Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~190


"Kau memanggilku ?" ucap Anne setelah masuk ke dalam ruangan suaminya, rasanya malas sekali bertemu pria itu.


Beberapa hari ini ia selalu berpura-pura tidur saat suaminya itu pulang ke rumahnya, ia juga tak pernah membantah perkataannya lagi. Ia lebih memilih diam atau menjawab seperlunya hingga membuat pria itu tak ada alasan untuk menyentuhnya.


Karena setiap kali membuat suaminya itu emosi pasti akan berujung dengan mereka tidur bersama meski jujur ia juga menikmati setiap sentuhan pria itu.


James yang masih berdiri di depan jendela kacanya dengan posisi memunggungi wanita itu langsung mengeluarkan suaranya tanpa berbalik badan.


"Dari mana ?" ucapnya dengan nada yang sangat dingin.


"Dari ruanganku memang dari mana ?" Anne yang masih merasa pusing langsung menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa, ia sudah biasa bersikap non formal jika mereka sedang berduaan.


"Makan siang di mana ?" tanya James lagi.


"Makan siang di restoran tempat bekerja aku dulu." sahut Anne jujur, tangannya nampak meraih majalah bisnis di atas meja lalu menatap sampul depannya di mana tuan William dan suaminya ada di sana.


"Wah kamu dan tuan William masuk majalah bisnis edisi bulan ini ya." imbuh Anne kemudian.


"Sendirian ?" selidik James tanpa berniat membalas pertanyaan sang istri.


"Sama Kenji, oh ya apa kamu tahu Kenji dan Nicolas ternyata mereka saling mengenal loh." Anne bercerita dengan antusias tentang dua sahabatnya itu dan tentu saja itu membuat James langsung berbalik badan lalu berjalan mendekati meja kerjanya, bersandar di tepi meja dan melipat tangannya di depan dadanya. Matanya terus menatap istrinya dengan dingin.


"Ck, apa sudah menjadi hobby barumu berselingkuh ?" cibirnya kemudian.


"Maksud kamu ?" Anne langsung menatap pria itu.


"Kamu wanita bersuami tidak seharusnya pergi dengan pria lain apalagi bermesraan di dalam mobil." sindir James yang langsung membuat Anne beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati pria itu.


"Hei tuan James aku tak pernah bermesraan dengan siapa pun." ucapnya membela diri.


"Kamu pikir aku buta hingga tak melihat bagaimana bajingan itu menciummu ?" ucap James seraya menarik tangan istrinya itu agar lebih mendekat padanya.


"A-aku tidak tahu, tadi Kenji tiba-tiba saja mencium keningku." sahut Anne dengan jujur.


"Dan kau menikmati? ck, ingat seluruh tubuhmu adalah hakku dan milikku." tegas James seraya mengusap lembut rahang wanita itu.


"Siapa yang menikmatinya? kamu jangan menuduhku sembarang, siapa yang selingkuh siapa yang berteriak." sindir Anne kemudian.


James yang belum melepaskan istrinya itu nampak menatapnya dengan lekat. "Siapa yang berselingkuh? Grace hadir sebelum kamu ada dan setelah anak itu lahir aku akan segera menceraikannya." ucapnya kemudian.


"Berdua dengan wanita selama berjam-berjam dalam satu ruangan, betah ya ?" Anne ganti menyindir pria itu.


"Maksudmu ?" James langsung mengernyit tak mengerti.


"Pikir sendiri." Anne langsung membuang muka, ingin kabur tapi cekalan pria itu di tangannya tak kunjung di lepas.


James nampak mengingat sesuatu lalu pria itu mengangkat sudut bibirnya, apa wanita itu sedang cemburu dengan teman lamanya? Jennifer tadi memang berada lama di dalam ruangannya karena saat wanita itu datang ia sedang melakukan meeting online hingga ia membiarkan wanita itu menunggunya.


"Jadi apa kamu sedang cemburu, hm ?" ucapnya yang langsung membuat Anne kembali menatapnya.


"Ck, anda jangan terlalu percaya diri tuan James." ucapnya dengan wajah mengejek, namun James tak tersulut emosi dengan perkataan wanita itu. Ia mencintainya dan ia akan menurunkan egonya saat menghadapinya.


"Jennifer hanya teman lamaku, juniorku saat bersekolah." imbuhnya menjelaskan.


"Sudah ku bilang aku tidak peduli meskipun dia cinta pertamamu sekalipun." cibir Anne kemudian.


"Cinta pertama ?" James menautkan kedua alisnya.


"Tentu saja seantero kantor sudah mengetahui jika wanita itu adalah cinta pertamamu, bahkan karyawan kesayanganmu di kantor ini telah mengultimatum kami semua untuk tidak coba-coba mengganggumu karena kalian akan menjadi sepasang kekasih." terang Anne dengan suara kesalnya, namun itu justru membuat James terkekeh.


"Aku tidak tahu dan tidak peduli." tegas Anne seraya membuang wajahnya ke arah lain, berada sangat intim dengan pria itu membuatnya merasa sesak napas.


"Tapi aku peduli." ucap James seraya menyentuh dagu wanita itu lalu mengarahkannya padanya hingga kini pandangan mereka nampak bertemu.


"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan pernikahan kita ?" ucap James kemudian.


"Jika mereka tahu status kita, gosip-gosip seperti itu tidak akan ada lagi." imbuhnya lagi.


Anne nampak terdiam, apa pria itu berencana untuk mempublikasikan pernikahan mereka? tidak, itu sama saja ia akan memplokamirkan dirinya sebagai seorang perempuan perebut suami orang karena Grace pasti juga takkan tinggal diam jika mendengar berita itu.


"Kenapa kita tidak bercerai saja? hiduplah berbahagia dengan anak dan wanita itu." ucap Anne kemudian yang langsung membuat James tersenyum sinis menatapnya.


"Jadi dengan kata lain kamu menyuruhku memaafkan Grace dari semua perbuatannya ?" timpalnya kemudian.


"Aku tidak mengerti maksudmu." sahut Anne kemudian.


"Grace telah menghianatiku, beberapa kali tidur dengan pria lain saat aku tak bersamanya. Apa pantas wanita seperti itu mendapatkan sebuah maaf ?" terang James yang langsung membuat Anne terkejut lalu menatap manik pria itu dengan lekat, tak ada kesedihan di sana hanya sebuah amarah sebagai pria yang telah di injak-injak harga dirinya.


"Lalu bayi yang di kandungnya ?" Anne bertanya dengan hati-hati saat mengetahui sang suami sedang emosi, sungguh ia tak tahu jika pria itu mengalami hal sesulit itu.


"Aku sudah melakukan tes DNA di beberapa rumah sakit dan semua menyatakan dia darah dagingku, tapi aku tak menuntutmu untuk menerimanya. Aku hanya ingin kamu tetap di sini, di sampingku apapun yang terjadi." terang James kemudian.


"Aku sudah mengetahui kisah kalian yang sebenarnya, tapi bagaimana jika aku tetap ingin berpisah darimu ?" ucap Anne kemudian, ia ingin mengetahui sejauh mana pria itu akan mempertahankannya.


Mendengar ucapan sang istri, rahang James nampak mengeras dan tatapannya pun berubah tajam. "Apa karena pria bajingan itu ?" ucapnya kemudian.


"Jika iya ?" ucap Anne seraya memperhatikan reaksi pria itu.


"Aku akan menghabisinya, aku akan menghabisi siapa pun pria yang mencoba mendekatimu." tegas James dengan serius, namun itu justru membuat Anne nampak menahan senyumannya.


"Jadi kamu lebih suka melihatku menjadi janda seumur hidup ?" ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kamu selamanya akan menjadi istriku, camkan itu." tegas James.


"Jadi kamu berusaha merayuku ?" ucap Anne.


"Entah kenapa hari ini kamu cerewet sekali." ujar James seraya mencubit hidung istrinya itu lalu melangkah menuju kursi kerjanya lantas menghempaskan bobot tubuhnya di sana.


"Kemarilah !!" perintahnya kemudian seraya menepuk pahanya agar wanita itu duduk di sana.


Anne menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau." sahutnya kemudian.


"Kemarilah sebelum ku hitung sampai tiga kali dan aku yang mendatangimu !!" ucap James dengan nada ancaman yang tentu saja membuat Anne langsung melangkah mendekat, lalu tangannya di tarik pria itu hingga kini ia terduduk di pangakuannya.


"Aku rindu seperti ini." lirih James kemudian seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu, ia akan merasa lebih baik ketika melakukan itu.


Anne nampak gelisah dalam duduknya. "Diamlah sayang, apa kamu ingin membangunkannya ?" ucap James dengan mata masih terpejam yang langsung membuat Anne diam tak bergerak, tentu saja ia tahu apa yang di maksud pria itu.


Lalu tak berapa lama pintu ruangannya di ketuk dari luar dan itu membuat Anne langsung panik saat menatap layar cctv yang menampakkan nyonya Darrien berada di depan pintu ruangan suaminya tersebut.


"Tuan James, ada nyonya Darrien di luar." ucapnya memberitahu, hingga membuat James mengerjapkan matanya.


"Biarkan saja." sahutnya tak peduli.


"Nanti bagaimana jika melihat kita seperti ini ?" protes Anne.


"Kamu cerewet sekali." James langsung membungkam bibir wanita itu dengan ciumannya.