Mencariku ?" Anne langsung melebarkan matanya.
"Hm, bisa kita bicara sebentar. Aku tidak mempunyai uang untuk pergi ke Cafe, bisa kita pergi ke taman depan sana." mohon Grace seraya menunjuk ke arah taman yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Anne menatap ponselnya dan membaca pesan yang baru di kirim oleh Mark jika ia akan terlambat 30 menit.
"Hm, ayo." angguk Anne kemudian, lalu mereka berjalan beriringan dengan wanita itu menuju taman.
Sesampainya di sana mereka segera mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang.
"Terima kasih sudah mau menemuiku." ucap Grace membuka pembicaraan, tak ada nada angkuh seperti awal Anne bertemu dengan wanita itu. Benar-benar berubah 180 derajat pikir Anne.
Di hadapannya kini hanya nampak seorang wanita lusuh yang minta di kasihani.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan ?" entah kenapa Anne tiba-tiba takut mendengar ucapan wanita itu selanjutnya.
"Apa kamu pernah merasakan hidup tanpa orang tua yang lengkap ?" ucap Grace kemudian yang langsung membuat Anne menatap wanita itu, tentu saja Anne pernah merasakan karena ibunya tiada saat dirinya masih kecil dan setelah itu kebahagiaannya seketika lenyap saat kedatangan ibu tirinya.
"Hm." angguknya kemudian.
"Aku juga pernah, ayahku pergi entah kemana setelah bertengkar hebat dengan ibuku dan sejak saat itu aku merasa sendirian karena ibuku lebih suka menghabiskan waktunya dengan kekasihnya." ucap Grace dengan wajah sendunya.
Anne nampak terdiam, rupanya Kisah wanita itu tak jauh berbeda dengannya.
"Rasanya sakit bukan ?" imbuh Grace lagi kali ini butiran kristal nampak mengalir dari sudut matanya dan Anne bisa merasakan kesedihan wanita itu karena ia sendiri pun juga mengalaminya.
"Untuk itu aku memohon padamu, kasihani anak dalam kandunganku. Jika aku dan James berpisah maka dia akan mengalami nasib yang sama seperti kita." ucap Grace lagi dan itu membuat Anne nampak memejamkan matanya sejenak, apa yang ia takuti akhirnya keluar juga dari bibir wanita itu.
"Aku juga telah menikah dengan tuan James." ucap Anne seraya memegang cincin pernikahan yang melingkar di jarinya.
"Aku tahu." timpal Grace, karena sebelumnya ia sudah mencari tahu.
"Meski begitu kamu tetap bisa berpisah jika ingin." ucap Grace yang langsung membuat Anne menatapnya dengan lekat.
"Haruskah aku mengalah dan memilih pergi ?"