Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~39


"Will...." panggil Natalie saat mendekati mobil kekasihnya itu hingga membuat William langsung melepaskan panggutannya.


Pria itu nampak merapikan penampilannya terlebih dahulu dan segera berlalu keluar dari mobilnya tersebut.


Merry yang masih termangu dengan sikap suaminya nampak menatap kepergian pria itu.


"Apa dia takut jika nona Natalie tahu kami baru selesai berciuman ?" gumamnya, hatinya sedikit tercubit saat memikirkan hal itu.


"Nyonya, silakan masuk ke dalam." ujar James dari balik kemudinya hingga membuyarkan lamunan gadis itu.


"Hm." Merry segera turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya jauh di belakang suaminya itu.


"Aku masih tak percaya kamu memakai pakaian seperti ini, tapi baiklah jika itu hanya ingin menyenangkan ponakanmu." ucap Natalie sesampainya mereka masuk ke dalam mansion tersebut.


"Aku ke kamar duluan." ucap Merry saat melewati mereka, kemudian gadis itu segera berlalu menaiki anak tangga dan itu tak luput dari pengawasan sang suami.


"Lebih baik kamu segera berganti pakaian, Will. Sungguh pakaian itu terlihat aneh di badanmu." Natalie memprotes penampilan William dan itu tak luput dari pendengaran Merry.


"Jangan pedulikan penampilanku, ada apa kau kemari bukankah urusan pekerjaan sudah selesai." sahut William seraya menyalakan pematik rokok di tangannya.


"Ini weekend Will, apa aku tak bisa menghabiskan waktu bersamamu ?" ucap Natalie dan bersamaan itu nampak terdengar pintu kamar di tutup dengan kencang.


William yang sedang menghisap sebatang rokoknya langsung mengangkat kepalanya menatap ke lantai atas.


"Dasar tidak sopan, ponakanmu itu benar-benar tidak mempunyai etika dan kamu tak boleh membiarkan itu." gerutu Natalie dengan kesal.


"Dia masih kecil biarkan saja." William nampak tak peduli oleh ucapan Natalie.


"Tapi kalau tidak kamu didik dari sekarang, bisa-bisa kurang ajar dia nanti." protes Natalie lagi.


"Aku sangat lelah Nat, jika tak ada lagi yang ingin kamu bicarakan pergilah dari sini !!" terang William seraya mematikan puntung rokoknya.


"Apa aku tidak boleh menemanimu ?" Natalie nampak mendekati William lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu.


"Aku lelah Nat, lebih baik pulanglah !!" perintah William lagi.


"Tapi aku masih ingin bersamamu dan aku sangat merindukanmu." lirih Natalie seraya mengusap lembut dada bidang pria itu.


"Nat...." William mulai jengah.


"Baiklah, aku pergi. Meski akhir-akhir ini kamu banyak berubah tapi aku masih memegang janjimu dahulu jika kamu takkan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi." ucap Natalie kemudian.


"Jangan khawatir mengenai itu." tegas William.


"Oh ya aku ada informasi penting jika kamu ingin tahu." terang Natalie seraya menjauhkan dirinya lalu mengambil tasnya di atas meja.


"Katakan !!" ujar William kemudian.


"Ini mengenai pembantaian di kediaman tuan Martin beberapa bulan yang lalu." ucap Natalie yang langsung membuat William memicing.


Pria itu langsung menarik tangan wanita itu lalu membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya.


Sementara itu Merry yang baru keluar dari kamarnya nampak memperhatikan mereka dari lantai atas.


"Bedebah." gumamnya saat melihat suaminya membawa wanita lain ke ruang kerjanya.


Kemudian gadis itu segera menuruni anak tangga lalu melangkahkan kakinya menuju ruang kerja pria itu.


Merry nampak menempelkan telinganya di balik pintu ruang kerja William, namun ia tak bisa mendengar sesuatu dari dalam.


Karena penasaran gadis itu mencoba untuk membuka pintu tersebut dan....


Klik


Pintu langsung terbuka dan Merry segera melangkah masuk namun di sana tak nampak siapa pun.


"Di mana mereka ?" gumamnya seraya mengedarkan pandangannya.


Tak menemukan keberadaan mereka, Merry langsung mendekati salah satu rak buku yang mana di belakang rak tersebut ada sebuah pintu rahasia.


"Pasti mereka ada di dalam." gumamnya.


"Nyonya, apa yang sedang anda lakukan di sana ?" tanyanya yang langsung membuat Merry terkejut.


"A-aku sedang mencari tuanmu aku pikir ada di ruangan ini." sahut Merry seraya merapikan beberapa buku yang berantakan.


"Tuan ada di luar nyonya." ucap James yang membuat Merry nampak tercengang.


Gadis itu dengan sangat jelas melihat suaminya masuk ke dalam ruang kerjanya karena di lorong itu hanya ada satu pintu.


Lalu kenapa pria itu tiba-tiba bisa berada di luar ?


Merry yang tak mengerti nampak mengedarkan pandangannya. "Apa di sini ada pintu lain lagi." gumamnya sembari menelisik.


"Honey apa yang kamu lakukan di sini ?" tiba-tiba William masuk ke dalam ruang kerjanya dan sontak membuat Merry terkejut.


"Aku tadi melihatmu membawa nona Natalie masuk ke dalam sini lalu kenapa kamu sudah ada di luar ?" terang Merry to the poin seraya mendekati suaminya itu.


"Apa kamu sedang bermimpi, hm ?" William menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya itu.


"Aku tidak tidur jadi mana mungkin mimpi, aku jelas-jelas melihatmu....." ucapan Merry tertahan saat William memotong perkataannya.


"Sepertinya kamu lelah jadi mudah berhalusinasi." potong William.


Merry nampak terdiam, jelas-jelas dirinya tadi sangat sadar pikirnya.


Kemudian gadis itu memperhatikan suaminya yang sudah berganti kemeja dengan kaos rumahan.


"Sejak kapan kamu berganti pakaian ?" tanyanya menelisik pria itu.


"Aku tadi ke kamar tapi kamu tidak ada di sana." sahut William dengan santai.


"La-lalu di mana nona Natalie ?" Merry mengedarkan pandangannya.


"Sudah pulang." sahut William seraya melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya.


Merry nampak terdiam, ia masih tak percaya dengan perkataan pria itu dan secepatnya ia harus segera mencari tahu.


"Bisakah kamu tidak mengizinkan nona Natalie untuk datang kemari lagi." ucapnya kemudian yang langsung membuat William menatap ke arahnya.


"Kamu berucap seperti sedang cemburu, honey." cibir William dari kursi kerjanya.


"Bu-bukan begitu." Merry terlihat salah tingkah, belum saatnya ia mengakui perasaannya dan mungkin tidak akan pernah ia akui selamanya.


"Aku tahu meski aku bukan wanita satu-satunya bagimu tapi bisakah kamu sedikit saja menghargaiku untuk tidak memasukkan wanita lain ke dalam rumah ini ?" terang Merry.


William nampak menatap lekat istrinya itu. "Apa ada alasan lainnya ?" ucapnya kemudian.


"Aku hanya ingin di hargai di rumah ini." lirih Merry.


William menghela napas panjangnya, lalu mememerintahkan gadis di hadapannya itu untuk mendekat.


"Kemarilah !!" ucapnya.


"Apa kamu ingin di hargai di rumah ini ?" imbuhnya setelah istrinya itu berada di dekatnya.


"Hm." angguk Merry dengan yakin.


"Baiklah, kalau begitu segera lahirkan anak untukku." ucap William yang langsung membuat Merry melotot.


"Apa kamu gila? aku masih 18 tahun bagaimana mungkin aku bisa hamil." tolak Merry, tentu saja siapa yang mau mempunyai seorang anak dari pria playboy macam suaminya itu.


"Sebentar lagi kamu 19 tahun dan apa salahnya mempunyai seorang anak." terang William kemudian.


"Dan sepertinya aku harus segera membawamu ke dokter secepatnya, kita sudah sering melakukannya tapi kamu belum hamil juga." imbuhnya lagi.


"Ja-jangan." teriak Merry yang langsung membuat William mengernyit.


"Maksudku, tidak semua wanita setelah melakukan itu langsung hamilkan dan mungkin memerlukan beberapa waktu lagi." ralat Merry, gadis itu terlihat salah tingkah seakan ada yang di sembunyikannya.


"Mungkin saja, jadi apa kita harus melakukannya lagi ?" ujar William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.