Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~47


"Tuan, ada informasi penting untuk anda." ucap James setelah mengetuk ruang kerja William sore itu.


Pria itu nampak berdiri di ambang pintu, karena pintu tersebut di biarkan terbuka begitu saja oleh sang tuan.


William mengangkat kepalanya menatap asistennya itu. "Katakan !!" ucapnya, kemudian pandangannya kembali ke macbook di depannya.


James nampak mengedarkan pandangannya keluar ruangan tersebut, setelah memastikan tak ada orang di sekitarnya pria itu langsung melangkah masuk mendekati tuannya tersebut.


"Keberadaan tuan Martin sudah di temukan, tuan." ucapnya kemudian yang langsung membuat William menatapnya.


"Kamu tidak bohongkan ?" tanya William memicing tajam.


"Saya sudah membayar mahal untuk informasi ini tuan dan saya yakin sangat valid." sahut James meyakinkan.


"Katakan di mana dia ?" tanya William kemudian namun James belum menjawabnya Emely sudah masuk ke dalam ruangan ayahnya itu.


"Daddy, kapan kita berangkat ?" rengek gadis kecil itu seraya berjalan mendekati sang ayah.


"Apa kamu sudah siap, hm ?" tanya William dengan lembut.


"Apa Daddy tidak lihat aku sudah cantik dan lihatlah bajuku baguskan ?" Emely nampak menunjukkan gaunnya pada sang ayah dan itu membuat William langsung tertawa gemas.


William jadi mengingat Merry, gadis itu sama persis dengan sang putri yang selalu menunjukkan pakaian favoritnya.


Hanya saja dirinya tidak pernah memujinya justru sering menegurnya karena gaun yang di pakai gadis itu lumayan seksi menurutnya.


Padahal ia akui istrinya itu terlihat sangat cantik saat memakainya, hanya saja ia tidak suka jika ada pria lain yang memperhatikan tubuh gadis itu.


"Kamu sangat cantik sayang, baiklah ayo kita berangkat." William menatap gemas putrinya itu kemudian pria itu langsung membawanya ke dalam gendongannya.


"Kita bahas nanti lagi, James." ucapnya kemudian seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan tersebut.


"Baik, tuan." angguk James lalu mengikuti langkah pria itu.


"Mommy, kenapa belum bersiap-siap ?" protes Emely saat melihat Elena masih terlihat santai dengan bermain ponsel di atas sofa.


"Segera bersiap-siap, El !!" perintah William kemudian yang langsung membuat wanita itu nampak beranjak dari duduknya.


Langkah Elena terlihat tak semangat mengingat peristiwa semalam bersama pria itu.


Flash back on


Malam itu William yang baru pulang kerja, segera memasuki kamarnya setelah memastikan sang putri sudah terlelap tidur.


Beberapa hari ini William memang tinggal di rumahnya bersama putrinya itu, mengingat permintaan gadis kecil itu yang ingin di temaninya.


Kebetulan ia juga mempunyai beberapa pekerjaan di kota tersebut hingga membuatnya tak harus bolak-balik lagi ke Mansionnya di mana istrinya berada.


"El, apa yang sedang kamu lakukan ?" William nampak terperanjat saat dirinya yang sedang berdiri menatap jendela dengan bertelanjang dada tiba-tiba merasakan sebuah pelukan dari belakang.


"Aku merindukanmu, Will." sahut Elena seraya membelai lembut dada bidang William yang di penuhi bulu itu dari arah belakang.


"Lepaskan El !!" perintah William kemudian, bagaimana pun juga dirinya adalah seorang pria normal.


Mendapatkan sentuhan lembut dari jemari seorang wanita pasti cepat atau lambat akan membangunkan sesuatu dari dirinya.


"Kenapa? bukankah dulu kau sangat menyukainya." Elena nampak berbisik manja di telinga pria itu.


"Saya perintahkan menjauhlah El !!" William mulai geram saat bibir wanita itu mulai mengecupi tengkuknya.


"Tidak untuk kali ini Will." tolak Elena, wanita itu terus saja melancarkan aksinya menyentuh setiap inci kulit William.


Namun saat menurunkan tangannya dan akan menyentuh keperkasaan milik pria itu dari balik celana kerjanya, William langsung menahan pergelangan tangan wanita itu.


"Saya bilang berhenti, Elena ?" bentak William dengan menatap tajam wanita itu.


"Mari kita lihat seberapa besar kau bisa menolakku, Will." ucapnya seraya melangkah mundur lalu menarik ikatan kimono tidurnya, setelah itu melepasnya dan membiarkannya teronggok di atas lantai.


William sontak melotot saat melihat tubuh Elena yang kini polos tanpa sedikit pun benang yang menutupi.


Sementara itu Elena nampak tersenyum menggoda lalu wanita itu berjalan mendekati William. Tubuhnya yang sintal dan sempurna bak model membuat wanita itu sangat percaya diri jika pria itu tidak akan menolaknya.


Apalagi mengingat sudah beberapa hari ini Natalie mendapatkan tamu bulanannya dan tentu saja itu membuat William harus mencari pelampiasan untuk memuaskan gairah kelelakiannya pikir Elena.


Sebelumnya Elena memang tak sengaja mencuri dengar pembicaraan Natalie dan temannya di sebuah Cafe waktu itu


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan Will, aku akan pasrah dan percayalah aku bisa lebih memuaskan mu dari pada Natalie atau wanita manapun di luar sana." terang Elena seraya m3r3m4s bukit kembar miliknya sendiri untuk menggoda pria di hadapannya itu.


William nampak menghela napas kasarnya. "Enyah dari hadapanku El, apapun yang kamu lakukan aku tidak akan tertarik." ucapnya seraya memungut kimono wanita itu yang tergeletak di atas lantai.


"Apa aku kurang menarik, hm ?" teriak Elena dengan emosi seraya menepis tangan William yang mengulurkan kimononya.


"Kamu menarik El bahkan sangat menarik tapi aku tidak bisa melakukannya." tegas William.


"Kenapa? apa karena Natalie? bukankah selama ini selain dengan Natalie kamu juga melakukannya dengan wanita-wanita di luar sana, lalu kenapa tidak denganku juga ?" tuding Elena dengan berurai air mata.


"Aku tak pernah melakukannya lagi El dan tanpa ku beritahu pun kamu juga sudah pasti tahu alasannya." terang William seraya memakaikan paksa kimono tersebut pada wanita itu.


"Apa karena gadis itu ?" lirih Elena.


"Hm." angguk William seraya berjalan menjauh.


"Tidak, bagaimana mungkin." Elena langsung membulatkan matanya tak percaya.


Masih sangat jelas di ingatannya bagaimana kakaknya pernah mengorbankan nyawanya sendiri demi gadis itu agar William mempercayai betapa besar cintanya untuk pria itu.


Namun di akhir hayatnya pun tak pernah terucap kata cinta dari seorang William untuk wanita yang telah melahirkan seorang putri untuknya itu dan itu semua karena gadis itu.


Seorang gadis kecil yang telah berhasil merebut hati William yang Elena sendiri pun tak bisa menjelaskannya dengan akal sehatnya.


"Apa aku bisa mengenalnya ?" Elena mengangkat kepalanya menatap pria tak jauh dari hadapannya itu.


"Tidak." tegas William.


"Sekarang kembalilah ke kamarmu, aku ingin istirahat !!" perintah William dengan nada datar menatap wanita itu.


Elena nampak berjalan linglung, hari yang ia tak ingin lalui kini telah tiba.


Harapannya untuk memiliki pria itu kini pupus setelah mengetahui pria itu telah bersama dengan cinta sejatinya.


Flash back off


...----------------...


Sore itu Emely nampak sangat senang saat ayahnya mengajaknya pergi ke play ground yang ada di sebuah Mall di kotanya tersebut.


Sepanjang perjalanan gadis cilik itu tak berhenti berceloteh dan tentu saja membuat seisi mobil tersebut nampak terkekeh mendengarnya.


Begitu juga dengan Elena, meski wanita itu masih merasa kecewa tapi senyumnya sedikit mengembang saat keponakan tersayangnya itu bercerita.


Saat mobil mereka berhenti di sebuah traffic light, tiba-tiba sebuah mobil sport merah nampak melewatinya dengan sangat kecang.


"Ck, anak zaman sekarang tidak bisa kah berhati-hati dalam berkendara." umpat William yang nampak terkejut dengan suara kencang mobil tersebut.


Sedangkan James yang berada di balik kemudi nampak memicing, meski mobil sport tersebut sudah menghilang dari pandangannya namun ingatan pria itu masih sangat bagus.


"Seperti mobilnya tuan." gumamnya lalu matanya langsung melotot saat menyadari ucapannya itu.


"Nona Merry." gumamnya dalam hati.